
Usaha Alga agar cinta Salma tidak luntur dan hambar.
Alga kesal di sebut dengan orang hidup gak punya hati, lagian ia masih punya hati jika tidak mana mungkin saat melihat istrinya akan berdebar-debar hatinya.
Salma menatap tidak percaya setelah ia memberikan uang lembaran berwarna merah dan juga biru pada gadis remaja, ia kegirangan tapi juga malu sebab meminta uang dengan cara tidak sopan sama sekali.
"Kenapa tertunduk wajah kamu?" Salma berbicara dingin dan datar.
"Tidak ada!" sambil menggelengkan kepalanya sebelum ia angkat menghadap Salma dengan tatapan kasihan dan perlu di kasihani.
'Haduuhh.. apa-apaan ini, dia pikir aku ini donatur. Salah kamu.. tapi.. memang iya sih donatur tapi untuk panti asuhan yang berada di sana, jika di sini aku belum ada uang lagi. Kalau pun ada itu untuk berjaga-jaga agar suatu hari.. bukannya berdoa yang bukan-bukan tapi untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan terjadi.'
Salma menatap lagi gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, tidak ada yang aneh. Gadis ini seperti dirinya, seperti anaknya orang kaya yang kabur dari rumah.
"Apa aku boleh tanya sesuatu ke kamu?" Salma menunda kepergiannya dan memilih untuk tinggal sebentar.
Ponselnya sengaja ia silent agar tidak ada yang menggangu dirinya yang ingin menyendiri dan perlu waktu, waktu dimana ia mendengar kepercayaan yang entah membuatnya senang atau sedih.
"Tanya apa mbak, saya siap menjawab pertanyaan yang mbak berikan!" ia duduk di salah satu kursi panjang yang berada di tepian danau sambil meletakkan bungkusan nasi.
"Nama dan rumah kamu ada di mana?" Salma bertanya sambil menatap danau juga.
Gadis remaja itu tersenyum lebar tapi ia tidak memberitahukan nama dan juga rumahnya.
"Kalau nama aku masih bisa menjawab mbak tapi.. kalau rumah.., untuk apa rumah jika rumah tak pernah membuat kita merasa hangat dan di hargai. Dan.. yang lebih parahnya aku tidak pernah di buat betah dengan namanya rumah. Untuk nama.. perkenalkan nama saya Yasmin!" sambil mengulurkan tangannya.
'Namanya bagus sekali.. yaitu Yasmin. Cocok dan sesuai dengan wajahnya,dia gadis remaja yang sangat cantik. Tapi.. jika dia anak orang berada aku yakin yang banyak yang mengejar-ngejar dia, lagian.. dia memiliki wajah kebule-bulean.'
"Kenapa kamu bicara begitu" Salma di buat penasaran lagi dengan gadis yang sekelebatan seperti dirinya dulu.
"Keluarga broken home, bukan broken home lagi. Ibu kandung tidak mau denganku sedangkan bapak cuma memikirkan kesenangannya saja,aku punya orang tua tapi serasa sendirian. Andai di suruh memilih, aku akan memilih tidak lahir di antara mereka jika aku tau aku akan jadi korban keegoisan mereka berdua, percuma jika aku terlahir dari orang tua yang kaya raya akan harta tapi tidak untuk kasih sayangnya, aku sendirian di dunia. Kekasihku di rebut sahabatku dan.. aku. Maaf mbak aku ceritakan semua pada mbak, aku permisi."
__ADS_1
Pergi begitu saja, padahal Salma ingin bertanya sesuatu yang jauh lagi,semoga kedepannya ia dapat bertemu dan bercerita panjang lebar lagi. Dan yang paling mengejutkan adalah cerita gadis remaja itu hampir sama dengan dirinya.
Salma tidak mau menghalangi kepergiannya.
"Semoga bertemu lagi deh, cantik-cantik gak suka dandan. Padahal kalau dandan ia akan dengan mudah mendapatkan laki-laki manapun kalau laki-laki itu mencintai dia."
Salma terbesit sesuatu di benaknya, bahkan ide gila yang tidak masuk akal.
