
Alga berhasil membopong tubuh Salma masuk ke dalam kamar.
"Eh ... mau apa kamu, mau ngapain. Lepaskan?" panik banget.
Tersenyum devil menatap Salma dengan tatapan lapar dan ingin sekali melahapnya, Salma sampai membuang muka untuk menutupi rasa groginya.
"Turunin please ...." Memohon-mohon tapi Alga menggeleng keras menolak permintaan Salma.
Salma menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kalau di apa-apa in bagaimana, bukankah kejadian tadi malam sudah sangat panas tidak mungkin kan pagi-pagi bahkan sarapan belum selesai kembali lagi ke kamar.
'Sabar ya anak-anak ku, sebentar lagi kamu akan aku hitung satu persatu ya.' Salma pasrah sudah.
Terserah mau diapakan.
Alga meletakkan tubuh Salma di sofa dan tidak terjadi apa-apa selanjutnya, jadi pikiran liarnya tadi itu hanya pikiran buruknya kepada Alga.
"Kenapa kecewa? kecewa tidak aku apa-apa kan ya." Mencolek dagu Salma.
"Siapa yang kecewa justru aku senang tidak kamu apa-apakan jadinya aku bisa segera bertemu dengan anak-anak ku ini," langsung membuka dompet itu dan mencium uang itu satu persatu.
Alga menatap tajam dan ingin sekali membunuh uang-uang itu, tega-teganya uang-uang itu meracuni pikiran Salma yang membuat dirinya di abaikan. Bahkan semua tidak ada yang terlewatkan dari sentuhan bibir manis Salma, marah dan ingin sekali merebut mereka semua dari tangan Salma.
"Awas saja kamu duit." Sambil menunjuk-nunjuk uang yang di hitung oleh Salma.
Salma langsung memeluk erat uang-uang itu.
"Jangan sakiti mereka dengan membelanjakan mereka secara boros, ingat boros itu temennya setan," memeluk hangat tepat di dad4 Salma.
Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang pemboros adalah saudara setan di dalam SURAH AL-ISRA' AYAT 27. Alasan mengapa Allah menyatakan demikian adalah karena seseungguhnya pemboros itu adalah orang-orang yang ingkar pada nikmat yang diberikan Allah SWT. (Copas Google)
Cemburu buta dengan uang.
"Sesekali tidak apa-apa kan, lagian jangan salahkan aku marah. Salahkan mereka semua yang terlalu menggoda di mata kamu, apa mata kamu baik-baik saja setelah melihat mereka?" Alga masih dalam mode cemburu berat dan aneh.
Siapa sih yang tidak akan tergoda dengan duit, pasti tergoda lah sedikit-sedikit untuk membeli sesuatu yang di perlukan.
"Tetap saja tidak boleh, lebih baik untuk membeli kebutuhan aku yang habis beli skin care dan lainnya. Alga ... terimakasih sudah mengurus usaha kecilku saat aku tidak ada di sini dan saat aku belum bisa melihat." Cicitnya sambil meletakkan kembali uang-uang itu di dompet.
__ADS_1
"Seharusnya ini uang hak kamu, aku harap kamu terima sebab kamu yang berkerja bukan aku Alga." Sambungnya bingung.
Walau bagaimana Alga ikut turun tangan mengurus orang-orang yang berkerja di pasar itu, meski hanya beberapa saja yang berkerja untuknya serta memberi upah pada kuli panggul kepercayaannya juga.
"Tidak, anggap saja itu nafkah dari aku. Meski tetap saja itu usaha punya kamu sendiri, tidak berhak suami mengais rejeki dari usaha istrinya. Kamu belikan sesuatu yang kamu mau Salma, kamu berhak memanjakan diri kamu sendiri," mendekati istrinya kembali dan memberikan ciuman hangat.
Salma membalasnya meski rada kaku sebab kejadian semalam dan tadi pagi dirinya yang tidak tau malu main sosor begitu saja.
"Iya." Salma menyimpannya kembali.
Alga mengeluarkan beberapa lembar uang lagi dari dompetnya, selama berkerja di perkebunan uang gajinya ia simpan sebab di situ ada hak istri yang harus ia nafkahi.
