
"Sekertaris Ana, bawa dua benda itu ke ruanganku. Aku akan menghadiahkan itu kepada seseorang bersama benda yang lainnya." Ucap Xixi sebelum dia keluar dari ruang kepala direksi.
Sekertaris Ana tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh direkturnya dengan dua kotak benda menjijikan itu. Tetapi meski sekertaris Ana tidak tahu, dia tetap membawa kedua kotak itu pergi ke ruangan direkturnya.
Di dalam ruang kerjanya Xixi kembali melihat rekaman cctv yang dia pasang di kantor kepala direksi itu. Selama beberapa mingyu ini Xixi sangat sibuk, jadi dia belum sempat melihat rekaman cctv di semua ruangan yang ada di perusahaannya.
Xixi mencetak beberapa foto di beberapa video yang menurut dia akan membuat istri kepala direksi itu meledak, dan juga membuat wanita itu tidak bisa bekerja di perusahaan lain.
"Kalian manusia menjijikan, tidak pantas bekerja di perusahaan yang orang lain dirikan dengan kerja keras mereka."
Selesai mencetak semua foto, Xixi juga tidak lupa memasukan semua rekaman video dari cctv di ruangan itu ke dalam flashdisk, yang tentu akan dia kirimkan ke dua keluarga, dua orang yang sudah melakukan hal hina di perusahaannya.
"Direktur, saya membawakan barang yang anda inginkan." Ucap sekertaris Ana dari luar ruangan.
"Bawa itu masuk." Ucap Xixi.
Direktur Ana masuk kedalam ruangan membawa dua kotak berisi balon basah itu.
"Masukan dua kotak itu ke dalam box ini, lalu bantu aku kirimkan pada keluarga kepala direksi kita yang terhormat itu, dan satu box lainnya berikan kepada keluarga karyawan tadi." Ucap Xixi.
"Baik direktur, akan saya lakukan."
Sekertaris Ana melihat Xixi dengan gemetar, dia tidak menyangka jika Xixi yang terlihat begitu cantik dan berwibawa, serta halus dalam berbicara. Ternyata bisa menjadi begitu kejam dalam memberi hukuman kepada orang-orang yang sudah membuatnya marah.
"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dengan direktur, aku tidak mau bernasib sama seperti kedua orang menjijikan itu."
Selesai memasukan beberapa video kedalam dua flashdisk, Xixi meletakkan dua flashdisk dan beberapa foto yang dia cetak ke dalam dua box yang ada di atas meja kerjanya.
Dengan cepat Xixi memplester dengan baik kedua box itu, lalu memberikan nama penerima di masing-masing box.
"Kirimkan dua box ini pada kedua keluarga orang-orang menjijikan itu." Ucap Xixi pada sekertaris Ana.
"Baik direktur, saya akan mengirimkannya."
Sekertaris Ana lalu mengambil dua kotak itu dan keluar dari ruang kerja Xixi.
"Membereskan dua orang seperti mereka hingga ke akarnya, itu bukanlah hal yang sulit." Ucap Xixi.
...----------------...
Di tempat lain, Mimi dan menejer Junnie sedang makan siang bersama di sebuah restoran.
Setelah sejak pagi Mimi menahan rasa laparnya, karena harus memakai gaun yang begitu cantik untuk pemotretan, akhrinya Mimi bisa makan dengan puas siang harinya.
"Kau ini, padahal tidak apa-apa kalau pagi tadi kau sarapan dulu." Ucap menejer Junnie pada Mimi yang duduk di depannya.
"Tidak kak, aku akan merasa tidak percaya diri memakai gaun itu dengan perut yang kenyang. Aku pasti merasa tidak tenang, karena takut perutku akan terlihat besar."
"Hahaha kau ini, perutmu itu sudah sangat rata sekali."
"Tidak apa-apa, lagi pula pemotretannya sudah selesai. Jadi aku bisa makan dengan puas siang ini."
Menejer Junnie hanya menggelengkan kepalanya melihat Mimi yang kadang tidak bisa di tebak itu.
__ADS_1
"Nona Michael?"
Sebuah suara memanggil, Mimi si pemilik nama itu menoleh.
"Tu... tuan muda Smith." Ucap Mimi sedikit tidak percaya melihat Joseph ada di hadapannya.
"Ternyata benar itu anda, sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya, anda benar."
"Apakah anda sedang melakukan pemotretan di kota A ini?" Tanya Joseph yang melihat menejer Mimi juga ada disana.
"Iya, anda sendiri?"
"Ah, saya kesini untuk menemui klien."
Mimi mengangguk "Oh, seperti itu."
Mimi sebisa mungkin bersikap biasa saja, bahkan dia tidak berniat untuk mengundang Joseph duduk bersama dengan mereka berdua.
