
"Sayang, kau kenapa? Sejak tadi tidak bersuara." Ucap Leon sambil sesekali melihat ke arah Xixi yang duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa, kau lihat saja ke depan."
Leon menahan tawanya mendengar suara Xixi yang sedikit kesal itu.
"Kau... Marah dengan nona Jasmine itu, atau..... Cemburu?"
Xixi seketika menatap Leon dengan tajam, saat mendengar Leon berkata jika dia cemburu pada wanita bernama Jasmine itu.
"Untuk apa aku cemburu dengan wanita itu, dia memang terlihat lebih cantik, feminim dan... Sexy. Kalau kau mau..."
Ciiiiiiiiitt!
Suara ban berdecit akibat Leon menginjak rem dengan kuat, setelah menepikan mobilnya ke samping kiri jalan.
"Leon! Apa kau mau membuat ku jantungan?" Ucap Xixi yang terkejut akibat Leon yang mengerem mobilnya secara tiba-tiba.
Leon tidak menjawab, dia menatap Xixi dengan tajam karena perkataan yang tadi Xixi ucapkan.
Xixi melihat ke arah Leon, dan terkejut saat dia melihat tatatap Leon yang sangat tajam padanya.
"Em... Leon." Ucap Xixi.
"Sayang, kau sangat tahu jika aku hanya mencintai mu. Dan aku tidak akan peduli dengan wanita yang lainnya. Jadi bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, sayang."
Xixi diam, dia memang sangat tahu jika Leon adalah laki-laki yang paling mencintainya setelah ayahnya.
"Aku hanya bercanda, aku tahu kau sangat mencintai ku dan tidak ada wanita lain yang ada di dalam hati mu."
Leon tidak menjawab, dia masih menatap kedua mata Xixi.
Tangan Xixi terulur melihat Leon yang masih diam, dia memberanikan diri untuk menyentuh pipi Leon.
Cup
Xixi memberanikan diri mencium pipi Leon, dan tersenyum padanya.
"Jika kau menemukan seseorang yang kau cintai, lalu kau tahu ada orang lain yang juga menyukai orang yang kau cintai itu. Akan sangat wajar jika kau merasa cemburu. Begitu juga denganku."
Leon mendengar semua perkataan Xixi dengan jelas, dan seketika hatinya menjadi sangat bahagia. Tatapannya yang semula begitu tajam berubah menjadi tatapan penuh cinta.
Dengan tangan kanannnya, Leon menarik tengkuk Xixi lalu menciun bibir tipis Xixi yang telah mengatakan perkataan yang begitu indah baginya.
Mereka berdua berciuman, saling menyalurkan perasaan cinta mereka berdua.
"Aku sangat mencintaimu, Cicilia William. Dan hanya kamu wanita yang ada di hatiku."
Xixi mengangguk dan tersenyum. Dia sungguh bahagia di cintai oleh Leon dengan cinta yang begitu besar dan hangat.
Leon kembali melajukan mobilnya, dia takut jika orang-orang yang melihat mobilnya berhenti terlalu lama akan memikirkan hal yang tidak-tidak.
Saat ini Leon dan Xixi sudah benar-benar saling yakin pada perasaan mereka berdua, dan mereka juga saling percaya jika hanya ada mereka di dalam hati.
__ADS_1
20 menit kemudian mereka telah sampai di depan sebuah vila yang cukup besar dan terlihat nyaman juga hangat, setelah mereka berhenti di supermarket untuk membeli minuman dan beberapa cemilan.
"Ayo turun sayang." Ucap Leon.
"Iya."
Xixi dan Leon lalu turun dari mobil, Leon mengambil satu kantong plastik berisi minuman dan cemilan di kursi mobil belakang.
"Aku tidak menyangka, vila yang kau buat sangat bagus dan cukup besar." Ucap Xixi.
"Tentu, karena aku ingin hidup di vila ini bersama dengan orang yang aku cintai kelak."
Leon memeluk tubuh Xixi dari samping, mereka berdua menatap bangunan vila yang ada di depan mereka.
"Ayo masuk, kita lihat bagian dalam vila ini." Ucap Leon.
Xixi mengangguk, mereka pun berjalan ke arah pintu vila itu.
Leon membuka kunci dan pintu vila. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam vila yang cukup megah itu.
"Kau benar-benar sangat hebat membuat vila ini, di dalam terasa sangat nyaman dan sejuk meskipun di luar begitu panas." Ucap Xixi.
"Aku pernah berkata padamu, jika saat musim dingin di dalam vila ini akan terasa hangat dan saat musim panas, di dalam vila akan terasa sejuk meski kita tidak menyalakan AC."
