Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
25. Amarah Salma


__ADS_3

Ketika makan malam.


Salma menikmati makanannya sendiri tanpa di temani oleh Alga, suara langkah kaki mendekati meja makan. Alga merasa sangat bersalah pada Salma, seperti suami yang ketahuan mendua di belakangnya dan pulang malam seperti ini saat makan malam saja.


"Makan dulu, penjelasannya nanti setelah kamu selesai makan." Salma cuek ia tidak akan luluh dengan pesona Alga, meski Alga memang sangat tampan di lihat apalagi dengan keringat yang membasahi wajahnya.


Salma menikmati makanannya, meski hatinya merasakan panas dingin tapi ia tidak mau sakit gara-gara perasaan yang kacau dan penyebabnya makhluk tengil di depannya sekarang.


Alga juga ikut makan malam tapi ia merasakan sesak di dada dan kesulitan menelan butiran nasi lemak yang sudah halus di mulutnya.


"Kenapa makan mu lambat, apakah sulit menelan makanan. Bagus deh ... sepertinya sadar diri kamu di sini posisi seperti apa." Ucapan pedas Salma langsung membuat Alga menghentikan kunyahan dalam mulutnya.


Alga menatap nanar wajah Salma.


"Apa aku boleh bicara sekarang?" Alga malah mau membahas topik lain sepertinya.


Salma yang terlalu baik atau terlena.


"Silahkan!" mempersilahkan Alga bicara, lagian Alga kepala rumah tangga yang tidak bertanggung jawab.


Kenapa Salma menganggap demikian, sebab sebagai suami ia tidak menafkahi istrinya meski baru menikah. Selain itu Alga masih memiliki hubungan dengan kekasihnya itu.


"Tadi aku keluar dengan Riska lalu aku mampir ke rumah Papa kamu sebentar saat setelah makan siang dan aku besok kerja di perkebunan sebagai pengawas menggantikan Papa sementara. Em ... soal Riska tadi aku dari pagi sampai siang dengan dia dan sempat mampir di cafe untuk makan." Alga bingung harus bicara mulai dari mana dan yang lebih parah setelah menemui Adipati ia ke rumah Riska.

__ADS_1


"Lalu sisanya, setelah bertemu Papa kamu kemana sampai jam segini?"


Pertanyaan Salma benar-benar mencekik lehernya. Hampir tadi ia menyentuh Riska pacarnya, sebab Riska menggoda sekali tadi badannya untung ia teringat kelebatan bayangan Salma jika tidak pasti tubuhnya ini bersentuhan dengan Riska.


"Ke rumah Riska!" jawabnya lirih.


Nah kan ... ketangkap basah dengan ucapannya sendiri dan mulai bicara jujur kan.


"Lalu." Salma menatap tajam Alga, seribu pertanyaan kini menjajagi pikirannya.


"Em ... aku ... aku ... dan Riska," Alga terputus-putus bicaranya.


"Tidur dengannya, begitu?" tebakan Salma.


"Aa ... ha ... ha ..., dasar bajing*n gak berotak." Sambung Salma langsung melempar garpu hampir mengenai wajah Alga.


Wwuusshh


Tak


Garpu meleset dan menatap meja belakang Alga duduk.


Jantung Alga langsung berolahraga. Dug dug dug bahkan denyut jantung Alga semakin cepat saat melihat pisau buah yang sudah berada di genggaman tangan Salma usai melempar garpu yang hampir mengenai wajah, aset satu-satunya yang kini ia punya.

__ADS_1


'Mati gue.' Alga mundur perlahan dari tempatnya duduk sambil mengisyaratkan tangannya bahwa dirinya tidak siap mati sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf ... maaf ... Salma, maafkan aku. Tapi kamu harus dengar penjelasan aku dulu. Salma jangan main bunuh dulu." Alga ketakutan sekali jika Salma api dalam dirinya sudah terbakar.


Meski ia bisa mengelak dan melawan tapi dirinya sekarang tanpa daya dan dirinya hanya beban di rumah ini. Dan Alga sadar sekali jika dirinya harusnya bersyukur di terima di keluarga Adipati bahkan bisa menikahi putri tunggal Adipati. Selain itu juga demi Bapaknya yang masih berkerja di rumah utama Adipati meski sudah jadi besannya.


"Untuk apa punya suami yang sukanya menggagahi wanita di luaran sana, oh ... ya aku lupa jika aku ini nona muda dan kamu hanya pembimbing aku sebelumnya. Satu lagi Alga, sepertinya kamu memang tidak pantas di anggap sebagai suami. Kamu pergi dari rumah ini dan aku akan segera mengurus surat cerai kita, eh ... salah bukan kita tapi diriku sendiri untuk kamu. Dan lagi jangan mimpi bisa memiliki kekayaan dari keluarga Adipati, jika mau kaya harus kerja sendiri dari keringat sendiri." Sindiran Salma membuat harga diri Alga jatuh sejatuh-jatuhnya.


Seharusnya kata-kata ini tidak pantas di ucapkan.


"Salma, ucapanmu barusan sungguh membuat aku sebagai laki-laki tidak ada gunanya dan kamu sungguh merendahkan orang seperti aku, aku tau aku miskin tapi tidak seperti ini cara kamu mengungkapkannya Salma. Kamu sungguh berdosa telah menghinaku seperti ini," Alga berlalu pergi tanpa perlu menjelaskan yang sebenarnya apa yang terjadi antara Riska dengan dirinya.


"Berdosa kamu berucap, hey ... tunggu. Yang berdosa itu kamu Alga, dasar ... penghianat." Salma melempar semua piring yang ada di meja makan bahkan makanan di atas piring semua ikut jatuh.


Tubuhnya merosot di lantai.


Beberapa asisten rumah yang mendengar perdebatan ini ingin sekali melerai tapi takut juga dapat amukan dari Salma yang suka marah-marah jika memang hatinya sedang kacau balau.


*


Apalah daya diri ini, memang sakit. Apalagi jika cintanya diam-diam tumbuh.


Emak ingatkan sekali lagi banyak kata-kata kasar di karya ini jadi ambil positifnya ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2