
Musim semi datang, Xixi yang baru saja bangun dari tidur merenggangkan tubuhnya di atas ranjang.
Drrrrrrtt
Ponsel Xixi bergetar di atas nakas, Xixi mengambil ponsel itu lalu membaca satu pesan yang dia dapatkan.
"Besok?" Gumam Xixi.
Dia lalu mengetik sesuatu pada layar ponselya, dan setelah itu meletakan kembali ponselnya di atas nakas.
Xixi turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela, di ambilnya sebuah remot lalu memekan salah satu tombol remot itu. Seketika tirai kamar Xixi terbuka dan cahaya matahari dari luar menyinari kamar Xixi yang semula gelap.
Setelah tirai terbuka, Xixi berjalan ke depan lalu membuka jendela dan pintu yang terhubung dengan balkon kamarnya.
"Aaah, udara pagi ini sangat segar. Akhirnya aku bisa bebas berdiri di sini lagi setelah hampir 4 bulan." Ucap Xixi sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara pagi itu.
Setelah beberapa saat berdiri di balkon kamar, Xixi kembali masuk dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit kemudiam Xixi keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih fresh dari sebelumnya, dia lalu duduk di depan meja riasnya.
"Hari ini tim basket kampus akan bertanding dengan tim basket kampus lain, Leon juga ikut pertandingan persahabatan musim semi itu. Aku sebaiknya ke kampus tidak ya?" Ucap Xixi sambil mengaplikasikan make up tipis pada wajahnya.
Setiap satu tahun dua kali beberapa universitas di beberapa yang ada di negara K selalu mengadakan pertandingan beberapa cabang olahraga, untuk mempererat hubungan antar universitas.
Dan hari ini adalah pertandingan hari kedua, dan hari ini kampus dimana Xixi belajar akan bertanding, setelah kemarin dua universitas lain yang bertanding.
Selain basket, juga ada pertandingan lainnya yang akan di pertandingkan hari ini di kampus.
"Sudahlah, berangkat saja. Leon juga ikut bertanding, dia pasti akan marah jika aku tidak melihatnya."
Xixi berdiri dan berjalan ke ruang pakaian untuk mengganti pakaiannya.
10 menit kemudian Xixi keluar dari ruang pakaian itu, dan berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya.
"Oke, aku pakai ini saja, di dalam lapangan pasti banyak orang. Pakai baju yang lebih longgar akan lebih baik."
Xixi kemudian mengambil tasnya dan keluar dari kamar, dia berjalan menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.
"Selamat pagi nona muda." Ucap salah seorang pelayan rumah.
"Pagi." Ucap Xixi.
Xixi menarik kursi dan duduk di kursi itu.
"Apa yang lainnya belum turun?" Ucap Xixi pada pelayan yang tadi menyapanya.
"Belum nona muda, tadi malam tuan pulang cukup larut. Dan nona pertama juga tadi malam tidur cukup malam, setelah menonton film."
"Haahh, mereka ini."
Xixi mengambil dua potong roti lalu mengoleskan selai pada roti itu, lalu memakannya.
Setelah meminum jusnya, Xixi berdiri dan keluar dari rumah sambil membawa tasnya.
"Sepi sekali pagi ini, sudahlah langsung ke kampus saja." Ucap Xixi sambil masuk ke dalam mobilnya.
Xixi lalu masuk ke dalam mobil, dan tak lama mobil melaju menuju halte tempat biasa dia turun.
Ya, walaupun identitas Xixi sudah banyak yang tahu, tapi dia masih tetap memilih naik bis dari halte tidak jauh dari kampusnya seperti biasa.
***
Di kampus, semua orang sudah berkumpul termasuk Leon yang datang lebih pagi dari biasanya untuk bersiap karena hari ini pertandingan basket timnya, dan dia ikut serta dalam pertandingan itu.
Lulu juga sudah datang di kampus, dia datang lebih awal karena dia harus memberikan tugas yang belum dia berikan pada dosen sebelumnya.
Xixi yang sudah turun dari bis, berjalan menyeberangi jalan menuju ke kampusnya.
__ADS_1
Beberapa anggota tim basket kampus lain yang melihat Xixi berjalan terpesona, mereka tidak pernah tahu ada mahasiswa yang begitu manis di kampus itu.
"Apa dia juga mahasiswa di kampus ini?" Ucap salah satu anggota tim basket itu.
"Sepertinya begitu, dia berjalan ke arah sini." Ucap yang lain.
Xixi terus berjalan melewati anggota tim basket itu, dia malas meladeni tatapan mereka pada dirinya.
"Xixi!" Seru Lulu sambil melambaikan tangannya pada Xixi.
Xixi balik melambaikan tangannya pada Lulu yang berdiri tidak jauh darinya.
"Tumben sekali kau sudah sampai di kampus?" Ucap Xixi setelah dia berdiri di depan Lulu.
"Aku harus mengumpulkan tugas, karena kemarin aku lupa membawanya."
"Kau ini."
"Ayo ke lapangan basket, kita akan mendapatkan tempat yang tidak bagus kalau terlambat."
"Nanti saja, lagi pula tim basket dari kampus yang lain juga baru pada datang."
