
Beberapa hari kemudian, tuan Davidson datang ke perusahaan Xixi setelah dia menunggu untuk mendapatkan jadwal temu dengan Xixi, yang sengaja Xixi buat sulit.
Xixi sangat tahu apa tujuan dia datang ingin bertemu dengan Xixi.
"Baiklah, sekertaris Ana tolong bawakan aku rambut palsu dan kaca mata yang ada di dalam ruang istirahtku." Ucap Xixi pada sekertaris Ana.
"Baik direktur."
Sekertaris Ana yang sudah tahu rencana Xixi, pergi ke ruang istirahat yang ada di dalam kantor Xixi untuk mengambil rambut palsu dan kaca mata.
"Ini direktur." Ucap sekertaris Ana seraya memberikan rambut palsu dan kaca mata pada Xixi.
"Terima kasih."
Xixi mengikat rambutnya, dan menggulungnya ke atas. Dia lalu memakai rambut palsu yang lebih pendek dari rambut aslinya, juga memakai kaca mata yang pernah dia pakai saat kuliah.
"Direktur, anda terlihat seperti orang lain." Ucap sekertaris Ana yang merasa dia seperti melihat orang lain di depannya.
"Bagus kalau aku terlihat seperti orang lain. Aku tidak mau tuan Davidson itu tahu siapa aku yang sebenarnya, setidaknya untuk sementara waktu ini."
"Iya direktur."
"Baiklah, kau bisa keluar sekarang. Kemungkinan dia sebentar lagi akan sampai di lantai ini."
"Baik direktur."
Sekertaris Ana lalu berjalan keluar dari ruang kerja Xixi, untuk menunggu tuan Davidson dan sekertarisnya datang.
"Tuan Davidson, kau hanya akan mendapatkan kekecewaan dengan datang ke perusahaan ku ini." Ucap Xixi.
Xixi tentu tidak akan membiarkan tuan Davidson mengetahui, apa yang sudah Xixi lakukan pada perusahaan dia.
tok tok tok
Setelah suara ketukan pintu terdengar, sekertaris Ana masuk ke dalam ruang kerja Xixi.
"Direktur, tuan Davidson dan sekertarisnya sudah datang." Ucap sekertaris Ana.
"Persilahkan mereka masuk. Mereka pasti sudah tidak sabar menunggu."
"Baik direktur."
Sekertaris Ana keluar dari ruang kerja Xixi.
Beberapa detik kemudian pintu ruang kerja Xixi terbuka lagi, dan tuan Davidson serta sekertarisnya masuk ke dalam ruang kerja itu.
Saat pertama masuk ke dalam ruang kerja dan melihat Xixi, tuan Davidson sedikit terkejut melihat penampilan Xixi yang terlihat seperti seorang ibu-ibu kantoran yang kuno.
__ADS_1
Xixi berdiri dan berjalan beberapa langkah.
"Selamat siang nona Cicilia. Maaf karena saya telah mengganggu pekerjaan anda." Ucap tuan Davidson.
"Selamat siang tuan Davidson, tidak masalah. Mari silahkan duduk."
Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja Xixi.
"Jika boleh saya tahu, apa yang membuat tuan Davidson datang ke perusahaan saya ini." Ucap Xixi tanpa basa basi.
"Kedatangan saya ke perusahaan anda, karena saya ingin menanyakan beberapa hal kepada anda."
"Oh, apa itu?"
Tuan Davidson menatap sekertarisnya sejenak.
"Nona Cicilia, anda pasti tahu tentang berita yang sedang beredar di beberapa media, tentang foto dan video anak saya, Brian Davidson." Ucap tuan Davidson.
Xixi mengerutkan keningnya, dia menatap tuan Davidson dengan tatapan yang kurang suka.
"Maksud tuan Davidson?" Tanya Xixi pura-pura tidak mengerti.
"Nona Cicilia, apakah anda yang telah melakukan hal itu?"
"Tuan Davidson, apakah menurut anda, saya tidak mempunyai pekerjaan lain? Melakukan hal seperti itu, hanya akan menyita waktu saya untuk memeriksa file penting perusahaan saya." Ucap Xixi.
"Tuan Davidson, putra anda sebelumnya mengirimkan kepada saya undangan untuk pesta pembukaan perusahaan baru di kota A ini, tetapi pada hari itu kebetulan saya memiliki janji dengan orang lain, jadi saya meminta sekertaris saya untuk menggantikan saya ke pesta itu. Mungkin karena hal tersebut, putra anda jadi ingin tahu bagaimana saya."