Saat sore hari tiba sebelum Alga kembali ke rumah dia sudah berada di rumah bahkan pakaiannya sudah lebih santai tidak rapi lagi seperti tadi, padahal niatnya ingin kuliah hari ini tapi tidak jadi setelah melewati danau sebelum ia ke kampus, jadi.. endingnya ke danau untuk menenangkan diri.
"Segarnya baru mandi" sambil menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri untuk melonggarkan otot-otot tubuh yang terasa berat dan capek.
Alga baru saja kembali, ia langsung makan sebab perutnya mendadak lapar saat di jalan tadi. Ia berkerja menggunakan sepeda motor tidak mobil milik Salma maupun yang pernah ia beli dengan dengan uang hasil kerja kerasnya di rumah Adipati dan juga rumah Salma tapi tentunya selain Salma yang mengajinya Adipati juga menggajinya lebih besar sampai-sampai mobil yang pernah Alga beli secara cash langsung tidak angsuran.
Salma saat di balkon tidak sengaja melihat sepeda motor yang tidak asing, siapa lagi jika bukan suami yang tidak dapat ia gapai sampai titik perjuangan habis. Ia sengaja tidak turun dan membiarkan Alga melakukan apa saja yang ia senangi, dan ia sengaja hari ini lalai tugasnya sebagai istri. Bukan sengaja ia ingin tau usaha suaminya itu seperti apa, benar tulus atau tidak.
"Salma sayang." Tangan kokoh melingkar di perut Salma.
Meski ia baru pulang berkerja ia sudah mandi lebih dahulu tadi di lantai satu kamar yang dulu ia pakai, masih tertata rapi bahkan barang-barangnya masih ada beberapa di kamar itu selain bajunya.
Bau semerbak parfum entah parfum apa yang jelas aromanya begitu nikmat, aroma ini kenapa seperti aroma sebelum-sebelumnya saat bermain panas di ranjang itu.
•
Setengah jam kemudian.
"Maafkan aku Salma sayang. Maaf aku melanggarnya, aku harap kamu tidak berbuat nekat Salma sayang." Ia mengecup dahi Salma.
Salma lemas di atas tempat tidur, ia benar-benar kelelahan sekali. Waktu setengah jam itu tidak sebentar rasanya kedua kaki Salma linu dan sakit mau pisah, yang kanan tetap di kanan yang kiri tetap berada di kaki kirinya.
"Aku bantu ke kamar mandi?" tanyanya masih bersemangat sekali sepertinya, apa tidak lelah itunya?
__ADS_1
Salma terdiam.
"Diam artinya iya loh," langsung mengendong Salma dan menuju ke kamar mandi.
Salma pasrah sudah jika sudah begini, iya yakin acara mandinya tidak sebentar pasti akan lama sampai perutnya yang rata tambah rata bahkan masuk ke dalam.
Malam hari.
"Aku suapi ya?" hendak menyodorkan tapi percuma Salma masih bungkam setelah kejadian panas tadi sore.
"Tidak usah, aku bisa sendiri" tolaknya yang tidak dapat di ganggu gugat.
"Please ya..." Alga terus meyakinkan Salma, tapi.. Salma masih bungkam dan bingung harus bagaimana lagi.
Akhirnya Salma membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alga. Yang jelas sekarang ini hanya rasa bingung dan gelisah di hati Salma.
Alga menyuapi istrinya dengan telaten dan hati-hati lagian kenapa harus terburu-buru saat menyuapi. Lebih baik santai meski sedikit kesal sebab yang di suapi lama sekali mengunyahnya.
"Apa tidak enak?" pertanyaan Alga sukses membuat Salma terdiam.
"Jika rasa di hati mulai hambar bukannya sama seperti makanan tanpa adanya garam dan penyedap!"
Deg
Perkataan Salma ini, benar-benar menantangnya untuk kerja keras lagi.
*
Sampai part ini sudah bosan enggak sih?
Terimakasih sudah membaca, boleh ya kasih hadiah atau vote.
__ADS_1