The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 66


__ADS_3

Satu minggu kemudian. Beberapa model, sutradara dan produser dari perusahaan R. Group tengah bersiap masuk ke dalam mobil yang perusahaan sediakan, mereka akan pergi ke pelabuhan, dan akan pergi ke pulau pribadi milik Jery menggunakan ferry.


Xixi, Mimi dan juga Leon pun ikut masuk kedalam mobil rombongan itu.


"Sudah ku duga, seharusnya aku tidak ikut berlibur." Ucap Mimi pelan.


"Kak, kakak sudah lama tidak berlibur setelah semua pekerjaan yang sangat sibuk itu. Kau harus menikmatinya, bukan begitu kak Junnie?" Xixi menoleh pada menejer Junnie.


"Iya, Xixi benar. Kau jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Mimi." Ucap menejer Junnie.


Mimi sedikit malas jika sudah berhadapan dengan dua orang yang selalu bertentangan dengannya itu.


Semua orang telah duduk di kursi masing-masing, Jery yang memakai mobil sendiri melajukan mobilnya terlebih dahulu, di ikuti oleh mobil rombongan di belakangnya.


"Oh iya, apa kau sudah dengar, setelah di keluarkan dari perusahaan, Monica tidak bisa masuk ke beberapa perusahaan entertainment lainnya." Ucap menejer Junnie.


"Benarkah?" Tanya Mimi yang penasaran.


Menejer Junnie mengangguk "Iya, mereka bilang jika mereka takut kalau Monica akan melakukan hal yang sama pada perusahaan mereka. Karena itu mereka menolak Monica."


"Dia masih begitu muda, sayang sekali dia mempunyai bakat yang bagus."


"Bakat yanh bagus mana? Dia selalu di marahi oleh sutradara setiap pengambilan foto maupun iklan, dan membuat semua kru harus lembur."


"Sungguh? Aku tidak pernah mendengar hal itu."


"Kau untuk apa tahu, dia tidak membencimu sudah bagus."


Mimi mengangguk.


"Sudah, lebih kau tidur saja dulu. Kita baru akan sampai di pelabuhan satu jam lagi." Ucap menejer Junnie lagi.


"Iya, tolong nanti kak Junnie bangunkan aku."


"Iya, tentu saja."


Mimi lalu membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman, setelah itu dia memejamkan matanya.


Jery yang mengendarai mobilnya sendiri menatap jalanan kota, sebenarnya dia ingin sekali Mimi menemaninya. Namun itu pasti akan mengundang banyak tanya dari orang-orang yang ikut berlibur.


Dan akhirnya Jery pun harus mengendarai mobilnya sendirian, menuju pelabuhan khusus milik keluarganya.


Setelah kurang lebih 1 jam mereka melakukan perjalanan di darat, mereka sampai di pelabuhan pribadi milik keluarga Robert.


"Akhirnya kita sampai juga. Cukup melelahkan juga." Ucap Xixi seraya merenggangkan tubuhnya setelah turun dari mobil.


"Kau pasti lelah, setelah sampai di vila kak Jery, kau lebih baik segera istirahat." Ucap Leon yang berdiri di samping Xixi.


"Tidak, aku akan melihat sekeliling pulau dulu."


"Kau ini, meski lelah tapi tidak pernah mau berhenti melakukan hal yang lainnya."


"Tentu saja, itu karena sudah beberapa hari ini aku sangat sibuk di kantor."


"Baiklah, ayo jalan. Semua orang sudah naik ke dalam kapal."


"Iya."


Leon dan Xixi lalu naik ke atas kapal pesiar milik Jery, yang akan membawa mereka ke pulau pribadi tempat liburan mereka semua beberapa hari ke depan.


"Waah, kapal pesiar ini cukup mewah. Meskipun tidak begitu besar." Ucap Xixi saat naik ke ats kapal itu.


"Bukankah keluarga William memiliki kapal pesiar juga?" Tanya Leon.


"Benar, tapi aku malas untuk naik."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku tidak begitu suka dengan hal yang mewah."


"Kau ini anak dari orang kaya, tetapi malah tidak suka hidup mewah."


Xixi hanya tertawa mendengar ucapan Leon.



...Kapal Pesiar Milik Jery...



...Bagian dalam kapal pesiar Jery...


Xixi yang baru saja masuk ke dalam kapal pesiar itu, duduk di salah satu sofa yang terlihat cukup nyaman.


"Dimana kak Mimi?" Tanya Xixi.


"Nona Michael sedang di kamar mandi." Ucap Jery yang datang dan berdiri di samping sofa yang Xixi duduki.


Xixi mengangguk.


"Aku tidak menyangka kalau kak Jery mempunyai kapal pesiar yang mewah seperti ini." Ucap Xixi.


"Ini hanya kapal kecil, milik kamu pasti jauh lebih besar dari ini."


Xixi hanya tertawa menanggapi ucapan Jery.


Orang-orang yang melihat interaksi antara Xixi dan Jery bertanya-tanya, siapa Xixi yang begitu akrab memanggil Jery dengan sebutan kakak.


Namun siapapun dia, wanita itu pasti bukanlah wanita yang sembarangan.


"Kak, aku pikir kau tersesat."


"Apa kau pikir aku anak-anak?"


"Hahaha, aku hanya bercanda."


"Nona Michael, anda tidak apa-apa?" Tanya Jery dengan cemas."


"Iya saya tidak apa-apa, terima kasih tuan Jery."


Xixi melihat interaksi antara kedua orang yang ada di depannya dengan malas. Karena mereka masih saja berbicara dengan bahasa yang begitu formal.


"Ini akan sulit menyatukan mereka, karena mereka ini orang tua kolot."


"Kak, kau sudah berkeliling?" Tanya Xixi.


