
"Hahaha, mereka pikir dengan seorang hacker bisa dengan mudah membobol sistem keamanan yang aku buat, dan mengetahui siapa yang ada di balik berita-berita menjijikan itu?" Ucap Xixi di dalam kamarnya.
Saat ini Xixi tengah menatap layar laptop, karena dia mendapatkan notifikasi pada ponselnya, jika ada seseorang yang mencoba menerobos sistem keamanan yang di buat dengan cara seorang hacker kebanyakan.
"Hanya seorang hacker kemarin, ingin bersaing denganku. baiklah, kau bertindak, maka aku akan memberimu hadiah yang lebih bagus lagi dari kemarin." Ucap Xixi lagi.
Xixi menekan folder berisi salah satu video yang dia ambil dari komputer milik tuan muda Davidson, lalu memasukan video itu pada sistem keamanan. Video itu akan tersebar seperti foto-foto sebelumnya ketika hacker itu berhasil membuka salah satu kode dari sistem keamanan milik Xixi.
"Aku harap kalian menikmati adegan panas ini." Ucap Xixi sebelum menekan tombol enter pada laptopnya.
Xixi tersenyum puas melihat aksinya sendiri pada orang-orang yang telah mengusik ketenangannya.
"Untuk sementara membuat mereka sibuk sudah selesai, aku harus memeriksa file pendapatan bulan ini dulu." Ucap Xixi.
Meninggalkan kesenangannya dalam berurusan dengan orang-orang keluarga Davidson, Xixi membuka file perusahaannya, dan kembali tenggelam dalam kesibukannya sore itu.
Akhir pekan yang seharusnya Xixi pakai untuk bersantai di dalam apartemennya, justru dia gunakan untuk memeriksa file yang belum sempat dia lihat di perusahaan.
Jika sudah berurusan dengan yang namanya komputer atau laptop, Xixi pasti tidak akan mengesampingkan nya karena bagi dia, bekerja dengan menggunakan komputer adalah salah satu kesenangan tersendiri meskipun bagi kebanyakan orang itu sangat memusingkan.
tok tok tok
"Xixi apa kau ada di kamar?" tanya Mimi dari luar pintu kamar Xixi.
"Iya masuk saja." ucap Xixi dari dalam kamar.
Pintu terbuka Mimi menjulurkan kepalanya, dia melihat Xixi Tltengah sibuk dengan laptopnya.
Mimi masuk ke dalam kamar Xixi lalu menutup kembali pintu kamar itu.
"Apa yang sedang kau lakukan ini adalah akhir pekan?" tanya Mimi seraya berjalan mendekati Xixi.
"Aku sedang memeriksa beberapa file yang belum aku lihat di perusahaan. Kakak ada apa kemari?"
"Besok adalah hari terakhirku bekerja di sini, tapi Jery bilang dia baru akan menyelesaikan pekerjaannya 3 atau 4 hari lagi."
"Lalu?"
"Aku ingin menginap di vila yang kemarin kita lihat untuk beberapa hari ke depan, sambil menunggu Jery menyelesaikan semua urusannya."
Sisi mengangguk "Boleh saja, besok aku akan mengantar kakak ke sana."
"Kau bisa mengantarku besok lusa. karena besok aku masih ada pemotretan, dan malamnya aku akan makan malam bersama dengan timku di restoran."
"Ya, baiklah."
Mimi melihat Xixi begitu fokus pada layar laptopnya, bahkan ketika dia berbicara dengannya pun, Xixi tidak menoleh sama sekali.
__ADS_1
"Apakah file yang kamu lihat itu begitu penting? Kau terlihat sangat fokus." Ucap Mimi dengan heran.
"Tidak terlalu, tapi aku hanya ingin memastikan semua karyawan yang ada di bawah pimpinanku bekerja dengan baik, sehingga tidak akan ada kesalahan yang sengaja mereka buat."
Mimi mengangguk mendengarkan apa yang Xixi katakan.
"Baiklah kau lanjutkan saja, aku akan memanggilmu lagi ketika makan malam sudah siap." ucap Mimi.
"Iya, terima kasih Kak."
Mimi berjalan keluar dari kamar Xixi, dia tidak mau lagi mengganggu pekerjaan adiknya yang menurut dia sangat memusingkan itu.
...----------------...
Di tempat lain Leon juga sedang sibuk dengan laptopnya. Dia sedang melakukan sesuatu, agar dia bisa segera melakukan rencana yang dia katakan kepada Xixi kemarin.
"Memulai semuanya dari awal memang sangat memusingkan. Kenapa Papa ku begitu bodoh, sehingga bisa ditipu oleh keluarga Albert itu." Gerutu Leon.
