
Alga mendapatkan bogeman mentah dari Salma, wanita ini sejak kapan kekuatan tangannya bertambah. Apa gara-gara stamina tadi malam, jelas-jelas ini penyebabnya sebab ia hanya menikmati meski ya dia yang lebih aktif bergerak.
"Stop ... stop ... stop, kenapa kamu memukulku. Seharusnya aku yang marah." Alga meraih pergelangan tangan Salma.
"Dasar laki-laki, dimana pun tempatnya tetap saja wanita yang salah. Sudah meniduri tapi malah berbanding terbalik menuduh wanita yang tidak bersalah," Salma menarik tangannya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.
"Hey ... kamu yang meniduri aku, tetap kamu yang salah. Kenapa kamu tega meniduri ku semalam?" mata Alga mulai ada sedikit embun dan hendak menangis bahkan nada bicaranya saja sudah melemah.
Salma merasa kasihan, ia ulurkan tangannya lalu mendekap kepala Alga masuk di dadanya. Seraya mengusap rambut Alga dan menenagkan Alga juga, hem ... Salma merasa seperti laki-laki sejati yang menentukan seorang gadis yang baru saja ia tindas.
Alga tersenyum mendapatkan pelukan ini. Tapi bukan senyum bahagia tapi senyum hendak menghancurkan kebahagiaan Salma kedepannya.
'Maaf Salma, cerita ini sudah di karang sebelumnya. Aku tidak akan tanggung-tanggung melakukannya, selain demi uang dari keluarga kamu aku harus menepati janji ku pada Riska. Aku tidak mau kekasih hatiku marah padaku, dan dengan cara ini lah aku akan melumpuhkan kamu Salma.' Alga memerankan peran sebaik mungkin.
Tapi Alga tidak tau jika hati seorang wanita apalagi seorang istri akan lebih peka terhadap perasaannya, meski perasaan pada pasangan belum ada.
'Kenapa aku merasa Alga berubah ya, jadi cengeng. Apa ini salah satu triknya Alga, sudah ... aku ikuti saja permainannya ini. Apa benar ia juga baru pertama kali melakukannya, tapi kenapa bisa sangat ahli setiap perlakuannya padaku tadi malam. Benar-benar pembawa petaka cinta satu malam tadi, lagian aku juga mau mengintrogasi Papa. Sebegitu ngebetnya pengen punya cucu dari aku, sampai-sampai aku jadi korban dan sekarang malah aku harus pura-pura menenagkan laki-laki sok cengeng ini.' Batin Salma kesal sekali.
Hidupnya rumit bahkan melebihi rumus Matematika dan Fisika yang tidak dapat di pecahkan dengan kondisi otak di bawah pas-pasan. Nyesek dan pusingnya pakai banget.
__ADS_1
"Pintu di kunci, sebagai laki-laki kamu coba deh berpikir gimana keluar dari kamar ini." Salma melepas dekapannya.
Alga menatap pintu kamar tersebut, lalu ia bangkit dari ranjang tanpa sadar dirinya tanpa sehelai benang di badannya. Alga merasakan sejuk di area selangkangannya.
"Ko dingin ya?" ia menatap nanar area bersilang.
"Waw ... gede,"
Wajahnya langsung memerah sebab malu di tambah lagi mata Salma sudah membulat dengan pandangan yang tertuju pada X nya.
"Dasar wanita mesum, jangan lihat-lihat." Alga langsung mengambil celana luar dalam dan mengenakannya saat ini juga.
"Gak lihat ko, asal kamu tidak menunjukkannya di depan wajah aku," Salma mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Bilang aja masih mau, apa gak mau bantuin buka nih kunci. Telpon gitu suruh siapa gitu bukain pintu," ucapan Alga ada benarnya, kenapa tidak dari tadi dirinya kepikiran.
Salma mencari ponselnya, huft ... Salma menghembuskan nafas berat. Untung saja ponsel ada meski semua pakaiannya tidak ada, padahal sebelum makan malam ia masih melihat banyak pakaian di lemari begitu juga pakaian Alga yang sudah ada di lemari sebelah miliknya, tapi setelah ia masuk kamar semua hilang dan lenyap seketika. Sebegitu rapinya mengemas sampai satu saja tidak ada yang tersisa.
๐ "Siti, buka pintu. Kalau tidak jangan harap kamu dan teman-temanmu seprofesi kamu bisa menikmati gaji bulan ini. Jika pintu kamar kamu bukain kalian semua dapat bonus sekarang."
__ADS_1
Salma kesal sekali, kenapa bisa-bisanya pembantu rumah ini lebih tunduk pada Papanya dari pada dirinya, Salma teringat jika yang mengaji adalah Adipati Papanya pantas saja mereka tunduk.
Siti menengguk salivanya dengan kasar, kalau membukakan pintu kamar mbak Salma gimana nanti jika Pak Adipati memecat teman-teman seprofesi dengan dirinya.
๐ "Tapi, mbak saya gak berani buka sebelum mbak Salma dan mas Alga melakukan itu," Siti ragu-ragu saat membicarakan topik sensitif.
Salma memijat pelipisnya.
๐ "Kami sudah melakukannya tadi malam, sekalian bereskan kamar." Salma mematikan telpon sepihak.
Alga mengerutkan alisnya.
"Kenapa?" heran sendiri.
"Pintu gak akan di buka sebelum kita melakukan itu, jadi tadi Siti tanya apa sudah melakukan. Jika sudah bisa di buka pintunya, gila ... bener punya pembantu seperti mereka, majikannya siapa tapi ikut siapa. Tau begini tadi malam aku enggak masuk kamar." Salma melempar ponselnya.
Alga mendekati Salma, entah sudah berapa kali kepalsuan ini ia lakukan. Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.
*
__ADS_1
Kurang semangat, ayo dong bantu rekomendasi ke teman-teman biar karya Emak banyak yang tau.
Terima kasih sudah mampir dan membaca.