
Semua orang yang ada di rumah Xixi tengah ribut berjalan kesana kemari, mengatur ini dan itu.
Sementara Xixi tengah berada di dalam kamarnya bersama dengan Mimi yang juga ada di sana.
Dua orang penata rias artis profesional berdiri di depan dan di belakang Xixi untuk merias wajah dan juga menata rambut Xixi, agar terlihat cantik di hari yang begitu berarti baginya dalam seumur hidup ini.
Gaun pengantin yang akan di kenakan oleh Xixi pun sudah datang sejak kemarin dan tergantung indah di dalam kamar Xixi.
Mimi yang ada di dalam kamar Xixi mengabadikan moment, dimana Xixi tengah di rias oleh kedua penata rias artis yang di datangkan oleh keluarga Leon.
"Aku yakin kau pasti akan semakin cantik setelah di rias, Xixi." Ucap Mimi.
Xixi hanya diam mendengar ucapan Mimi, karena saat ini dia sedang tidak bisa berbicara, sebab Xixi tidak mau mengganggu dua perias yang sedang melakukan pekerjaan mereka pada wajah dan rambut Xixi.
Hari ini adalah hari bahagia bagi Leon dan Xixi, dimana mereka akan mengucapkan janji dan sumpah pernikahan di depan para saksi, keluarga dan teman-teman mereka.
Dan saat ini, dua mempelai sedang di rias dan bersiap untuk menunjukan kecantikan dan ketampanan mereka di depan orang yang mereka cintai nanti.
Ceklek
Pintu kamar Xixi terbuka, nyonya William masuk ke dalam kamar Xixi, dan melihat putrinya begitu cantik mengenakan gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya saat ini.
"Kau benar-benar sangat cantik sayang." Ucap nyonya William.
Xixi tersenyum "Terima kasih ibu, ini karena ibu juga cantik."
Nyonya William mengangguk, dia menatap wajah putrinya yang akan menikah itu dengan lekat. Dia merasa terharu dan bahagia karena akan melihat putri bungsunya menikah.
"Kau harus selalu bahagia sayang, ibu tidak mau melihat atau mendengar mu terluka lagi." Ucap nyonya William.
"Ibu jangan khawatir, Xixi pasti akan bahagia. Leon juga akan menjaga Xixi dengan baik."
Nyonya William mengangguk, dengan lembut nyonya William memeluk Xixi dan mengusap punggung putri bungsunya itu.
"Ibu masih tidak percaya, jika putri ibu ini sudah akan menikah." Ucap nyonya William seraya melepaskan pelukannya.
"Ibu saja tidak percaya, apalagi Xixi yang menjalaninya. Seperti baru kemarin Xixi bertemu dan mengenal Leon, tetapi hari ini kami sudah akan menikah."
"Kamu ini, mana boleh berfikir seperti itu." Ucap Mimi yang berdiri di samping Xixi dan ibunya.
"Baiklah, sebentar lagi orang dari keluarga Leon akan kesini untuk menjemput mu. Ibu dan kakakmu harus menyambut mereka di luar." Ucap nyonya William.
"Iya ibu, Xixi mengerti."
Nyonya William dan Mimi keluar dari kamar Xixi, begitu juga dengan kedua perias yang telah selesai merias Xixi.
Xixi menatap dirinya di depan cermin panjang yang ada di dalam kamarnya, melihat betapa cantik dan anggunnya dia saat ini dalam balutan gaun pengantin yang sangat indah dan elegan.
"Aku tidak menyangka jika aku akan secantik ini." Gumam Xixi.
Ceklek
Pintu kamar Xixi terbuka, tuan William yang membuka pintu itu masuk ke dalam kamar Xixi.
"Ayah." Ucap Xixi.
Tuan William berjalan mendekati putrinya.
"Putri ayah terlihat sangat cantik." Ucap tuan William.
Xixi hanya tersenyum menatap ayahnya yang saat ini berdiri di depannya.
"Kelak kau harus bisa menjaga dirimu, jangan sampai terluka seperti dulu. Karena ayah mungkin tidak akan dengan cepat mengetahuinya." Ucap tuan William.
"Ayah, perkataan apa itu? Aku akan menikah, kenapa ayah mengatakan hal itu padaku?"
