
Setelah hari itu, sekarang setiap hari saat Xixi bertemu dengan Leon di kampus, mereka kembali seperti saat mereka belum saling mengenal satu sama lain, bahkan Xixi tidak lagi duduk di deretan paling belakang di kelas seperti biasa.
Meski luka itu sudah sudah tidak lagi terlihat, tapi rasa nyeri akibat darah beku yang ada di telapak tangan Xixi akibat tertusuk jarum es, membuatnya sedikit kesulitan saat melakukan sesuatu dengan tangan kanannya.
Begitu juga dengan hari ini, Xixi memilih memakai ponselnya untuk merekam apa yang dosen sampaikan di depan kelas. Karena dia tidak bisa menggunakan tangan kanannya.
"Xixi, setelah ini kita ke kantin ya. Aku sangat lapar." Bisik lulu.
Xixi mengangguk menjawab ucapan Lulu.
Dari belakang Leon menatap Xixi yang duduk beberapa kursi di depannya, tapi dia tidak tahu jika Xixi merekam apa yang dosen katakan dengan ponsel di atas mejanya. Dia hanya berfikir, Xixi sengaja meletakan ponsel itu begitu saja.
Setelah mata pelajaran selesai dan dosen keluar, Xixi membereskan buku miliknya.
Bruuuk
Salah satu buku milik Xixi jatuh di atas lantai, Xixi mengambil buku itu dan Leon melihatnya. Tapi seketika Leon mengerutkan keningnya saat Xixi mengambil buku itu dengan tangan kirinya, padahal buku itu jatuh di sebelah kanan.
"Kau sudah selesai?" Tanya Lulu.
"Iya."
"Kalau begitu ayo."
Xixi mengangguk, setelah memasukan ponsel ke dalam saku jaketnya, Xixi dan Lulu keluar dari kelas dan berjalan menuju kantin kampus.
Di kantin kampus, Xixi dan Lulu membeli beberapa makanan yang ingin mereka makan.
"Em... Maaf, bisakah aku mengganti sumpit ini dengan garpu?" Ucap Xixi pada petugas yang menjaga kantin.
"Tentu." Ucap petugas kantin itu.
Leon yang berdiri di depan pintu kantin melihat petugas kantin mengganti sumpit yang ada di atas nampan Xixi dengan sebuah garpu.
"Bukankah dia lebih menyukai makan mie dengan sumpit, kenapa menggantinya dengan garpu?" Gumam Leon penuh tanya.
"Kemari, biar aku bantu kau membawa nampan mu." Ucap Lulu, yang sudah meletakkan nampan miliknya di atas meja.
"Terima kasih."
Telapak tangan Xixi memang akan terasa sangat sakit saat mengangkat apapun. Dan dia harus merasakan itu sampai obat yang dia minum membuat darah beku yang ada di telapak tangannya menghilang.
Xixi dan Lulu duduk di kursi kantin, dan mereka menikmati makanan mereka.
"Xixi, apa tanganmu sedang sakit? Aku lihat kau memakan mie mu dengan garpu, tidak seperti biasanya." Ucap salah seorang mahasiswa yang melihat Xixi menggunakan garpu.
Xixi melihat tangan kanannya dan mengangguk "Iya, tanganku sedang kram."
"Oh begitu."
Xixi mengangguk.
Leon melihat telapak tangan Xixi yang tengah memegang garpu, ada bekas lubang berwarna merah pada telapak tangan itu.
"Itu...."
Leon mengingat saat dia mengehempaskan tangannya dan membuat Xixi terjatuh 4 hari yang lalu. Dia samar-samar melihat ada noda darah pada telapak tangan Xixi.
"Itu tidak mungkin, saat itu di sana tidak ada pecahan kaca atau batu kerikil karena tanah tertutup salju." Gumam Leon.
Lulu melihat Xixi yang menatap tangan kanannya.
"Apa darah bekunya belum hilang juga?" Tanya Xixi.
"Aku sudah meminum obat yang dokter berikan, dan dokter berkata kalau ini akan segera hilang."
"Apakah itu sakit? Ini sudah hampir satu minggu."
"Tidak terlalu, hanya kalau terkena air hangat saat aku mandi saja terasa sakit. Mungkin karena darah bekunya bereaksi saat terkena air hangat."
Braaaak
Xixi dan Lulu sangat terkejut saat mejanya tiba-tiba di gebrak oleh sebuah nampan.
