
Di pinggiran sungai, tepat di samping kedai daging tusuk bakar. Leon dan Xixi duduk menikmati angin yang berhembus menerpa wajah mereka.
Ini baru jam 18.30, namun sudah banyak pembeli yang datang ke kedai itu. Dan kebanyakan dari mereka adalah sepasang suami istri atau sepasang kekasih.
"Jika saja di ibu kota sana kita bisa menikmati makan malam yang seperti ini. Pasti sangat menyenangkan." Ucap Xixi yang menatap kelap-kelip lampu di seberang sungai besar di depannya.
"Kau benar, sayangnya disana sudah di penuhi oleh gedung tinggi dan jalanan beraspal. Sehingga membuat kota menjadi panas."
Xixi mengangguk, Leon memeluk tubuh Xixi dari samping, memberikan rasa hangat di malam itu.
"Kau tahu, aku pernah membuat rencana untuk melamarmu beberapa bulan yang lalu." Ucap Leon.
"Melamarku?" Tanya Xixi dengan terkejut.
Leon mengangguk "Iya, tetapi semua itu belum bisa aku lakukan. Karena aku keluar dari rumah."
Xixi terdiam, jika ingat keluarga Leon. Dia merasa bersalah karena dia menghancurkan perusahaan keluarga Albert, perusahaan milik orang tua Leon juga hampir ikut hancur.
"Maaf." Ucap Xixi.
Leon menoleh "Untuk apa sayang?"
"Karena aku sudah membuat perusahaan milik orang tua mu hampir hancur."
"Tidak apa-apa, itu adalah hukuman untuk Papa ku yang kurang bersyukur."
"Tapi...."
Leon melepaskan pelukannya, dia menatap kedua mata Xixi dengan lekat.
"Dengar, itu bukan kesalahanmu. Kau menghancurkan perusahaan keluarga Albert untuk melindungi perusahaan keluarga mu, dan untuk perusahaan Papa ku, itu adalah salahnya karena bekerjasama dengan perusahaan orang lain, untuk bersaing dengan perusahaan temannya sendiri. Jadi jangan menyalahkan dirimu lagi, karen itu bukan salahmu."
Xixi tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, karena tujuannya saat itu hanyalah untuk menghancurkan perusahaan keluarga Albert.
Leon menarik kepala Xixi dan mengecup bibir Xixi dengan tiba-tiba.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, dan berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak. Kau mengerti sayang?" Ucap Leon setelah mengecup bibir Xixi.
Xixi mengangguk.
Leon lalu memeluk tubuh Xixi dengan erat, dan mencium bahu Xixi dengan lembut.
"Aku tidak mau kau selalu memikirkan apa yang tidak seharusnya kau pikirkan, biarkan saja Papa merasakan sedikit hukuman karena telah berbuat jahat pada temannya sendiri." Ucap Leon.
Xixi mengangguk.
Pesanan mereka datang, Leon dan Xixi menikmati makan malam mereka di pinggiran sungai kota A yang sejuk, dan penuh dengan cahaya lampu seperti bintang.
"Besok mau ikut ke vila, atau kau mau ke perusahaan?" Tanya Leon.
"Aku sudah bilang pada sekertaris Ana, kalau besok aku tidak bisa datang ke perusahaan. Jadi mungkin aku akan ikut denganmu."
"Baiklah kalau begitu."
Xixi mengangguk "Iya."
Malam semakin merangkak, angin pun semakin terasa dingin. Leon yang tahu jika Xixi memakai kaos lengan pendek, melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Xixi.
"Kau akan sakit jika terus menahan rasa dingin, cepat habiskan makanannya." Ucap Leon.
Xixi tersenyum "Iya."
Xixi senang karena walaupun terkadang Leon terlihat seperti orang yang dingin, tetapi Leon sangat perhatian dan tentunya sangat menyayangi Xixi.
__ADS_1
Setelah semuanya habis, Leon segera membawa Xixi ke mobil, karena kedua tangan Xixi sudah mulai terasa dingin.
"Apa kau kenyang?" Tanya Leon.
"Iya, dan aku pasti akan tidur dengan nyenyak malam ini."
"Itu bagus."
"Terima kasih, karena malam ini kita makan disini."
Leon mengangguk seraya tersenyum.
Mereka pun lalu pulang ke apartemen mereka, karena malam sudab semakin larut.
Di apartemen, Mimi yang baru selesai menerima telfon masuk ke dalam, dia lalu meletakan ponselnya di atas meja makan.
