The Geeky Girl

The Geeky Girl
Eps 47


__ADS_3

Esok harinya Xixi dan salah satu pelayan yang akan tinggal dengannya di kota A sudah siap di depan rumah. Semua koper yang berisi barang-barang mereka pun sudah masuk semua ke dalam mobil.


"Sayang, kamu harus jaga diri baik-baik disana." Ucap nyonya William pada Xixi.


"Aku mengerti Bu."


"Ingat, kalau ada apa-apa segera hubungi ayah atau yang lainnya di rumah." Ucap tuan William.


"Aku tahu ayah."


Nyonya William memeluk putri bungsunya yang akan tinggal berjauhan dengannya.


"Baiklah, aku berangkat sekarang. Katakan pada kak Mimi, jika dia ingin bertemu suruh kesana saja. Aku akan memberikan alamatnya pada dia."


"Iya, hati-hati."


"Baik."


Xixi dan pelayan itu masuk ke dalam mobil, tak lama mobil itu melaju meninggalkan rumah keluarga William menuju kota A.


Kali ini Xixi sendiri yang membawa mobil, karena dia tidak mau jika setiap hari dia harus di antar supir ke perusahaan saat dia sudah bekerja disana.


"Nanti kita mampir ke rumah makan dulu, kau pasti belum sempat sarapan tadi, karena harus membantu memindahkan koper ke mobil." Ucap Xixi pada pelayannya yang duduk di kursi belakang.


"Baik nona muda, terima kasih."


Xixi terus melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang cukup padat, karena hari ini adalah akhir pekan. Jadi banyak orang yang keluar untuk bersenang-senang dengan teman atau keluarga mereka.


Setelah hampir 30 menit Xixi menemukan restoran yang khusus buka di pagi hari, untuk menjual sarapan pada para pelanggannya yang tidak sempat sarapan di rumah.


"Ayo turun, kita makan dulu disini." Ucap Xixi sambil membuka pintu mobil.


"Baik, nona muda."


Xixi dan pelayannya berjalan masuk ke dalam restoran pagi itu. Mereka lalu duduk untuk menunggu pesanan yang sudah Xixi pesan.


"Ini pesanan anda, selamat menikmati." Ucap pelayan restoran itu.


"Terima kasih." Ucap Xixi dan pelayan rumahnya.


Setelah itu Xixi dan pelayan rumahnya menikmati menu sarapan mereka di restoran itu bersama.


Xixi tidak merasa jika dia harus duduk terpisah dengan pelayannya, hanya karena mereka adalah tuan dan pelayan. Xixi adalah orang yang cukup santai, dan tidak peduli dengan apa yang di katakan orang padanya, selama itu tidak merugikan orang lain.


Setelah selesai, Xixi membayar makanan yang telah mereka makan.


"Ayo, kita harus sampai disana sebelum malam." Ucap Xixi.


"Iya nona muda."


Xixi masuk ke dalam mobil, di susul oleh pelayannya yang duduk di belakang.


"Perjalanan kita cukup jauh, jika kau mengantuk tidurlah saja."


"Baik, terima kasih nona muda."


Xixi mengangguk, dia lalu melajukan mobilnya untuk meneruskan perjalanan mereka menuju kota A yang masih berjarak cukup jauh, dan memerlukan waktu berkendara sekitar 3 jam.


Untuk mencegah kantuk, Xixi menyalakan radio di dalam mobilnya. Dan saat ada lagu yang menurutnya enak, dia akan ikut bersenandung mengikuti irama lagu itu.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Xixi menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia lalu keluar dan berlari melihat lautan yang membentang di depan matanya.


Ya, kota A adalah kota yang dekat dengan pantai. Dengan pemandangan laut yang begitu indah, Xixi akan memulai semua pekerjaannya di kota itu.


Selesai menikmati pemandangan laut, Xixi kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju apartemen yang sudah di carikan oleh sekertaris Ana disana.


25 menit kemudian mereka sampai di apartemen yang akan mereka tinggali selama di kota A.


"Halo nona Cicilia. Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabar anda?" Sapa sekertaris Ana yang sudah menunggu Xixi di lobi apartemen itu.


"Halo sekertaris Ana, terima kasih dan maaf sudah merepotkan sekertaris Ana melakukan semuanya untuk ku."


"Ini sudah tugas saya, saya sudah melakukan registrasi untuk apartemen yang akan nona tinggali, dan itu ada di lantai 31."


"Terima kasih."


Sekertaris Ana lalu membantu Xixi membawakan salah satu koper yang di bawa Xixi dan pelayannya.


Mereka akan naik lift menuju lantai 31, dimana kamar apartemen Xixi berada.


Ting


Lift terbuka, Xixi, sekertaris Ana dan pelayannya keluar dari dalam lift, lalu berjalan melewati dua apartemen lainnya sebelum mereka sampai di depan pintu apartemen milik mereka.


tit tit tit tit.... tiiiiiiit


Sekertaris Ana menekan beberapa digit nomor, lalu membuka pintu apartemen setelah kunci terbuka secara otomatis.


"Silahkan nona Cicilia." Ucap sekertaris Ana saat mereka masuk ke dalam apartemen itu.



...Apartemen Xixi di kota A...


"Terima kasih nona, anda juga bisa menikmati suasana sore saat hari libur di balkon, sambil melihat pemandangan laut yang indah."


