
Nyonya William dan nyonya Damian masih saling berbicara, itu karena mereka tidak saling menghubungi setelah tuna Damian bekerjasama dengan perusahaan Albert dulu, dan melarang nyonya Damian menghubungi nyonya William, yang tidak lain adalah teman dekat mereka.
ddrrrttttt
Leon merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku celananya, dia Lalu mengambil ponsel miliknya dan melihat satu notifikasi pada layar ponselnya itu. Setelah membaca satu pesan yang didapatkan, Leon lalu menatap tuan William.
"Maaf paman William, sepertinya saya harus pergi sekarang. Karena teman-teman yang akan membantu saya untuk menghias villa di kota A sudah siap." Ucap Leon.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kamu bisa pergi sekarang."
"Terima kasih paman. Ibu, apakah ibu ingin ikut denganku pulang, atau Ibu masih ingin berbicara dengan bibi William disini?" Tanya Leon pada ibunya.
"Tinggalkan saja ibumu di sini, kami masih ingin berbicara banyak hal." Ucap nyonya William.
"Baik, jika begitu saya akan meminta sopir untuk menjemput Ibu nanti."
Nyonya William mengangguk. Leon berdiri dan berpamitan kepada ketiga orang tua yang ada di ruang tamu itu, sebelum dia berjalan keluar dari rumah keluarga William.
"Aku berharap, kelak Leon dan Xixi bisa hidup berbahagia." Ucap nyonya William, saat melihat Leon keluar dari rumahnya.
"Kau benar, aku akan menjadi orang yang paling berbahagia melihat mereka bersama." Ucap nyonya Damian.
Tuan William berdiri "Aku u harus pergi ke perusahaan sekarang, kalian berbicaralah berdua." Ucap tuan William.
"Iya, berhati-hatilah saat mengemudi." Ucap nyonya William.
"Aku mengerti."
Tuan William kemudian berjalan keluar dari rumahnya.
Nyonya Damian melihat tuan William mengendarai mobilnya sendiri.
"Apakah dia masih suka mengendarai mobilnya sendiri?" Tanya nyonya Damian.
"Iya kau benar, dia berkata jika dia merasa lebih nyaman ketika mengendarai mobilnya sendiri."
"Benar-benar tidak berubah."
"hmm, ya itulah dia."
kedua wanita itu lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
...----------------...
Di rumah keluarga Davidson, setelah mengetahui jika harga saham di perusahaannya semakin merosot, tuan Davidson menjadi semakin geram.
"Sebenarnya siapa yang sudah melakukan ini pada perusahaanku?" Seru tuan Davidson dengan marah.
Berbagai upaya telah dilakukan olehnya, bahkan dia juga sudah menyewa dua orang hacker yang dikenal sangat pintar. Tetapi tetap saja, dia tidak bisa menemukan siapa dalang di balik foto-foto, dan video putranya yang tersebar di media sosial.
__ADS_1
"S*alan! Jika aku berhasil mengetahui siapa orang yang sudah membuat perusahaanku seperti ini, aku tidak akan lepaskannya." Ucap tuan Davinson dengan geram.
Kedua hacker yang disewa oleh tuan Davidson pun merasa, jika mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat jenius, karena mereka sama sekali tidak bisa melacak dan mengetahui siapa orang yang berada di balik kejadian itu.
"Kalian, bawa tuan muda kesini. Aku harus bertanya sesuatu padanya." Ucap tuan Davidson pada penjaga rumah yang berdiri tidak jauh darinya.
" Baik tuan."
Dua penjaga rumah lalu pergi dari ruang keluarga rumah Davidson, untuk membawa tuan muda Davidson yang sedang di kurung, karena di hukum oleh tuan Davinson.
"Direktur W. Group itu terlihat seperti wanita berusia 30 tahunan. Untuk apa Brian mencari tahu tentang wanita itu?" Gumam tuan Davinson.
Tak berselang lama kedua penjaga yang tadi pergi, kembali bersama dengan tuan muda Davidson.
"Duduklah." Ucap tuan Davinson pada putranya.
"Tidak perlu, sofa itu akan kotor. Katakan saja, apa yang ingin Papa tanyakan padaku." Ucap tuan muda Davidson yang malas berbicara dengan ayahnya.
Tangan tuan Davidson mengepal, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa pada anak pembangkang yang ada di depannya saat ini.
"Katakan, kenapa kau mencari tahu tentang direktur dari perusahaan W. Group?" Tanya tuan Davidson.
Tuan muda Davidson terkejut karena ayahnya sudah mengetahui jika dirinya mencari tahu tentang direktur perusahaan W. Group itu.
"Katakan, apa tujuan mu mencari tahu wanita berusia 30 tahunan itu, Brian!" Ucap ruan Davidson lagi dengan nada sedikit naik.
"Wanita berusia 30 tahunan?"
"Itu tidak mungkin, banyak yang berkata jika dia masih muda dan cantik."
"Kalau kau bilang muda dan cantik, mungkin itu adalah sekertarisnya. Jadi katakan pada Papa, kenapa kau mencari tahu tentang wanita itu?"
Tuan muda Davidson diam, dia tentu tidak bisa memberi tahu ayahnya tujuan utama dia mencari tahu tentang direktur W. Group itu.
"Kau masih tidak mau memberi tahu pada Papa, setelah apa yang sudah kau lakukan dengan perusahaan!" Seru tuan Davidson pada anaknya.