"Leon, ada apa kau kesini?" Tanya Lulu pada Leon yang sudah menggebrak meja mereka.
Leon tidak menjawab pertanyaan Lulu, dia menatap Xixi dengan lekat.
__ADS_1
Xixi hanya diam, karena dia tidak ingin membuat semuanya semakin keruh.
"Katakan padaku, apa yang terjadi pada tanganmu?" Ucap Leon yang masih menatap Xixi.
"Tidak terjadi apa-apa, hanya kram." Ucap Xixi.
"Xixi, jangan berbohong padaku."
"Tuan muda Damian, apakah terjadi sesuatu dengan tangan ku ini atau tidak, itu bukan urusanmu."
"Cicilia."
"Lulu, ayo kita pergi." Ucap Xixi pada Lulu.
Lulu mengangguk.
Xixi yang tidak ingin berdebat dengan Leon terlalu lama berdiri dan berjalan pergi dari kantin. Sementara Lulu yang berjalan di belakang Xixi menatap Leon dengan kesal dan marah sebelum meninggalkan kantin itu dan menyusul Xixi.
Leon mengepalkan tangannya, dia selalu tidak bisa berkata apa-apa saat Xixi bicara jika itu bukanlah urusannya.
"S*al!" Geram Leon.
***
Siang harinya Leon yang sudah tidak mood mengikuti pelajaran, pergi menemui Joseph yang ada di kafe tidak jauh dari kampusnya.
"Ada apa, tumben sekali kau bolos?" Tanya Joseph.
"Aku hanya malas."
Oh iya, aku dengar kau mendorong Xixi beberapa hari yang lalu dan membuat tangannya terluka, karena dia tidak memberitahu mu tentang rencana balasa dendamnya pada keluarga Gabriel itu."
"Aku tidak mendorongnya, aku hanya..... Kau, kau bilang tangan Xixi terluka?"
Joseph mengangguk "Lulu bilang darah di telapak tangannya sebagian membeku karena tertusuk jarum es saat dia jatuh, dan itu membuatnya sangat sulit melakukan aktifitas seperti biasanya."
Leon diam, dia ingat jika dia melihat ada noda darah pada telapak tangan Xixi saat dia jatuh karena hempasan tangan Leon beberapa hari yang lalu. Leon juga melihat Xixi yang mengambil bukunya yang jatuh dengan tangan kiri, juga melihatnya makan mie dengan garpu hari ini.
"Leon, aku tahu kau sangat kesal pada Xixi. Tapi Xixi melakukan itu juga demi kebaikanmu, kau baru beberapa bulan mempimpin kembali perusahaan itu, dan mendapatkan kepercayaan dari banyak klien. Jadi dia tidak mau membuatmu tidak fokus pada pekerjaannya."
Leon tertegun, dia tidak mengira jika Xixi mengkhawatirkan dirinya dan perusahaan yang tengah dia pimpin.
"Dia meminta bantuanku juga karena terpaksa, lagi pula aku hanya membantu sedikit untuk menekan perusahaan milik keluarga Gabriel itu. Haahh, aku justru heran dengan sifat aroganmu yang tidak mau mendengarkan penjelasan darinya, dan malah melukainya."
Leon mengepalkan tangannya "Jadi luka yang dia rasakan saat ini adalah karena aku, yang telah menghempaskan tangannya dengan keras sampai dia terjatuh. Aku telah melukainya."
Joseph melihat perubahan wajah temannya itu, dia tahu jika Leon belum mengetahui kalau Xixi terluka karena dirinya.
"Pergi dan minta maaflah padanya, dia melakukan itu hanya karena dia tidak mau menghancurkan perusahaanmu dan ingin melindungi reputasimu di depan para klienmu." Ucap Joseph.
"Terima kasih." Ucap Leon sebelum dia pergi meninggalkan kafe itu.
Leon merasa jika dirinya adalah orang yang bodoh, karena tidak mau mendengarkan apa yang Xixi katakan. Dia malah lebih memilih menyakitinya demi menutupi emosinya yang tidak bisa dia tahan.
Dengan cepat Leon melajukan mobilnya ke rumah Xixi, meski dia tahu saat ini Xixi tidak berada di rumah karena belum pulang dari kampus.
