
Sampai di depan rumah Xixi, Leon dan Xixi turun dari mobil. Leon ikut berjalan sampai mereka berada di depan pintu rumah keluarga William.
"Kau mau masuk ke dalam dulu?" Tanya Xixi.
"Tidak, aku masih harus melakukan sesuatu di rumah."
"Baiklah, terima kasih sudah membawaku bertemu dengan keluarga mu."
"Itu memang sudah seharusnya, sayang."
Xixi mengangguk.
"Baiklah, aku pulang dulu. Nanti malam aku akan menghubungi mu."
"Iya, hati-hati."
"Terima kasih sayang."
Leon berbalik dan masuk ke dalam mobilnya setelah dia mencium kening Xixi.
Mobil Leon melaju meninggal halaman rumah keluarga William.
Setelah ah Xixi tidak lagi melihat mobil Leon, dia pun masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kau sudah pulang." Ucap nyonya William.
"Iya bu."
"Ibu mengira kau akan makan malam disana."
"Tidak bu, aku belum terbiasa makan bersama dengan keluarga Leon."
"Nanti lama-kelamaan kamu akan terbiasa."
"Iya bu. Xixi mau ke kamar dulu."
"Iya, baiklah."
Xixi berjalan menuju kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Xixi melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Dia ingat dengan cerita kakek Leon yang mengenal neneknya.
"Kenapa bisa ada kebetulan yang seperti itu? Apa mungkin ibu dan bibi Rose menjadi teman baik juga karena nenek berteman baik dengan kakek Leon dulu?" Gumam Xixi.
Xixi menghela nafas lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
Sementara itu Mimi yang baru keluar dari kamarnya, berjalan ke arah kamar Xixi dan masuk ke dalamnya.
"Sepertinya dia sedang mandi, aku akan meletakan tas ini disini saja." Ucap Mimi dengan pelan.
Mimi lalu meletakan paperbag berukuran cukup besar di atas sofa, kemudian dia keluar dari kamar Xixi.
__ADS_1
10 menit kemudian Xixi keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke arah ruang pakaiannya. Tetapi langkahnya terhenti saat dia melihat sebuah paperbag di atas sofa.
"Apa itu?" Gumam Xixi.
Xixi yang hanya mengenakan handuk kimononya berjalan mendekati sofa dan melihat isi paperbag yang ada disana.
"Tas?" Ucap Xixi.
Xixi mengambil tas itu lalu memperhatikannya "Bukankah ini tas yang kemarin kak Mimi beli, kenapa ini ada di kamarku?"
Xixi memasukan kembali tas itu lalu berjalan ke ruang pakaiannya.
Setelah berganti pakaian, Xixi berjalan keluar dari kamarnya.
"Bu, dimana kak Mimi?" Tanya Xixi pada ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Bukankah dia ada di dalam kamarnya?"
"Tidak ada, tadi aku sudah melihat ke kamarnya."
"Ibu juga tidak tahu. Memangnya ada apa?"
"Ada paperbag berisi tas yang kak Mimi beli denganku, di dalam kamar."
"Oh, mungkin itu hadiah dari Mimi untuk pertunangan mu dengan Leon."
"Hadiah pertunangan?"
"Iya, dia sudah mempunyai banyak tas di dalam lemarinya. Jadi dia memberikan tas yang baru dia beli itu untukmu."
"Kau harus sedikit berubah sayang, kau sudah bertunangan dengan Leon dan kalian pasti akan menikah nanti."
Xixi duduk di samping ibunya "Leon tidak mempermasalahkan hal itu. Justru dia merasa penampilan Xixi yang seperti ini membuatnya nyaman, karena dia tidak perlu mengawasi banyak laki-laki yang menatap Xixi."
Nyonya William tertawa mendengar perkataan putri bungsunya itu.
"Sayang, dengarkan ibu. Leon adalah seorang direktur, dia pasti akan sering mendapatkan undangan pesta dari para pebisnis lainnya. Dan kau tentu akan menjadi pendamping Leon ke pesta itu nanti. Bukankah tidak mungkin kalau kau akan pergi dengan penampilan seperti itu di sebuah pesta?"
Xixi baru ingat jika saat ini Leon adalah seorang direktur, dia lalu tersenyum malu pada ibunya.
"Ibu akan membawamu ke toko baju yang sering ibu datangi, kita akan meminta desainer di toko itu untuk membuat beberapa gaun pesta yang cocok untukmu. Kau harus terlihat lebih feminim sedikit di depan Leon, sayang."
Xixi menghela nafas "Baik bu, Xixi mengerti."
