
Alga hendak bicara namun lagi-lagi Adipati berbicara, bahkan tidak ada kesempatan untuk dirinya berbicara jujur. Apa ini namanya tutuplah aibmu jangan sampai kamu membukanya, sebab Allah menutup rapat aibmu jadi pandai-pandai lah menutupinya juga dan jangan kamu buka.
"Alga bagaimana perkebunan hari ini, lancar?" Adipati begitu banyak berharap pada menantu laki-lakinya.
Percakapan panjang lebar terjadi namun tidak ada kesempatan baginya untuk bicara jujur, Salma yang menguji kesungguhan suaminya sedikit tergugah untuk memaafkan.
Saat di dalam satu kamar.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" mendekati Salma yang duduk di meja rias.
Salma menatap pantulan suaminya.
"Tanya apa!"
"Em, soal di rumah tadi. Bukannya kamu menyuruh aku untuk jujur pada Papa dan Bapak." Alga ragu tapi ia juga butuh penjelasan.
Salma menatap sekilas.
"Itu masalah kita dan orang tua seharusnya tidak tau, aku sengaja menyuruhmu tadi begitu aku ingin tau seberapa besar kamu sungguh-sungguh dalam berumah tangga. Tapi ...," Salma tidak melanjutkan bicaranya ia terdiam sambil meremas jari jemarinya.
__ADS_1
"Aku akan bicara pada mereka yang baik-baik, maafkan aku yang sudah mengecewakan kamu Salma. Apa aku boleh tau kenapa kamu marah padaku, apa kamu cemburu, apa kamu ada rasa padaku. Maksudku semacam rasa cinta?" pertanyaan rumit dari Alga membuat Salma gelisah.
Dirinya harus jawab apa, bahkan sekarang saja diri ini sudah ragu untuk melangkah ke depan. Lebih baik ia pilih berbelok dan mencari yang lain dari pada lurus namun menyakitkan.
"Untuk apa kamu bertanya itu, atau jangan-jangan misi mu dengan Riska masih berjalan ya!" Salma tau jika Riska memiliki ambisi besar untuk menghancurkannya.
Alga terkejut namun secepat kilat ia merubah keterkejutannya menjadi biasa-biasa saja dan pura-pura tidak paham.
Tak sengaja Salma pernah dengar dari seseorang yang memata-matai mereka berdua jika Alga dan Riska berencana membuat dirinya ini jatuh cinta, memang benar diri ini tidak tau malu malah jatuh cinta pada orang yang hanya membantu sang kekasih untuk balas dendam dan tertipu dengan bualan dan perhatian palsu semata.
"Misi?? misi apa maksud kamu. Aku tidak mengerti Salma." Masih berkilah.
"Halah ... gak usah berpura-pura deh kamu Alga, bilang saja terus terang jika kamu membantu Riska untuk balas dendam ke aku," emosi meluap dan langsung pada inti poin permasalahan.
Salma ingin sekali menghormati suaminya tapi sepertinya tidak pantas seorang Alga di hormati, semakin di hormati semakin pula ngelunjak kelakuannya dan berani bahkan sampai ia tidak sadar diri jika dia dimanfaatkan orang lain dengan cara halus.
"Jadi ..., kamu sudah tau Salma?" Alga menatap nanar wajah masam Salma.
"Ya sudah tau, tapi ngomong-ngomong jika aku sudah tau begini. Apa kamu masih ada niatan untuk menghancurkan aku Alga dan akan terus bersama dia untuk bersekongkol melukai aku." Menebak saja, tapi sepertinya ia.
__ADS_1
Pertanyaan yang seharusnya tidak di tanyakan, sebab Salma masih imut dan polos. Harus waspada juga jika lawan mengetahui siasat tersembunyi nya sudah bocor ke target.
Antara senang dan tidak, di satu sisi dirinya berhasil membuat Salma marah sebab cinta di dalam diam dan ia terluka atas perbuatannya ini tapi di lubuk hati terdalamnya ia juga bimbang dan menyesal.
Alga gelisah tapi mengingat kejadian tadi siang saat melihat air mata Riska membasahi kedua pipinya ada rasa tidak tega, hatinya rapuh tapi di sisi lain kehidupan dirinya bukan bujangan lagi melainkan suami orang, sungguh berdosa dirinya jika terus menerus melukai hati istrinya. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu saja dan tidak di bawa-bawa ke masa mendatang, jika perlu bantuan di tolong sedikit saja.
'Aku akan menjadi orang paling rugi di dunia akhirat jika aku tetap memilih jalan yang tidak benar, selain itu Riska kenapa bisa ada perempuan seperti dia yang melakukan hal yang seharusnya tidak pernah ia dekati dan lakukan, jadi kepolosan dia selama ini apa hanya tipuan belaka.'
Alga termenung dalam lamunan.
"Kenapa diam? lagi menyusun rencana menghancurkan aku lagi atau apa." Geram Salma ingin sekali menghajar Alga tapi bukan tempat ini, sepertinya perlu menyewa tempat ring tinju.
"Tidak, aku tidak ada niatan untuk melukai kamu Salma setelah tadi aku benar-benar putuskan Riska,"
Berarti kemarin-kemarin itu benar-benar niat untuk melukai hati, pantas saja dari sifat dingin sebelumya jadi perhatian dan bersikap baik. Oh ... ternyata hanya siasat saja.
"Jadi sebelum-sebelumnya memang kamu berniat menjatuhkan aku dan itu gagal, sungguh tega kamu Alga. Aku harap kamu tidak akan menyesal dengan perilaku kamu kemarin yang akan terjadi kedepannya pada nasib kamu sendiri." Salma berlalu pergi.
Ia sudah tidak sudi lagi satu ruangan dengan orang yang bawaannya ingin membantu orang balas dendam, dasar laki-laki gak punya pendirian dan bar-bar.
__ADS_1
*
Sifat rapuh dan plin plan lah menyebabkan kekacauan di masa yang akan datang.