The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 37


__ADS_3

Di perusahaan, Leon tengah duduk di kursi kerjanya. Hari ini dia telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan yang dia urus.


Leon memikirkan perusahaan keluarga Gabriel yang hancur dengan begitu cepat, begitu juga dengan nasib kedua anak Gabriel yang tidak pernah di sangka oleh orang-orang.


"Hmmm, sudahlah aku pergi ke rumahnya saja." Ucap Leon.


Leon lalu berdiri dan berjalan keluar dari kantornya.


"Aku akan kembali lebih cepat hari ini, semua file yang sudah aku periksa, aku letakan di atas meja." Ucap Leon pada sekertarisnya.


"Baik tuan muda."


Leon lalu berjalan melewati ruang para karyawannya bekerja.


"Aku akan mampir ke toko kue dan membeli beberapa kue untuknya. Aku ingat dia suka makan kue." Gumam Leon.


Dengan cepat, Leon melajukan mobilnya ke arah rumah keluarga William.


Saat ini Leon tidak tahu jika Joseph telah membantu Xixi membalaskan semua perbuatan yang selama ini keluarga Gabriel pada Xixi.


Hampir satu jam Leon melajukan mobilnya dan sebelumnya dia mampir ke toko kue, akhirnya di sampai di depan rumah keluarga William.


"Ini.... bukannya ini mobil Joseph?" Ucap Leon yang melihat mobil temannya terparkir di depan rumah Xixi.


Dengan membawa box berisi kue, Leon berjalan ke rumah besar yang ada di depannya.


"Leon." Ucap Joseph yang melihat Leon berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kau dan Lulu disini."


"Tentu, jika kami tidak disini. Kami tidak akan melihat pasangan baru kita ini berciuman lagi." Ucap Lulu.


"Lulu." Ucap Xixi.


"Oh lihatlah temanku ini. Katakan, apa kau sudah memberikan jawaban pada tuan muda Damian ini?"


"Berhenti menggodanya." Ucap Leon meletakan box berisi kue di atas meja.


Leon tahu jika saat ini Xixi tidak akan mudah untuk menjawab ungkapan perasaannya beberapa hari yang lalu, jadi dia tidak ingin memaksanya.


"Wah kalian ternyata sudah berkumpul disini." Ucap Mimi yang sudah siap akan keluar.


"Hari ini kau ada pemotretan kak?" Tanya Xixi.


"Iya, perusahaan memberitahuku, kalau mereka memajukan jadwal pemotretan untuk minggu depan hari ini."


"Hmmm, apa kak Junnie sudah datang?"


"Aku akan berangkat sendiri kesana."


Xixi melirik ke arah Joseph yang tengah meminum jus di atas meja.


"Kalau begitu, biar kak Joseph yang mengantar kakak saja. Tadi kak Joseph bilang kalau dia mau pergi bertemu kliennya."


Joseph yang tengah minum hampir saja tersedak mendengar ucapan Xixi yang penuh arti padanya itu.


"Ti... Tidak perlu, lagi pula mungkin tidak satu arah." Ucap Mimi dengan gugup.


Lulu yang mendapat kode dari Xixi tersenyum, sementara Mimi melirik ke arah Joseph dengan canggung dan takut.


"Benar, kakak tadi bilang kalau kakak mau bertemu klien. Sekalian saja pergi dengan kak Mimi, biar nanti aku pulang dengan leon." Ucap Lulu.


Joseph menatap Xixi dan adiknya bergantian, dia merasa seperti sedang di paksa oleh dua wanita muda itu. Kemudian dia menatap Mimi yang berdiri di belakang sofa yang Xixi duduki.


".... Baiklah, ayo pergi sekarang." Ucap Joseph yang akhirnya mengalah.


"Terima kasih kak Joseph. Ayo kak sana, nanti kakak terlambat." Ucap Xixi.


"I... Iya." Ucap Mimi.


Joseph berdiri dan menatap adiknya. Lulu hanya tersenyum melihat tatapan kakaknya itu.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu." Ucap Joseph pada Leon.


