
Setelah melakukan pemotretan dengan lancar hari ini, produser mengajak semua tim makan malam di restoran keluarga.
Bukan hanya tim pemotretan saja yang ikut di acara makan malam itu, Jery pun turut ikut setelah di undang secara langsung oleh produser.
Jery duduk di samping produser dan sutradara, sementara Mimi duduk di samping model yang lainnya dan menejer Junnie.
"Tuan muda Robert, silahkan di nikmati. Maaf kami hanya bisa memesan di retoran ini." Ucap sutradara.
"Tidak apa-apa, seharusnya aku yang membawa kalian makan malam untuk berterima kasih kepada kalian, karena kalian sudah bekerja keras selama satu bulan lebih disini." Ucap Jery.
"Ini sudah menjadi pekerjaan kami, kami juga merasa senang karena telah melakukan semua dengan baik, dan sesuai dengan waktu yang anda berikan."
"Iya, itu sangat bagus."
"Mari semua, bersulang untuk kerja keras kita semua." Ucap produser seraya mengangkat gelas berisi wine.
Jery menatap Mimi yang akan mengangkat gelas wine nya, Mimi yang tahu arti tatapan itu mengedipkan satu matanya, seraya menunjuk jari telunjuknya secara diam-diam.
"Hanya sekali ini."
Dengan terpaksa Jery mengangguk, sebenarnya dia tidak masalah jika Mimi minum wine, tetapi mengingat seharian ini dia telah bekerja sangat lelah, itu akan berdampak tidak baik bagi tubuh jika Mimi meminum wine terlalu banyak.
Semua anggota tim pemotretan itu mengangkat gelas wine mereka.
ting ting ting
Suara gelas wine yang saling bersentuhan terdengar begitu nyaring. Mereka lalu meminum wine yang ada di gelas mereka masing-masing.
"Ayo, nikmati malam hari ini. Karena besok kita akan kembali." Ucap produser lagi.
"Baik, terima kasih." Ucap beberapa model dan tim.
Semua yang ikut makan malam itu menikmati hidangan yang ada di atas meja yang cukup besar itu.
Mimi mengambil beberapa makanan, lalu menikmatinya dengan perlahan. Begitu juga dengan yang lainnya.
Mereka semua menikmati makanan itu dengan ramai, penuh canda tawa dan rasa saling berterima kasih.
"Nona Michael, bisa saya berbicara dengan anda sebentar?" Ucap salah satu model laki-laki bernama Sean.
"Silahkan, aku tidak keberatan."
"Kalau begitu, bisa kita berpindah tempat?"
Mimi menatap menejernya sejenak, lalu mengangguk pada Sean.
"Terima kasih." Ucap Sean.
Sean berdiri dan di susul oleh Mimi.
"Kalian berdua mau kemana?" Tanya sutradara.
"Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan." Ucap Sean.
"Kalian dua anak muda, pergilah jangan lama-lama."
"Baik, terima kasih."
Mimi menatap Jery, yang sedang menatapnya dengan tajam.
Sean berjalan meninggalkan orang-orang yang menikmati makan malam itu, dan tidak jauh darinya Mimi berjalan di belakang sambil memainkan ponselnya, seperti sedang mengirim pesan pada seseorang.
"Tuan Sean, sepertinya disini tidak begitu berisik. Kau bisa mengatakan sekarang." Ucap Mimi yang menghentikan langkah kakinya.
Sean berhenti dan berbalik, dia menatap kedua mata Mimi dengan lekat.
"Baik jika begitu." Ucap Sean.
"Jadi, apa yang tuan Sean ingin katakan pada k?"
"Nona Michael, sebenarnya.... sebenarnya saya sudah lama mengagumi anda, dan juga menyukai anda."
Mimi tersenyum "Terima kasih karena tuan Sean ternyata mengagumi ku." Ucap Mimi.
"Tapi.... Bukan rasa kagum dan suka yang nona Michael pikirkan."
"Jadi?"
"Saya..... saya menyukai nona Michael, suka sebagai....."
__ADS_1
"Maaf tuan Sean, aku sudah mempunyai kekasih."
Sean terkejut mendengar itu, karena selama ini dia secara diam-diam mencari tahu tentang Mimi, dan dia tidak tahu jika Mimi memiliki kekasih.
"Nona Michael, anda tidak sedang berbohong pada saya bukan?" Tanya Sean.
"Tentu saja tidak, dan saat ini mungkin kekasih ku tengah menahan rasa kesalnya, karena aku pergi dengan anda."
Sean tertegun "Jadi maksud anda, kekasih anda....."
"Iya, kekasih ku kebetulan ada di restoran ini. Dan dia tadi melihat ku berjalan kesini dengan anda."
Sean menatap Mimi dengan tidak percaya "Jadi, dia memang telah mempunyai kekasih. Dan dia sengaja merahasiakannya dari semua orang?"
Mimi tersenyum melihat reaksi Sean.
"Lebih baik tuan Sean mencari wanita lain, ada banyak wanita yang lebih baik dari ku. Dan pastinya masih sendiri." Ucap Mimi.
"Terima kasih nona Michael."
Mimi mengangguk "Jika begitu, aku harus segera masuk ke dalam. Sebelum kekasih ku semakin merasa tidak nyaman."
"Ah, iya. Maaf sudah mengganggu nona Michael."
"Tidak apa-apa."
Mimi berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Sean yang sedang kecewa, karena wanita yang dia sukai ternyata sudah memiliki kekasih.
"Kau sudah kembali." Ucap menejer Junnie pada Mimi.
"Iya."