Nyonya William membelai rambut Xixi, dia masih tidak menyangka jika putri bungsunya akan segera menikah. Meskipun dia akan menikah sebelum Mimi menikah.
"Ibu, Xixi ingin bertanya sesuatu pada ibu." Ucap Xixi.
"Apa itu sayang?"
"Apa benar, kakek Leon dulu berteman baik dengan nenek?"
__ADS_1
Nyonya William diam sejenak lalu mengangguk.
"Iya, nenek mu pernah bercerita jika dia pernah memiliki seorang teman laki-laki yang sangat dekat dengannya, bahkan mungkin mereka sudah saling menyukai. Tetapi karena kakek buyutmu harus mengurus suatu hal di luar kota, jadi keluarga nenek pindah dan mereka kembali setelah kakek Leon baru menikah beberapa bulan dengan wanita lain. Kenapa, apakah kakek Leon memberitahu mu, jika mereka adalah teman?"
Xixi mengangguk "Iya, kakek Leon juga berkata jika Xixi sangat mirip dengan nenek."
"Ternyata kakek Leon masih ingat dengan wajah nenek mu."
"Apakah Xixi sangat mirip dengan nenek?"
"Iya sayang, kau sangat mirip dengan nenek mu. Sementara kakakmu lebih mirip dengan keluarga ayahmu."
Xixi hanya mengangguk, karena sejak kecil dia belum pernah melihat wajah neneknya secara langsung, dia hanya bisa melihatnya pada foto tua yang ada di dalam album foto keluarganya.
...----------------...
Braaaaak!
Tuan Damian menggebrak meja yang ada di depannya dengan keras, dia merasa sangat marah setelah mendapat kabar jika Leon dan Xixi telah bertunangan.
"Dasar anak s*alan! Dia tidak mau membantu ayahnya sendiri malah bertunangan dengan anak dari William itu." Ucap tuan Damian dengan kesal.
Kedua tangannya mengepal, karena Leon yang selalu menentang keinginan.
"Jika saja dulu dia mau menikah dengan anak dari keluarga Albert, pasti sekarang perusahaanku tidak akan seperti ini."
Tuan Damian menatap surat panggilan dari pengadilan terakhir, yang memintanya untuk datang menghadiri sidang perceraiannya dengan istrinya.
"Setelah resmi bercerai, mereka pasti akan mengambil semua yang aku miliki. Tetapi sebelum itu, aku akan mengalihkan uang dari perusahaan itu pada rekeningku. Aku sudah menjalankan perusahaan itu cukup lama, hanya mengambil beberapa miliar tidak akan membuat mereka miskin." Ucap tuan Damian.
Tuan Damian keluar dari perusahaan dan akan kembali ke rumah, untuk mencari barang berharga yang istrinya simpan dengan baik di suatu tempat yang ada di dalam rumahnya.
"Aku pernah memberikan wanita itu beberapa kalung berlian dan juga kalung mutiara yang mahal. Aku harus mencari tempat dimana dia menyimpan semua perhiasan itu." Ucap tuan Damian yang sudah berada di dalam mobilnya.
Tuan Damian melajukan mobilnya dengan cepat, agar dia bisa segera sampai di rumahnya. Dia bahkan menerobos lampu merah yang ada di persimpangan jalan.
Braaaaaaak!
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt!
Suara klakson mobil berbunyi dengan sangat keras setelah sebuah truk besar menabrak mobil yang tuan Damian naiki dengan keras, saat tuan Damian akan berbelok tanpa melihat kanan kiri jalan terlebih dulu.
Orang-orang yang melihat kecelakaan maut itu segera melihat kondisi tuan Damian, karena mobil tuan Damian terlihat hancur.
"Sepertinya dia masih hidup, ayo bantu keluarkan dia." Ucap seseorang yang berdiri di sisi mobil tuan Damian.
Beberapa orang membantu mengeluarkan tuan Damian yang masih berada di dalam mobilnya yang sudah rusak parah, dan salah seorang di antara mereka terlihat sedang menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim ambulances kesana.
Setelah tuan Damian berhasil di keluarkan dari dalam mobil, dia segera di bawa ke rumah sakit oleh mobil ambulances yang sudah datang di tempat kejadian itu.
"Sepertinya dia sedang terburu-buru, dia bahkan masih melajukan mobilnya dengan cepat saat akan berbelok tadi, dan tidak melihat ada sebuah truk besar." Ucap salah satu orang yang membantu tuan Damian.
__ADS_1
"Benar, orang itu benar-benar sangat ceroboh." Ucap yang lainnya.
Semua orang yang ada disana satu persatu pergi, dan mobil milik tuan Damian di bawa oleh mobil derek.