The Geeky Girl

The Geeky Girl
Eps 51


__ADS_3

Setelah seharian bekerja, Xixi merenggangkan tubuhnya dan melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.


"Ternyata sudah jam 4, bekerja di depan komputer membuat ku lupa dengan waktu." Ucap Xixi.


Dia lalu mematikan komputernya, dan mengambil tas slempang yang dia letakan di sudut meja.


"Malam ini Lia membuat menu apa ya?" Gumam Xixi sambil berjalan keluar dari ruang kerjanya.


"Direktur, anda sudah akan pulang?" Tanya sekertaris Ana.


"Iya, apakah ada berkas lain yang harus aku lihat?"


"Tidak ada. Tapi, besok anda mempunyai jadwal temu dengan perwakilan dari perusahaan A. Group."


"A. Group?"


"Benar, itu adalah perusahaan yang telah berhasil mengakuisisi beberapa perusahaan yang banyak di perbincangkan akhir-akhir ini."


Xixi mengangguk "aku mengerti, kau tolong persiapkan saja semuanya."


"Baik direktur."


"Iya, kalau begitu aku pulang lebih dulu."


"Silahkan, hati-hati di jalan."


"Terima kasih."


Xixi lalu berjalan meninggalkan sekertaris Ana.


"Sepertinya mereka lebih suka menyerang anak perusahaan dulu, sebelum perusahaan utama. Tapi ada aku disini, mereka tidak akan berhasil melakukannya."


Xixi masuk ke dalam lift lalu menekan tombol bintang, yang akan langsung ke lantai paling bawah di mana mobilnya terparkir.


***


Di tempat lain, Leon yang sebelumnya meminta alamat apartemen Xixi pada bibi William, sudah berada di bawah gedung apartemen itu.


Leon masuk ke dalam apartemen itu dengan membawa sebuah koper.


Resepsionis yang tidak pernah melihat Leon keluar masuk gedung apartemen mencegatnya, sebelum dia berjalan menuju lift apartemen.


"Maaf tuan, kami tidak pernah melihat anda sebelumnya. Apakah anda seorang tamu salah satu penghuni apartemen ini?" Tanya salah seorang resepsionis pada Leon.


"Ah iya, aku adalah kekasih salah satu penghuni apartemen ini. Ini adalah lantai dan nomor apartemen dimana dia tinggal." Leon memberikan nomor apartemen milik Xixi pada petugas resepsionis itu.


"Saya akan memeriksanya terlebih dulu."


"Iya."


Apartemen yang di huni oleh Xixi adalah termasuk apartemen mewah, jadi tentu keamanan disana sangat ketat.


Resepsionis itu lalu memeriksa siapa yang menghuni apartemen yang tertulis pada di kertas yang dia dapatkan dari Leon. Dia lalu mencoba menghubungi apartemen Xixi untuk memastikan apakah yang di katakan oleh Leon benar.


Leon melihat apa yang resepsionis itu lakukan, tapi belum selesai resepsionis itu berbicara dengan seseorang di telefon, Leon melihat Xixi keluar dari lift dan berjalan menuju ruang loker.


"Cicilia." Leon memanggil Xixi.


Xixi yang merasa namanya terpanggil menoleh, dia tidak menyangka akan melihat Leon di lobi apartemennya saat ini.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Xixi sambil berjalan mendekat pada Leon.


Leon tidak menjawab, tapi dia justru memeluk tubuh Xixi dengan erat seolah tidak peduli jika orang-orang disana sedang melihat mereka.


"Aku merindukanmu. Maaf sudah membuatmu salah paham padaku." Ucap Leon.


Xixi hanya diam.


Leon melepaskan pelukannya dan menatap wajah wanita yang sangat dia rindukan itu.


"Maaf nona muda William, apakah anda mengenal tuan ini?" Tanya resepsionis apartemen.


"Iya, saya mengenalnya. Maaf sudah merepotkan anda."


"Baiklah jika memang anda mengenalnya."


Xixi menggelengkan kepalanya menatap Leon yang berdiri di depannya saat ini.


"Tunggu disini, aku akan memeriksa loker ku dulu. Setelah itu kita naik ke atas." Ucap Xixi.


"Iya."


Xixi lalu berjalan menuju ruang loker yang berada di pojok lobi apartemen itu. Dan tak lama, dia kembali membawa dua buah amplop di tangannya.


"Ayo kita ke atas, kau pasti lelah." Ucap Xixi setelah berada di depan Leon.


"Iya." Ucap Leon dengan patuh.


Xixi dan Leon lalu berjalan ke arah lift dan masuk ke dalamnya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Kenapa kau terdengar seperti tidak suka jika aku disini?"


"Bukan begitu, hanya saja....."


Greb


Leon menarik tangan Xixi lalu memeluknya dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu, aku tidak mau terus seperti ini."

__ADS_1


"Baik, aku mengerti. Katakan semuanya setelah kita sampai. Disini ada cctv."


