
"Salma, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan. Kamu tidak marah?" Agam tidak habis pikir, kenapa Salma bisa sepolos ini.
Apa dia sebegitu takutnya kehilangan Alga, sepertinya ini bukan Salma yang ia kenal lagi. Pasti sudah beda orang ini, atau saat liburan semester dia jatuh dari motor atau kecelakaan mobil sampai-sampai sebagian ingatannya hilang.
"Sadar ko Agam, tenang oke!" masih tersenyum dan berusaha kuat.
Salma dan Agam keluar dari cafe, untung saja sudah di bayar dulu tadi jadi saat meninggalkan cafe tidak perlu ke kasir lagi dan melihat pemandangan yang begitu memuakkan di pandang mata.
Salma berusaha baik-baik saja namun perasaan yang datang dalam hatinya memang tidak dapat di kontrol oleh dirinya, kemarin-kemarin masih bisa ia menyangkalnya tapi setelah penyatuan kemarin itu membuatnya terikat sepenuhnya pada Alga.
Apa semua wanita di dunia ini akan merasakan hal sama seperti dirinya jika sudah pernah di beri tanda oleh laki-laki itu berarti dirinya hanya terikat satu laki-laki? pertanyaan yang selalu menjadi momok bagi wanita yang baru pertama kali melakukannya.
Agam mengantar Salma sampai rumah, depan pagar maksudnya.
"Terimakasih sudah mengantar ku Agam." Tersenyum sambil menengok kaca jendela mobil Agam.
"Sama-sama, Salma." Tak selang berapa detik, Agam memanggilnya kembali.
"SALMA." Panggilnya teriak ketika Salma beranjak pergi setelah beberapa langkah.
__ADS_1
Salma menatap Agam dan kembali mendekati mobil Agam.
"Iya, ada apa Agam," Salma meletakkan dagunya di pintu mobil dengan kaca terbuka.
"Kabari aku jika kamu butuh teman curhat." Agam berharap jika Salma selalu baik-baik saja perasaannya.
"Soal itu gampang Agam, pasti aku kabari kamu jika ada apa-apa, bye ... aku masuk dulu ya." Melambaikan tangan.
Agam membalasnya dengan lambaian tangan juga.
Sepeninggalan Agam, Salma menatap nanar mobil yang sudah melesat di jalan raya dengan kecepatan sedang.
Ada beberapa pesan masuk, Salma menatap siapa yang sedang mengirimkan pesan berharap Alga ingat pada dirinya tapi sepertinya mustahil sebab beberapa hari ini Salma tidak pernah melihat Alga bertemu atau keluar dari rumahnya, bisa di pastikan mereka pasti sedang melepas rindu.
Salma memejamkan mata, pemikirannya kemana-mana di tambah lagi Riska itu wanita yang bisa melakukan bermacam cara untuk menjerat mangsanya dengan empuk dan mudah. Apalagi Alga orangnya percaya sekali dengan modus Riska, andai dirinya tidak berada di posisi ini.
"Hanya ada kata andai, semua sudah terjadi padaku. Kedepannya aku harus bagaimana?" Salma melangkahkan kakinya memasuki rumah laku menaiki anak tangga dan menuju kamar pribadinya.
Salma menatap sekeliling ruangan yang menjadi saksi dimana kehidupannya di mulai.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, sepasang sejoli jalan-jalan namun Riska merengek ingin mengajak Alga menginap di salah satu apartemen mewah Riska, tentu saja Elang yang membiayai Riska selama ini sampai Riska bisa berdandan dan mendapatkan fasilitas mewah, andai Riska tidak hebat soal ranjang pasti ia tidak mendapatkan kemewahan ini di tambah lagi Riska tidak benar-benar putus meski ia berbicara pada Elang dirinya dan Alga sudah berpisah.
"Mbak Siti, masak apa?" Salma mencium aroma yang begitu wangi dari dapur.
"Ini mbak Salma, ayam saus asam manis dan nasi lemak pesanan mbak Salma tadi pagi, apa mbak lupa?" Ucap Siti.
Salma heran dengan ucapan Siti, kapan dirinya meminta ayam saus asam manis dan di buatkan nasi lemak. Perasaan ia tidak minta deh, atau jangan Alga yang menyuruh Siti masak itu.
"Tapi kapan saya minta masakan itu mbak, perasaan enggak deh tadi pagi?" bingung sendiri.
Siti juga bingung siapa kalau bukan Salma, bahkan menulis minta di masakan makanan tersebut dengan secarik kertas. Lalu Siti memberikan secarik kertas pada Salma, Salma menerima lalu membacanya.
Semua kata-kata yang di rangkai sangat baik bahkan tulisannya sama dengan tulisan tangan dirinya, sejak kapan ia menulis hal-hal semacam ini kurang kerjaan sekali. Langsung bicara saja kan gampang, pasti ini ulang Alga mengatasnamakan dirinya untuk apa coba.
"Maaf ya mbak merepotkan, tapi mbak lain kali gak usah di tanggapi ya mbak jika ada yang menulis tulisan beginian di dapur. Kalau boleh jujur mbak Siti, ini bukan saya yang menulis meski tulisannya sama." Salma berlalu pergi.
Siti terperangah di buatnya, benar juga kata nona muda ini. Bukannya selama ini memang Salma tidak pernah meminta lewat tulisan tangan seperti ini, pasti ini tulisan tuan barunya Alga.
**
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya, like dan komen sangat di nanti 🥰