Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
77. Ini kan yg kamu mau


__ADS_3

Alga menatap kesana kemari untuk mencari ponsel milik Salma, dan kebetulan sekali berada di atas lemari kecil sebelah tidurnya Salma.


Alga meraihnya semoga ponselnya tidak di kunci atau apa begitu.


Click


Ternyata ponsel Salma sama sekali tidak di kunci dengan mudahnya ia mencari informasi di ponselnya mumpung Salma tidak ada di kamar, jika benar gara-gara ponsel itu ia akan menuntaskan masalah rumit yang terjadi sekarang.


Mata Alga membelalak seketika dengan apa yang ia lihat sekarang, berkali-kali ia mengerjab-ngerjabkan netra nya tapi tetap sama apa yang ia lihat dan sama sekali tidak salah melihatnya.


Alga tersenyum getir setelah membacanya. Ia merasa kesalahan kali ini tidak akan pernah bisa di maafkan lagi, ia tau tadi tak sengaja mengirimkan pesan itu tapi yang lebih ia heran kan kenapa baik Agam dan Samudra begitu. Apa tidak bisa sedikit saja mereka tidak usah memberi tau tentang ini pada Salma.


Apakah diri ini sangat egois tidak memikirkan perasaan Salma sekarang jika mengetahui, pantas saja Salma marah dan begitu emosian.


Alga langsung keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya sekarang ada di mana, ia melihat kesana kemari tapi belum juga menemukan Salma.


Matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil salah satu dari rumah ini, terbuka dan biasanya tidak pernah terbuka bangunan itu tempat penyimpanan barang-barang milik Salma yang sudah lama tidak terpakai sengaja di simpan dan tidak di buang maupun di berikan pada orang lain dengan catatan sebagai kenang-kenangan.


Salma membuka satu persatu pakaian lamanya dan menyentuhnya secara perlahan, semua kenangan semasa hidupnya ada di tempat ini. Tempat ia berkeluh kesah tempat ia meneteskan air matanya secara bebas, tapi sekarang.. air mata itu tak jatuh lagi.


'Andai.. waktu dapat di putar, lebih baik aku tidak memilih ada di dunia ini jika aku hanya mendapatkan kepedihan saja. Kenapa kecelakaan itu tidak langsung saja merenggut kehidupanku seperti sopir taksi itu kenapa aku di berikan kesempatan kedua, aku sudah berusaha memperbaiki diri baik dari segi apapun itu. Kenapa cinta dan kasih sayang tidak berpihak ke diriku, apa salahnya jika aku berharap sedikit saja cinta dan kasih sayang.'


Salma menangis dalam diam.


Tidak ada lagi sumber kebahagiaannya sekarang, semua sudah selesai dan berakhir.

__ADS_1


'Sepertinya aku harus siap-siap mencarikan Alga pengganti saja, biarlah dia bahagia dengan yang lain. Sedangkan aku.. akan merelakan dia berbahagia dengan yang baru.'


Memang ini ide sepintas yang sangat gila tapi mau bagaimana lagi, Salma sudah sekuat tenaga menangkupkan kedua tangannya agar air itu tidak terjatuh namun nyatanya air itu semakin menyusut dan habis tetes demi tetes seperti rasa cinta Alga yang tidak mungkin ia gapai, kenapa sesakit ini bermain-main dengan namanya cinta.


Sakit.. dan sesak di dada.


"Aku mau telpon papa, tapi.." Salma mendengar suara langkah kaki mendekatinya lalu ia menoleh dan menatap siapa yang datang dan ternyata Alga lah yang datang menghampirinya.


"Salma.. sayang kita perlu bicara serius." Ajaknya to the points.


"Bicara apa lagi, tidak perlu ada yang di bicarakan lagi. Kamu.. fokus saja mencari orang yang kamu cintai dan aku.. akan fokus melupakan kamu. Ini kan yang kamu mau Mas.. Alga suamiku," Salma begitu kejam tidak mau mendengarkan apa-apa lagi.