Leon melepaskan pelukannya lalu menatap pojok lift yang ternyata memang ada cctv yang terpasang disana.


ting


lift terbuka, Xixi terlebih dulu keluar dari lift dan berjalan di depan Leon yang membawa kopernya.


Sampai di depan pintu apartemen, Xixi menekan bell yang ada di samping pintu apartemen.


ceklek


"Nona, nona sudah pulang."


"Iya."


Xixi lalu masuk ke dalam apartemen di ikuti oleh Leon di belakangnya.


Lia melihat Leon ikut masuk ke dalam apartemen.


"Oh, mungkinkah tuan muda Damian, orang yang di maksud oleh resepsionis apartemen tadi?" Ucap Lia.


"Resepsionis?"


"Benar nona, tadi resepsionis menelfon kesini. Katanya ada seseorang yang memberikan nomor apartemen ini dan berkata jika dia mau kesini, petugas resepsionis juga bertanya saya tahu hal itu atau tidak."


"Kau dengar itu, Leon? Kau sudah membuat petugas resepsionis dan Lia kebingungan."


"Maaf, karena aku tidak memberitahu lebih dulu."


Xixi berjalan ke dalam apartemen setelah mengganti sepatunya dengan sandal, begitu juga dengan Leon.


"Duduklah dulu, aku mau berganti pakaian." Ucap Xixi.


"Iya."


Xixi lalu berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas, sementara Leon duduk di salah satu sofa apartemen itu.


Leon melihat-lihat apartemen itu, dia lalu mengangguk.


"Ini cukup besar, setidaknya dia tidak tinggal di apartemen yang kecil seperti dulu itu." Gumam Leon.


Lia membawakan air untuk Leon, dan meletakkan di atas meja.


Tidak lama Xixi datang dengan pakaian rumahnya yang terlihat jauh lebih santai dari pakaian kasual yang tadi dia kenakan.


"Apa kau tidak mengurus perusahaan lagi?" Xixi duduk di samping sofa yang Leon duduki.


"Tidak, aku bahkan mengembalikan mobil, dan kartu kredit pada Papa ku."


"Kenapa?"


"Aku tidak akan pernah mau melakukan hubungan dengan seseorang hanya demi sebuah pencapaian, kau tahu itu."


Leon menatap Xixi, dia tahu jika saat ini Xixi sedang menunggu penjelasan dari Leon tentang apa yang sudah dia lakukan di belakang Xixi beberapa hari ini.


"Aku tahu kau pasti sangat kecewa padaku, aku juga tidak tahu apa yang sudah Papa ku rencanakan. Dia tiba-tiba memintaku datang dan menemani putri tuan Albert itu selama beberapa hari, aku pikir semuanya akan berhenti. Tapi kenyataannya mereka ingin aku menikahi putri tuan Albert itu."


"Dan kau mau?"


"Tentu saja tidak."


Leon berdiri lalu duduk di samping Xixi, dia meraih dan menggenggam tangan Xixi.


"Aku tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun, selain denganmu. Aku sangat mencintaimu, dan aku juga berjanji tidak akan menyakitimu."


Xixi sangat tersentuh mendengar perkataan Leon yang begitu tulus padanya.


"Aku percaya padamu."


Leon memeluk tubuh Xixi "Terima kasih sayang." Ucap Leon dengan lega.


"Lalu apa rencanamu dengan koper itu?"


Leon menatap kopernya yang ada di samping sofa.


"Aku hanya mempunyai satu kartu kredit dengan uang tidak lebih dari 70jt, dan juga aku membawa mobil miliku sendiri karena mobil yang lain aku kembalikan pada Papa ku."


"Dengan uang 70jt, jika kau menyewa salah satu apartemen disini, kau hanya bisa bertahan setidaknya 2 sampai 3 bulan saja."


Leon mengangguk "Itu artinya aku harus mulai mencari pekerjaan."


"Tidak perlu."


Leon menatap Xixi dengan bingung.


"Aku berencana membuat vila di kota ini, dan aku juga sudah membuat beberapa desain vila. Kau sangat mengerti tentang hal ini, jadi... bisakah tuan muda Damian ini bekerjasama denganku untuk membuat beberapa vila yang akan aku kembangkan ini?"


Leon tersenyum "Tentu saja, bahkan jika kau tidak membayarnya pun aku akan melakukannya."


"Tidak, aku akan tetap membayarmu sesuai dengan hasil pekerjaan mu. Jika aku tidak membayarmu, lalu bagaimana kau akan bertahan disini?"


"Baiklah jika itu maumu." Leon kembali memeluk tubuh Xixi dan mengecup keningnya.


"Malam ini kau tidurlah disini, besok aku akan meminta sekertaris ku untuk membantumu mengurus sewa apartemen di samping apartemenku yang kosong."


"Baik, terima kasih sayang."


Leon sangat lega karena Xixi begitu pengertian padanya, dia sangat beruntung memiliki wanita yang begitu tangguh sepertinya.


