
"Leon, ini......?"
Leon memeluk Xixi dari belakang secara tiba-tiba dan ikut menatap apa yang Xixi lihat di depan mereka.
"Aku membangun vila baru yang lebih besar dan hangat untuk kita, jadi jika musim dingin datang kita bisa tinggal disni. Letak vila ini juga tidak begitu jauh dari perusahaanku dan rumahmu."
"Kau sudah merencakan begitu bahanyak hal."
"Tentu saja, aku sangat mencintaimu dan ingin menikah denganmu. Karena itu, aku harus mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Leon...."
Leon membalikan tubuh Xixi, dan kini mereka saling bertatatapan.
"Aku tidak ingin mendengar kalau kau ingin aku memberikanmu waktu lagi untuk menikah denganku, kau sudah menyiksaku saat kau meminta waktu kemarin."
Xixi tertawa mendengar keluhan Leon, dia tidak tahu jika Leon akan bersikap seperti anak-anak seperti itu.
"Aku mencintaimu Cicilia, aku tidak ingin berpisah denganmu." Ucap Leon dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu."
Leon merasa sangat bahagia, karena ini kali pertama dia mendengar jika Xixi juga mencintainya. Dengan erat Leon memeluk tubuh Xixi.
"Aku sungguh bahagia hari ini." Ucap Leon.
Leon melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Xixi dalam.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu, aku sungguh ingin hidup bersamamu, Cicilia William."
Leon lalu mencium bibir Xixi, dan tanpa Leon duga Xixi membalas ciumannya dengan lembut.
Di bawah salju yang turun dan pohon cemara yang memutih, sepasang kekasih itu saling memberikan kehangatan dan cinta mereka.
Hahh hahh
Nafas mereka saling memburu setelah beberapa saat berciuman.
Leon tersenyum bahagia menatap wajah kekasihnya yang merona karena malu, dia lalu memeluk Xixi dengan erat.
"Kita ke vilaku sekarang. Kau akan merasa lebih hangat disana." Ucap Leon.
Xixi mengangguk. Setelah melepaskan pelukannya, Leon menggandeng tangan Xixi dan masuk kembali ke dalam mobil.
Leon membawa mobilnya menyusuri jalananan, dia akan membawa Xixi ke vila yang pernah dia tunjukan pada Xixi sebelumnya.
__ADS_1
Di dalam mobil Xixi tertidur, mungkin karena kelelahan setelah menghadapi semua masalah yang ada. Terutama dengan Rachel.
Leon menghentikan mobil tepat di depan vilanya, dengan hati-hati dan pelan Leon mengangkat dan menggendong tubuh Xixi masuk ke dalam vila.
Dengan pelan Leon membaringkan tubuh Xixi di atas sofa.
"Emm..."
Xixi membuka kedua matanya tepat saat Leon akan melepaskan tangannya dari tubuh Xixi setelah membaringkan dirinya di atas sofa.
Kedua mata Xixi membulat karena gugup, saat ini wajahnya begitu dekat dengan wajah Leon.
Melihat itu, Leon tersenyum. Dia lalu mengecup kening Xixi sebelum berdiri dan berjalan ke dapur untuk membuatkannya coklat hangat.
Xixi yang masih terbaring di atas sofa memegangi pipinya yang terasa begitu panas.
"Bagaimana ini, aku sangat malu sekali." Gumam Xixi.
"Kau akan sering melihatku lebih dekat nanti, jadi kenapa harus malu?" Ucap Leon yang membawa dua cangkir coklat hangat.
"Ta... Tapi...."
"Minumlah." Ucap Leon sambil memberikan coklat hangat pada Xixi.
Xixi bangun dna duduk di atas sofa "Vila ini terasa lebih hangat dari sebelumnya."
Xixi mengangguk, dia lalu meminum coklat hangat yang Leon buat untuknya.
"Jika kau masih mengantuk, kau bisa tidur di atas. Di sana juga ada tempat perapian, jadi kau bisa tidur dengan nyaman." Ucap Leon.
"Iya."
Xixi berdiri dan berjalan menyusuri vila kecil milik Leon itu, dia lalu berhenti di depan jendela kaca dan melihat taman kecil yang ada di bekalang vila lewah kaca jendela vila.
"Setelah salju mencair, bunga-bunga di taman itu pasti akan terlihat cantik."
