Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
49. Permintaan Salma


__ADS_3

# Fiksi bukan nyata.


Sang Dokter berbicara.


"Coba kamu buka pelan-pelan mata kamu."


Salma mengangguk, ia tau harus berbuat apa. Ia sangat pelan membuka matanya, tapi kenapa ada yang aneh saat ia buka matanya secara penuh dan lebar. Semua buram dan samar-samar meredup dan menghitam, apa artinya ini.


Apakah dirinya akan buta secara permanen atau sementara saja? pertanyaan muncul lagi. Jika dirinya tidak bisa melihat lagi seperti sedia kala, bagaimana cara ia membalaskan perbuatan Alga dan Riska yang melukai dirinya sampai di titik ini.


Andai jika bukan gara-gara mereka yang terus menerus menjatuhkannya tidak mungkin diri ini berada di rumah sakit dengan kehilangan penglihatannya.


"Apa saya tidak bisa melihat untuk selamanya Dok. Apa saya akan cacat seumur hidup saya?" Salma menjerit histeris.


"AAA ...." Ia bahkan melempar semua benda yang ia raih, tidak peduli infus yang berada di tangannya ia cabut.


Sang Dokter mengisyaratkan beberapa suster untuk memberikan obat penenang pada pasien, membiarkan dia untuk istirahat lagi beberapa jam saja.


Kasihan sekali nasib pasien ini, tidak ada keluarganya yang mencari dia sampai saat ini. Biaya rumah sakit pihak pemilik perusahaan sudah bertanggung jawab atas kecelakaan ini dan juga dapat bantuan jasa Raharja.


Dua bulan kemudian.


Salma menatap jendela, mungkin saja ia benar-benar menatap jendela. Ia hanya bisa meraba-raba ruangan itu sambil merasakan suasana sekitar dirinya, ia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Tadi malam saat ia tersadar sang Dokter bicara jujur jika matanya akan segera membaik dalam waktu dekat, mungkin tidak sampai beberapa bulan setelah kejadian ini dirinya bisa melihat normal kembali.

__ADS_1


Tapi yang paling mengejutkan adalah, Salma meminta laporan palsu tentang sakitnya. Demi membalas perbuatan Alga dan Riska, meminta sang Dokter membuatkan surat palsu berupa surat jika dirinya hilang ingatan dan juga penglihatannya dalam waktu yang sangat lama.


Sungguh permintaan yang sangat ekstrim dan melanggar, tapi melihat kondisi pasien yang tidak di pedulikan keluarganya membuat Dokter yang menangani Salma memalsukan beberapa dokumen laporannya. Walau nanti resiko terjadi pada dirinya yang akan datang, tidak apa demi membantu orang tertindas (sungguh mulia, tapi juga ada salahnya dalam membantu berbohong)


"Apa saya boleh keluar Dok?"


"Apa sudah sembuh dan baikan?" malah menggoda Salma.


"Bukannya anda Dokter, yang bisa menentukan pasiennya baik-baik saja atau tidak!" jawaban Salma membuat laki-laki hampir paruh baya itu tertawa.


Sudah lama ia tidak tertawa lepas.


"Kamu ini mengingatkan saya dengan mendiang adik saya." Qori sedih jika mengingat sang adik yang sudah tiada puluhan tahun itu.


Hanya kenangan manis dan kejahilannya mengingatkan dirinya, dulu ia selalu berusaha kuat di hadapan dirinya. Padahal ia rapuh sakit leukimia menggerogoti hidupnya, demi sang adik bisa sembuh ia bertekad menjadi Dokter khusus untuk menangani penyakit kangker namun belum juga ia lulus sang adik sudah di panggil oleh Sang Maha Pencipta di usianya sama seperti Salma 20 tahun.


"Kenapa?" malah bertanya lagi padahal Salma juga sudah tau jika Dokter Qori sudah cerita panjang lebar beberapa hari yang lalu.


-


Alga sudah 2 bulan lebih satu minggu mencari keberadaan istrinya namun tidak kunjung jumpa dan ketemu.


"Dimana sih kamu Salma, aku mohon maafkan aku dan kembalilah pulang Salma." Berdoa selalu saat mencari Salma di seluruh penjuru jalan.

__ADS_1


Ia tidak pakai jasa sopir untuk mengantarnya mencari Salma. Adipati juga mengerahkan banyak orang tapi juga belum mendapatkan informasi apa pun tentang Salma. Kenapa ia setega ini meninggalkan papanya yang hidup sendirian, kenapa pergi tidak bilang-bilang dulu.


"Salma, papa mohon pulang nak." Adipati merasakan sedikit sesak di dada.


Arto dengan sigap membantu Adipati duduk di kursi tempatnya biasa beristirahat sambil pijat terapi.


"Pak bos ini minum dulu." Arto memberikan air putih hangat pada Adipati.


"Arto ... dimana Salma, apa dia sudah di temukan Arto?" merengek seperti anak kecil.


Dirinya lemah sekarang bahkan sangat-sangat rapuh, kehilangan putrinya sama dengan kehilangan separuh nyawanya. Dimana dia, apa sudah makan? bagaimana keadaannya.


Tiba-tiba ia teringat, puncak masalah terdapat pada Alga. Ia harus mencari Alga dan bertanggung jawab atas hilangnya Salma selama ini, jika bukan karena perlakuan Alga tidak mungkin Salma pergi di tambah lagi yang katanya mantan Alga itu kenapa masih ngejar-ngejar Alga. Atau jangan-jangan ia ada sangkut pautnya atas hilangnya Salma.


"Arto temani saya menemui Alga." Adipati beranjak pergi, ia mengabaikan sakit di dadanya.


Ada sesak dan nyeri di dada namun masih bisa di tahan, apalagi untuk menghajar Alga. Kekuatannya akan beribu-ribu kali lipat tanpa ada tandingannya, sudah cukup ia diam melihat putrinya terluka tapi tidak untuk hari ini. Ia ingin melihat tampang Alga apa ada rasa bersalah atau justru kebahagiaan.


Setelah sampai di rumah Salma. Ia melihat menantunya dalam keadaan baik-baik saja, apa dia tidak mencari istrinya atau malah sibuk cari yang lain lagi.


"ALGA." Teriak Adipati yang mengepalkan tangannya.


Alga terperanjat.

__ADS_1


*


Hajar ajak pak Adipati, pendukung di balik layar bawa macam-macam untuk membantu ini🤣🤣


__ADS_2