Mimi menggelengkan kepalanya "Belum, aku masih agak malas untuk berkeliling."


"Kita ini datang untuk berlibur, bagaimana bisa kakak berkata malas, benarkan kak Jery?"


"Xixi benar, kalian berkelilinglah. Aku dan Leon akan menyusul nanti." Ucap Jery.


Xixi mengangguk. Dia lalu menggandeng tangan Mimi dan membawanya berkeliling kapal pesiar milik Jery itu.


Setelah Xixi dan Mimi pergi, Jery mengajak Leon untuk berpindah tempat yang lebih sepi dan nyaman. Karena dia ingin berbicara dengan Leon.



...Bagian belakang kapal di lantai dua...


Setelah mereka duduk di bagian belakang kapal di lantai dua, Jery menatap Leon.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu kak, katakan apa yang ingin kakak bicarakan denganku sejak satu minggu yang lalu." Ucap Leon.


"Aku ingin meminta saranmu, aku benar-benar bingung bagaimana aku harus meyakinkan nona Michael."


"Haahh, cara memanggil kalian saja masih begitu formal. Bagaimana hubungan kalian berdua akan berkembang, kak."


"Aku masih takut untuk memanggilnya dengan sebutan Mimi, aku khawatir dia akan membenciku dan menghindariku."


Leon terdiam "Apa kak Jery pernah mengatakan bagaimana perasaan kakak pada kak Mimi?"


Jery mengangguk "Iya, dan karena itu aku selalu merasa aku dan dia semakin jauh."


"Itu hanya perasaan kakak saja."


Jery berdiri, dia lalu menatap air laut yang beriak karena terpaan kapal pesiarnya yang sedang berjalan.


"Aku tidak pernah merasakan hal ini, setelah 4 tahun yang lalu aku kehilangan dia. Aku benar-benar ingin melindungi nona Michael, tapi... nona Michael yang sepertinya masih menyukai Joseph Smith, sulit membuka hatinya untuk orang lain."


Leon mengerti siapa dia yang Jery maksud, Leon mengangguk dan diam. Dia cukup mengenal seniornya itu, karena itu dia ingin Jery bersama dengan Mimi, yang sama-sana orang baik.


Mereka berdua berbicara begitu serius, namun mereka tidak menyadari jika ada dua orang wanita yang diam-diam mendengar percakapan mereka berdua dari sisi lain.


Xixi menatap kakaknya yang terdiam setelah mendengar semua perkataan Jery. Di satu sisi dia merasa bersalah karena telah membuat Jery berharap padanya, tapi di sisi lain, dia memang belum bisa menerima kehadiran laki-laki lain.


"Kak, kak Joseph sudah bersama dengan wanita lain. Apakah kakak akan terus menunggu sampai dia berpisah dengan kekasihnya itu? Berfikirlah yang logis kak. " Ucap Xixi dengan suara pelan.


Mimi diam, dia tidak tahu harus bagaimana. Apa yang di katakan oleh Xixi benar, dia tidak mungkin menunggu Joseph dan kekasihnya berpisah. Dan jika pun mereka berpisah, dia belum tentu bisa bersama dengan Joseph.


"Tapi.... Aku takut." Ucap Mimi yang masih dalam posisi termenung.


Xixi menatap kakaknya, dia lalu memeluk tubuh kakaknya itu.


"Aku tahu kakak pasti takut akan merasa kecewa lagi, tapi cobalah untuk membuka hati kakak. Seiring berjalannya waktu, kakak pasti akan merasakan ketulusan dari laki-laki lain, yang mencintai kakak."


Mimi membalas pelukan Xixi, dia lalu mengangguk menanggapi ucapan Xixi.


Xixi tersenyum, setidaknya dia sudah bisa membuat kakaknya mau terlepas dari bayang-bayang Joseph, yang pernah kakaknya sukai.


"Baiklah, ayo kita berkeliling lagi. Kita belum melihat bagaimana ruang tidur di dalam kapal ini." Ucap Xixi seraya menarik pelan tangan Mimi.


Mimi hanya mengikuti kemana Xixi akan membawanya, dia ingin pada liburan ini, dia melepaskan semua perasaannya terhadap Joseph, dan mulai membuka hatinya, seperti apa yang Xixi katakan padanya.


Kehidupan akan terus berjalan, meskipun kita berhenti di tempat yang sama untuk menanti seseorang yang tak pasti akan kita dapatkan. Jadi lebih baik membuka hati untuk orang lain yang lebih mencintai kita, dari pada akan terluka lagi dan lagi oleh orang yang sama yang kita cintai.


Xixi dan Mimi berjalan ke tengah kapal, Xixi membuka salah satu pintu yang ternyata kamar tidur.


"Waaahh, kamar ini terlihat cukup nyaman, kak." Ucap Xixi saat masuk ke dalam kamar itu.


"Xixi, lebih baik kita keluar. Kau ini suka sekali masuk ke dalam kamar orang secara diam-diam." Ucap Mimi.


"Jika kalian menyukai kamar ini, kalian bisa beristirahat disini." Ucap Jery yang sudah berdiri di belakang Mimi.


"Benarkah, kak Jery?" Tanya Xixi.


Jery mengangguk "Iya."


"Terima kasih kak." Ucap Xixi lagi dengan senang.


Jery mengangguk seraya tersenyum.


"Maaf, Xixi memang selalu seenaknya sendiri." Ucap Mimi pada Jery dengan perasaan tidak enak.


"Tidak apa-apa, aku tahu bagaimana dia."


Mimi hanya mengangguk, dia tidak mengatakan apa-apa lagi pada Jery. Karena Mimi masih bingung harus berkata apa pada Jery, setelah mendengar semua yang Jery katakan pada Leon secara diam-diam.

__ADS_1


__ADS_2