
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Xixi sampai di rumahnya dengan selamat, dan tentunya badan yang lelah.
Xixi turun dari mobil dan mengambil koper kecilnya di bagasi mobil lalu membawanya masuk ke dalam rumah besar yang ada di depannya.
"Nona muda, anda sudah datang." Ucap salah seorang pelayan rumah, yang kemudian membantu Xixi membawa koper.
"Dimana ayah dan ibu?" Tanya Xixi sambil berjalan masuk lebih dalam.
"Nyonya sedang keluar membeli kue, dan tuan sedang di perusahaan."
"Mereka ini, padahal dua hari yang lalu memintaku untuk segera pulang, tapi mereka malah tidak ada di rumah semua."
Xixi lalu berjalan ke ruang keluarga dan duduk di salah satu sofa.
"Tolong bawa saja koper itu ke atas, dan letakan di depan kamarku. Biar nanti aku sendiri yang membawanya masuk." Ucap Xixi pada pelayanya.
"Baik nona muda."
Setelah pelayan itu pergi, Xixi menyenderkan tubuhnya, dia merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari negara A ke kota.
"Sebenarnya apa yang ayah dan ibu rencanakan?" Gumam Xixi.
"Apa kau baru sampai?" Tanya Mimi yang baru saja datang ke ruang keluarga.
"Iya kak, dan aku sangat lelah."
Mimi duduk di sofa yang ada di samping sofa yang Xixi duduki.
"Tolong ambilkan minuman yang dingin untuk nona muda." Ucap Mimi pada salah seorang pelayan.
"Baik nona."
Pelayan di dalam rumah keluarga William cukup banyak, jadi saat mereka membutuhkan bantuan mereka, mereka selalu ada.
"Kau ini, sudah tahu perjalanan dari kota A kesini cukup jauh. Kenapa tidak memakai supir sewaan saja?" Tanya Mimi.
"Tidak mau, aku tidak terbiasa jika orang yang tidak aku kenal yang membawa mobilku. Lagi pula aku merasa lebih nyaman dan tenang jika membawa mobil sendiri."
"Ya, terserah kau sajalah."
Mimi menyenderkan tubuhnya lalu memeluk bantal sofa.
"Kak, sebenarnya apa yang sedang ayah dan ibu rencanakan?" Tanya Xixi.
"Yang ayah dan ibu rencanakan, apa maksudmu? Kakak tidak mengerti."
Xixi menghela nafas, dia lalu membenarkan posisi duduknya.
"Dua hari yang lalu ayah menghubungi ku, dan memintaku untuk pulang dengan tiba-tiba. Tapi sekarang saat aku sudah pulang ayah dan ibu malah tidak ada di rumah."
"Xixi, kau kan tahu jika ayah sangat sibuk di perusahaan, dan ibu hari ini pergi ke toko kue karena ada kue baru yang di jual oleh toko kue yang biasa ibu datangi."
Xixi yang merasa curiga mengangguk, meskipun Mimi telah menjelaskan semuanya, tapi Xixi masih saja merasa ada yang janggal dari apa yang sudah ayahnya lakukan.
Seorang pelayan datang membawa dua gelas jus untuk Xixi dan Mimi.
__ADS_1
"Minumlah dulu, bukankah kau sangat lelah setelah mengemudi dari kota kesini?"
Xixi mengangguk, dia lalu mengambil gelas berisi jus lalu meminumnya.
"Kak, kau benar tidak tahu alasan ayah yang tiba-tiba memintaku untuk pulang?" Tanya Xixi lagi setelah meminum jusnya.
"Iya, dua hari kemarin kakak pergi ke studio pemotretan. Dan kakak pulang malam, jadi kakak tidak tahu apa-apa."
Xixi menatap Mimi dengan serius, tapi dia tidak melihat perubahan sikap pada Mimi. Yang artinya Mimi memang tidak tahu apa-apa.
Mimi menekan tombol remot untuk menyalakan televisi, dia harus segera mengalihkan perhatian Xixi agar tidak lagi bertanya tentang alasan ayah mereka meminta Xixi untuk segera kembali.
"Hahhh, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali skandal antara artis dan menejernya atau dengan lawan mainnya?" Ucap Mimi yang sengaja berkata seperti itu, saat melihat sebuah berita tentang seorang artis yang terjerat skandal dengan menejernya sendiri.
"Entahlah, seperti tidak ada berita lain saja."
"Iya, makanya aku tidak pernah suka melihat berita-berita seperti ini."
Xixi hanya diam, dia lalu meminum kembali jusnya.
Mimi yang diam-diam melirik ke arah Xixi merasa sedikit lega, karena Xixi tidak lagi bertanya tentang ayahnya.
"Baguslah kalau Xixi tidak bertanya lagi, bisa terbongkar kalau dia terus bertanya padaku."
Xixi meletakan gelas kosong di atas meja lalu berdiri.
"Aku mau ke kamar dulu kak, aku mau mandi dan istirahat sebentar di dalam kamar." Ucap Xixi.
"Iya baiklah, aku akan memanggilmu saat makan siang nanti."
"Iya."
Dengan langkah sedikit gontai, Xixi berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Mimi yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dia ini, selalu saja seperti itu saat sudah kelelahan." Ucap Mimi.
