
Sua hari kemudian Leon mengantarkan ibunya ke pengadilan, untuk melakukan sidang pertama perceraian dengan tuan Damian.
Bukan hanya Leon saja yang menemani ibunya ke pengadilan itu, tetapi nyonya William dan Xixi pun ikut datang untuk menyaksikan jalannya persidangan perceraian orang tua Leon.
Semua berkas telah siap dan semua saksi yang akan menyaksikan persidangan itu pun telah hadir, namun hingga akhir persidangan tuan Damian tidak penampakan batang hidungnya.
"Sepertinya dia tidak akan berani datang ke pengadilan, sampai keputusan dijatuhkan." Ucap ibu Leon.
"Kau benar, bagaimana mungkin dia akan berani datang ke pengadilan ini saat kondisi perusahaan, dan seluruh kekayaannya akan hilang dari kehidupannya." Ucap nyonya William.
"Dia memang pantas untuk mendapatkan semua itu, karena dia terlalu serakah dalam hidupnya."
Nyinya William hanya mengangguk, dia lalu memeluk tubuh teman baiknya sebagai dukungan atas apa yang dilakukan olehnya.
"Sebentar lagi semuanya akan selesai, kamu dan juga Leon akan terbebas dari laki-laki itu." Ucap nyonya William seraya mengusap punggung ibu Leon dengan pelan.
Melihat kedekatan kedua orang tua mereka, Leon dan Xixi berharap jika kelak hubungan mereka akan semakin erat.
" Persidangan hari ini telah selesai, sebaiknya kita sekarang pulang." Ucap Leon.
Nyonya William melepaskan pelukannya dari ibu Leon "Apa yang dikatakan oleh Leon benar, lebih baik untuk sementara waktu kau tinggal di rumahku. Dia tidak akan berani datang ke sana." Ucap nyonya William.
"Tidak apa-apa, aku akan tinggal di rumah ayahku. Dia pasti tidak akan berani untuk datang lagi ke sana, karena dia pasti takut dengan apa yang telah kita lakukan kemarin padanya."
"Baiklah,jika itu yang kau inginkan."
"Terima kasih karena kau selalu ada saat aku memerlukan sebuah dukungan dari seorang teman."
"Kau tidak perlu mengatakan hal itu."
Ibu Leon mengangguk.
Kedua ua wanita dan anak-anaknya berpisah di area parkir gedung pengadilan itu, karena mereka harus kembali ke rumah masing-masing.
"Ibu tidak menyangka jika Damian akan melakukan hal itu pada istrinya." Ucap Nyonya William saat mereka berada di dalam mobil.
"Ibu, setiap orang memiliki sifat mereka masing-masing, mungkin saat mereka belum paman Damian memperlakukan bibi Rose dengan begitu baik. Itu karena ia mempunyai tujuan lain, dan setelah mereka menikah lambat laun paman Damian mulai memperlihatkan siapa dia sebenarnya."
Nyonya William mengangguk "Mungkin yang kamu katakan benar, sayang. Ibu benar-benar sangat kasihan melihat dia salah memcintai seseorang."
Xixi hanya bisa diam, karena dia tidak begitu mengenal ibu Leon.
Setelah sampai di rumah, Xixi dan nyonya William segera masuk ke dalam rumah.
"Ibu, aku akan langsung ke kamar, ada sesuatu yang harus aki kerjakan. Ucap Xixi pada nyonya William.
"Iya, kau bisa pergi ke kamarmu."
Xixi mengangguk, dia lalu berjalan menuju kamarnya yanga ada di lantai 2.+
Ceklek
Sisi membuka pintu kamarnya lalu kembali menutup pintu itu.
__ADS_1
Dengan langkah sedikit gontai Xixi berjalan menuju ranjang dan memberikan tubuh lelahnya di atas ranjang itu.
"Padahal seharian ini aku hanya duduk menyaksikan persidangan bibi Rose, tapi kenapa tubuhku terasa begitu lelah.?" Ucap Xixi sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ting
Notifikasi ponsel Xixi berbunyi, dia Lalu melihat siapa yang telah mengiriminya pesan.
Mimi : Xixi apa kau dan ibu sudah pulang ke rumah?
Xixi bergumam saat membaca satu pesan dari kakaknya, dia lalu mengetik sesuatu pada layar ponselnya dengan cepat.
Xixi : Sudah, kami baru saja sampai di rumah. Jika kakak ingin tahu bagaimana proses perceraiannya di pengadilan tadi, lebih baik kakak pulang. Ibu akan menjelaskannya setelah kakak pulang nanti.
Xixi sengaja membalas pesan kakaknya seperti itu, karena dia tahu Mimi pasti akan bertanya mengenai proses perceraian orang tua Leon, yang dia dan ibunya saksikan.
Setelah membalas pesan Mimi, Xixi mengambil laptopnya yang ada di atas meja.
Sambil membawa laptopnya, xixixi berjalan ke arah balkon kamar dan duduk di salah kursi yang ada disana.
Xixi membuka dan menyalakan laptop yang dia letakan di atas meja di depannya. Dan dengan serius Xixi menatap alayar laptop miliknya.
