
Xixi dan Mimi tengah duduk bersama di balkon apartemen Xixi sambil menikmati pemandangan sore hari.
Sudah lama mereka berdua tidak menikmati waktu yang tenang seperti itu bersama, karena kesibukan yang mereka miliki selama ini.
"Kak, bagaimana hubungan kakak dengan kak Jery?" Tanya Xixi.
"Hubungan apa? Kami hanya rekan kerja saja, dia juga termasuk atasanku, karena dia adalah investor terbesar."
"Benarkah? Aku lihat kak Jery tertarik dengan kakak."
"Oh, kau sepertinya sangat memperhatikan tuan Jery, Xixi."
"Bukan begitu, aku sedikit tahu tentang kak Jery, dia orang yang baik, dan jujur. Walaupun dia adalah seorang direktur, tapi dia sama sekali tidak pernah menyombongkan dirinya sepertinya kebanyakan anak seorang pengusaha besar."
"Aku tahu, karena itu di tempat kerja banyak wanita yang tertarik padanya. Terutama model baru yang bernama Monica."
"Monica? Wanita yang waktu di pesta ulang tahun kak Jery berharap bisa mendapatkan potongan kue pertama itu? Aku mendengar beberapa orang yang berkata kalau kue itu untuknya."
Mimi mengangguk "Iya, dia sangat menyukai tuan Jery. Dan dia sudah lama mempunyai perasaan itu padanya."
"Tapi kan kak Jery tidak pernah memperdulikan dia. Aku lihat kak Jery justru tidak menyukainya dan selalu menghindari dia saat di pesta malam itu."
"Entahlah, kakak tidak tahu. Kakak hanya tidak mau berurusan dengan orang lain."
"Kakak."
Mimi diam, dia tidak mau lagi membicarakan hal itu. Dia tahu jika Jery sangat baik padanya, namun dia tidak mau mempunyai masalah dengan banyak wanita, seperti apa yang telah Xixi alami setelah dia berpacaran dengan Leon.
Xixi menatap kakaknya "Apa kakak masih memikirkan kak Joseph ya? Jadi dia tidak mau memikirkan laki-laki yang lain."
Mimi berdiri "Hari semakin sore, masuklah sebelum kau masuk angin karena tiupan angin laut."
Mimi masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Xixi di balkon sendirian dengan bingung.
"Sepertinya aku harus menyelidiki siapa Monica ini." Gumam Xixi.
Xixi berdiri lalu masuk kedalam apartemen setelah menutup pintu balkon dan tirai apartemennya. Xixi berjalan ke dapur, dia meletakan cangkir teh yang sudah kosong ke tempat pencuci piring.
"Kak, malam ini aku akan makan di luar. Aku ingin membeli daging tusuk bakar di kedai yang ada di alun-alun kota." Ucap Xixi pada Mimi yang sedang duduk sambil menonton televisi.
"Kau ingin makan di kedai itu?"
Xixi mengangguk "Iya, rasa daging tusuk bakar disana sangat enak. Ada juga cumi bakar dan yang lainnya."
"Oke, kalau begitu aku ikut."
"Kakak ingin makan di kedai pinggir jalan juga?"
"Kenapa, apa aku tidak boleh makan disana juga?"
"Bukan begitu, hanya saja apa kakak yakin perutmu tidak akan bermasalah."
"Tidak akan, sebelum pergi aku akan meminum obat lebih dulu. Jadi akan aman."
"Hah?"
"Sudah tidak perlu memikirkannya."
Xixi yang tidak mengerti jalan pikiran kakaknya hanya diam. Entah sejak kapan Mimi jadi memudahkan masalah minum obat, padahal dulu dia adalah orang yang paling anti minum obat di keluarga, karena dia selalu menjaga tubuhnya, dan berfikir dia akan kecanduan jika sekali meminumnya.