Leon kembali fokus pada layar laptopnya, dia terus mengetik keyboard laptop miliknta dengan cepat.
ddrrrrrrtttt dddrrrrrtt
Ponsel Leon bergetar dengan keras di atas nakas.
Leon berhenti menatap layar laptopnya, dia membalikkan badannya lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Leon melihat siapa yang menghubunginya.
Setelah sekitar 10 menit dia berbicara dengan seseorang yang menghubunginya, Leon meletakkan kembali ponselnya di atas ranjang.
"Akhirnya semua urusan yang ada di sana beres, sekarang aku tinggal memeriksa file-file yang telah aku tinggalkan beberapa saat yang lalu disini." Ucap Leon.
Leon kembali menatap layar laptopnya, dia membuka satu persatu file yang ada dalam folder penyimpanan yang ada di dalam laptop itu.
"Semoga saja mereka tidak berulah ketika aku tidak berada di sana."
Hampir 3 jam Leon berkutat dengan laptopnya untuk memeriksa semua file yang dia dapatkan dari sekretarisnya dulu.
"Akhirnya semuanya selesai, aku senang karena mereka tidak berulah selagi aku tidak ada." Ucap Leon seraya merenggangkan tubuhnya.
Ya. Leon kembali akan mengambil alih perusahaan yang dia tinggalkan beberapa saat yang lalu. Itu karena perusahaan yang dia pimpin dulu adalah milik nyonya Damian.
Dan karena nyonya Damian terus mendesak Leon untuk kembali mengurus perusahaan itu, akhirnya Leon pun mau kembali memimpin perusahaan yang pernah dia tinggalkan secara diam-diam, agar ayahnya tidak mengetahui hal itu.
"Untung saja itu adalah perusahaan milik Mama yang diberikan oleh kakek. Jika tidak, aku mungkin tidak akan pernah mau lagi masuk ke dalam perusahaan itu." Ucap Leon.
Selama ini perusahaan itu berdiri atas nama keluarga nyonya Damian, namun sesaat setelah Leon memimpin perusahaan itu, secara diam-diam nyonya Damian mengubah kepemilikan perusahaan itu atas nama Leon.
"Dulu Papa tidak pernah mendengarkan apa yang Mama katakan, sekarang perusahaan Papa di ambang kehancuran dan tentu saja aku tidak akan pernah membantunya, karena dia telah banyak membuat Mama dan aku kecewa." Leon mengingat semua yang telah dilakukan oleh tuan Damian kepada ibunya.
__ADS_1
Leon mematikan dan menutup laptopnya setelah semua pekerjaannya selesai.
"Baiklah saatnya untuk mencari makan malam." Leon seraya berdiri.
Saat Leon keluar dari apartemennya, dia melihat Mimi berjalan menuju lift apartemen.
"Kak Mimi." ucap Leon seraya berjalan menghampiri Mimi.
"Oh itu kau Leon, aku pikir kau sedang pergi berakhir pekan hari ini." ucap Mimi.
"Tidak, hari ini aku malas untuk keluar dari apartemen, jadi seharian ini aku hanya bermalas-malasan di dalam kamar."
"Kau sama saja seperti Xixi, dia juga seharian berada di dalam kamar dan sibuk di depan laptopnya."
Leon hanya tertawa kecil mendengar ucapan Mimi.
"Kak Mimi mau ke mana?" tanya Leon Soraya menekan tombol lift.
"Aku mau ke supermarket yang ada di bawah untuk membeli tomat."
"Oh seperti itu."
"Iya, aku sudah lama tidak meminum jus tomat, dan karena tomat di apartemen habis aku terpaksa membelinya."
"Bukankah rasanya sangat asam Kak?"
"Sedikit, tapi aku menyukainya. Itu sangat bagus untuk tubuh."
Leon hanya mengangguk karena dia sama sekali tidak mengerti hal-hal seperti itu.
ting
Lift terbuka, Mimi dan Leon berpisah karena Leon harus terus turun ke tempat parkir bawah tanah apartemen itu.
"Baiklah hati-hati kak Mimi." Ucap Leon sebelum dia menutup kembali pintu lift.
"Iya terima kasih."
Leon lalu menekan tombol bintang (*) yang akan membawanya ke tempat parkir bawah tanah.
"Ada saja yang disukai oleh para wanita, semoga Xixi tidak seperti itu." Gumam Leon yang mengingat Mimi begitu menyukai jus tomat.
Leon keluar dari lift setelah pintu lift terbuka. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lift itu.
"Sebaiknya aku membeli makanan tidak jauh dari sini, dan lebih baik aku memakannya di apartemen." Ucap Leon.
Leon masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannya keluar dari gedung apartemen menuju rumah makan yang ingin dia datangi.
__ADS_1