Tuan William hanya tersenyum, dia lalu memeluk putri kecilnya itu dengan erat. Ada rasa tidak rela yang di rasakan oleh tuan William saat melihat putrinya akan menikah dengan laki-laki lain yang dia cintai.
__ADS_1
"Ayah." Ucap Xixi.
"Ayah hanya berharap kau akan selalu bahagia, dan akan selalu bahagia. Walaupun kau sudah menjadi istri Leon, tetapi ingtalah kau masih memiliki ayah disini, yang akan selalu ada dan melindungi mu."
"Iya ayah, Xixi mengerti."
Tuan William melepaskan pelukannya dan menatap wajah Xixi.
"Ayah ingat baru kemarin ayah mengantarmu pergi ke taman kanak-kanak, tapi hari ini ayah akan mengantar mu ke depan altar pernikahan." Ucap tuan William dengan tatapan sendunya.
"Ayah, kau akan menjadi laki-laki pertama yang Xixi cintai sampai kapan pun. Kau adalah ayah terhebat, laki-laki pertama yang telah membuat Xixi merasa sangat bahagia di dunia ini."
Xixi memeluk tuan William.
"Semoga Tuhan akan selalu melindungi dan membuat mu bahagia. Dan semoga pernikahan kalian akan selalu di berkahi." Ucap tuan William.
Xixi mengangguk dalam pelukan ayahnya.
Tok tok tok
Pintu terbuka setelah beberapa kali suara ketukan terdengar.
"Ayah, Xixi. Orang dari keluarga Leon yang akan menjemput Xixi untuk pergi ke tempat pernikahan telah sampai." Ucap Mimi setelah membuka pintu kamar Xixi.
"Iya, ayah mengerti." Ucap tuan William.
Tuan William menatap Xixi lalu menurunkan penutup kepala yang ada di atas mahkota Xixi, untuk menutupi wajah Xixi.
"Ayo, ayah akan membawa mu keluar." Ucap tuan William seraya mengulurkan lengannya pada Xixi.
Xixi mengangguk lalu melingkarkan tangannya pada lengan tuan William. Dan sambil sedikit menyenderkan kepala pada lengan ayahnya, Xixi mengikuti langkah kaki ayahnya yang keluar dari kamarnya.
Dengan perlahan tuan William dan Xixi berjalan menuruni tangga. Semua orang yang melihat, terpesona akan kecantikan Xixi.
Ya, meskipun wajah Xixi di tutupi oleh penutup wajah, namum mereka tetap bisa melihat wajah cantik Xixi di balik penutup wajah yang tipis itu.
"Mohon untuk berhati-hati di jalan." Ucap tuan William pada paman kedua Leon yang menjemput Xixi.
"Baik, kami pastikan pengantin yang cantik ini akan sampai di tempat pernikahan dengan selamat."
Tuan William mengangguk.
Setelah paman kedua Leon masuk ke dalam mobil, tak lama mobil pengantin yang Xixi naiki melaju meninggalkan rumah keluarga William.
"Baiklah, kita juga harus bersiap untuk pergi ke tempat pernikahan mereka." Ucap tuan William.
Semua orang bersiap dan masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan pergi ke tempat pernikahan Leon dan Xixi.
Saat ini di dalam mobil, Xixi merasa sangat gugup hingga tangannya berkeringat.
Xixi tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya, jadi dia merasa takut juga gugup.
15 menit kemudian, mereka sampai di sebuah gedung putih yang sudah di hias dengan bunga dan pita yang sangat cantik.
Di depan pintu bagunan itu berdiri beberapa orang yang menyambut kedatangan Xixi.
Mobil tuan William yang juga telah sampai, berhenti di belakang mobil yang Xixi naiki.
Tuan William segera turun lalu berjalan mendekati mobil yang Xixi naiki itu, dan membuka pintu mobil serta membantu Xixi keluar dari dalam mobil dengan hati-hati.
Semua orang yang menyambut kedatangan Xixi bersorak bahagia, karena pengantin wanita mereka telah tiba.
Dengan hati-hati tuan William membawa Xixi menaiki tangga bagunan berwarna putih yang ada di depan mereka saat ini.