"Bodoh, bodoh! Kau memang bodoh Leon!" Leon berkali-kali memukul setir mobil untuk melampiaskan kemarahannya.
Sampai di rumah Xixi, Leon langsung menekan bell rumah itu beberapa kali.
ceklek
Seorang pelayan rumah Xixi membukakan pintu untuk Leon.
"Tuan, anda...."
"Aku teman Xixi."
"Tapi nona muda belum pulang."
"Aku tahu, aku akan menunggunya disini."
"Baiklah, silahkan. Saya akan memberitahu nyonya terlebih dulu."
"Iya, terima kasih."
Setelah pelayan itu pergi, Leon duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tak lama kemudian nyonya William datang.
__ADS_1
"Leon." Ucap nyonya William.
"Selamat siang bibi."
"Iya, kau tidak pulang bersama dengan Xixi?"
"Tidak bibi, hari ini saya tidak mengikuti mata kuliah terakhir dan sengaja datang kesini."
"Ada apa, kalian bertengkar?"
Leon diam.
Nyonya William duduk di depan Leon "Kalian berdua masih muda, pasti ada banyak kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian berdua nanti, jadi kalian harus selalu menjaga emosi kalian dan jangan mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain."
"Iya bibi, terima kasih."
"Bibi senang kau dekat dengan Xixi, karena setelah sekian lama, akhirnya Xixi mau membuka hatinya untuk orang lain."
Leon diam, dia tahu selama ini Xixi berpura-pura menjadi wanita culun, dan tentu tidak akan ada laki-laki yang mau mendekatinya. Dia menutup hatinya begitu lama dan baru bisa membukanya.
Tapi orang yang sudah membuka hatinya justru menyakitinya berkali-kali.
Suara deru mobil terdengar, nyonya William melihat putrinya keluar dari mobil.
"Dia sudah pulang, bicaralah dengan baik-baik. Bibi tahu kalian bisa menyelesaikan masalah kalian berdua dengan kepala dingin."
"Terima kasih bibi."
Nyonya William mengangguk, lalu dia berdiri dan meninggalkan Leon sendirian di ruang tamu.
Xixi berhenti melangkah, dia melihat mobil yang dia kenal terparkir di depan rumahnya.
"Kenapa dia ada disini?" Gumam Xixi.
Dengan membawa tasnya Xixi kembali berjalan menuju rumahnya.
"Kenapa kau disini?" Tanya Xixi setelah melihat Leon duduk di ruang tamu.
Leon tidak menjawab, dia melihat telapak tangan Xixi yang terlihat lebih pucat dan bahkan agak kebiruan.
"Kenapa kau tidak berkata padaku kalau telapak...."
"Ini hanya luka kecil, tidak apa-apa. Kau tidak perlu memikirkannya."
"Cicilia, sampai kapan kau akan bersikap seperti itu padaku?"
Xixi sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan mengacuhkan, dan menghindari Leon yang tidak bersalah itu.
Leon berdiri dan berjalan mendekati Xixi.
"Sampai kapan kau akan diam dan tidak memberitahu apapun padaku?" Ucap Leon dengan nada lebih lembut.
"Ini bukan...."
Greb
Leon memeluk tubuh Xixi dengan erat "Berhenti berkata jika itu bukan urusanku, mulai saat ini semua yang berhubungan denganmu akan menjadi urusanku! Apa kau mengerti Cicilia William?"
Xixi tidak bisa berkata apa-apa, dia bahkan tidak bisa mendorong tubuh Leon yang saat ini tengah memeluknya.
"Jawab aku." Ucap Leon lagi.
Xixi menganggukan kepalanya menjawab ucapan Leon.
Leon yang merasakan gerakan kepala Xixi yang mengangguk, memeluknya lebih erat dan mencium bahunya.
"Maaf sudah membuatmu terluka."
"Ini bukan salah mu."
Leon melepaskan pelukannya lalu menatap Xixi dengan lekat.
"Aku akan menjadi tangan kananmu sebelum tanganmu ini sembuh, karena aku yang sudah membuatnya terluka."
Xixi mengangguk dan tersenyum.
Leon meraih tangan kanan Xixi dan mengecup telapak tangan yang pucat itu dengan lembut.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu Cicilia, maaf sudah membuatmu terluka." Leon mengecup kening Xixi.
Xixi tersenyum dan merasa senang karena Leon ternyata benar-benar mencintainya.