(author : Kamu pikir itu obat apa, Mimi? 🤦♀)
***
Di tempat lain, Leon ternyata sedang bertemu dengan Jery di salah satu kafe yang tidak jauh dari hotel tempat Jery merayakan ulang tahunnya.
"Tumben sekali kak Jery mengundangku keluar, ada apa kak?" Tanya Leon.
__ADS_1
"Leon, kau dan Xixi berpacaran bukan?"
Leon mengangguk "Iya, itu benar."
"Kalau begitu, kau cukup dekat dengan nona....."
"Kalau dekat dengan kak Mimi, aku tidak begitu dekat. Aku hanya tahu sedikit tentang dia." Ucap Leon memotong perkataan Jery.
Jery mengangguk.
"Malam itu aku lihat nona Michael menatap ke arah tuan muda Smith. Apa nona Michael menyukainya?"
Leon diam dia menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Iya, kak Mimi memang menyukai Joseph. Hanya saja cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Joseph ternyata saat ini dia telah menjalin hubungan dengan wanita lain."
"Jadi begitu, aku mengerti."
"Kak Jery, apa kakak..... benar-benar menyukai kak Mimi?"
Jery menatap Leon dengan serius "Benar, tapi aku belum bisa memastikan rasa suka yang aku rasakan. Apakah ini rasa suka seorang pria kepada wanita, atau hanya rasa suka sesama rekan kerja."
Leon meletakan es kopi yang dia minum, lalu menatap Jery.
"Kak Jery, aku ingin bertanya sesuatu pada kak Jery."
"Katakan saja."
"Jika kak Mimi berada dalam sebuah masalah, apakah kak Jery akan membantunya?"
"Tentu saja, aku pasti akan membantunya."
"Lalu, jika kak Mimi memerlukan pertolongan saat dia berada dalam bahaya, apa kak Jery juga akan menyelamatkannya?"
"Tentu saja, aku bahkan akan mengorbankan nya......"
Leon tersenyum saat Jery tidak lagi melanjutkan ucapannya.
Jery terdiam "Tapi aku tidak tahu, apakah dia juga menyukai ku."
"Kak, saat ini kak Mimi baru saja merasakan patah hati pada laki-laki lain. Kak Jery bersabarlah, dan juga harus bisa meyakinkan kak Mimi bahwa kak Jery benar-benar menyukai dan ingin menjaga kak Mimi."
"Apa kau yakin nona Michael akan menyukai ku juga?"
"Hanya dia yang bisa memberikan jawaban kak, karena itu kakak jangan patah semangat. Aku yakin kelak kak Mimi pasti akan membuka hatinya."
Jery mengangguk, dia menatap keluar jendela. Melihat mobil dan orang-orang yang sedang berlalu lalang di luar sana.
"Kak Jery!" Seru seorang wanita seraya melambaikan tangannya pada Jery.
Jery dan Leon menoleh, mereka melihat dua wanita berjalan ke arah meja mereka.
"Kak Jery, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini."
"Em iya."
Leon menatap dua wanita yang ada di depan mereka.
"Kak Jery, boleh kita ikut bergabung disini?"
"Maaf, kami sedang membicarakan sesuatu."
"Ayolah kak Jery, kami tidak akan mengganggu kalian. Iyakan Monica."
"I.... Iya."
Monica, wanita yang menyukai Jery sangat gugup karena dia tidak menyangka akan bertemu Jery di kafe itu.
Melihat Jery yang malas kepada kedua wanita itu, Leon berdiri.
__ADS_1
"Jika kalian ingin duduk disini, maka silahkan." Ucap Leon mempersilahkan kedua wanita itu untuk duduk.
Monica dan temannya terlihat senang. Saat mereka akan duduk, Leon menganggukan kepalanya pada Jery.
Setelah kedua wanita itu duduk di kursi, Jery yang tahu isyarat dari anggukan Leon, ikut berdiri.