Setelah membaca beberapa file itu, jari-jari Xixi menari dengan lincah di atas keyboard laptopnya, dia akan mengirimkan email kepada sekretaris Ana yang ada di kota A.
Selesai mengirimkan email untuk sekretaris Ana, Xixi membuka salah satu akun media sosialnya.
"Andrea." Ucap Xixi saat melihat sebuah foto yang diunggah oleh akun media sosial milik Joseph.
Xixi yang merasa tidak asing dengan nama itu mencoba mengingat pemilik dari nama tersebut.
Xixi kembali mengingat daftar nama orang yang beberapa hari ini dia temui.
"Oh ingat! Aku ingat siapa Andrea itu. Dia wanita yang mengaku calon istri kak Joseph saat aku di kota A." Ucap Xixi.
(padahalkan tinggal lihat di akun medianya Joseph yang sedang xixi baca, malah pusing-pusing nginget siapa dia😅)
Setelah mengingat siapa pemilik nama itu, Xixi melihat kembali akun media sosial milik Joseph.
" Baiklah, aku akan melihat siapa sebenarnya wanita yang bernama Andrea itu." Ucap Sisi
Xixi kembali mengetik papan keyboard laptopnya dengan cepat, dia mencoba mencari akun media sosial milik wanita yang bernama Andre itu.
Setelah menemukan akun media sosial milik Andrea Xixi tersenyum.
" Jadi wanita ini, yang sudah meminta keempat laki-laki itu untuk membuat ku cacat beberapa hari yang lalu?"
"Cukup cantik, tetapi cukup bodoh juga." Ucap Xixi yanh masih melihat akun media sosial milik Andrea itu.
Selama 10 menit Xixi melihat akun media sosial miliknya, dia lalu mematikan laptop dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar.
"Hari ini sangat melelahkan, aku akan tidur sebentar."
Xixi naik ke atas ranjang dan berraing disana, tak berselang lama kedua mata Xixi terpejam dan dia masuk ke dalam dunia mimpinya.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat lain, Mimi meletakan ponselnya karena kesal setelah mendapat balasan pesan dari Xixi.
Saat ini dia ada pemotretan gaun pengantin dari perancang terkenal yang ada di negara K itu, jadi tentu dia tidak bisa ikut melihat bagaimana jalannya persidangan perceraian orang tua Leon.
"Dia ini selalu saja seperti itu kalau di tanya tentang urusan orang lain." Ucap Mimi dengan kesal.
"Ada apa nona Michael? Sepertinya kau terlihat sangat kesal." Ucap penata riasnya.
"Tidak ada apa-apa, apakah sudah selesai?"
Penata rias itu mengangguk "Iya sudah selesai, hanya tingggal menunggu sutradara memanggil saja."
"Baiklah, terima kasih."
"Iya nona Michael."
Penata rias itu lalu merapikan kembali peralatan rias yang telah dia pakai tadi, dan hanya akan membawa brush juga bedak jika dia butuhkan nanti.
"Baik model bisa masuk sekarang." Ucap sutradara dengan suara keras.
Mimi di bantu oleh dua orang lainnya berjalan masuk ke dalam studio, yang sudah di ubah menjadi sebuah taman yang indah sesuai dengan konsep yang di berikan oleh perancang gaun pengantin itu.
Sutradara memberikan sedikit arahan pada Mimi tentang tema baju pengantin yang dia kenakan saat ini, dan Mimi mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan oleh sutradara itu.
"Oke semuanya bersiap, kita akan memgambil foto sekaligus video kalia ini, jadi tolong untuk lebih fokus." Ucap sutradara.
"Baik!" Ucap semua orang yang ada disana.
Pemotretan pun di mulai, sesuai dengan apa yang di katakan oleh sutradara pada Mimi sebelum pemotretan di mulai, Mimi bisa melakukan pemotretan itu dengan sangat baik.
Setelah lebih dari dua jam, akhirnya pemotretan itu selesai dengan hasil yang cukup memuaskan.
Perancang gaun pengantin itu pun tersenyum puas dengan hasil pemotretan dan pengambilan video yang di lakukan oleh Mimi dan semua tim.
"Nona Michael, anda memang model yang sangat professional, tidak salah saya memilih anda sebagai model gaun pengantin yang saya buat." Ucap perancang gaun pengantin itu
"Terima kasih, ini karena gaun yang saya kenakan sangat cantik, jadi saya berusaha untuk tidak mengecawakan anda."
Perancang itu tersenyum mendengar ucapan Mimi yang begitu rendah hati meskipun dia adalah model yang sudah terkenal di dalam maupun luar negeri.
Setelah selesai pemotretan mimi memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, dia tidak ikut makan malam bersama dengan tim pemotretan tadi.
Sampai di depan rumah yang besar, Mimi i langsung masuk ke dalam rumah itu.
"Sayang, kamu sudah pulang." Ucap nyonya William yang melihat mimi mauk ke dalam rumah
"Iya bu, Mimi mau mandi dulu."
"Iya, setelah itu turun untuk makan malam. Ayah mu juga sebentar lagi akan pulang."
"Baik bu."
__ADS_1
Mimi berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.