
Salma yang sudah selesai lebih dulu menatap lagi mereka semua dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Salma mengerenyitkan dahinya.
Samudra, Agam menggelengkan kepalanya.
"Kami merasa aneh, kamu sudah bisa melihat kami?" kenapa pertanyaan Agam muncul sekarang, kenapa tidak dari tadi. Telat tanyanya.
"Aa ... ha ... ha ...," bukannya menjawab malah Salma tertawa sekencang-kencangnya sambil memukuli meja yang ada di depannya.
Ya tentu saja pengunjung yang lain juga ikut terkejut dan tersenyum melihat gelak tawa Salma yang begitu menggelegar.
Mereka berempat hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan Salma puas tertawa sendirian, Samudra menatap Alga begitu juga dengan Agam bertanya. Mereka seperti mengisyaratkan apa yang sebenarnya terjadi pada Salma, apa Salma menjadi tidak waras setelah bisa melihat kenyataan kembali.
Alga hanya menaikkan kedua pundaknya, sebab yang ia tau Salma tidak gila dan baik-baik saja dari rumah bahkan semalam juga ada kegiatan panas yang menggoda.
"Jangan mengira kesehatanku menurun dan menyuruh ku untuk ke psikiater." Salma langsung diam setelah berbicara menanti reaksi kedua orang-orang.
"Baik kami semua percaya," Agam bersyukur jika Salma sudah kembali seperti dulu.
Tapi kalau kelakuannya yang semena-mena dan gak mau tau kambuh lagi bagaimana, haduh ... pasti dapat masalah lagi, meski dia juga dapat menyelesaikannya dengan baik dan sempurna.
Kediaman Adipati.
"Arto ayo ke rumah anak-anak." Adipati sudah sangat rindu dengan putri kecilnya.
"Mari pak Adipati," mempersilahkan Adipati untuk jalan lebih dahulu menuju halaman depan.
Saat hendak naik ke dalam mobil Adipati mengurungkan niatnya, ada sesuatu yang tertinggal yaitu barang-barang yang ingin ia berikan pada putrinya.
"Sebentar ada yang tertinggal." Adipati kembali ke masuk ke dalam rumah.
Arto menepuk jidatnya, haduh ... aki aki sudah banyak pikun daya ingatnya menurun drastis sekali, untung dirinya belum jika lebih dulu seperti Adipati pasti bakalan dapat omelan siang malam.
Setelah selesai mengambil paper bag ternyata ada yang ketinggalan lagi, Arto geram dengan perilaku Adipati. Padahal cucu saja belum ada satu pun yang berlarian di rumah ini tapi nyatanya daya ingat yang di miliki Adipati sudah parah begini. Haduh ....
__ADS_1
"Maaf pak Adipati, apa ada yang tertinggal lagi?" pertanyaan Arto sukses mendapatkan tatapan membunuh dari Adipati.
"Kamu menyindir saya ya Arto, kamu mau bilang aku ini pelupa berat. Saya tidak setia itu Arto, bahkan aku masih ingat berapa gaji untuk para karyawan!" jawabnya masih saja semena-mena.
'Dasar laki-laki tua, kenyataan memang begitu adanya. Sering lupa ini dan itu.' Arto ngedumel dalam hati.
-
"Gimana hari ini? senang tidak." Alga menggenggam tangan Salma.
Mereka berdua menikmati indahnya pemandangan kota dengan menunggangi jasa delman, sambil menikmati suasana dan juga menambah rasa cinta dalam kehidupan rumah tangga.
"Senang sekali, em ... Alga kamu tau tidak wanita yang berada di samping Samudra tadi?" Salma menanyakan hal yang membuat darah Alga mendidih.
"Kenapa kamu bahas orang lain sih, itu tidak penting Salma sayang!" tidak rela, tidak suka saat berduaan membahas masalah orang lain.
"Tapi, wanita tadi itu salah satu anak dari orang yang berkerja di pasar." Salma akhirnya buka suara.