"Aku tidak akan melepaskanmu, dan tidak akan menyia-nyiakanmu. Aku mencintaimu Cicilia."

__ADS_1


"Nona, makan malamnya sudah siap." Ucap Lia.


"Iya, terima kasih."


Xixi menatap Leon "Ayo makan dulu, kau pasti belum makan. Setelah makan kau baru istirahat."


"Iya."


"Lia, setelah kau selesai makan. Tolong siapkan kamar tamu untuk Leon." Ucap Xixi pada Lia.


"Baik, nona muda."


"Terima kasih."


Xixi dan Leon lalu duduk di ruang makan, dan bersama-sama menikmati makan malam mereka.


"Kau sepertinya sangat nyaman tinggal di luar rumah keluarga William." Ucap Leon.


Xixi mengangguk "Iya, aku sudah terbiasa tinggal di luar rumah."


"Paman dan bibi William tidak mengkhawatirkanmu?"


"Tentu mereka khawatir, tapi mereka juga tahu bagaimana aku bertahan hidup di luar rumah. Jadi mereka sudah percaya padaku."


"Kau ini." Leon mulai memakan makanannya.


"Kau tahu, aku sudah tinggal selama lebih dari 3 tahun di apartemen kecilku itu. Dan aku merasa sangat nyaman disana."


"Iya, aku tahu apartemen itu."


Xixi mengangguk dan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Disana sangat tenang, dan nyaman. Tidak banyak orang yang berlalu lalang, tapi itu sebelum Megan tahu apartemen itu dan membuatku harus kembali tinggal di rumah."


"Itu bagus, tinggal diluar rumah sendirian sangat berbahaya bagi wanita. Walaupun aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri, tapi kita tidak tahu bahaya yang akan di hadapi."


"Aku mengerti."


Leon mengangguk.


"Kau sudah memberitahu Lulu, kalau kau disini?"


"Sudah, dia sepertinya memikirkan kakaknya yang saat ini sedang dekat dengan seorang wanita."


"Benarkah? Tapi aku tidak tahu kalau Joseph sedang dekat dengan wanita."


Xixi mengangkat kedua bahunya, lalu memakan suapan terakhir makan malamnya.


"Sepertinya Lulu tidak suka dengan wanita yang sedang di dekati oleh kak Joseph." Ucap Xixi sambil mengambil gelas berisi air di atas meja.


"Kenapa, bukankah bagus kalau Joseph mempunyai kekasih?"


"Aku tidak tahu, mungkin karena Lulu ingin kak Mimi yang menjadi kakak iparnya."


"Kak Mimi?"


Xixi mengangguk "Iya, dia sangat berharap kak Mimi dan kak Joseph bersama. Hanya saja... kak Joseph sepertinya tidak menyukai kakak ku itu."


"Perasaan seseorang memang tidak bisa di paksakan."


"Ya, itu benar."


Xixi membawa piring dan gelas kotornya ke dapur dan meletakannya ke dalam bak cuci piring. Begitu juga dengan Leon.


"Kak Mimi belum pernah kesini?"


Xixi menggelengkan kepalanya "Dia belum kembali dari pemotretannya di luar kota."


Leon mengangguk.


"Aaaah, aku kenyang sekali." Xixi menyenderkan tubuhnya di atas sofa.


Leon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya itu.


"Oh iya, aku akan menunjukan beberapa desain vila yang aku buat siang tadi padamu."


Xixi berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil laptop.


Tak berapa lama Xixi kembali dengan laptop di tangan kanannya.


Leon yang duduk di sofa melihat Xixi mengoperasikan laptopnya itu.


"Nah, ini desain yang aku buat tadi siang." Xixi memperlihatkan hasil desainnya pada Leon.


Leon melihat dan mengamati desain buatan Xixi itu.


"Cukup bagus, tapi di sebelah sini harusnya kau tambahkan satu jendela lagi, agar cahaya lebih bangak yang masuk. Dan untuk yang ini sebaiknya pintu menghadap kesini, agar angin yang berhembus akan jauh terasa lebih sejuk."


"Sudah ku duga, kau memang sangat pintar dalam hal ini. Aku akan membangun vila yang sangat bagus dan nyaman selama ada kamu disini yang membantuku."


"Kau juga pintar, kau bisa mendesain beberapa vila ini dengan unik. Aku hanya mengoreksi beberapa bagian saja."


"Tidak, kau tetap yang terbaik."


Leon hanya mengangguk menanggapi ucapan Xixi yang begitu bersemangat.


20 menit kemudian, Leon sudah mengoreksi semua bagian yang tidak pas pada desain yang Xixi buat. Dan sekarang desain itu telah sempurna di tangan Leon.


"Sudah larut, kau mandilah lalu istrirahat." Ucap Leon.


"Iya, kau juga."

__ADS_1


Xixi mematikan laptopnya lalu membawnya, dia berjalan menuju kamar yang ada di lantai atas. Sementara Leon berjalan menuju kamar tamu yang sudah di bersihkan oleh Lia.


__ADS_2