
Hari ini sesuai dengan apa yang nyonya William katakan, dia dan Mimi pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.
Sudah cukup lama mereka tidak keluar bersama seperti sekarang, dan mereka berdua sangat menikmati waktu luang itu dengan sangat baik.
"Hei lihatlah, wanita dan laki-laki itu sangat serasi sekali ya." Ucap salah seorang wanita yang lewat di samping Mimi.
Mimi yang mendengar itu ikut melihat siapa orang yang di maksud oleh wanita tadi.
"Bukankah itu....." Ucap Mimi saat melihat sepasang kekasih yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Mimi ingat wanita yang di bicarakan tadi, dia adalah wanita yang di peluk dan menjadi pendamping Joseph, di acara ulang tahun Jery beberapa minggu yang lalu.
Wanita itu terlihat begitu bahagia bergandengan dengan laki-laki yang ada di sampingnya, yang merupakan artis pendatang baru, bernama Mike.
"Mimi, apa kau mengenal mereka sayang?" Tanya nyonya William.
"Ah, tidak Bu. Aku hanya penasaran dengan orang yang di bicarakan oleh wanita yang lewat tadi."
"Oh seperti itu."
"Iya. Ayo Bu, kita lanjut kesana saja." Mimi menunjuk salah satu toko yang berada tidak jauh dari mereka.
Nyonya William mengangguk, mereka lalu berjalan menuju toko sepatu yang di tunjuk Mimi.
Di dalam toko, Mimi dan nyonya William mencari beberapa sepatu yang menurut mereka bagus dan cocok untuk mereka pakai.
Mimi melihat satu pasang sepatu yang sangat cantik menurutnya, dia lalu mengambil sepatu itu dan membawanya untuk dia coba.
"Maaf nona, aku melihat sepatu itu lebih dulu. Jadi tolong biarkan aku yang mencobanya terlebih dulu." Ucap seorang wanita.
Mimi menatap wanita yang berbicara dengannya. Ternyata itu adalah kekasih Joseph yang tadi bergandengan tangan dengan Mike.
"Oh benarkah, jika anda memang melihatnya lebih dulu, kenapa anda tidak mengambilnya lebih dulu dari saya, nona?"
"Itu karena aku sibuk dengan ponselku."
"Hmmm, sibuk memberi alasan pada kekasih anda yang lain, agar anda bisa tenang saat pergi dengan kekasih anda itu?" Ucap Mimi serapa melihat ke arah Mike yang sedang menunggu wanita itu.
Wanita yang saat ini berada di depan Mimi terkejut, karena apa yang Mimi katakan padanya adalah benar. Dia tadi tengah membalas pesan dari Joseph.
Melihat wajah terkejut wanita itu, Mimi tersenyum.
"Ambil saja, lagi pula kau pantas memakai sepatu ini untuk melayani kekasih keduamu yang berdiri disana, nona."
Mimi memberikan sepatu itu pada wanita yang ada di depannya, dia lalu berbalik dan pergi dari hadapan wanita itu dengan menyunggibgkan senyum sinisnya.
"Dasar, jelas-jelas Joseph terlihat sangat menyukainya. Tapi dia malah bermain api di belakang Joseph!"
Mimi berjalan menghampiri ibunya yang juga sedang mencari sepatu di sisi lain.
Wanita yang di tinggalkan oleh Mimi menatap punggung Mimi yang semakin menjauh.
"Wanita itu, apakah dia tahu kalau aku berpacaran dengan Joseph dan berselingkuh darinya?" Gumam wanita itu dengan tidak sadar.
Saat ini tengah sibuk kembali mencari sepatu di samping ibunya. Dia tidak lagi memperdulikan wanita itu dan hubungan wanita itu dan Joseph, karena saat ini dia sudah menjalin hubungan dengan Jery, laki-laki yang begitu mencintainya.
"Ibu, lihatlah sepatu ini. Aku rasa ini cocok untuk Ibu." Ucap Mimi seraya memperlihatkan sepatu yang ada di tangannya.
Nyonya William melihat sepatu yang di pilih oleh Mimi.
"Ini sangat bagus, model dan warnanya juga sangat elegan." Ucap nyonya William.
"Ibu cobalah."
__ADS_1
Nyonya William mengangguk, dia lalu mengambil sepatu itu dan mencobanya.
"Benar kataku, sepatu ini sangat cocok untuk Ibu." Ucap Mimi dengan senang.
"Benar sayang, baiklah Ibu akan membeli yang ini."
Mimi mengangguk "Iya Bu."
"Lalu, mana sepatu pilihanmu sayang?"
"Tidak perlu Bu, lagi pula aku masih mempunyai banyak sekali sepatu yang belum pernah aku pakai di lemari."
"Kau ini, baiklah kalau begitu."
Nyonya William memberikan sepatu itu pada pelayan toko agar dia mengurusnya.
"Setelah ini, kita akan kemana Bu?" Tanya Mimi.
"Ini sudah hampir jam makan siang. Kita makan dulu saja."
"Baik kalau begitu."
Tak lama pelayan toko kembali dengan sebuah paper bag, dia lalu memberikannya pada nyonya William.
"Ayo kita cari kafe di dalam mall ini." Ucap nyonya William.
"Iya."
Kedua wanita cantik dan anggun itu berjalan keluar dari toko dan pergi mencari salah satu kafe yang ada di dalam mall itu.
"Kita makan di sini saja Bu." Ucap Mimi saat melihat sebuah kafe yang terlihat cukup nyaman.
"Baiklah kita makan dulu disini."
...----------------...
Di dalam perusahaan, Xixi di hadapkan dengan setumpuk berkas yang harus dia tandatangani karena beberapa hari yang lalu dia pergi berlibur.
