
Salma tersenyum manis.
"Maju satu-satu kalau berani jangan main keroyokan." Tangannya mengisyaratkan untuk maju satu persatu.
"Baik, tapi nih terima dulu," Agam memberikan buket bunga pada Salma.
Semua teman-teman Salma khusus yang laki-laki dan Agam saling memberikan bunga padanya, Salma di buat kelimpungan dengan bunga-bunga berbagai macam bentuk dan hiasan.
Ada yang memberi satu tangkai ada pula buket bunga sampai puluhan bahkan bentuk yang serupa, tapi bermacam-macam bunga yang di berikan, sebenarnya Salma malu setiap hari terbaik dalam hidupnya dia sendirian tanpa ada orang tersayang di sampingnya.
"Terimakasih banyak." Salma terharu.
Ada juga beberapa teman perempuan satu angkatan dengannya yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Salma banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang di berikan Dari Yang Maha Kuasa.
Salma langsung menuju kelasnya usai memesan taxi untuk mengantarkan bunga-bunga itu serta hadiah lainnya ke rumah dan ada sepucuk surat yang ia terima dan ia simpan ke dalam tasnya, tidak ada nama pengirimnya.
"Punya pengangum rahasia ternyata, tapi siapa ya?" Salma di buat bertanya-tanya.
"Hey ... ingat yang di rumah." Tepukan di pundak membuat Salma terjingkat kaget.
Langsung saja ia memukul lengan Agam, tega banget menghancurkan hayalannya. Apa dia gak senang sebab hari ini Salma bahagia, meski ya sama seperti tahun-tahun kemarin kesepian meski banyak teman yang memberinya kejutan tak terduga.
Di tempat lain.
__ADS_1
Alga berada di perkebunan dan mulai memeriksa tugasnya di sana, mulai dari pertanian perbulan pengeluaran dan pendapatan seperti apa, lalu kondisi tanah baik atau tidak. Upah pekerja dan makanan untuk pekerja juga bagaimana, semua yang meliputi perkebunan ia pelajari satu persatu.
Begitu banyak yang harus ia pelajari, ternyata tidak segampang orang lihat belum lagi nanti setor di tempat-tempat langganan bahkan sampai luar kota juga. Ternyata bisnis ini sangat mengandalkan pikiran dan menguras tenaga, hebat sekali Bapak Adipati mengembangkan usahanya dari nol sampai menjadi sukses seperti ini.
Hanya orang-orang konyol dan gak waras seperti dirinya ini yang tidak tau malu, sudah di beri amanah menjaga putrinya saja gak becus malah ada niatan untuk menyakitinya pula. Bahkan rencana menyakiti dia berjalan dari awal sebelum menikah sampai detik ini, rasa bersalah memang menghantui tapi rasa cinta pada Riska juga masih besar dan ia bahkan tidak bisa membedakan antara yang baik dan tidak untuk dirinya.
"Haduh ... jadi pusing dan ingin cepat-cepat siang dan bertemu dengannya dan memutuskan dia dengan baik-baik, tapi bukti apa yang harus aku berikan. Tidak mungkin karena sudah menikah dengan Salma, bisa-bisa ia nekat mengancam keselamatan Salma lagi." Alga berpikir matang-matang meski hatinya gundah gulana.
Ada sedikit kesadaran peduli pada Salma tidak hanya menabur luka terus menerus. Tapi entah nanti apa yang terjadi jika bertemu Riska pasti dirinya goyah lagi.
Siang hari.
Salma tersenyum getir saat ia menaiki kuda besinya, mobil itu ia ingat plat dan warnanya. Miliknya di gunakan untuk menjemput kekasih suaminya, miris sekali hidupnya.
Ia marah dan membabi buta, semua orang dapat buat berkerja dadakan. Bahkan pot bunga saja juga jadi sasaran amukan Salma, meski nanti ia akan menyesal sudah menghancurkan barang-barang di rumahnya yang ia beli sebagian besar dengan jerih payahnya.
"Dasar suami sialan. NILA ... INA ... SITI." Panggilan menggelegar memenuhi penjuru seluruh sudut ruangan.
Kesal sekali, hari ulang tahunnya dapat kado terbaik yaitu penghianatan suaminya.
"Iya mbak," kompak mereka bertiga.
"Tolong kalian kemasi pakai Alga dan letakkan di ruang tamu." Perintahnya mendadak.
Mereka bertiga tidak ada yang berani mengkritik Salma, ini rumahnya dan ia berhak menentukan siap yang tinggal atau tidak.
__ADS_1
"Baik mbak," jawabnya lagi serempak dan saling berebutan cepet-cepetan naik ke lantai 2.
Salma emosinya sampai ubun-ubun sambil menunggu Alga pulang, pasti sore atau malam. Biarkan saja, sesekali kekejamannya ia tunjukkan secara langsung supaya jera itu orang, enak banget salah di maafkan lalu di terima kembali. Ia pikir diri ini tempat penampungan maaf yang luas apa, manusia juga ada batasnya dalam menahan amarah dan memaafkan.
Tidak sampai 10 menit pakaian Alga sudah rapi di koper kecilnya, Salma melengos dari pada tambah kesal melihat koper Alga itu. Kopernya saja membuat ia tambah bad mood di tambah nanti melihat orangnya langsung, es di Antartika saja langsung mendidih.
💬 Cepat pulang
Salma mengirimkan pesan singkat pada Alga.
Alga tersenyum saat melihat pesan singkat dari Salma, tumben ini anak mengirimkan pesan singkat. Alga tidak tau bahwa itu pesan terakhir dari Salma.
💬 Iya 😊
Hati Salma berdesir dengan jawaban Alga, meski cuma iya dengan emoticon senyum saja.
'Oh ... no ... gak boleh terlena lagi.'
*
Kena tipu ternyata.
Emak kabur dulu sebelum bonyok😂
Yuk ramaikan karya Emak.
__ADS_1