"Iya, kau benar."
"Kenapa kau membuat begitu banyak kamar?"
"Tentu saja karena aku ingin memiliki punya banyak anak, sayang."
Xixi menggelengkan kepalanya, dia lalu berjalan melewati Leon untuk melihat-lihat bagian lain dari vila milik Leon itu.
Leon yang melihat reaksi Xixi, tersenyum. Karena kali ini Xixi tidak membalas ucapannya dengan cuek seperti biasa.
Mereka naik ke lantai 2 vila itu, dan membuka salah satu kamar yang ada disana. Dan ternyata yang Xixi buka adalah kamar utama.
Xixi berjalan masuk dan beridiri di depan jendela kaca yang ada di kamar itu.
Leon yang melihat Xixi diam saat melihat keluar jendela kamar itu, berjalan dan memeluk Xixi dari belakang.
"Aku ingin membuat banyak kenangan disini dengan mu nanti." Ucap Leon sambil meletakan kepalanya pada bahu Xixi.
"Kenapa semakin kesini kau semakin banyak merencakan sesuatu untuk kita?"
Leon mempererat pelukannya, dan mengecup bahu Xixi.
"Tentu saja, jika itu berhubungan denganmu. Aku akan melakukan dan memikirkan semuanya dengan baik, karena aku tidak ingin membuat mu kecewa lagi padaku."
Xixi memegang tangan Leon yang tengah memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih, karena sudah melakukan yang terbaik untuk ku." Ucap Xixi.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, karena aku melakukannya demi kebahagiaan kita."
Xixi mengangguk.
"Aku ingin melihat ruangan yang lain." Ucap Xixi.
"Iya, ayo kita melihatnya bersama."
"Em, iya."
Mereka berdua lalu keluar dari kamar utama itu dan berjalan untuk melihat ruangan yang lainnya yang ada di dalam vila.
Di belakang vila terdapat kolam renang dan sebuah kasebo yang cukup besar, untuk bersantai bersama saat sore hari.
Vila yang Leon buat merupakan vila impian yang sangat ingin Leon miliki, karena dia menginginkan, kelak bisa tinggal disana bersama dengan istri, anak, bahkan cucu-cucunya.
Sebab itu, dia membuatnya dengan bahan terbaik, para pekerja terbaik, dan juga dengan sentuhan terbaik.
"Apa kau menyukainya sayang?" Tanya Leon saat mereka selesai melihat-lihat vila itu.
Xixi mengangguk "Iya, ini adalah vila terbaik yang aku lihat. Walaupun tidak begitu besar, tapi aku merasakan kenyamanan disini. Di tambah udara disini sangat sejuk, karena tidak ada kendaraan yang bisa sembarangan lewat disini."
"Iya, aku memilih tempat ini karena tempat ini cukup tenang dan juga sangat sejuk. Aku juga membeli tanah di samping vila ini."
"Kau juga membeli tanah, untuk apa?"
"Untuk membuat sebuah danau buatan, jadi saat musim semi datang, kita bisa berjalan melewati jembatan kecil yang ada di tengah danau itu. Kau juga bisa menanam berbagai bunga di samping danau itu nanti."
"Kau sungguh sudah merencakan banyak hal."
Leon tersenyum mendengar ucapan Xixi.
Xixi mengambil satu botol minuman yang ada di atas meja lalu meminumnya, kedua matanya terfokus pada dinding kosong yang ada di atas perapian.
"Leon, kenapa kau tidak meletakan sesuatu di atas perapian dan dinding di atasnya? Seperti vas bunga kecil, foto atau sebuah lukisan." Ucap Xixi.
"Nanti aku akan meletakan semuanya, tapi bukan sekarang."
Xixi mengerutkan keningnya.
Leon hanya tertawa melihat itu "Karena semua foto yang ingin aku letakan disana, adalah foto kebahagiaan kita nanti, jadi aku mengosongkannya."
Xixi dan Leon menikmati waktu siang itu di vila Leon yang nyaman dan sejuk.
Saat Xixi tengah memainkan ponselnya di samping Leon, tiba-tiba kepalanya menyender pada bahu Leon.
Leon sempat terkejut, namun sedetik kemudian dia tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari Xixi, yang ternyata sudah tertidur dengan pulas.
Leon mengecup kening Xixi, lalu membetulkan posisi duduknya agar Xixi merasa lebih nyaman.
"Mimpi indah sayang." Ucap Leon dengan pelan, sebelum akhirnya dia memejamkan mata dan ikut tidur di samping Xixi.
__ADS_1