Di depan kamar, Xixi melihat kopernya, dia lalu membuka pintu kamar dan masuk kedalam sambil membawa koper itu.
"Aku sebaiknya langsung mandi saja, setelah itu tidur sebentar." Gumam Xixi.
Xixi meletakan kopernya di samping sofa yang ada di dalam kamarnya yang besar. Kemudian dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di ruang keluarga, Mimi menghubungi nomor ponsel ibunya.
Tuut tuut... Tut tut...
Ibu : Iya sayang, ada apa?
Mimi : Ibu, apa ibu masih lama?
Ibu : Tidak, sebentar lagi ibu akan pulang.
Mimi : Baguslah kalau begitu, Xixi sudah sampai di rumah.
__ADS_1
Ibu : Benarkah? Cepat sekali dia sudah sampai di rumah.
Mimi : Sepertinya dia bangun lebih awal, dan mengendarai mobilnya dengan cepat.
Ibu : Dia itu, masih saja mengemudi seperti sedang balapan.
Mimi : Sudahlah, ibu lebih baik pulang sekarang. Mimi tidak tahu harus bagaimana kalau Xixi bertanya-tanya lagi. Karena tadi Xixi terus bertanya pada Mimi tentang alasan ayah memintanya untuk pulang.
Ibu : Iya, iya. Ibu akan pulang sekarang. Kau ingin sesuatu?
Mimi : Emm... Tolong belikan Mimi salad buah saja yang ada di toko kue itu.
Ibu : Baiklah, kalau begitu kau tunggulan sebentar di rumah.
Mimi : Iya bu.
Mimi lalu memutuskan sambungan telfonnya dengan nyonya William, dia lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
"Semoga saja nanti Xixi tidak bertanya apa-apa lagi, sebelum ayah pulang ke rumah."Gumam Mimi.
Saat ini Xixi tidak tahu apa yang sedang mereka rahasiakan dari dirinya, itu karena mereka ingin membantu Leon, agar Xixi pulang ke rumah dan membuat Xixi untuk tinggal di rumah sementara waktu sampai Leon selesai menghias vila milik Xixi di sana.
Bagi semua orang yang sangat bisa menahan diri mungkin bisa tetap diam di depan Xixi, tetapi bagi Mimi yang sangat dekat dengan Xixi dan tidak bisa menyembunyikan apapun dari adiknya, tentu sangat sulit. Bahkan tadi dia hampir tidak bisa menahan untuk tidak mengatakannya pada Xixi.
"Lebih baik aku mengunci diri di dalam kamar, agar Xixi tidak bertanya padaku lagi. Benar-benar berbahaya kalau sampai Xixi bertanya lagi, dan aku mengatakannya." Ucap Mimi.
Mimi mengambil ponselnya lalu berjalan ke kamarnya, dan untuk sementara dia akan berpura-pura tidur di dalam kamarnya yang akan dia kunci, untuk menghindari Xixi kalau-kalau dia mencarinya.
...----------------...
Di tempat lain, wanita bernama Andrea duduk di pangkuan kekasihnya, di dalam sebuah kamar.
Dia sedang memikirkan Xixi yang tadi pagi dia temui di kafe. Andrea sangat tidak menyukai wanita itu, dia menganggap jika Xixi akan merusak semua rencananya ketika mendekati Joseph.
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan di depanku?" Ucap laki-laki yang tengah memeluk p1nggang Andrea.
"Kau tahu bukan, kalau aku sedang mendekati tuan muda Smith?"
"Iya aku tahu, lalu?"
"Tadi pagi saat aku dan dia sedang makan bersamanya di kafe, seorang wanita datang. Jika di lihat usianya beberapa tahun lebih muda dari Joseph."
"Apa dia kekasih Joseph itu?"
"Bukan, dia adalah junior Joseph. Wanita itu bahkan memanggil Joseph dengan sebutan kakak."
"Jadi, apa yang membuatmu terlihat tidak senang, sayang?"
"Wanita itu terlihat aneh, aku takut dia akan merusak rencana kita."
Laki-laki itu termenung dengan apa yang kekasihnya katakan itu.
"Baiklah, aku akan mencari tahu siapa wanita yang kau katakan itu. Sekarang berhentilah memikirkan hal yang lain. Siang ini kau harus mengerahkan semua kekuatanmu, karena aku tidak akan berhenti sampai aku lelah." Ucap laki-laki itu pada Andrea.
Tubuh Andrea di peluk dengan erat oleh laki-laki itu.
__ADS_1
Andrea adalah wanita yang tidak mau hidup susah, dia akan rela masuk ke dalam pelukan beberapa laki-laki, demi semua keinginan yang dia inginkan terpenuhi. Meski begitu, kekasihnya tidak pernah melarang Andrea. Dia justru mendukung dan membantu Andrea jika Andrea mengalami kesulitan dengan para laki-laki itu.
Karena bagi kekasih Andrea, Andrea adalah alat pencari uang yang terbaik. Sebab dari satu orang laki-laki, Andrea bisa mendapatkan banyak uang, hanya dengan meneteskan sedikit air matanya saja. Dan tebru saja laki-laki itu pun bisa ikut menikmati uang yang Andrea dapatkan.