Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
37. Jengkel dan enek


__ADS_3

Adipati berusaha melerai Arto yang semakin murka dan membabi buta pada Alga putranya.


"Sudah ... sudah ... sudahi pertengkaran ini, saya yang salah di sini. Arto pukul saya juga." Adipati menyuruh Arto memukul wajah dan perut dengan menunjuk area perut dan pipinya sambil bersimpuh tidak jauh dari Alga.


Nyali Arto langsung menurun dan tidak berani padahal tangannya masih mengepal, ia kecewa berat dengan perlakuan Alga. Ia malu punya anak satu laki-laki tapi kenapa memperlakukan istrinya semenyakitkan itu, apa jangan-jangan pengiriman teror waktu itu ada sangkut pautnya dengan Alga dan mantan kekasihnya. Pasti ini Alga ada sangkut-pautnya, awas saja jika benar memang seperti itu.


"Tidak Pak, ini tidak ada sangkut pautnya dengan pak Adipati. Ini murni kesalahan anak saya Pak, bapak tidak salah sama sekali,"


Arto menuntun Adipati duduk di kursi sebab Adipati meronta dan tidak mau di bantu berdiri, tapi Arto tetap membantu Adipati berdiri dan berjalan menuju sofa tempatnya tadi duduk dan bicara pada Alga.


Alga masih menundukkan pandangannya sambil bersimpuh di lantai memohon agar Bapaknya menghukumnya lagi sekarang, tapi ia juga terkejut saat melihat mertuanya memohon ampun juga.


"Tapi gara-gara saya juga Arto, andai dulu ...." Adipati tidak melanjutkan percakapannya.


Ia tidak mau rahasia kelam terbuka, bukannya akan menambah masalah dan melukai Salma. Sebagai seorang Papa ia harus menjaga putrinya, seharusnya ia memaafkan Alga.


"Tidak pak, ini benar-benar murni kesalahan anak saya dan saya sendiri pak. Mungkin saya yang terlena merawat Alga, saya akan mendidik anak saya dengan benar pak mulai sekarang. Saya ijin permisi dulu Pak," Arto berpamitan lalu langsung menyeret anaknya keluar dari ruangan kerja Adipati.


Alga pasrah jika di luar rumah ini di hajar habis-habisan.


Ternyata benar ....


Jeng


Jeng

__ADS_1


Jeng ....


Bagh


Bugh.


1 Minggu telah berlalu.


Akibat di pukul Bapaknya 1 Minggu yang lalu membuat Alga setiap hari harus menahan sakit dan perih baik di wajah maupun di perutnya. Lengannya juga sakit sebab menahan pukulan dari Arto bapaknya dan rumah sakit inilah tempat istirahatnya selama seminggu.


"Sss ... sakit banget ini, tapi kenapa Salma gak bisa di hubungi sama sekali. Kemana sih dia?" sambil mengecek ponselnya berkali-kali.


Tapi nihil hasilnya, tidak ada satu pun pesan yang di balas oleh Salma. Ia mengirim pesan lagi berulang-ulang ulang kali sampai tangannya yang sakit terasa nyeri sebab banyaknya pesan yang ia ketik.


Sedangkan Salma sekarang sulit di hubungi bahkan saat di telpon saja selalu menolak jika tidak membiarkan panggilan masuk berkali-kali terkadang juga tidak dapat di hubungi, ratusan pesan sudah ia kirimkan tapi satu pun tidak ada yang di balas bahkan sekedar di baca saja Alga sudah senang bukan main, setidaknya ada sedikit respon dari Salma.


Salma memang sengaja tidak di beri tau baik dari Arto maupun Adipati sama-sama bungkam. Saat kejadian waktu itu Salma di berikan obat tidur oleh salah satu pembantu tentu saja perintah dari Adipati, sehingga bangun-bangun Salma sudah di rumahnya sendiri.


Saking hafalnya dengan nomor ponsel Alga sebab sering adanya telpon dan pesan singkat masuk membuatnya sampai hafal di luar kepala tanpa harus mengeja satu persatu untuk menghafal angka-angka yang sekarang menjadi angka paling ia benci dan tidak sukai.


Salma melakoni aktifitasnya seperti biasa namun tidak ada Alga lagi dalam pikirannya, ia sadar sesadar-sadarnya jika Alga bukanlah pasangan yang cocok untuk dirinya maka dari itu nanti akan berbicara penting mengenai hubungan ini pada Papanya jika kuliahnya tidak sibuk. Tapi sayangnya tugas lagi dan lagi menumpuk bahkan semua Dosen memberinya tugas dan harus selesai Minggu ini.


"Biarin dia mikir sendiri, salahnya juga kenapa jadi laki-laki plin plan gak punya pendirian dan hih ... kesel banget aku jika mengingat dia." Salma bawaannya jengkel dan enek jika ingat Alga.


Agam pagi-pagi membawakan bekal.

__ADS_1


"Salma ... cantik ...." Agam mengejutkan Salma dengan membawakan sandwich kesukaan Salma.


Mata Salma berbinar ia tidak sabaran untuk memakan roti isi yang nikmat saat pagi hari di tambah lagi perutnya selalu merasa lapar.


"Makasih ya rotinya," sambil mengangkat sandwich pemberian Agam.


"Sama-sama, gak mau mentraktir apa gitu?" memainkan jari jemarinya.


Salma memutar bola matanya lalu menatap Agam dalam lamunan.


Nih anak selalu ada tapi kenapa tidak ada rasa getaran apa-apa di dada, padahal dari segi apapun Agam begitu mencolok tidak hanya tampan dan kaya tapi otaknya saja encer. Di suruh ngerjain tugas ini itu sat set sat set gesit dan rapi, bahkan Dosen saja banyak yang suka dengan Agam termasuk para ciwi-ciwi di kampus baik satu angkatan, adik angkatan atau kakak angkatan.


Agam salah tingkah gara-gara Salma terus menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu, jatuh cinta ya sama gue." Agam cengengesan.


Puk


Salma melempar sendok plastik dan mengenai wajah Agam.


"Aduh ... aduh ... ada KDRT." Agam pura-pura terluka dan langsung menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya.


"KDRT apanya, jangan ngaco deh," Salma mengibas-ngibaskan rambutnya kebelakang.


Banyak yang menjodoh-jodohkan Salma dan Agam ada pula yang menatap tidak suka dengan dua orang yang katanya sahabat tapi ko seperti orang pacaran, sama-sama terus.

__ADS_1


*


Boleh sih menjodoh-jodohkan dengan ini atau itu tapi takdir di tangan Emak ho ... ho ... ho .... 😁


__ADS_2