"Hati-hati, kau membawa putri cantik." Ucap Leon.


Joseph tidak menanggapi ucapan Leon yang menurutnya hanya omong kosong. Dia lalu berjalan keluar dari rumah Xixi dan berhenti di depan mobilnya.


"Naiklah." Ucap Joseph membukakan pintu mobil untuk Mimi.


"Terima kasih." Ucap Mimi sambil tersenyum.


Joseph hanya mengangguk. Setelah Mimi masuk dan duduk, Joseph kembali menutup pintu mobil dan dia naik dari pintu mobil lainnya.


Dengan kecepatan sedang Joseph mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah keluarga William.


"Em.. Terima kasih sudah mau mengantarku." Ucap Mimi pelan.


"Tidak apa-apa."


Mimi tidak tahu harus bicara apa lagi, dia merasa takut jika banyak bicara Joseph akan tidak nyaman. Di tambah Mimi melihat sepertinya Joseph mengantarkan dia dengan terpaksa.


Di rumah besar keluarga William, Leon, Xixi dan Lulu yang duduk di ruang tamu saling diam.


"Ehem. Leon, tumben sekali kau kesini. Apa kau tidak sibuk dengan pekerjaan mu di perusahaan, aku dengar kau mendapatkan banyak klien?" Tanya Lulu memecah keheningan.


"Kebetulan hanya tinggal sedikit, dan aku kesini ingin menanyakan sesuatu pada Xixi."


"Apa kau ingin bertanya tentang jawaban Xixi atas...."


"Bukan itu, aku ingin bertanya tentang keluarga Gabriel. Apa kau yang melakukannya?" Ucap Leon.


Leon menatap Xixi, menunggu jawaban dari wanita yang sudah begitu menarik perhatiannya.


"Sudah lama aku menantikan saat-saat melegakan seperti kemarin." Ucap Xixi.


"Jadi, semua memag kamu yang melakukannya."


"Bukan hanya aku, kak Joseph dan Lulu juga ikut membantuku."


Leon mengertukan keningnya mendengar ucapan Xixi.


"Leon, aku tidak mau mengganggu pekerjaan mu. Aku dengar kau telah memenangkan beberapa tender dan mendapatkan banyak klien baru-baru ini. Mana mungkin aku...."


"Aku tidak peduli, mau seberapa banyak tender yang alu menangkan aku tidak peduli. Bagaimana jika kau terluka kemarin?"


Xixi tertegun dengan apa yang Leon katakan dengan nada penuh penekanan itu.


"Aku tahu aku bukan orang yang ada di dalam hatimu, tapi apa kau tahu begitu banyak pertanyaan dan bayangan menakutkan saat aku melihat berita keluarga itu?"


"Leon, kenapa kau jadi emosi seperti itu?" Ucap Lulu.


Leon menghela nafas, Lulu benar. Kenapa dia harus emosi pada wanita yang tidak menganggap dirinya itu.


"Aku pulang dulu, kau mintalah temanmu untuk mengantarmu pulang." Ucap Leon pada Lulu sambil berdiri.


Xixi melihat Leon berdiri dan berjalan keluar dari rumahnya, dia tidak menyangka jika tindakannya yang tidak memberitahu Leon akan membuat Leon marah.


Tanpa Xixi sadari, dia berdiri dan berjalan menyusul Leon dengan cepat, dan hal itu membuat Lulu terkejut.


"Akhirnya dia sadar dengan perasaannya pada Leon." Gumam Lulu.


Xixi menarik tangan Leon tepat sebelum Leon membuka pintu mobilnya.


"Tunggu." Ucap Xixi.


Leon berhenti dan diam tanpa berbalik dan menatap Xixi.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sungguh hanya tidak mau mengganggu pekerjaan mu." Ucap Xixi lagi.


Leon mendongakan kepalanya dan mengangguk.


"Lupakan saja, lagi pula semua sudah kau lakukan dan mendapatkan hasil yang memuaskan."

__ADS_1


Xixi menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu kenapa dadanya terasa begitu sesak saat mendengar Leon berkata dengan nada yang dingin seperti itu padanya.


