
Esok harinya, Leon menepati janjinya. Dia datang ke rumah keluarga William untuk bertemu dan mengajak Xixi makan siang di luar.
"Sudah lama kamu tidak main kesini Leon, bagaimana kabarmu?" Ucap nyonya William.
"Iya bibi, akhir-akhir ini saya cykup sibuk. Jadi maaf jika saya baru bisa mengunjungi bibi."
"Tidak apa-apa, bibi bisa mengerti kesibukan kamu."
Leon mengangguk "Iya bibi."
Xixi berjalan menuruni tangga dan melihat jika ibunya dan Leon tengah asik berbicara di ruang tamu.
"Kalian terlihat sangat dekat sekali." Ucap Xixi.
Leon tersenyum "Kau sudah siap?"
"Iya."
"Apa kalian berdua akan keluar?" Tanya nyonya William.
"Iya bibi, saya ingin mengajak Xixi makan di luar." Ucap Leon.
"Baiklah, tapi kalian harus berhati-hati."
"Baik bibi."
Xixi tersenyum melihat interaksi antara ibunya Leon.
"Ibu, aku dan Leon akan keluar dulu." Ucap Xixi.
"Iya sayang, hati-hati."
Xixi mengangguk.
Leon berdiri, dan sepasang kekasih itu berjalan keluar dari rumah keluarga William.
"Ayo masuk." Ucap Leon setelah membukakan pintu mobil untuk Xixi.
"Terima kasih."
Leon mengangguk seraya tersenyum.
Xixi masuk ke dalam mobil, dan setelah itu Leon pun masuk ke dalam mobil juga. Setelah mereka mengenakan seatbelt, Leon menghidupkan dan melajukan mobilnya menjauh dari rumah besar yang ada di depan mereka.
"Kau ingin makan apa sayang? " Tanya Leon.
"Cuaca hari ini cukup panas, kita makan yang ringan saja. Bagaimana?"
Leon mengangguk "Boleh, hari ini aku akan mengikuti keinginan mu."
Xixi hanya tertawa mendengar ucapan Leon.
"Kita cukup lama tidak bertemu, dan kau semakin pintar berkata manis direktur Leon." Ucap Xixi.
"Aku hanya akan melakukan itu terhadap mu, sayang. Jadi kau harus terbiasa nanti."
Xixi hanya mengangguk, dia masih tidak percaya jika sekarang Leon sangat pandai dalam mengatakan kata-kata manis dan merayu.
Leon memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe klasik, mereka berdua lalu turun dari mobil.
__ADS_1
"Menu yang ada di kafe ini cukup banyak, dan tidak begitu berat." Ucap Leon.
"Baiklah, kita akan mencoba beberapa menu makanan disini."
Leon mengangguk, mereka lalu berjalan masuk ke dalam kafe dengan bergandengan tangan.
Kali ini Xixi tidak lagi menolak atau merasa canggung saat Leon menggandeng tangannya di tempat umum. Jadi dia membiarkan Leon melakukan itu.
"Kita duduk disana saja." Ucap Xixi menunjuk satu tempat kosong yang dia rasa cukup nyaman.
"Iya sayang."
Mereka berdua berjalan ke tempat yang Xixi inginkan, lalu mereka duduk berhadapan.
Tak lama pelayan kafe datang dan meletakan buku menu di atas meja mereka berdua.
Setelah Leon dan Xixi memesan beberapa makanan dan minuman, pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau benar, disini cukup nyaman. Aku jadi ingat kafe di kota A yang pernah kita datangi." Ucap Xixi.
"Baguslah kalau kau menyukainya, aku jadi senang."
"Kau sangat tahu tempat-tempat yang bagus."
Leon tersenyum "Oh iya, vila yang aku buat saat kita melihatnya di musim dingin sudah jadi. Kau mau kesana untuk melihatnya?"
"Benarkah? Kalau begitu setelah makan, kita pergi kesana."
"Iya sayang."
Leon sangat bahagia karena setelah hampir satu bulan mereka tidak bertemu, dia bisa kembali melihat wajah kekasihnya yang sangat dia rindukan itu.
"Tidak sayang, aku hanya sedang melihat kekasih yang sangat aku rindukan."
"Berhentilah mengatakan hal seperti itu, kau membuatku merinding."
Leon tertawa mendengar ucapan Xixi, dia sudah tahu jika Xixi pasti akan mengatakan itu padanya. Mengingat sifat Xixi yang sedikit keras dan mendominasi.
