The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 89


__ADS_3

Mimi menatap adiknya yang tengah menikmati sarapan di depannya.


Xixi yang merasa sedang di tatap menoleh, dan mendapati Mimi sedang menatap dirinya dengan serius.


"Ada apa kak?" Tanya Xixi setelah meminum jus nya.


"Xixi, apa kau yang menyebarkan foto dan video vulgar milik tuan muda Davidson itu?"


Xixi mengerutkan keninganya sambil menatap Mimi.


"Aku? Kenapa aku harus melakukan hal yang membosankan itu?"


"Bukankah kemarin kamu bilang, jika tuan muda Davidson itu sedang mencoba membobol sistem keamanan milikmu?"


"Iya, tapi aku tidak akan melakukan hal yang membosankan itu kak. Aku memiliki banyak pekerja lain, selain melakukan itu."


"Apa kau mengatakan yang sebenarnya?"


"Tentu saja, kakak ini pagi-pagi sudah membahas foto dan video vulgar tuan muda Davidson itu. Membuatku tidak lagi berselera untuk makan."


"Bukan begitu, kakak hanya merasa....."


"Sudahlah, aku berangkat sekarang saja."


Xixi berdiri dan langsung pergi dari apartemennya dengan membawa tas dan jasnya.


"Maaf kak, kau tidak perlu tahu tentang masalah ini. Orang-orang yang berusaha mengusikku, pasti aku akan memberikan mereka pelajaran yang berharga."


Xixi berjalan menuju lift, yang akan membawanya ke lantai bawah gedung apartemennya.


Dia tentu sengaja keluar dari apartemen lebih awal, karena dia tidak mau terus menerus di tanyai oleh Mimi, perihal foto dan video tuan muda Davidson yang sedang menjadi banyak perbincangan di media sosial saat ini.


Di dalam apartemen, Mimi masih diam memikirkan siapa orang yang sudah menyebarkan foto dan video tuan muda Davidson itu, karena Xixi berkata bukan dia yang melakukannya.


"Jika bukan Xixi, lalu siapa? Hanya dia yang bisa melakukan hal itu. Atau mungkin memang orang lain yang melakukannya?" Gumam Mimi.


"Nona, anda tidak berangkat untuk pemotretan hari ini?" Tanya Lia yang membereskan piring kotor di atas meja.


Mimi tersadar, dan melihat jam yang ad adi dindin apartemen.


"Aah, kau benar. Hampir saja aku telambat."


Mimi segera berdiri dan berjalan ke kamar untuk mengambil tas dan ponselnya.


Setelah mengambil tas dan ponselnya, Mimi keluar dari apartemen dengan cepat, karena dia takut terlambat sampai di perusahaan.


tit tit


Suara klakson mobil mengagetkan Mimi saat dia keluar dari gedung apartemen, dan berjalan untuk mencari taxi.

__ADS_1


Mimi yang melihat mobil Jery berhenti tidak jauh dari dirinya berdiri, langsung berjalan mendekati mobil berwarna biru itu.


"Selamat pagi sayang." Ucap Jery saat Mimi telah masuk ke dalam mobilnya.


"Selamat pagi juga. Tumben sekali kau baru berangkat, biasanya kau sudah sampai lebih awal dari kami semua."


"Hari ini adalah hari terakhir mu melakukan pemotretan di perusahaan, jadi tentu saja aku harus mengantarmu ke perusahaan."


Mimi mengangguk "Jadi setelah kita kembali nanti, kau tidak akan mengantar atau menjemputku lagi begitu, tuan muda Robert?"


"Tentu saja tidak sayang, aku akan sangat bahagia jika bisa melakukannya setiap hari. Asalkan itu kau."


"Manis sekali ucapan tuan muda Robert kita ini."


Mimi dan Jery tertawa bersama di dalam mobil.


"Oh iya, tadi aku sudah bertanya pada Xixi tentang foto-foto, dan video tuan muda Davidson yang tersebar di media sosial itu." Ucap Mimi.


"Lalu, apa kata Xixi?"


"Dia bilang kalau itu bukan dia yang melakukannya."


"Benarkah? Lalu siapa orang yang sudah berani menyinggung keluarga Davidson itu?"


"Aku juga tidak tahu, aku pikir itu Xixi. Tapi ternyata bukan."


"Aku tidak tahu, karena dia bilang bukan dia dan dia bilang juga tidak akan melakukan hal yang membosankan seperti itu."


Jery mengangguk "Kalau begitu biarkan saja, itu tidak ada hubungannya dengan kita."


"Iya."


Mobil yang Jery kemudikan terus melaju, hingga mereka sampai di tempat parkir perusahaan entertainment milik Jery.


