
"Awasin aja gak apa-apa, hitung-hitung punya asisten baru dadakan pula." Salma menantang Riska.
Biarkan saja sekalian iri dengki tertanam lebih banyak, lagian wajah gak ada cantik dan badan datar saja masih sok bertingkah sombong. Gak pas dan gak pantas, hanya modal pintar di atas ranjang saja ko bangga (tapi banyak yang suka di tempat tersebut😒).
Cuma ngandelin duit orang tua dan keluarga saja sombongnya minta ampun apalagi kalau bisa beli pulau buatan, pasti tambah tembus sombongnya sampai isi bumi bocor.
Riska pergi dengan menghentakkan kaki, ia mengumpat habis-habisan kedua pasangan itu.
"Awas saja, jangan salahkan aku jika nanti kalian hancur di tangan aku." Dendamnya berlipat-lipat kali di tambah barusan saja ia di permalukan oleh Salma dan juga Alga.
Riska kesal sangat-sangat kesal.
Salma hanya bisa tertunduk sambil tersenyum, senang sedih bercampur aduk jadi satu. Apakah ia harus bahagia sudah membalas perbuatan Riska atau justru ia harus meratapi dirinya sendiri yang tidak berguna dan hanya bisa merepotkan orang lain saja.
'Ternyata semakin kesini aku seperti benalu saja, hanya bisa merepotkan dan merugikan pihak lain saja. Sepertinya aku memang harus mundur dari hidup Alga, aku yakin sekarang Alga menyesal telah berbicara sekasar itu pada Riska.'
Salma mencari dan meraba-raba tempat duduknya.
Salma merasakan ada yang memeluk pinggangnya ia hendak melawan dan membanting musuhnya namun. Ia mencekal tangan kokoh yang berada di pinggangnya.
"Jangan marah ini aku Salma." Alga mengajak Salma duduk kembali ke kursinya.
Salma langsung melepas cekalannya.
"Tolong kondisikan tangannya," Salma tidak mau di depan banyak orang nih bocah nyebelin mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Biar di kira suami istri rukun ayem tenteram begitu, benar-benar ya pas sekali jika pasangan bernama Riska dan Alga bersama cocok menjadi pemeran pendamping antagonis.
Salma masih tidak percaya dengan perubahan sikap Alga beberapa waktu ini, Alga laki-laki pandai merubah yang tidak mungkin jadi mungkin melalui tangannya sendiri.
__ADS_1
Sebenarnya teror boneka beberapa bulan yang lalu masih Salma ingat tapi yang membuat penasaran siapa sih dalang di balik ini semua, membosankan jika misteri seperti ini tidak terungkap siapa yang jelas di jadi dalang di balik semua permainan ini.
"Iya, akan aku kondisikan tapi tidak janji. Sebab aku lebih suka langsung sentuh kamu di rumah lebih tepatnya di kamar kita." Bisiknya membuat Salma merinding.
"Mesum," mengelak dan memalingkan wajahnya.
Malu bercampur kesal pada Alga, andai matanya bisa sembuh total dalam jangka dekat pasti bahagia tapi sayang prediksi Dokter tidak bisa pas pada waktunya.
Dulu katanya sekitar 2 bulan bisa sembuh tapi dalam kenyataan sudah lebih tidak ada tanda-tanda dan yang lebih membuat tercengang harus menunggu 2 bulan lagi, apa Dokter Qori bicara saat itu untuk menghibur dirinya ini agar tidak tambah tertekan dan depresi berat yang berkepanjangan tanpa bisa di sembuhkan.
"Sepertinya besok harus pergi ke rumah sakit lagi." Cicit Salma sambil melamun.
"Besok aku temani ya?"
Salma lupa jika dirinya masih bersama Alga di cafe.
"Tidak usah, kamu berkerja saja yang benar!" Salma menolak mentah-mentah, ia tidak mau rencananya gagal gara-gara Alga ikut serta.
"Gak ada tapi-tapian, kamu harus kerja jika kamu memang suamiku. Aku tidak mau punya suami pengangguran, kamu pikir aku gak butuh makan dan beli obat apa," kesal sekali.
Dengan cara ini pasti Alga menurutinya, lagian bukankah kewajiban suami menafkahi istrinya.
"Iya, aku pastikan aku akan menjadi suami yang kamu harapkan. Tapi ... harus pakai sopir dan ajak salah satu pembantu kepercayaan kamu untuk menemani kamu ke rumah sakit." Alga tidak percaya begitu saja dengan Salma.
"Hem," Salma iya ... iya ... saja, lagian buat apa pakai pembantu untuk mengantar dirinya ke rumah sakit.
Bukannya sama dengan bunuh diri sendiri, lebih baik mencari Rio dan Kamila saja. Semoga mereka masih setia dan tidak berhianat seperti di dalam mimpinya waktu sebelum ia kecelakaan.
Keesokan harinya
__ADS_1
"Aku antar ya, aku juga ingin tau perkembangan istriku sampai mana?" pertanyaan yang di ulang-ulang sampai telinga Salma hafal setia bait kata yang keluar dari mulut Alga.
"Kenapa? buat apa? biar kamu bisa melukai aku dengan cara halus!" kenapa dengan Salma.
Apa jangan-jangan ingatannya sudah membaik sedikit-sedikit. Syukurlah jika memang benar adanya, tidak apa-apa ini hanya permulaan dari perbuatan yang pernah ia lakukan terhadap Salma.
"Salma ... apa ingatan kamu sudah kembali?" sambil memeluk erat tubuh Salma.
Salma memberontak.
"Ingatan apanya, jika pulih aku juga gak mau ingat kamu. Dasar mesum, mencari kesempatan dalam kesempitan!" acuh tak acuh.
Alga jadi kurang bersemangat, padahal beberapa detik yang lalu ia masih semangat sekali. Apa sebegitu buruknya kenangan lalu bagi Salma sampai ia lupa dengan dirinya ini.
'Aku akan berkerja keras lebih lagi demi kamu Salma.'
Ketika di dalam mobil Salma termenung sendiri, hidupnya dan takdirnya sungguh lucu dan saling berkaitan satu sama lain.
"Mbak Salma." Sopir di rumah Salma mengejutkannya.
"Eh, iya. Ada apa pak Yus?" tanya Salma basa basi.
"Tidak apa-apa mbak, langsung jalan sekarang mbak." Yus fokus pada kemudinya sambil menatap Salma dari spion kaca.
Salma mengangguk.
*
Gak bisa crazy up sebab ide sering berhenti, harap maklum ya jika pikiran gak tenang juga gak bisa nulis, terimakasih untuk dukungan dari kalian semua teman-teman.
__ADS_1
Love banget ke kalian🥰🥰