"Ini aku hanya ada sepuluh lembar, kamu pakai ini nafkah dariku untukmu Salma." Memberikan lembaran uang kertas berwarna merah pada Salma.
Salma menerimanya.
"Terimakasih Alga suamiku," ia senang sekali menerima uang tersebut.
Sebab selama menikah baru kali ini Alga menafkahinya dengan uang segitu, meski kecil di mata Salma tapi ia tetap menerima dan bersyukur. Ia tau bagaimana pekerjaan suaminya dan harus menerima apa adanya di iringi doa juga agar rejeki yang di cari segera melimpah.
"Maaf aku belum bisa memberimu uang lebih, bahkan aku malu. Kamu saja bisa mendapatkan uang segitu saja hanya hitungan menit saja, sedangkan aku butuh waktu beberapa jam barulah bisa." Canggung dan bingung.
Alga memang tidak pandai bicara atau sekedar basa-basi, sebagai rakyat biasa ia sebanyak mungkin sadar-sadar diri jika berkerja harus lebih giat dari yang lain dan pantang menyerah. Tapi saat berkerja ia selalu mengutamakan senyum dan selalu menyapa orang lain, ingat harus rajin dan memberi kesan yang baik pada orang lain.
"Tidak apa-apa, sedikit banyak harus tetap bersyukur bukan. Terimakasih ya sudah memberiku nafkah lahir batin," Salma tersenyum lebar.
Alga juga ikut tersenyum.
Pagi hari.
"Tega nih kalian ninggalin Papa?" menatap putrinya yang semakin cantik saja.
"Tega pa, kasihan gubuk duka aku jika tidak di jenguk, takut banyak tamu seperti semut dan kecoa serta teman lainnya juga ikut bermain di rumah!" ngelawak tapi garing.
Tidak apa-apa dari pada sunyi seperti kuburan di komplek sebelah.
Alga juga ikut berpamitan, meski ucapan Salma mulai pedas lagi tapi tidak apa-apa. Biarkan Salma berperilaku sesukanya sekarang, biar dia melampiaskan amarahnya selama ini.
__ADS_1
Tak terasa perjalanan menuju ke rumah Salma sudah sampai sekitar satu jam an.
"Sal." Hendak membantu tapi Salma hanya menatap uluran tangan Alga.
"Mau ngapain?" keheranan.
"Aku bantu kamu jalan ya, bolehkan?" masih menyunggingkan senyum.
Salma bukannya menjawab malah ia menatap lurus kakinya yang jenjang dan putih itu.
"Kaki masih sehat gak perlu bantuan." Salam berlalu meninggalkan Alga sendiri.
"Padahal niatnya baik loh, malah di tolak. Kalau aku bantu orang lain jangan marah loh ya," godanya ke Salma.
Seketika Salma menghentikan langkahnya dan berbalik arah ke Alga.
"Gendong sampai atas sana." Menunjuk kamar yang sudah sangat lama ia tinggalkan.
Bagaimana keadaannya saat ia tinggal, apakah Alga merawat kamarnya dengan baik. Alga mengedongnya tubuhnya dengan ala bridal style biar di lihat orang suami idaman plus romantis.
Ceklek.
Salma terperanjat dengan apa yang ia lihat, benarkah ini kamarnya? saat Alga sudah menurunkannya tepat di depan pintu kamar.
"WHAT'S ...." Langsung menatap tajam Alga.
"KA ... MU ... A ... PA ... KAN ..., KA ... MAR ... A ... KU ...?" wajah menakutkan.
Alga sampai ke bingungan dan ia mulai mundur dari tempatnya berdiri sambil mencari cara agar bisa keluar dari tempat tersebut.
"Itu ... em ... biar ganti suasana saja, aku gak suka melihat kamar kamu penuh dengan warna gelap!" ragu-ragu berbicara.
Alga tau dirinya sangatlah lancang mengubah warna hitam menjadi warna kuning dan pink, pasti Salma akan marah besar. Tapi mau bagaimana lagi, ia ingin melihat istrinya lebih feminim lagi.
'Jika dia tambah feminim bukannya tambah menggemaskan dan seksi bukan, apalagi jika dia mau pakai pakaian dress dan lainnya.' Batin Alga berkeliaran kemana-mana.
BRUGH
__ADS_1
*
Terimakasih atas dukungan teman-teman semua.