"Ayah, sudah berapa kali aku bilang, aku tidak..."
"Diam! Masih berani kau menjawab. Perusahaan sebentar lagi akan hancur, kita kehilangan banyak uang, dan para investor itu juga bahkan menarik semua uang yang mereka investasikan pada perusahaan kita."
"Bukankah kakek akan membantu seperti biasa?"
"Tidak, orang tua itu tidak mau membantu lagi. Dia juga menyalahkan Papa dan berkata jika Papa bodoh, karena tidak bisa mengajarimu dan mengurus perusahaan."
Tuan muda Davidson terkejut, dia tidak menyangka jika kakeknya yang selalu baik, mengucurkan dana pada perusahaan, tidak mau memberikan mereka uang lagi, bahkan menghina ayahnya.
"Ini semua karena ulahmu, otakmu hanya ada s*langkang4n wanita saja! Tidak memikirkan akibat yang kau lakukan di belakang!" Teriak tuan Davidson pada putranya.
"Papa tidak bisa begitu saja menyalahkanku, dan untuk masalah wanita. Bukankah itu adalah pelajaran yang Papa berikan padaku?"
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu Brian?"
"Saat usiaku 20 tahun, Papa melakukan hal menjijikan itu di dalam ruang kerja Papa secara diam-diam dengan sekertaris Papa, ketika aku tidur di ruang istirahat Papa karena kelelahan."
Tuan Davidson terkejut karena anaknya mengetahui apa yang sudah dia lakukan dengan sekertarisnya dulu. Dia mengira saat itu tuan muda Davidson tidur dengan nyeyak, di tambah mereka melakukannya dengan menahan suara aneh yang keluar dari bibi mereka, agar tuan muda Davidson itu tidak tahu.
"Kenapa diam Pa, bukankah apa yang aku katakan benar?" Ucao tuan muda Davidson lagi.
"Kau, dasar anak...."
"Tenang dulua Pa, karena aku lupa memberitahu Papa. Saat itu Mama datang ke perusahaan, dan melihat apa yang Papa lakukan bersama sekertaris Papa itu dari celah pintu yang tidak Papa tutup dengan rapat."
Kembali tuan Davidson terperangah, dia tidak pernah tahu jika saat itu istrinya melihat apa yang dia lakukan di kantor bersama sekertarisnya.
"Brian, kau...."
"Papa tidak perlu mengelaknya, aku bahkan bisa melihat sorot mata Mama yang jijik setiap kali Mama melihat Papa. Tetapi Papa yang tidak peduli pada Mama, tidak menyadarinya. Dan jika saat ini Papa menyalahkan aku, maka aku harus menyalahkan siapa, saat aku melihat dan belajar hal semacam itu dari Papa?"
Tuan Davinson diam, saat ini dia baru tahu alasan kenapa sejak hari itu nyonya Davidson berubah padanya. Ternyata saat itu istrinya melihat dia saat melakulan itu dengan sekertarisnya di perusahaan.
"Tidak ada lagi yang ingin aku katakan, jika sekarang Mama dan keluarganya tidak mau lagi membantu perusahaan Papa. Itu karena kesalahan yang telah Papa lakukan sendiri, bukan karena kesalahan ku."
Tuan muda Davidson berjalan meninggalkan tuan Davidson yang terdiam membatu sendirian, memikirkan apa yang telah tuan muda Davidson katakan.
"Itu tidak mungkin, dia tidak mungkin tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini di belakangnya. Jika dia tahu, pasti sudah lama dia meminta keluarganya untuk tidak membantuku." Gumam tuan Davidson.
Selama ini tuan Davidson selalu malakukan hal itu dengan diam-diam di belakang istrinya, entah itu dengan sekertarisnya maupun dengan wanita lain di luar sana.
dddrrrrrrrt ddrrrrrrrrrtt
Ponsel tuan Davidson bergetar di dalam saku celananya, dia lalu mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya.
Setelah melihat siapa yang menghubungi, tuan Davidson lalu menggeser icon hijau pada layar ponselnya.
Tuan Davidson berbicara dengan seseorang di telfon, wajahnya seketika memucat setelah beberapa saat dia mendengarkan orang yang menghubunginya itu berbicara.
Braaaak
Ponsel yang di pegang oleh tuan Davidson jatuh di atas lantai, tuan Davidson sendiri diam mematung setelah panggilan telfon itu terputus.
"Ini... Ini tidak mungkin, semua tidak mungkin. Sejauh ini aku... Aku selalu berusaha untuk....."
Ucapan tuan Davidson terhenti, dia ingat jika selama ini yang dia dan putranya lakukan hanyalah bersenang-senang menggunakan uang perusahaan, dan keluarga dari istrinya lah yang selalu menutupi uang yang mereka pakai.
Tuan Davidson terduduk lemas di atas sofa, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari orang yang menghubunginya tadi.
Dari lantai atas, nyonya Davidson diam-diam melihat apa yang sudah terjadi di lantai bawah.
"Akhirnya, aku melihatmu merasakan hal yang paling kau dan anak tersayangmu takuti. Dan aku harap dengan ini kau akan sadar, jika kau bukanlah orang yang paling berkuasa di negara ini."
__ADS_1
Nyonya Davidson berbalik dan berjalan menuju kamarnya, dia tidak ingin lagi melihat wajah suaminya yang sedang putus asa itu.