The Geeky Girl

The Geeky Girl
Eps 50


__ADS_3

Esoknya sesuai dengan apa yang Leon rencanakan, dia keluar dari kamar membawa sebuah koper berukuran sedang.


"Leon, kau mau kemana sayang?" Tanya nyonya Damian saat melihat Leon menuruni tangga dengan membawa koper.


"Aku akan menemui Xixi di luar kota, Ma."


Tuan Damian yang mendengar itu langsung berjalan menghampiri Leon dn istrinya "Kau tidak boleh kemanapun, hari ini putri tuan Albert....."


Braak


Klak, klak


Tanpa mengatakan apapun, Leon langsung meletakan kunci mobil yang di berikan oleh ayahnya, dan juga dua kartu kredit di atas meja.


"Ma, selama tuan Damian ini tidak bisa menghormati hubunganku dengan Xixi, dan menghargai pertemanannya dengan paman dan bibi William. Maka Leon tidak akan pernah kembali, jadi jaga diri Mama. Maafkan Leon."


Leon menatap ayahnya yang terdiam melihat sikap putra semata wayangnya itu.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Leon menyeret kopernya keluar dari rumah besar itu setelah memeluk dan mencium pipi nyonya Damian.


Walaupun Leon mengembalikan mobil dari ayahnya, tapi dia masih mempunyai satu mobil miliknya sendiri. Leon juga masih mempunyai simpanan uang di dalam kartu kredit pribadinya, jadi kali ini dia benar-benar akan tinggal di luar rumah keluarga Damian itu.


Dengan cepat Leon melajukan mobilnya. Tapi sebelum pergi Leon menghubungi putri tuan Albert untuk bertemu di sebuah kafe.


Kali ini Leon akan lepas tangan dari semua urusan ayahnya dan perusahaan yang selama ini dia pimpin. Dia tidak mau hanya untuk menjadi perusahaan yang maju, dan direktur yang hebat, dia harus mau melakukan apa yang mereka inginkan.


"Heh, ingin menekanku dengan pernikahan aliansi. Kalian pikir aku ini boneka hidup kalian?" Ucap Leon yang tengah mengemudikan mobilnya.


Tiba di kafe, Leon melihat jika Amie Albert sudah berada disana dan menunggunya.


"Lihatlah wanita itu, dia tidak ada bedanya dengan Rachel."


Leon turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam kafe itu. Leon menatap Amie Albert yang melambaikan tangannya dengan tanpa ekspresi.


"Maaf aku sudah sampai disini lebih dulu, aku merasa senang karena kau ta....."


"Cukup. Aku kesini untuk memberitahumu, jika aku tidak akan peduli dengan apa yang akan kau dan ayahmu lakukan. Aku sudah mempunyai kekasih, dan aku sangat mencintainya. Aku dan dia saling mencintai dan akan menikah karena cinta, bukan karena aliansi seperti yang kalian inginkan."Ucap Leon dengan tegas.

__ADS_1


Wanita bernama Amie itu terdiam, dia menatap Leon.


"Aku tahu, tapi apa salahnya jika aku menikah dengan laki-laki yang aku inginkan dengan pernikahan aliansi? Leon, ayahmu sudah begitu bersusah payah membangun perusahaan itu. Tapi kau? Demi wanita itu, kau rela melihat...."


"Heh, kau adalah wanita kedua yang mengancamku dengan perusahaan yang orang tuaku miiki. Apa kau pikir aku akan peduli dengan itu?"


Leon menatap Amie Albert dengan dingin, dia benar-benar merasa muak dengan sifat wanita yang ada di depannya saat ini.


"Dengar ini nona muda Albert, aku sudah keluar dari keluarga Damian. Jadi aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan pada perusahaan itu. Lagi pula Papaku juga tidak begitu peduli dengan kebahagiaan keluarganya sendiri."


Leon berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Amie Albert di kafe itu. Dia tidak peduli dengan apa yang akan di lakukan oleh wanita itu, karena selain pada Xixi, Leon tidak akan memberikan hatinya untuk orang lain.


Amie Albert merasa kesal melihat Leon yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya, setelah mengatakan hal yang paling Amie benci.


"Leon, beraninya kau menolak ku. Aku akan menghancurkan wanita yang telah membuatmu menolak ku hari ini!"


Di dalam mobil, Leon yang telah mengatakan semuanya pada Amie merasa sedikit lega. Saat ini yang harus dia lakukan adalah menjelaskan semuanya pada Xixi dan membuat Xixi percaya, jika dia dan putri dari tuan Albert tidak ada hubungan apa-apa.


Mobil yang Leon kendarai melaju begitu cepat menuju kota A, dimana Xixi tinggal saat ini.