"Kalau begitu temani aku ke kantin dulu, aku tidak sempat sarapan tadi."
"Kau belum sarapan?"
Lulu mengangguk dan tersenyum lebar.
"Kalau begitu ayo."
Xixi dan Lulu berjalan menuju kantin kampus mereka.
"Hari ini Leon juga ikut bertanding." Ucap Lulu.
"Iya, karena itu aku datang ke kampus hari ini. Dia akan marah kalau aku tidak melihat pertandingannya hari ini."
"Oh lihatlah, kalian membuat ku iri. Hahaha."
"Baik, baik. Tapi semua orang masih tidak menyangka jika kalian akhirnya jadi sepasang kekasih."
"Yaa kehidupan orang tidak ada yang tahu."
"Kau benar."
Lulu lalu berjalan untuk memesan makanan yang ingin dia makan pada petugas kantin, sementara Xixi duduk di kursi yang kosong.
tap tap tap
Seorang laki-laki dari tim basket lain menghampiri Xixi yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya.
"Permisi nona, bisakah kita berkenalan?" Ucap laki-laki itu pada Xixi.
Xixi menoleh dan menatap laki-laki yang mengulurkan tangannya pada Xixi.
"Maaf, saya tidak tertarik berkenalan dengan orang lain saat ini."
"Begitukah, sayang sekali."
Laki-laki itu lalu menarik kembali tangannya.
"Tapi.. Jika aku meminta nomor ponselmu apakah boleh?"
"Kekasihku akan marah jika aku memberikan nomor ponsel pada pria lain, jadi lupakan saja."
Laki-laki dari tim basket kampus lain itu mengangguk "Baiklah, aku mengerti."
Xixi hanya mengangguk, laki-laki itu lalu pergi meninggalkan Xixi.
"Siapa dia, Xixi?" Tanya Lulu yang datang membawa nampan berisi makanan dan dua gelas jus.
__ADS_1
"Tidak tahu."
"Jika tidak tahu, kenapa dia kesini?"
"Dia hanya ingin berkenalan dan meminta nomor ponsel ku."
"Wah, kau cukup populer."
"Berhentilah, cepat makan makananmu lalu pergi ke lapangan basket. Leon sudah mengirimkan pesan padaku."
"Oh, sang pangeran khawatir jika kau tidak melihat pertandingannya."
"Cepat makan, jangan bicara lagi."
"Iya, baik."
Lulu mulai menyantap makanannya, sementara Xixi menunggu di depannya sambil memainkan ponsel.
10 menit kemudian, Lulu telah menghabiskan makanannya dan mereka pergi keluar dari kantin.
Laki-laki yang tadi meminta kenalan dengan Xixi menatap kepergian Xixi dan Lulu dari tempatnya duduk.
Di dalam lapangan basket, sudah ramai karena begitu banyak orang. Bukan hanya mahasiswa dari kampus mereka saja, tapi juga dari kampus lain datang untuk mendukung tim mereka.
Xixi dan Lulu melihat Leon dan timnya sedang duduk sambil mempersiapkan diri mereka.
"Xixi itu Leon." Ucap Lulu sambil menunjuk ke arah Leon.
"Iya aku tahu. Kita duduk disana saja." Xixi menunjuk kursi kosong di bari kedua.
"Boleh, itu tempat duduk yang bagus."
Mereka berdua pun berjalan ke kursi itu lalu duduk disana.
Leon yang melihat Xixi sudah datang, dan duduk di kursi langsung berjalan menghampiri kekasih yang sudah dia tunggu sejak tadi itu.
"Aku sudah menunggumu, aku kira kau tidak datang." Ucap Leon pada Xixi.
"Tadinya aku tidak mau ke kampus karena malas, tapi aku khawatir jika tim basket kita kalah karena seseorang yang marah."
Leon hanya bisa tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Berikan tanganmu."
"Tangan?"
"Iya, berikan tanganmu. Aku ingin melihatnya."
Dengan bingung Leon mengulurkan tangan kanannya pada Xixi.
Xixi mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu memakaikannya pada pergelangan tangan Leon.
"Ini...."
"Kau harus berusaha sekuat mungkin, entah itu hasilnya menang atau kalah, tidak masalah. Ini hanya pertandingan persahabatan." Ucap Xixi.
"Jika aku bisa menang, apa kau akan memberiku hadiah?"
"Jika kau menang, kau dan teman-temanmu akan mendapatkan hadiah dari kampus. Kau masih ingin meminta hadiah dariku?"
"Tentu saja, hadiah dari seorang kekasih akan lebih berarti."
Lulu yang mendengar bualan Leon hanya menggelengkan kepala sambil memutar kedua bola matanya.
"Baik, menangkan pertandingan dengan nilai bagus dan sportif." Ucap Xixi.
"Tentu saja, ada kekasihku yang mendukung disini. Aku pasti akan menang."
"Oke, pergilah. Semangat!"
__ADS_1
Leon mengangguk, dia lalu turun dan bergabung dengan timnya.
Laki-laki yang bertemu dengan Xixi di kantin, melihat interaksi antara Xixi dan Leon. Dia pun mengerti kekasih yang Xixi katakan padanya sewaktu di kantin tadi, bukanlah kebohongan untuk menolaknya.