"Memang cantik, tapi tidak secantik wanitaku ini." Ucap Leon.
"Hei, hei. Aku baru tahu jika tuan muda Damian ini sangat pandai merayu dan berkata manis."
"Hahaha benarkah, kalau begitu kau adalah orang yang beruntung karena bisa mendengarkan kata-kata yang manis itu."
"Memang kau tidak pernah mengatakannya pada wanita lain."
"Sayang, kau adalah satu-satunya wanita yang sudah menarik perhatianku dan juga sudah membuatku jatuh cinta. Jadi tidak ada wanita yang pernah mendengarnya selain dirimu." Ucap Leon seraya memeluk pinggang Xixi.
__ADS_1
"Hmmm baiklah aku percaya."
"Kau ini." Leon mencium pipi Xixi dari belakang.
Mereka berdua lalu menatap taman belakang vila bersama-sama, walaupun yang mereka lihat adalah tumpukan salju putih yang sudah mengubur rumput dan bunga disana.
Xixi menyenderkan tubuhnya pada Leon, sementara kedua tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.
"Kau ngantuk?" Ucap Leon dengan lembut.
Xixi mengangguk "Em, sedikit."
"Tidurlah."
Leon menggendong tubuh Xixi yang sudah mulai mengantuk itu, dan membawanya ke kamar yang ada di lantai dua vilanya.
"Tidurlah, aku akan menemanimu disini." Ucap Leon setelah membaringkan tubuh Xixi di atas tempat tidur kayu.
"Iya, terima kasih."
Leon lalu mengecup kening Xixi.
Setelah melihat Xixi terlelap, Leon mengambil beberapa kayu bakar lalu memasukannya ke dalam perapian yang ada di dalam kamar, Leon menyalakan korek untuk membakar kayu itu, sehingga di dalam kamar terasa lebih hangat.
Melihat Xixi tidur dengan lelap, Leon merasa sangat bahagia karena akhirnya Xixi yang pernah tidak menyukainya, telah menjadi wanitanya. Dan tentu Leon akan menjaganya dengan penuh cinta agar apa yang pernah Xixi rasakan dulu karena kesalahannya, tidak akan pernah terjadi lagi.
"Tidurlah dengan nyenyak dan bermimpilah yang indah, sayang." Leon mengecup kening Xixi sebelum dia keluar dari kamar.
Sambil menunggu Xixi yang tengah tidur, Leon duduk di ruang tv sambil menikmati coklat cair yang sudah mulai dingin.
"Aku harap vila itu akan selesai sebelum musim gugur datang, sehingga nanti kita bisa menikmati udara hangat di dalam vila baru."
Leon sengaja membuat vila dengan bahan khusus, agar suhu di dalam ruangan tetap hangat walau udara di luar sangat dingin, jadi Xixi yang tidak menyukai udara dingin tidak perlu membungkus tubuhnya lagi dengan selimut atau jaket tebal saat di dalam vila.
"Aku juga harus mempersiapkan kejutan untuk Xixi, aku tidak mau ada laki-laki yang melirik Xixi, dan mencoba merebutnya dariku jika aku tidak bersiap dari sekarang." Gumam Leon.
Walau mereka baru beberapa minggu jadian, tapi Leon ingin segera memiliki Xixi seutuhnya. Agar dia bisa menjaga Xixi di sampingnya tanpa harus berfikir macam-macam jika ada laki-laki yang mencoba mendekati Xixi.
Leon mengambil ponselnya yang dia letakan di atas meja, lalu membuka galeri foto yang ada di ponselnya.
"Mau seperti apa, kau sangat cantik. Pantas saja banyak laki-laki yang melirikmu setelah kamu merubah penampilanmu." Ucap Leon saat menatap foto Xixi pada ponselnya yang dia dapat dari Mimi.
...Foto Xixi yang di dapat dari Mimi, saat melakukan pemotretan keluarga dua tahun yang lalu....
__ADS_1
Leon lalu menjadikan foto itu sebagai wallpaper di ponselnya, agar semua orang tahu jika Xixi adalah miliknya.
"Kau hanya milikku, dan tidak akan ku biarkan orang lain mencoba merebutmu dariku." Ucap Leon lalu mengecup layar ponselnya dan tersenyum bahagia.