"Besok tidak ada jadwal pemotretan, lebih baik aku tiduran saja di dalam kamar." Ucap Mimi
ceklek
Pintu apartemen di buka, Xixi yang membuka pintu itu masuk ke dalam.
"Waah, yang habis makan malam di luar." Ucap Mimi.
"Hehehe iya, makan daging tusuk bakar lagi di kedai pinggir jalan."
"Kenapa kau tidak menghubungi kakak, kalau kalian makan disana?"
Xixi masuk dan duduk di salah satu sofa di ruang tv.
"Kau kan bisa mengajak kak Jery makan disana, kak."
Xixi hanya mengangguk.
"Xixi." Ucap Mimi.
Xixi yang sedang bermain dengan ponselnya, menoleh "Iya kak, ada apa?"
"Emm.... Tadi siang.. aku bertemu dengan Joseph."
Xixi mengangguk "Oh."
Mimi mengerutkan keningnya dengan jawaban singkat Xixi.
"Kenapa kau tidak terkejut?" Tanya Mimi.
"Karena sore tadi Leon bilang kalau dia melihat kak Joseph di kota ini, jadi tidak akan heran kalau kalian bertemu secara tidak langsung, apalagi dia mempunyai hubungan kerjasama dengan kak Jery."
"Kau juga tahu tentang itu?"
Xixi yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya menganggukan kepala, menjawab ucapan Mimi.
"Dia mengajakku makan siang." Ucap Mimi.
Xixi menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh dan menatap kakaknya yang berdiri di samping sofa lain.
"Dia mengajak kakak makan siang?" Tanya Xixi.
Mimi mengangguk "Iya."
"Lalu, kakak mau?"
__ADS_1
Mimi duduk dan menyenderkan tubuhnya ke belakang dengan malas.
"Tidak, aku menolaknya." Ucap Mimi.
"Bagus kalau kakak menolaknya."
"Iya, aku juga berkata jika aku sudah mempunyai seorang kekasih padanya."
"Bagaimana reaksi dia?"
"Aku lihat dia sedikit terkejut, tapi setelah itu dia bersikap seperti biasa."
"Tidak perlu di pikirkan, sekarang kakak sudah bersama dengan laki-laki yang sangat menyayangi dan akan menjaga kakak dengan baik. Lagi pula kak Joseph tidak pernah melihat kakak dulu, jadi kembali abaikan dia."
Mimi mengangguk.
"Besok kakak ada jadwal pemotretan?" Tanya Xixi.
"Tidak ada, kenapa?"
"Mau ikut denganku dan Leon? Ke vila baru ku."
"Kau membuat vila?"
"Iya, aku bikin beberapa vila di kota ini. Tapi baru satu yang sudah jadi, tinggal memasukan furniture ke dalam vila saja. Kalau sudah beres, besok siang kita bisa kesana untuk melihatnya."
"Baiklah, besok aku ikut denganmu."
"Kakak benar-benar tidak ada pemotretan besok?"
"Tidak ada, besok kakak libur. Karena besok lusa kakak harus melakukan pemotretan dari dua desainer terkenal, dan kakak juga harus melakukannya langsung di studio mereka."
"Wah, sepertinya pakaian yang akan kakak pakai sangat spesial."
"Mungkin saja."
"Hmm, kalau begitu kakak harus berusaha dengan baik."
"Kau benar."
Xixi berdiri "Aku ke kamar dulu, aku mau mandi terus istirahat."
"Iya, baiklah."
"Oh iya, jangan memikirkan tentang pertemuan kakak dengan kak Joseph lagi. Pikirkan saja kekasih kakak, dia lebih penting dari orang yang telah mengabaikan kakak."
"Iya, aku mengerti. Aku tidak akan lagi memikirkannya."
"Itu bagus."
Xixi merenggangkan tubuhnya lalu berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan beristirahat.
Sementara Mimi yang masih di ruang tv, berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
ting
Suara notifikasi ponsel Mimi berbunyi. Mimi mengambil ponselnya lalu membaca satu pesan singkat yang dia dapat.
Jery : Jangan tidur terlalu larut malam, sayang.
Mimi tersenyum setelah membaca satu pesan singkat dari Jery. Mimi meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dia tidak membalas pesan dari Jery itu. Mimi kemudian meminum air yang dia ambil dari dapur tadi.
"Dia sangat perhatian." Gumam Mimi kembali membaca pesan singkat dari Jery setelah minum.
__ADS_1
Mimi membawa ponselnya lalu pergi ke kamarnya sendiri.