
"Gara-gara kamu aku begini, kamu harus tanggung jawab." Salma mendengus kesal di buatnya.
Samudra diam saja, ia menunggu reaksi orang-orang di sekitar tempat tersebut.
Ibu pemilik warung dan pembeli melihat perdebatan kecil antara rakyat jelata dan seorang berpakaian rapi tapi tidak mengenakan jas kebesarannya.
Mereka saling berbisik-bisik menjelek-jelekkan Salma, wanita buluk dan kucel minta pertanggungjawaban apa coba. Pasti masalah duit lagi dasar rakyat jelata yang tak tau malu, di pikirannya duit doang.
Salma tidak marah justru ia tersenyum.
"Seharusnya kalian bersyukur Papa aku memiliki perkebunan teh dan tembakau terbesar di kota ini yang dapat mensejahterakan rakyat di kota ini." Salma dengan aura kewibawaan terasa sekali.
Mereka bukannya percaya justru tertawa kencang.
"AA ... HA ... HA .... Mbak kalau menghalunya jangan siang hari terkesan mimpi siang bolong mbak." Ucap mas-mas dengan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan Salma.
"Terserah kalau gak percaya," acuh Salma langsung memesan nasi pecel.
Samudra tersenyum melihat kejengkelan Salma, wanita ini sungguh menggemaskan. Memang ya Salma itu selalu ada kejutan baru lagi.
"Hai ganteng ... boleh kenalan?" sapa gadis manis mengenakan Hoodie.
"Gak boleh, dia orang gila loh!" saut Salma.
"Eh, gak salah nih mbak. Kayaknya mbak deh yang gila, pakaian gak jelas kusut di tambah lagi banyak noda sana sini." Menunjuk pakaian Salma.
__ADS_1
Salma langsung melesat ke dasar tanah, malunya bukan main sampai rambut putih pasti ingat terus nih.
"Hey ... stop jangan berdebat lagi, saya lapar mau makan. Oh ... ya sedari tadi saya dengar kalian semua menjelek-jelekkan dia kan, asal kalian tau dia Salma Adipati. Putri tunggal Adipati orang tersohor di kota ini, ingat keluarga kalian yang berkerja baik di pabrik atau perkebunan jika Papanya sampai tau anaknya di jelek-jelekkan pasti imbasnya pada pekerjaan saudara atau keluarga kalian." Gertakan Samudra membuat Salma tertegun.
Pantas saja Kamila nempel terus padanya, ini jawabannya membuat orang nyaman dan terasa di lindungi oleh sosok yang kokoh.
Yah namanya juga orang tukang julit dan detergen pasti tidak tinggal diam, ia akan berbicara sampai mulutnya mengeluarkan busa baru berhenti kalau topi gak ada, jika tidak pasti di ada-adakan saja untuk membuat topik baru.
Di parkiran mobil.
"Kamu harus bertanggung jawab, kamu kan yang membuat aku dalam masalah besar ini. Bahkan mertua dan papa aku marah denganku termasuk suami nuduh aku yang bukan-bukan, jadi ikut aku dan jelaskan secara terperinci tentang foto yang berada di ponsel Alga." Salma tidak tanggung-tanggung ia langsung menyeret Samudra dan memaksa Samudra masuk mobilnya sendiri dengan terpaksa.
"Bertanggung jawab seperti apa coba?" menggoda Salma sambil mencondongkan badannya ke depan.
"Jelasin, kenapa dekat-dekat sih!" Salma menghindar dari pada ada yang mengintai dirinya lagi dan tambah runyam masalahnya.
Salma ingin sekali mencakar-cakar wajah Samudra yang tanpa merasa bersalah sama sekali, padahal gara-gara dirinya yang tidak membawa pulang ke rumah.
"Awas saja kalau sampai rumah papa aku gak jelas apa yang terjadi dengan jujur di antara kita. Awas saja kalau kamu bohong." Mengancam dengan menunjuk-nunjuk Samudra.
Samudra mengangguk saja.
'Maaf Salma, seperti aku tidak akan diam jika nanti orang-orang menghinamu atau merendahkan kamu.'
Samudra mengendarai mobilnya menuju rumah Adipati Papanya Salma, siapa sih yang gak kenal orang dermawan dan baik seperti Adipati. Seluruh kota juga tau jika Adipati juga salah satu donatur di Indonesia maupun sedikit membantu di Negara lain juga. Tak bisa di pungkiri entah harta kekayaan berapa, yang jelas Adipati tidak suka ada yang tanya-tanya berapa banyak hartanya.
__ADS_1
Pasti jawabannya hanya satu, harta yang dimiliki sebagian milik mereka jadi jangan tanya seberapa banyak harta saya. Yang jelas mereka yang butuh bantuan bisa kenyang baru lah saya juga merasakan kenyang, tapi jika mereka kelaparan saya juga merasa kelaparan.
Samudra mengingat kata-kata itu, bahkan mungkin beberapa orang dewasa tidak asing dengan ciri khas kata-kata Adipati. Kenapa orang sedermawan Adipati dan seorang yang sederhana tidak mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin.
Alasannya satu, saya saja belum bisa membahagiakan anak saya bagaimana cara saya membahagiakan kalian. Harta dan cinta dari kalian semua sekarang saja membuat saya bahagia dan senang. Biarlah itu jadi rezeki orang lain saja dengan seperti ini saja saya sudah cukup bahagia, melihat kalian yang senyum saat saya kunjungi.
Sampailah di depan gerbang rumah Adipati, Salma keluar dari mobil Samudra dan menyuruh satpam untuk membukakan gerbang.
"Non Salma." Langsung membuka gerbang secepat mungkin.
Mobil melesat masuk ke dalam pekarangan rumah Adipati, sejuk dan rapi tatanan taman dan bunga berbagai macam rupa dan di kelilingi pohon yang asri.
Di dalam ruang tamu masih berkecamuk mereka memikirkan kenapa Salma bisa menjadi seperti ini, apa gara-gara terlalu bebas masa mudanya sampai detik ini sehingga membuat dia nekat menginap di apartemen bahkan laki-lakinya saja tidak jelas asal usulnya.
Bagaimana keluarganya berasal, takut di ajak jadi bandar atau pengedar barang haram. Sebab dulu Adipati hampir terjerumus ke dalam lembah hitam bahkan perdagangan gelap, untung ada seorang wanita yang menolongnya kala itu dan membuat Salma hadir tanpa sengaja.
Ya ... wanita itu wanita malam dengan sejuta pesona kecantikannya yang menurun pada Salma putri kecilnya, serangkai tes telah di lakukan untuk meyakinkan jika Salma putri kandung atau bukan dan hasilnya sama yaitu Salma adalah putri kandungnya.
*
Setiap part tidak selalu konflik ya, jadi nikmati dulu ya.
Yuk dukungannya biar karya ini masuk rangking, emak pengen ngerasain krya nongkrong di beranda dan rangkingnya karya. Tuhkan jadi curhat 😂
Bunga 🌹 dan kopi ☕ boleh di luncurkan ya.
__ADS_1
Terimakasih banyak.