***


Ya, saat ini Xixi sedang melakukan rapat dengan para kepala dewan direksi. Dan itu adalah rapat perdana Xixi di perusahaan.


Awalnya para kepala dewan direksi tidak percaya, jika mereka akan di pimpin oleh seorang gadis muda. Karena mereka berfikir kalau direktur baru mereka tidak akan bisa memimpin perusahaan dengan baik.


Tapi itu pemikiran mereka sebelum bertemu dengan Xixi. Namun, sesaat setelah bertemu dan merasakan aura Xixi yang begitu menekan, mereka diam dan tidak berani berkata 'tidak' pada wanita muda di depan mereka itu.


"Jadi, apakah kalian masih akan mempeributkan aku disini?" Tanya Xixi dengan tatapan tajamnya.


"Ti.... Tidak direktuk. Ka... kami percaya jika direktur bisa... memimpin perusahaan ini dengan baik." Ucap salah seorang kepala dewan direksi dengan gugup.


"Bagus kalau begitu, aku akan memberikantugas kepada kalian para kepala dewan direksi di perusahaan ini."


"Baik direktur."


"Aku ingin kalian menyelesaikan proyek ini dengan baik dalam waktu 2 bulan. Aku tidak mau melihat sesuatu yang tidak berguna!"

__ADS_1


Sekertaris Ana membagikan map berwarna biru kepada para kepala dewan direksi.


"Jika kalian tidak bisa melakukannya, kalian bisa langsung pergi ke HRD dan tinggalkan perusahaan ini. Karena perusahaan keluarga William, tidak membutuhkan karyawan yang tidak mau bekerja keras."


Mendengar ucapan direktur yang begitu tajam dan menekan, para kepala dewan direksi hanya bisa menyanggupinya. Mereka tentu lebih memilih bekerja lembur, dari pada harus keluar dari perusahaan yang memberikan mereka gaji dan tunjangan yang besar dari perusahaan-perusahaan yang lainnya.


"Baiklah, kalau begitu rapat hari ini selesai. 2 minggu lagi atur kembali jadwal rapatnya." Ucap Xixi.


"Baik direktur." Ucap para kepala dewan direksi.


Xixi berdiri dan berjalan keluar dari ruang rapat.


"Haahhh, aku hampir tidak bisa bernafas." Ucap salah satu kepala dewan direkasi, setelah Xixi keluar dari ruang rapat yang mencekap itu.


"Benar, aku pikir kita bisa menekannya, tapi ternyata kita yang tertekan dengan aura dan tatapan matanya yang begitu menusuk." Ucap yang lain.


"Sepertinya kita hanya harus bekerja dengan baik, jika kita tidak mau kehilangan pekerjaan ini."


Semua kepala dewan direksi mengangguk setuju.


Xixi yang sudah berada di dalam ruang kerja menyenderkan tubuhnya pada salah satu sofa.


"Melakukan rapat pertama kali dengan para kepala dewan direksi, membuatku gugup. Tapi untung semua terkendali dengan baik. Dan dengan tekanan juga ancaman yang aku berikan, mereka pasti akan melakukan semuanya dengan baik. Bagaimana pun, gaji disini lebih besar dibandingkan dengan perusahaan lain." Ucap Xixi.


Xixi berdiri dan berjalan ke arah jendela besar ruang kerjanya, tatapannya lurus ke depan, menatap lautan yang begitu luas di depannya.


"Disini belum begitu banyak vila, dan banyak pengunjung yang datang kesini dari luar kota untuk berlibur saat musim panas. Sepertinya akan sangat bagus kalau aku membuat beberapa vila." Ucap Xixi.


Xixi berbalik dan berjalan menuju meja kerja, dia lalu mengotak-atik komputer yang ada di atas meja kerjanya itu.


Mungkin jurusan saat Xixi kuliah adalah menejemen dan komputer, tapi selain itu Xixi juga pandai membuat desain, dan tatanan untuk membuat sebuah bangunan yang akan sangat di minati oleh banyak orang nantinya.


Xixi terus berkutat dengan komputernya, dia benar-benar dalam masa mood yang sangat baik hari ini. Jadi dia begitu sangat bersemangat saat mendapatkan ide.


Walaupun perusahaan yang dia pimpin bukan dalam bidang perhotelan, resort atau vila. Tapi tidak masalah bagi Xixi membuat beberapa vila atas namanya sendiri di kota A itu.


Setelah lebih dari 3 jam, akhirnya Xixi berhasil membuat beberapa desain vila yang akan dia bangun.

__ADS_1


"Setelah ini, aku tinggal mencari tempat yang sangat bagus dan strategis untuk membangun vila-vila ini." Ucap Xixi yang melihat desainnya dengan puas.


Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan ide yang begitu bagus, saat melihat lautan yang terbentang luas di depan ruang kerjanya.


__ADS_2