"Kau sudah siap sayang?" Ucap tuan William pada Xixi saat mereka telah sampai di depan pintu bagunan putih itu.
Xixi mengangguk pelan.
__ADS_1
Tuan William menoleh ke samping dan mengangguk pada seseorang, dan setelah itu alunan musik pun terdengar.
Leon yang sudah berada di dalam bangunan putih itu mendengar alunan musik yang berbunyi, menandakan sebentar lagi Xixi dan tuan William akan masuk ke dalam.
Suara jantung Leon terdengar cukup kencang, dan beberapa kali Leon menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya.
Ceklek
Suara pintu terbuka, semua orang yang ada di dalam ruangan berdiri dan menatap ke arah pintu.
Dengan perlahan tuan William dan Xixi berjalan masuk dan mendekati altar dimana Leon sudah menunggu disana.
Leon menatap Xixi dan tuan William yang semakin dekat dengannya, ada rasa gugup, bahagia dan juga takut.
Setelah tuaj William dan Xixi sampai di depan altar, Leon menuruni anak tangga yang sedikit dan berjalan beberapa langkah ke depan.
Tuan William menatap Leon dengan tegas "Leon, aku akan menyerahkan putri ku padamu. Kau harus menjaganya dengan baik. Jika kau menyakitinya, maka aku akan membawa putri ku kembali." Ucap tuan William.
"Baik, saya bersumpah dengan nyawa saya sendiri, jika saya akan menjaga dan melindungi Xixi dengan baik. Dan akan selalu mencintainya." Ucap Leon dengan bersungguh-sungguh.
Setelah mendengar jawaban dari Leon, tuan William menyerahkan tangan Xixi pada Leon.
Leon menerima tangan Xixi lalu menggenggamnya, dan untuk beberapa detik dia menatap Xixi yang berdiri di depannya.
Dengan hati-hati Leon membawa Xixi menaiki beberapa anak tangga di depan mereka.
Sesampainya mereka berada di atas altar, Leon dan Xixi mengambil sebuah buku tipis, dan mereka mulai membacakan janji dan sumpah pernikahan mereka. Yang di saksikan oleh semua orang di dalam ruangan itu.
Setelah pembacaan janji dan sumpah pernikahan, Leon dan Xixi melakukan penyematan cicin pada jari mereka.
Semua orang yang datang bertepuk tangan dengan meriah saat Leon, dan Xixi telah menyematkan cincin pada masing-masing jari mereka secara bergantian.
Kini saatnya Leon membuka penutup wajah yang selama ini telah menghalangi pandangannya dari wajah cantik Xixi yang ingin Leon lihat.
Dengan pelan, Leon mengangkat penutup wajah itu ke atas, dan tampaklah wajah Xixi yang begitu cantik di depan Leon.
Tangan Leon terulur dan membelai pipi Xixi "Kau sangat cantik sayang."
Xixi hanya tersenyum mendengar ucapan Leon.
"Leon apa yang kau lakukan, cepat cium istrimu!" Seru salah satu teman Leon.
"Ciu*m! ciu*m! ciu*m!" Beberapa orang bersorak karena tidak sabar ingin melihat pengantin baru mereka berciuman.
Mendengar sorakan mereka, Leon tersenyum lebar sambil menatap Xixi.
Perlahan Leon mendekatkan wajahnya pada wajah Xixi, dan mencium bibir Xixi dengan lembut.
Xixi membalas ciuman Leon, dan untuk beberapa saat mereka saling menyalurkan rasa bahagia mereka di depan semua orang yang telah menyaksikan pernikahan mereka.
Tepuk tangan dan sorak bahagia terdengar begitu meriah di dalam gedung putih, yang telah menjadi saksi pernikahan Leon dan Xixi hari itu.
...----------------...
Terima kasih sudah membaca dan memberi dukungan kepada karya Xia Lin yang berjudul "The Geeky Girl".
Semoga kalian menyukai cerita yang Xia Lin buat ini 🙏🙏🤗🤗🤗.
Jangan lupa untuk follow akun Xia Lin agar mendapatkan notifikasi karya baru yang Xia Lin buat berikutnya.
Xia Lin
__ADS_1