Tak berselang lama pelayan kafe datang membawa makanan yang Leon dan Xixi pesan.
"Kau benar-benar akan memakan semuanya?" Tanya Leon yang melihat dua makanan dan minuman yang di pesan Xixi.
"Coba saja, kalau tidak bisa yang tidak perlu di habiskan."
"Baiklah, kalau tidak habis nanti aku yang akan menghabiskannya."
Xixi tertawa mendengar ucapan Leon, yang seperti seorang ayah sedang mengalah pada putri kecilnya.
"Baik, sekarang ayo kita makan." Ucap Xixi.
Leon dan Xixi lalu menikmati makanan yang sudah mereka pesan.
"Oh iya, bagaimana dengan perusahaan mu?" Tanya Xixi.
"Semuanya baik, perusahaan juga sudah bekerjasama dengan beberapa perusahaan di dalam maupun di luar kota."
"Bagus kalau begitu, jika terus berjalan seperti itu. Tidak sampai 1 tahun, kamu pasti bisa bekerjasama dengan perusahaan luar negeri."
"Iya, aku juga berharap seperti itu."
__ADS_1
25 menit kemudian, Leon dan Xixi telah menghabiskan makanan mereka.
"Ayo, aku akan membawamu ke vila." Ucap Leon.
"Iya, ayo."
Leon dan Xixi berdiri dan berjalan keluar dari kafe itu bersama-sama.
"Tuan muda Damian." Ucap seorang wanita yang memanggil Leon.
Leon dan Xixi melihat seorang wanita cantik berjalan mendekati mereka dengan senyuman yang merekah.
"Oh, nona Jasmine." Ucap Leon.
"Aku tidak menyangka jika akan bertemu dengan tuan muda Damian disini."
"Iya."
Wanita bernama Jasmine melihat ke arah Xixi yang berdiri cukup dekat dengan Leon, dan tersenyum dengan kaku.
"Em, apakah tuan muda Damian baru saja makan siang?" Tanya Jasmine, kembali menatap Leon.
"Iya, kekasih saya berkata ingin mencoba menu makanan di kafe ini."
Senyum Jasmine sedikit memudar dan terlihat tidak senang seperti tadi, setelah mendengar Leon berkata mengenai kekasihnya.
"Oh, se...perti itu."
"Benar."
Jasmine mengangguk, dia lalu menatap Xixi. Jasmine melihat Xixi dengan tidak suka dan tatapan menghina.
"Dia terlihat seperti wanita yang sederhana, nanti aku akan memberinya uang agar dia meninggalkan tuan muda Damian. Dia tidak pantas berdiri di samping seorang direktur perusahaan seperti tuan muda Damian ini."
"Maaf nona Jasmine, saya harus pergi sekarang." Ucap Leon.
"Ah, iya. Maaf sudah mengganggu anda."
Xixi yang terlihat tidak menyukai wanita bernama Jasmine memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu kami permisi."
"Iya, hati-hati tuan."
"Tentu saja dia akan hati-hati, karena dia naik mobil bersamaku. Bukan dengan wanita murahan." Celetuk Xixi sebelum dia berbalik dan berjalan pergi ke mobil Leon yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri.
Leon yang mendengar ucapan Xixi yang sepertinya sedang marah pada Jasmine, tersenyum. Dia lalu berjalan menyusul Xixi setelah berpamitan pada Jasmine.
"Sayang, ada apa denganmu?" Tanya Leon yang membukakan pintu mobil untuk Xixi.
Xixi diam, dia lebih memilih masuk dan duduk di dalam mobil Leon.
Leon yang merasa yakin jika saat ini Xixi sedang cemburu tersenyum lebar, karena Xixi terlihat begitu menggemaskan saat seperti tadi.
Setelah menutup kembali pintu mobil untuk Xixi, Leon pun masuk ke dalam mobil lewat pintu mobil lainnya dan melajukan mobil itu menuju vilanya.
Jasmine yang melihat perlakuan Leon pada Xixi, mengepalkan tangannya karena kesal.
"Dasar wanita rendaha*n, beraninya dia mengatakan itu padaku di depan tuan muda Damian. Awas saja aku akan membuat mu menyesal." Ucap Jasmine dengan kesal.
__ADS_1
Dia lalu pergi dari tempat itu dengan menghentakan kakinya.