Tuan Davidson diam mendengar penjelasan Xixi.
"Apakah hanya karena saya merahasiakan informasi tentang diri saya, dan tidak dapat di ketahui oleh putra anda, lalu anda berfikir ini adalah perbuatan saya, tuan Davidson?"
Tuan Davidson menatap Xixi, setiap ucapan Xixi penuh dengan tekanan yang sulit untuk dia hindari.
"Jika memang bukan anda, itu artinya saya telah salah kepada anda. Mohon maafkan saya, nona Cicilia." Ucap tuan Davidson dengan perasaan yang tidak nyaman.
"Tidak masalah tuan, tetapi jika saya tahu orang-orang di perusahaan anda, terlebih putra anda mencoba membuka kode kunci yang berisi informasi tentang saya lagi, maka saya tidak akan segan kepada anda."
Tuan Davidson tertegun mendengar ancaman dari Xixi.
"Baik, baik. Saya mengerti nona Cicilia, dan saya akan memastikan anda tidak akan terganggu dengan hal seperti itu lagi." Ucap tuan Davidson.
"Baik, terima kasih."
Tuan Davidson dan sekertarisnya berdiri.
"Jika begitu, kami mohon undur diri nona Cicilia. Sekali lagi maaf karena sudah membuat nona Cicilia tidak nyaman dengan hal ini."
__ADS_1
"Tidak apa-apa tuan Davidson, saya bisa mengerti. Sekertaris saya akan mengantar kalian."
Tuan Davidson mengangguk, dia dan sekertarisnya lalu berjalan keluar dari ruang kerja Xixi.
Setelah kedua orang itu keluar dari ruang kerjanya, Xixi menarik rambut palsu dan melepaskan kaca matanya.
"Heh, tuan Davidson. Kau tidak akan pernah tahu siapa orang yang sudah membuat perusahaan mu seperti sekarang ini."
...----------------...
Di sebuah rumah yang cukup besar, Leon dan ibunya duduk di atas sofa yang ada di ruang keluarga rumah itu. Kakek dan kedua paman juga bibi Leon pun ikut duduk di sana.
Leon dan ibunya diam.
"Leon, bagaimana dengan perusahaan yang saat ini kau kelola?" Tanya kakeknya membuka pembicaraan.
"Cukup baik kakek, perusahaan sudah memiliki 12 klien tetap, dan 16 klien yang hanya bekerjasama dengan perusahaan selama 2 sampai 4 tahun ke depan."
Kakeknya mengangguk, dia lalu menatap ibu Leon yang duduk di samping Leon.
"Lalu, bagaimana keputusanmu? Kau akan terus bersama dengan laki-laki itu, atau...."
"Tidak ayah, aku... aku ingin bercerai dengan Damian." Ucap ibu Leon.
"Apa kau sudah memikirkan itu dengan baik?" Tanya istri dari paman tertua Leon.
"Iya kakak ipar, aku sudah tidak bisa bertahan dengan laki-laki yang sangat egois seperti dia."
Para paman dan bibi Leon saling bertatapan dan mengangguk.
"Jika itu keputusanmu, maka ayah akan membantumu agar kau bisa mendapatkan rumah yang kalian tempati itu. Karena bagaimana pun, rumah itu berdiri atas namamu dan Leon." Ucap kakek Leon.
"Tapi ayah..."
"Dengarkan apa kata ayah, kau sudah banyak menderita di rumah itu. Dan kau juga sudah banyak membantunya selama ini." Ucap paman tertua Leon.
Ibu Leon diam, dia lalu mengangguk. Semua yang di katakan oleh ayah dan kakaknya benar. Rumah itu adalah rumah milik keluarganya, dan nama atas rumah itu pun adalah nama dia dan Leon.
Selama ini keluarga besar kakek Leon sudah banyak membantu tuan Damian, tetapi sifat serakah dan egois tuan Damian tidak pernah beurbah.
"Ibu, ibu tidak perlu khawatir. Kita masih bisa hidup dengan bahagia tanpa ayah." Ucap Leon seraya merangkul ibunya dari samping.
"Benar yang Leon katakan kakak, kami juga akan selalu ada bersama dengan kakak." Ucap paman muda Leon.
Ibu Leon mengangguk, dia semakin yakin untuk bercerai dengan tuan Damian.
"Damian, maafkan aku karena egois pada mu kali ini. Aku hanya ingin hidup bahagia dan tenang bersama dengan putraku."
__ADS_1