Joseph menatap Mimi, wanita yang dulu pernah dengan jelas memperlihatkan rasa suka pada dirinya.
"Em, nona Michael. Apakah nona punya waktu?" Tanya Joseph.
"Waktu, ada apa tuan muda Smith?"
"Ah tidak, saya hanya ingin mengajak nona Michael makan siang bersama besok."
"Maaf tuan, saya tidak bisa. Seseorang akan marah jika saya keluar untuk makan dengan laki-laki lain."
"Iya, silahkan tuan."
Joseph lalu berjalan meninggalkan meja Mimi dan menejer Junnie.
Mimi menatap punggung Joseph yang semakin menjauh darinya.
"Sebelumnya kau menghindariku, bahkan kau sama sekali tidak melihatku. Tetapi setelah kau menyadari jika kekasihmu bukanlah wanita yang baik, kau ingin aku untuk kembali mengejarmu."
Menejer Junnie menatap Mimi yang masih melihat Joseph yang semakin menjauh dari pandangan mereka.
"Mimi, jangan katakan kau masih menyukai tuan muda Smith itu?" Tanya menejer Junnie.
"Apa yang kak Junnie katakan, aku sekarang sudah bersama dengan Jery."
"Baguslah jika kau sadar akan hal itu. Dia baru saja berpisah dengan wanita yang dia cintai, karena pengkhianatan yang di lakukan kekasihnya itu. Aku khawatir kau hanya akan di jadikan pelampiasannya saja."
"Kak Junnie jangan khawatir, aku tidak akan terjebak dalam perasaan masa lalu."
"Baguslah kalau begitu."
Mimi tersenyum pada menejernya.
Tak lama menejer Junnie hampir tersedak melihat seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam restoran itu, dia lalu menepuk-nepuk tangan Mimi yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Ada apa kak Junnie, kenapa dengan mu?" Tanya Mimi dengan heran.
"Itu, lihat.... lihat belakangmu." Ucap menejer Junnie seraya menunjuk ke belakang Mimi.
Mimi yang bingung menoleh, dan terlihatlah laki-laki yang begitu tampan berjalan mendekati mejanya.
"Jery?" Ucap Mimi menatap Jery tak berkedip.
"Halo sayang, ternyata kau juga makan siang disini." Ucap Jery setelah berdiri di samping Mimi.
"Iya, kau juga datang untuk makan siang disini?"
"Tidak, aku kesini untuk menemui rekan kerja sambil makan siang dengannya."
Mimi mengangguk "Oh."
Jery tersenyum, dia lalu membungkukan badannya "Rekan kerjaku laki-laki." Bisik Jery pada telinga kiri Mimi.
Mendengar bisikan Jery, Mimi sedikit tersipu karena ternyata Jery mengerti, jika dirinya merasa sedikit tidak nyaman oleh rekan kerja Jery.
"Kau makanlah yang banyak." Ucap Jery seraya mengusap kepala Mimi dengam lembut.
"Iya." Ucap Mimi.
"Nona Junnie, nanti biarkan tagihan kalian di masukan ke dalam tagihanku." Jery menatap menejer Junnie.
"Baik tuan muda Robert." Ucap menejer Junnie.
"Baiklah, aku harus menemui rekan kerjaku dulu. Jika sudah selesai makan dan tidak ada urusan yang lain, segera pulang. Aku akan menghubungi mu nanti."
Mimi mengangguk "Iya, aku mengerti."
Jerry melemparkan senyum manisnya pada Mimi sebelum dia berjalan meninggalkan Mimi dan menejernya.
Mimi melihat kemana Jery pergi, dan kedua matanya membulat saat tahu jika rekan Jery adalah Joseph.
"Ada apa Mimi?" Tanya menejer Junnie.
"Rekan... kerja Jery.... adalah Joseph." Ucap Mimi setengah tidak percaya.
"Maksudmu, Joseph.... tuan Joseph Smith tadi?"
Mimi mengangguk "I... iya."
Menejer Junnie menoleh ke belakang, dia tidak begitu jelas melihat kedua laki-laki yang di lihat oleh Mimi itu, karena mereka duduk berjauhan.
"Biarkan saja Mimi, mereka berdua adalah pebisnis. Dan pasti mereka tidak akan mencampur adukan masalah pribadi dan pekerjaan."
Mimi menatap menejernya "Iya, semoga saja seperti itu. Kita selesaikan makanan kita ini, lalu segera pergi dari sini." Ucap Mimi.
"Iya, baiklah."
__ADS_1
Mimi dan menejer Junnie lalu kembali memakann makanan yang ada di depan mereka. Dan tidak lagi membicarakan tentang Jery yang bertemu dengan Joseph.