"Baiklah tuan Jery, aku harus segera ke tempat pemotretan sekarang, terima kasih karena sudah mengantarku ke perusahaan." Ucap Mimi.


"Iya sayang, kau harus berhati-hati saat bekerja nanti."


"Iya, aku mengerti."


Jery mengangguk.


Setelah Mimi melepaskan seatbelt, dia membuka pintu dan turun dari mobil Jery.


Mimi berjalan masuk ke dalam perusahaan itu, dari pintu tempat parkir.


Jery menatap kepergian Mimi dari dalam mobilnya "Sampai kapan kita harus merahasiakan hubungan ini sayang, aku benar-benar ingin menggandeng tangammu di depan semua orang."


Sejak awal Jery sudah tahu jika menjalin hubungan dengan Mimi harus sangat bersabar, karena Mimi yang seorang model di perusahaannya ingin menjaga nama baik dirinya dan juga perusahaan milik Jery.

__ADS_1


Tapi meski begitu, Jery harus selalu memendam semuanya saat Mimi berbicara dengan seorang model laki-laki yang meminta arahan, atau yang menjadi lawan model saat Mimi melakukan pemotretan sebuah majalah.


Jery keluar dari mobilnya, setelah dia merasa jika Mimi sudah berjalan lebih masuk ke dalam perusahaannya.


"Baiklah, aku harap Mimi melakukan pemotretan terakhir hari ini akan berjalan dengan baik." Ucap Jery sebelum dia membuka pintu yang menghubungkan tempat parkir dan area dalam perusahaan.


Seperti biasa, para karyawan Jery pasti menatapnya dengan penuh kekaguman, dan terpesona akan karisma yang terpancar dari Jery.


Mimi melihat Jery berjalan dengan penuh aura yang berbeda saat Jery bersama dengannya.


"Dia ini, tidak bisakah sedikit saja tersenyum pada para karyawannya?"


Bahu Mimi di tepuk oleh juniornya, mereka lalu membicarakan konsep pemotretan yang akan di lakukan hari ini.


Melihar Mimi berdiri begitu dekat dengan model laki-lakinya, Jery terlihat tidak senang. Tetapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena itu termasuk dalam pekerjaan Mimi.


"Tenang Jery, ini hari terakhir dia melakukan pemotretan. Setelah ini kau bisa senang karena dia tidak akan lagi di dekati oleh laki-laki lain."


Jery berjalan menuju lift yang akan membawamya ke tempat kerja yang ada di lantai atas.


Mimi melihat Jery masuk ke dalam lift, dia tersenyum karena akhirnya meski sulit meyakinkan Jery. Mimi berhasil membuat Jery pergi tanpa harus menyulitkan model atau tim laki-laki yang mendekati Mimi.


Sutradara sudah datang, semua tim dan model bersiap untuk melakukan pemotretan hari ini.


"Mimi, kau sepertinya berhasil membuat direktur kita itu tidak melakukan hal aneh lagi, setelah melihatmu dengan model atau tim laki-laki yang lain." Ucap menejer Junnie.


"Iya kak, rasanya aku seperti sedang di awasi oleh ayahku sendiri."


"Hahaha, bukankah kau beruntung memiliki laki-laki sepertinya? Dia bahkan tidak peduli pada orang lain, jika itu berkaitan denganmu."


"Tapi aku takut, jika dia terus seperti itu. Orang-orang yang bekerja di perusahaannya akan tahu hubunganku dengan dia."


"Kau ini, kenapa harus takut. Dia pasti tidak akan membiarkan mu menjadi bahan omongan orang lain."


Mimi diam, memang apa yang di katakan oleh menejer Junnie ada benarnya, tetapi tetap saja Mimi merasa takut dan khawatir jika hubungan mereka di ketahui oleh orang lain. Dia belum siap mendapatkan tatapan atau bisikan menghina dari orang lain.


"Semua sudah siap, para model bisa masuk ke dalam." Ucap salah satu kru yang mengatur para model.


Mimi dan menejer Junnie mendengar itu.


"Ayo, kau sudah harus melakukan pemotretan. Lakukanlah dengan baik, setelah itu kau bisa menghabiskan waktu libur mu dengan nyaman." Ucap menejer Junnie.


"Iya, aku mengerti."


Mimi lalu berjalan ke tempat pemotretan yang sudah di siapkan di depannya.


Sebelum berjalan lebih maju lagi, Mimi menarik nafas dalam-dalam lalu melepaskannya. Itu dia lakukan di setiap akan melakukan pemotretan.


Hal itu dia lakukan untuk membuang semua pikiran dan masalah yang bergelayutan pada benaknya, sehingga dia bisa melakukan pemotretan dengan fokus dan hasilnya memuaskan.

__ADS_1


__ADS_2