Xixi berjalan ke arah balkon, dan benar saja apa yang sekertaris Ana katakan.


"Sepertinya aku akan betah tinggal disini."


"Syukurlah kalau begitu. Di apartemeni ini ada 3 kamar, jadi anda tidak perlu khawatir jika teman anda bermain dan menginap disini."


"Baik, aku mengerti. Aku benar-benar berterima kasih pada sekertaris An. Apartemen ini sungguh nyaman sekali."


Sekertaris Ana mengangguk seraya tersenyum. Setelah sekertaris Ana memberitahu pin rumah pada Xixi, dia pun pamit untuk pulang.


"Baiklah, mulai sekarang kita berdua akan tinggal disini." Ucap Xixi pada pelayannya.


"Baik, nona muda."


"Kau bawalah barang-barang mu ke kamar itu, dan bersirirahatlah. Biarkan saja barang-barang milikku disini, besok baru di bereskan. Aku ingin tidur, rasanya sangat lelah setelah 3 jam lebih menyetir."


"Baik, nona beristirahatlah dulu. Saya akan membuatkan sup jahe agar nona bisa meminumnya setelah bangun nanti."


"Iya, terima kasih."


Xixi laku berjalan menuju kamar utama di dalam apartemen itu.


ceklek

__ADS_1


Xixi membuka pintu dan melihat kamar apartemennya yang cukup luas, di bandingkan dengan apartemen yang dia tempati sewaktu masih menjadi wanita culun dulu.


"Aaah, benar-benar melelahkan." Ucap Xixi seraya melemparkan tubuhnya di atas ranjang.


Xixi yang merasa begitu lelah, memejamkan matanya dan tak butuh waktu lama Xixi telah tenggelam dalam dunia mimpi indahnya.



...Kamar Xixi di apartemen kota A...


***


Braaaaaak!!


Leon membuka pintu rumah dengan keras, dan membuat kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga terkejut.


"Leon, ada apa?" Tanya nyonya Damian pada Leon sambil berlari ke arah putra satu-satunya itu.


Leon berjalan ke ruang keluarga sambil menatap ayahnya yang masih duduk di atas sofa.


"Katakan apa yang Papa rencanakan dengan tuan Albert itu?" Ucap Leon yang masih menatap ayahnya.


"Papa hanya melakukan kerjasama dengan perusahaan tuan Albert, seperti apa yang Papa lakukan dengan perusahaan lainnya, Papa ti...."


"Jangan berbohong padaku Papa! Jika hanya sekedar bekerjasama, putri keluarga tuan Albert itu tidak akan terus menggangguku dan berkata jika aku dan dia akan menikah!"


Nyonya Damian terkejut mendengar itu, selama ini dia tidak tahu tentang apa yang baru saja Leon katakan.


"Pa, apa itu benar?" Tanya nyonya Damian pada suaminya.


"Leon, Papa hanya bekerjasama dengan perusahaan mereka, dan kebetulan putri tuan Albert menyukaimu. Jadi apa salahnya...."


"Pa, apa Papa tidak tahu kalau sekarang Leon sedang menjalin hubungan dengan Cicilia, putri bungsu dari keluarga William? Teman baik Papa dan Mama."


"Kau... Kau bilang, kau dan putri dari William..."


"Benar, dan Papa sedang menghancurkan hubunganku dengan dia!"


"Leon, Papa tidak tahu itu. Papa bekerjasama dengan perusahaan tuan Albert, karena Papa tidak mau jika perusahaan kita juga akan di akuisisi oleh mereka."


"Papa sangat takut dengan mereka, tapi Papa tidak takut jika paman William mengetahui bahwa teman baiknya sedang bekerjasama dengan perusahaan lain, dan berusaha untuk bersaing melawannya?"


Tuan Damian diam.


"Pa, kenapa Papa melakukan ini? Papa juga tidak memberitahu Mama terlebih dulu." Ucap nyonya Damian.


"Pa, apa Papa mau perusahaan yang Papa sudah Papa dirikan hancur, seperti perusahaan milik keluarga Gabriel dan keluarga paman Scott?"


Tuan Damian menatap Leon tidak mengerti.


Leon mengangguk "Iya, dua perusahaan yang cukup besar itu hancur di tangan Xixi. Putri dari paman William, yang ingin Papa dan tuan Albert saingi itu."


"Itu tidak mungkin, perusahaan itu...."


"Dua perusahaan itu memang cukup besar dan terkenal, tapi dimata Xixi yang sangat pintar. Mereka hanya semut, dan perusahaan keluarga kita juga keluarga tuan Albert, tidak ada apa-apanya, Papa."


"Papa tidak percaya, Leon bagaimana pun Papa sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan tuan Albert. Jadi berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak pada Papa."


"Itu terserah Papa, jika Papa ingin terus melakukannya. Leon tidak akan mau lagi meneruskan pekerjaan ini."

__ADS_1


Leon meletakan kunci mobil di atas meja dan pergi ke kamarnya dengan kesal.


Sementara itu tuan Damian menatap kunci mobil yang Leon letakan di atas meja, kedua tangannya menyatu. Dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh leon padanya, dan menganggap jika itu hanyalah gertakan Leon yang tidak mau bersama dengan putri dari tuan Albert.


__ADS_2