Padahal Alga ingin menjelaskan kesalahannya, tapi Salma tidak mau. Alga tidak ingin pernikahannya runyam lagi seperti kemarin-kemarin itu. Sudah cukup batin nya tersiksa karena rasa bersalah yang disertai dengan cinta.


Salma lagi-lagi memukul dadanya yang sesak, rasanya sungguh sakit luar biasa mengucapkan itu semua di depan Alga secara langsung dan spontan.


"Jika tulus.. kenapa menyakitkan lagi." Ia usap air matanya yang tidak dapat di bendung lagi.


Alga tidak tinggal diam ia kejar lagi istrinya yang marah sebab kecerobohannya yang begitu entengnya mengirimkan pesan pada Agam dan Samudra yang ketahuan oleh Salma sebab mereka mengirimkan percakapan itu pada Salma, Salma pasti sangat shock.


Bahkan jika di luaran sana ada wanita yang nasibnya sama seperti Salma pasti juga sangat shock suaminya sendiri setega itu bicara hal yang seharusnya tidak pernah di bicarakan.


Apa sebegitu tidak berarti dan tidak pentingnya diri ini di kehidupannya, pantas saja dia selalu bersikap manis dan peduli jika ujung-ujungnya sama seperti dulu lagi.


Kata-kata menyesal itu tidak pantas di tanggapi lagi, percuma juga di tanggapi tidak berarti lagi. Bahkan sangat basi dan tidak layak di konsumsi dan di nikmati rasanya.

__ADS_1


Alga berjalan sambil menahan rasa perih di kakinya, tapi Salma tidak mau lagi membalikkan badannya.


Sudahi saja permainan rumah tangga jika di lanjutkan percuma akan menyakiti satu sama lain, padahal baru kemarin mengucap kata cita tapi seolah-olah itu tidak pernah terjadi.


Mungkin menghayal lebih menyenangkan dari pada berharap, apalah daya hati dan raga ini tidak mampu melampaui semua. Meski terkadang ingin merubah garis dari Tuhan Yang Maha Kuasa tapi tidak bisa jika sudah di tentukan begitu jalan ceritanya.


Salma berhenti dan ia menatap ke belakang apakah suaminya mengikuti dirinya atau tidak, harapan itu sirna saat dia tidak kunjung menampakkan dirinya.


"Bahkan aku marah dan terpuruk aku tidak di pedulikan sama sekali, nasib anak tanpa hadirnya seorang ibu apa harus begini?" Bertanya-tanya tentang jati dirinya.


Salma sebenarnya sudah penasaran semenjak ia duduk di bangku sekolah dasar, siapa ibu kandungnya kenapa tidak pernah menemuinya. Jika sudah tiada kenapa tidak ada batu nisan atau sekedar foto saja agar ia tau dan merasakan kasih sayang seorang ibu itu seperti apa hanya melalui foto.


Bahkan papanya hanya bungkam sampai sekarang tanpa adanya cerita sedikit pun tentang ibunya, apa salah seorang anak yang kurang kasih sayang menanyakan hal itu. Salma menanti dan terus menanti tapi sampai dirinya lelah sendiri tidak ada kejujuran dan penjelasan apa-apa.


Alga mengejar Salma.


"Salma.. sayang.. dengarkan penjelasan aku sayang." Pelukan Alga memang hangat tapi tidak ada rasa cinta, lebih tepatnya seperti kasihan saja. Rasanya hampa dan hambar.


"Lepaskan Alga.. sudah cukup permainan kekanak-kanakan yang kamu ciptakan dan juga fantasi tentang cinta hentikan semuanya Alga, sudah cukup aku menikmati itu semua," perih hati Salma sampai ke urat-urat.


"Aku tidak sedang bermain-main sayang, dengarkan aku dulu." Merengek layaknya seorang anak kecil.


*


Ambil hikmahnya ya yg buruk-buruk di buang oke.

__ADS_1


__ADS_2