The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 111


__ADS_3

Dua hari kemudian Xixi sedang berada di sebuah supermarket, dia ingin membeli beberapa cemilan dan buah.


Xixi pergi sendirian, karena dia berpikir hanya pergi ke supermarket dan itu juga sebentar.


Selesai membeli semua dan membayarnya, Xixi berjalan menuju mobil yang dia parkirkan di depan supermarket itu.


"Oh, jadi kau wanita yang menjadi ancaman nona Andrea kami." Ucap seorang laki-laki pada Xixi.


Xixi melihat beberapa orang laki-laki berjalan mendekatinya.


"Apa kau berbicara denganku?" Tanya Xixi pada laki-laki yang berbicara tadi.


"Tentu saja aku berbicara denganmu, apa kau pikir di sini ada orang lain yang aku ajak bicara selain dirimu?"


Xixi melihat sekeliling dan memang tidam ada orang lain lagi selain dirinya.


"Maaf, aku pikir kau sedang berbicara dengan teman-teman mu yang ada di belakang mu itu." Ucap Xixi.


"S*alan! Beraninya kau. Ayo maju, dan bawa wanita itu."


"Baik bos!"


Xixi melihat 4 orang laki-laki bertubuh lumayan besar berjalan bersamaan mendekatinya, senyum sinis tersungging di bibir Xixi.


"Sudah berapa lama aku tidak menggerakan tubuhku ini, akhirnya bisa sedikit berolahraga hari ini." Ucap Xixi sambil mnatap tajam ke arah 4 laki-laki itu.


Xixi berjalan maju beberapa langkah, dia terlihat tidak takut sama sekali meski saat ini dirinya telah di kelilingi oleh 4 orang laki-laki.


Kraak


Kraak


Kraak


Xixi mencoba melemaskan jari-jari tangan dan lehernya, sebelum dia bersiap untuk berolahraga dengan orang-orang yang ada di depannya itu.


"Kemarilah, aku ingin lihat berapa lama aku akan berolahraga kali ini." Ucap Xixi.


"S*al! Berani sekali kau!" Seru salah satu laki-laki yang ada di depan Xixi.


Dua orang berlari ke arah Xixi dan bersiap untuk memukulnya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Adu pukul dan tendang antara Xixi dan ke 4 laki-laki itu di depan supermarket tidak bisa terelakan lagi. Bahkan orang-orang yang melihat perkelahian itu tidak berani membantu Xixi dan hanya bisa mepihatnya dari jauh.


Kraaak!


"Aaaaaaaaaaaaaakh!" Teriakan yang cukup keras keluar dari mulut seorang laki-laki yang tangan kirinya telah Xixi patahkan.


Xixi melemparkan laki-laki itu pada ketiga temannya.


"Apakah hanya seperti itu saja?" Ucap Xixi dengan dingin.


Aura membunuh yang Xixi keluarkan membuat para laki-laki itu ketakutan, terlebih melihat salah satu tangan temannya di patahkan dengan mudah, oleh satu tangan wanita bertubuh kecil di depan mereka.


"Ma.... Maaflan kami nona, kami... Kami hanya di perintah oleh seseorang untuk membuat kaki nona cacat." Ucap salah seorang dari 4 laki-laki itu.


Xixi menatap mereka dengan tajam "Katakan pada nona manja kalian, jika sekali lagi dia membuat ku marah. Maka aku sendiri yang akan melemparkan dia ke mulut buaya yang lapar."


"Baik, baik. Kami... Kami akan mengatakan padanya."

__ADS_1


Xixi yang sudah tidak ingin memukul mereka berbalik, dia mengambil kantong plastik berisi belanjaannya the ang dia letakan di atas tanah, lalu masuk ke dalam mobilnya dan melesat dengan cepat dari tempat itu.


"S*al! Wanita itu sangat kuat sekali, padahal tubuh dia begitu kecil. Kita tidak boleh lagi berurusan dengan wanita berbahaya seperti dia lagi." Ucap laki-laki yang tangannya di patahkan oleh Xixi.


Di dalam mobil, Xixi mengambil tisu yang ada di dalam mobilnya lalu menempelkannya beberapa kali pada sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan salah satu laki-laki tadi.


"Semoga saja saat aku kembali ibu sedang ada di dalam kamar. Jika sampai ibu tahu luka ini, pasti akan sangat marah." Gumam Xixi.


Meskipun sudah lebih dari 3 bulan Xixi tidak pernah lagi berkelahi dengan seseorang, tetapi tetap saja nyonya William yang sebagai ibu dari Xixi akan merasa sangat khawatir, saat melihat Xixi mendapatkan luka seperti dulu saat Xixi masih sering berkelahi.


Xixi menghentikan laju mobilnya saat dia sudah sampai di depan rumah, sambil membawa kantong plastik di tangannya, Xixi turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan cepat sambil terus berdoa agar dia tidak bertemu dengan ibunya.


Dengan cepat Xixi berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya.


"Huuft, untung saja ibu tidak ada di bawah." Ucao Xixi saat dia sudah berada di dalam kamarnya.


Xixi berjalan dan meletakan kantong plastik yang sejak tadi dia bawa di atas meja.