Mimi duduk kembali di kursinya dan melihat ke arah Jery yang tengah meneguk wine nya.
"Sepertinya tuan muda Robert sedang tidak baik karena tadi aku keluar dengan tuan Sean. Haahh, dasar raja cemburu. Sama seperti Leon pada Xixi."
Setelah acara makan malam itu selesai, semua orang pun kembali ke rumah mereka masing, begitu juga dengan Mimi yang akan kembali ke apartemen di antar oleh menejer Junnie.
"Sepertinya tuan Jery mu sedang marah, dia meneguk wine cukup banyak malam ini." Ucap menejer Junnie saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mungkin, dia ini seperti Leon. Rasa cemburu mereka benar-benar membuat pusing."
"Hahaha, kalian kakak beradik mempunyai kesamaan dalam hal percintaan."
Tiiit tiiiiit
Suara klakson mobil terdengar cukup keras dari arah belakang.
Menejer Junnie melihat ke arah spion mobilnya untuk melihat siapa yang ada di belakang mobil mereka.
"Itu mobil direktur kita." Ucap menejer Junnie.
"Maksud kak Junnie, itu mobil tuan Jery?"
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Aku akan menepi sekarang."
Mimi mengangguk, menejer Junnie lalu menepikan mobilnya ke samping. Dan mobil di belakang pun ikut menepi juga berhenti.
"Sepertinya aku akan pulang ke apartemen dari sini dengan tuan direktur." Ucap Mimi.
"Baiklah, kau hati-hati. Semoga dia tidak menerkam mu."
"Kak Junnie."
"Hahaha, sudah keluarlah. Sebelum dia semakin marah."
"Iya, kak Junnie hati-hati."
"Aku tahu."
Mimi lalu turun dari mobil menejernya dan berjalan ke mobil Jery yang ada di belakang.
Benar kata menejer Junnie, Jery cukup banyak minum malam ini. Sehingga dia meminta supir bayaran untuk membawa mobilnya.
Mimi mengetuk jendela mobil Jery.
Pintu mobil terbuka "Masuklah." Ucap Jery yang ada di dalam mobil.
Mimi lalu masuk ke dalam mobil dan melihat Jery duduk dengan menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Mobil perlahan melaju.
"Jery, apa kau banyak minum?" Tanya Mimi.
Jery diam, seperti tidak berniat menjawab apapun yang Mimi katakan.
"Jery." Ucap Mimi lagi.
"Tekan tombol merah itu." Ucap Jery pada supir di depan.
"Baik tuan."
Supir itu lalu menekan tombol merah yang Jery katakan, dan seketika penutup antara kursi di bagian depan dan belakang turun.
Mimi yang melihat itu menatap Jery penuh tanya.
"Jery kenapa kau.... Aaaakh!"
Jery menarik tangan Mimi untuk mendekat padanya.
"Mimi, kau tahu apa yang sudah kau lakukan malam ini, sayang?"
Mimi menelan ludahnya sendiri saat melihat sorot mata Jery yang seperti elang menerkam mangsanya.
"Je.... Jery, aku...."
Jery yang tidak ingin mendengar apapun lagi dari Mimi, menarik tengkuk Mimi dan mencium bibir merah yang sejak tadi menggodanya itu.
Ciuman Jery begitu lembut, meski dia tengah marah pada Mimi. Mimi yang awalnya diam, perlahan membalas ciuman Jery.
Mereka saling berpagutan dan saling m*lum4t, hingga akhirnya Jery melepaskan ciuman mereka, karena merasa nafas Mimi sedikit tersenggal.
"Hahhh, hahh."
Jery menatap wajah Mimi yang memerah, dia lalu memeluknya.
"Aku mencintaimu Mimi, kau hanyalah milik ku." Ucap Jery.
Mimi yang terkejut karena tiba-tiba di peluk oleh Jery, menyadari jika Jery begitu takut dia bersama dengan laki-laki lain.
"Iya, aku milikmu. Dan hanya untuk mu." Ucap Mimi seraya membalas pelukan Jery.
Jery mengangguk.
"Aku ingin segera menikahimu. Dan memberitahu semua orang jika kau adalah milikku."
Mimi melepaskan pelukan mereka.
"Benarkah?"
Jery mengangguk "Iya, aku tidak mau ada laki-laki lain mendekati mu."
"Tapi sepertinya kau harus menunggu."
"Kenapa aku harus menunggu, dan berapa lama?"
"Apa kau tidak tahu jika sekarang Leon sudah kembali menjadi direktur di perusahaannya?"
"Tidak."
"Hmm, sudah ku duga. Xixi juga belum mengetahuinya. Dan sepertinya Leon melakukan ini untuk Xixi."
"Lalu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Ayah menghubungi ku, dan memberitahu hal itu padaku. Ayah mengira jika Xixi sudah mengetahuinya, tapi ternyata dia belum tahu, sama seperti mu."
"Leon melakukan itu, pasti karena dia begitu mencintai Xixi."
"Iya, jadi biarkan mereka lebih dulu. Mereka juga sudah banyak membantu kita."
"Baiklah, tapi dengan syarat kau tidak boleh bersama dengan laki-laki lain seperti tadi."
"Hahahaha, baiklah tuan direktur."
Jery kembali menarik tengkuk Mimi, dan mereka kembali berciuman di dalam mobil.
Supir : Tolong selamatkan aku yang jomblo ini 😭
...----------------...
__ADS_1
“Jangan lupa untuk terus dukung karya Xia Lin ya.
Dan jangan lupa follow Xia Lin untuk mendapatkan notifikasi karya terbaru yang Xia Lin buat 🤗🤗.”