"Haaahh... Aku tidak menyangka ternyata menjadi seorang direktur itu sangat melelahkan." Ucap Xixi sambil menyenderkan tubuhnya setelah memeriksa berkas ke 8.
Xixi merenggangkan tubuhnya lalu berdiri dan pergi ke pentri kecil di dalam kantornya.
"Setelah memeriksa begitu banyak berkas, paling menyenangkan adalah menikmati kopi yang pekat." Ucap Xixi yanh tengah membuat kopi kesukaannya.
Xixi membawa secangkir kopi dari pentri, lalu meletakannya di atas meja.
"Masalah kak Mimi dan kak Jery telah selesai, aku harap tidak akan ada masalah lainnya lagi."
Xixi membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang di dalam ruang kerjanya.
tok tok tok
Xixi yang baru saja membaringkan tubuhnya mendengar pintu ruangan di ketuk, Xixi pun mau tak mau harus kembali duduk.
"Ya, masuk." Ucap Xixi.
Pintu terbuka, sekertaris Ana masuk membawakan sebuah kotak lalu meletakkannya di atas meja.
"Apa ini?" Tanya Xixi.
"Itu adalah beberapa kue yang saya beli di toko kue langganan saya, saya pikir direktur akan sangat lelah setelah memeriksa begitu banyak berkas hari ini. Jadi saya membelikannya untuk anda." Ucap sekertaris Ana.
"Terima kasih, kau sangat perhatian."
__ADS_1
"Sama-sama direktur, jika anda lelah lebih baik anda istirahat sejenak. Karena kelelahan bisa membuat kita tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja."
"Iya, terima kasih sekertaris Ana."
Sekertaris Ana mengangguk "Kalau begitu, saya akan kembali ke tempat kerja saya."
"Iya, silahkan."
Sekertaris Ana lalu keluar dari ruang kerja Xixi.
Setelah sekertaris Ana keluar, Xixi membuka kotak yang di bawa oleh sekertaris Ana.
"Waah, kelihatannya kue-kue ini sangat enak." Ucap Xixi yang melihat beberapa kue di dalam kotak.
Xixi mengambil salah satu kue itu lalu memakannya.
"Jika kakak melihat ini, dia pasti akan berteriak. Karena dia tidak bisa memakannya meskipun dia sangat ingin." Ucap Xixi yang menikmati sepotong kue dengan strawberry di atasnya.
Setelah memakan satu potong kue, Xixi menyesap kopi buatannya. Xixi berjalan dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerja.
Dia lalu membuka ponselnya yang sejak tadi tidak dia sentuh sama sekali.
"Eh, ada seorang artis pria pendatang baru yang tertangkap kamera sedang berjalan-jalan dengan kekasihnya di sebuah pusat perbelanjaan." Gumam Xixi.
Xixi yang tidak menyukai berita yang seperti itu mengabaikannya, dia mencari berita lain di akun sosial medianya sambil menikmati kue dan kopi buatannya.
20 menit kemudian, Xixi yang merasa sudah cukup beristirahat, berdiri.
Xixi berjalan dan duduk di atas kursi kerjanya. Dia menatap beberapa berkas yang tersisa lainnya, yang perlu dia lihat dan tandatangani.
"Baiklah, waktunya kembali bekerja. Hanya tinggal beberapa berkas lagi saja, Xixi." Ucap Xixi menyemangati dirinya sendiri.
Xixi merenggangkan jari-jari tangannya, lalu mengambil bolpoin dan kembali larut dalam tumpukan berkas yang ada di atas meja kerjanya.
***
Sore harinya Mimi dan nyonya William yang telah seharian berkeliling di dalam mall, dan mencoba menikmati beberapa makanan di kafe dan kedai kecil, merasa puas dan senang.
"Ibu tidak menyangka kalau kau juga menyukai makan makanan di kedai kecil seperti tadi, sayang." Ucap nyonya William pada Mimi, setelah mereka sudah ada di dalam mobil.
"Setiap kali Mimi keluar kota, Mimi akan berhenti di tengah jalan untuk makan. Dan kedai-kedai kecil seperti itulah yang sering Mimi dan kak Junnie singgahi, Bu. Selain porsinya yang pas, rasanya juga tidak kalah dengan restoran mewah."
Nyonya William mengangguk, dia senang karena kedua putrinya tidak menjadi orang yang sombong, yang tidak mau makan di sembarang tempat dan hanya mau memakan makanan mewah, seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya.
"Ibu." Ucap Mimi.
"Iya, kenapa sayang?"
"Em.... Tolong Mimi untuk bilang ke ayah, Mimi ingin kembali ke kota A."
"Kenapa? Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Kau tidak boleh banyak bergerak."
"Lukanya sudah tidak begitu sakit, lagi pula ini akan sembuh dalam beberapa hari lagi Bu. Mimi merasa tidak enak pada semua karyawan di perusahaan."
Nyonya William diam, dia mengerti bagaimana perasaan Mimi yang seorang putri dari keluarga kaya, namun bersikeras ingin bekerja di perusahaan orang lain.
Pasti akan banyak yang berfikir negatif tentangnya saat dia melakukan hal yang tidak wajar. Seperti berlibur atau mengambil hari cuti yang begitu lama.
"Baiklah, Ibu akan bicara dengan ayahmu. Tapi Ibu tidak bisa berjanji, jika ayahmu akan mengizinkannya." Ucap nyonya William.
Mimi mengangguk "Iya Bu, terima kasih. Ibu yang terbaik."
Mimi memeluk ibunya dari samping dan mencium pipi ibunya. Dia berharap ayahnya akan memberikan izin padanya.
__ADS_1