"Bukan begitu, aku..."


"Kau pernah bilang jika aku tidak perlu ikut campur karena aku adalah orang luar, tapi kau meminta bantuan pada Joseph yang juga orang luar."


Xixi tahu dia tidak seharusnya seperti itu pada Leon, dia hanya tidak ingin merepotkan Leon karena dia berpikir pekerjaan yang Leon tangani sudah sangat banyak.


"Sudahlah, aku mau kembali ke perusahaan." Leon menghempaskan tangan Xixi yang sejak tadi memegang tangannya dengan keras.


Xixi yang tidak siap jika Leon akan menghempaskan tangannya terjatuh di atas tanah, dan telapak tangannya menancap pada rumput yang berubah menjadi jarum es karena terkena salju.


Leon melihat itu, tapi dia tidak peduli. Leon memilih untuk masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan cepat meninggalkan Xixi yang masih di atas tanah bersalju.


"S*al, kenapa aku melakukan itu padanya?" Gerutu Leon menyesali apa yang telah dia lakukan pada Xixi.


Sementara itu, Lulu yang melihat Xixi di atas tanah langsung berlari dan membantu Xixi berdiri.


"Xixi, kau baik-baik saja?" Tanya Lulu.


"Aku tidak apa-apa."


Lulu dan Xixi berjalan masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sofa.


"Tolong ambilkan kotak obat untuk ku." Ucap Xixi pada salah satu pelayan rumahnya.


"Baik nona muda."


Xixi menatap tangannya yang mengeluarkan sedikit darah akibat terkena jarum es tadi, saat telapak tangannya menahan tubuh agar dia tidak tersungkur di atas tanah yang sudah menjadi es.


Lulu sempat terkejut melihat itu, bagaimana pun Leon sudah keterlaluan pada Xixi. Hanya karena Xixi tidak memberitahunya, dia melakukan hal seperti itu pada teman dekatnya.


"Aku akan membantumu membersihkan lukanya." Ucap Lulu saat kotak obat yang pelayan rumah Xixi kembali membawa kotak obat.


"Iya, terima kasih."


"Leon benar-benar sudah kelewatan."


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil."


"Untung saja itu es, jika itu adalah pecahan kaca pasti akan lebih sakit."


Xixi hanya tersenyum melihat Lulu yang begitu khawatir padanya.


Dengan cekatan Lulu membersihkan telapak tangan Xixi dari es yang sudah mencair, dan dengan pelan menarik dua es batu seperti jarum dari telapak tangan Xixi.


Darah sedikit merangalir saat Lulu mencabut dua es itu, namun darah itu berhenti seketika karena cuaca yang dingin.


Lulu lalu mengoleskan krim pada telapak tangan Xixi dan membalutnya dengan perban.


"Terima kasih sudah membantuku." Ucap Xixi.


"Kau adalah teman ku, jadi tidak perlu ada ucapan terima kasih seperti ini."


Xixi mengangguk.


Rumah Xixi terletak di dataran yang agak tinggi, jadi setiap musim dingin suhu di wilayah itu akan terasa jauh lebih dingin, bahkan di sekeliling rumah Xixi sampai terbentuk jarum es dari rumput atau dedaunan yang ada. Karena itu mereka harus selalu berhati-hati.


"Aku akan berbicara dengan Leon nanti." Ucap Lulu lagi.


"Tidak perlu, biarkan saja."


"Tapi Xixi...."


"Tidak apa-apa."


Lulu hanya mengangguk menghormati keputusan dari temannya itu.


"Biarkan saja dia seperti itu, karena aku melakukannya juga demi kebaikan perusahaan yang sedang dia pimpin saat ini. Jangan membuatnya terlalu banyak masalah." Ucap Xixi.


"Leon benar-benar akan menyesal sudah melakukan ini padamu."

__ADS_1


"Sudahlah."


Mereka berdua tahu bagaimana sifat Leon yang begitu keras kepala dan sulit di mengerti itu. Jadi Xixi tidak mau terlalu mempermasalahkan apa yang telah Leon lakukan padanya.


__ADS_2