"Maksudnya," Alga benar-benar tidak paham.
"Siap Bu bos mudaku," Alga mengiyakan permintaan sang istri.
Lagian dirinya belum berkerja lagi, bantu-bantu sedikit saja setidaknya meringankan beban Salma.
Adipati berada di rumah putrinya tapi Salma tidak ada dan belum pulang katanya tadi pergi ke restoran seafood milik Agam, dirinya juga sudah menghubungi Agam tapi Agam bilang sudah pulang dari restorannya sekitar satu setengah jam yang lalu.
"Arto, saya menginap saja hari ini. Hatiku tidak tenang dan lega jika belum melihat dia di depan ku." Adipati menuju ruang keluarga dan menonton film luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.
Arto mengekori saja, lagian meski besanan tapi tidak sopan jika lancang. Biarkan saja orang lain berbicara sampai mulut berbusa dan menjelek-jelekkan namanya asalkan nafkah yang ia cari halal tidak haram.
Pukul 18.38 WIB.
Alga mempersilahkan ratunya keluar dari mobil dan mengulurkan tangan, Salma menyambutnya tapi sesaat kemudian melepasnya.
"Sayang, kenapa di lepas sih. Pengen romantis-romantisan." Alga super bucin.
__ADS_1
Berati kemarin-kemarin saat dengan Riska bucinnya gak ngotak sampai bodo4 di pelihara.
"Malu ada papa, pasti bapak juga ada," memang benar tadi ada mobil mertuanya di parkiran dan juga sopir kepercayaan Adipati juga ada di sana sambil berbincang-bincang dengan satpam dan juga sopir Salma.
"Ya sudah, kali ini aku kontrol deh romantisnya. Tapi tidak untuk besok." Alga iklas tapi dalam hati masih gerundel dengan istrinya.
Kenapa sih sulit menaklukkan hati istrinya, padahal pesona ketampanannya masih melekat di wajahnya.
Salma langsung mencari keberadaan papa dan bapaknya, meski tadi pagi bertemu tapi rasa rindunya tidak terbendung. Beberapa bulan tidak melihat orang tercinta membuatnya sangat-sangat rindu melihat mereka bahagia secara langsung.
Kini kebahagiaan sudah datang harus dimanfaatkan dengan baik bukan.
"Papa ... bapak." Langsung berhamburan memeluk mereka secara bergantian.
Arto yang mengasuh Salma sejak kecil bahagia sekali, sifat manja Salma memang tidak berubah dan masih sama seperti dulu-dulu.
Alga merasa terpojok dan di abaikan lagi, sebenarnya siapa dirinya dan apa fungsi dirinya sekarang. Apakah patung mulai sekarang?
"Alga di biarkan sendiri disini?" akhirnya buka suara juga setelah melihat keharuan di depannya.
Arto langsung menyambut dan memeluk putranya.
"Awas saja membuat Salma kami menghilang dan terluka lagi, jangan harap bisa menelan nasi lewat mulut." Arto tidak main-main dengan ancamannya.
Alga mengangguk, ia tau karakter bapaknya yang akan melakukan sesuatu yang benar. Jika ada yang salah maka konsekuensinya yang harus babak belur dan lainnya.
"Tidak akan bapak, aku hanya cinta dan bucinnya dengan Salma seorang," sambil mengedipkan matanya ke arah Salma.
"Ciye ... yang sedang jatuh cinta." Ledek kompak Adipati dan Arto.
Dua insan yang dimabuk asmara sama-sama tertunduk malu, wajah mereka sama-sama memerah.
*
Ayo dong dukungannya, biar tambah semangat ngetiknya. Terimakasih sudah memberi dukungannya.
__ADS_1
Mau kasih hadiah buat pembaca setia tapi apalah daya, karya tidak laku. Dikit curhat ya, nyesek juga sih tapi gk apa-apa demi kalian semua yang sudah mampir dan membaca akan tetap up meski belum rejekinya karya naik.