"Kalian nikmati saja pesanan kalian. Kami akan mencari tempat yang lain." Ucap Jery dengan dingin.
Leon dan Jery kemudian meninggalkan kedua wanita itu disana.
Melihat Jery yang memilih untuk pergi, Monica merasa jika saat ini dia telah mengusir Jery secara halus, karena setelah mereka duduk, Jery dan temannya langsung pergi.
"Kenapa kak Jery dan temannya pergi begitu saja?" Tanya teman Monica dengan polos.
Monica menatap punggung Jery yang pergi menjauh dan keluar dari kafe itu.
"Kak Jery, tidak bisakah kakak melihatku sekali saja? Aku sungguh sangat menyukaimu."
Di dalam mobil, Jery dan Leon duduk. Jery lalilu melajukan mobil miliknya ke sembarang arah.
"Siapa mereka?" Tanya Leon.
"Wanita yang cerewet tadi adalah putri bungsu dari keluarga Ronald, dan yang satu lagi adalah seorang model baru di perusahaan ku, namanya Monica."
Leon mengangguk "Wanita bernama Monica itu.... sepertinya dia menyukai mu, kak Jery?"
"Benar, bahkan di media sosial miliknya. Dia menulis banyak karangan tentang hubungan dia denganku. Padahal kami akrabpun tidak."
"Bukankah dia model di perusahaan mu?"
"Iya, tapi aku tidak pernah peduli dengannya. Selain hubungan pekerjaan, aku malas menanggapi wanita itu."
"Waaah, dia kasihan sekali."
"Menurutku dia adalah wanita yang tidak tahu malu."
"Kenapa?"
"Di depan model lain dan teman-temannya, dia berkata jika aku dan dia memiliki hubungan yang dekat, dan seperti apa yang sudah aku katakan tadi, dia selalu membohongi dirinya sendiri dan teman-temannya, dengan cerita palsu tentang kedekatan kami."
"Dia cukup berani juga."
"Kau benar."
"Tapi, saat di pesta ulang tahunmu, dia juga datang bukan?"
"Iya."
"Apa karena itu, kak Jery memberikan potongan kue pertama pada kak Mimi? Agar dia tidak lagi melakukan hal yang memalukan itu. Dan membuat teman-temannya tahu, jika semua yang telah dia katakan adalah kebohongan."
Jery menggelengkan kepalanya "Tidak, aku benar-benar ingin memberikan potongan kue pertama itu pada nona Michael. Aku tidak pernah memanfaatkan orang lain demi kepentinganku sendiri, Leon."
Leon mengangguk.
"Jika begitu, aku khawatir kak Mimi akan mendapatkan kesulitan di tempat kerja maupum di luar."
"Itu tidak akan, aku tidak akan mentolerir pekerjaku, jika mereka melakukan sesuatu pada pekerja lainnya, terlebih pada model unggulan kami."
"Tapi itu selama berada di lingkungan perusahaan, kak. Jika di luar itu?"
Jery terdiam.
"Kak, aku pernah mengalami hal semacam ini. Namun semua wanita yang mengira jika Xixi tidak pantas denganku, telah Xixi lawan dan kalahkan. Kak, Xixi dan kak Mimi berbeda secara fisik maupun kekuatan. Xixi bisa melindungi dirinya sendiri karena dia bisa ilmu bela diri dan gulat, tetapi kak Mimi? Dia wanita yang lembut kak, dan sangat memerlukan perlindungan dari orang lain. Ya... walaupun dari luar dia terlihat seperti wanita yang sangat kuat."
Jery mengangguk apa yang Leon katakan benar.
"Baiklah, jika begitu aku akan melakukan sesuatu. Aku tentu tidak akan membuat nona Michael terluka karena orang lain yang merasa jika dia tidak pantas berada disisku."
Leon mengangguk "Iya."
__ADS_1
Leon memang tidak salah menilai, Jery benar-benar orang yang baik, dan sangat cocok dengan Mimi.