Dengan tubuh yang terasa cukup lelah, Xixi berbaring di atas ranjangnya.


"Padahal hanya sebentar, tapi tubuhku terasa sangat pegal dan kaku." Ucap Xixi.


Xixi beranjak dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, sebelum dia akan mengoleskan obat pada luka-luka yang dia dapatkan dari perkelahian tadi.


...----------------...


Di rumah keluarga besar ibu Leon, tuan Damian tengah berdiri dengan sombongnya. Dia datang ke rumah keluarga Rose itu karena dia tidak mau bercerai, sebab dia tahu setelah mereka bercerai maka rumah yang selama ini dia tinggali akan di ambil kembali oleh keluarga Rose itu, begitu juga dengan semua kekayaan yang dia miliki sekarang.


"Rose, dengar! Aku tidak akan pernah menandatangani surat peceraian itu! Kau harus kembali ke rumah denganku sekarang." Teriak tuan Damian di depan rumah yang cukup besar itu.


Walaupun tuan Damian sudah berteriak sangat keras, namun tidak seorang pun yang datang untuk bertemu dengannya.


Melihat tidak ada yang keluar dari rumah itu, kedua tangan tuan Damian mengepal.


"S*alan! Beraninya mereka melakukan ini padaku. Lihat saja, kalau aku sudah membawa anak perempuan mereka, aku akan menyiksanya di dalam kamar sampai dia tidak akan pernah bisa keluar dari rumah itu lagi."


" Rose! Keluar kamu, kau harus ikut denganku pulang, aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu, kau tahu itu Rose!"


Kakek Leon yang tidak tahan mendengar teriakan tuan Damian, meminta dua penjaganya keluar untuk membuat Damian tidak sadarakan diri.


"Dia pikir, jika dia tidak mau bercerai maka tidak akan bercerai? Omong kosong!" Ucap kakek Leon dengan kesal.


Setelah beberapa saat dua penjaga itu keluar, tidak lagi terdengar suara teriakan dari tuan Damian.


"Rose, bawa surat peceraian kalian kesini. Kita akan menggunakan cap jempol Damian untuk mengisi tanda tangannya." Ucap kakek Leon pada anaknya.


"Baik ayah."


Ibu Leon berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil surat cerainya.


Bruuk


Dua penjaga itu melemparkan tubuh tuan Damian yang sudah tak sadarkan diri di atas lantai.


Leon yang melihat tubuh ayahnya di atas lantai hanya diam saja, dia sudah tidak peduli dengan laki-laki paruh baya di depannya itu. Karena sudah banyak rasa sakit yang tuan Damian lakukan pada dia dan ibunya dulu.


"Ayah, ini surat peceraiannya." Ucap ibu Leon seraya memberikan sebuah map pada kakek Leon.


Kakek Leon membuka map itu lalu mengambil dua lembar kertas yang ada di dalamnya.


"Kalian, pegang jempolnya." Ucap kakek Leon.


Salah satu penjaga memegangi jempol tangan tuan Damian, lalu menempelkan jempol itu pada sebuah kotak berwarna merah, dan menekan jempol itu di atas dua kertas yang ada di atas meja.


"Periksa pakaiannya, dan cari stempel miliknya." Ucap kakek Leon.

__ADS_1


Salah satu penjaga lalu mencari stempel milik tuan Damian di dalam pakaian yang dia kenakan.


"Ini tuan." Ucap penjaga rumah itu sambil memberikan stempel milik tuan Damian pada kakek Leon.


"Bagus, untung saja dia selalu membawa stempelnya kemanapun dia pergi."


Tanpa membuang waktu, kakek Leon membuka penutup stempel itu lalu menempelkan cap stempel itu di atas dua lembar kertas yang ada di atas meja.


"Baik, sekarang kalian tinggal memberikan surat ini ke pengacara Josh." Ucap kakek Leon pada anaknya.


"Baik ayah."


"Kalian, bawa laki-laki ini ke rumahnya."


" Baik tuan."


Setelah memasukan stempel tuan Damian ke dalam saku celananya lagi, kedua penjaga itu membawa tubuh tuan Damian keluar dari rumah dan akan mereka antarkan ke rumah tuan Damian.


"Ayo Ma, Leon akan mengantarkan Mama ke kantor pengacara, agar dia bisa melakukannya dengan cepat." Ucap Leon pada ibunya.


Ibu Leon mengangguk "Iya, lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum Damian menyadari jika kita telah mencuri dan memakai stempelnya."


Leon dan ibunya bergegas keluar dari rumah itu untuk pergi ke kantor pengacara keluarga besar Leon.


"Setelah setelah ini Damian tidak akan bisa lagi melakukan sesuatu seperti keinginannya." Ucap Ibu Leon.


"Ibu tenang saja, aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menyakiti kita lagi."


Leon membukakan pintu mobil untuk ibunya, dan setelah ibunya masuk ke dalam mobil, Leon pun masuk lewat pintu mobil yang lain.


Dengan cepat Leon melajukan mobilnya yang menuju kantor pengacara keluarganya.


Saat ini berita tentang perceraian tuan Damian dan istrinya belum ada yang mengetahui, kecuali nyonya William dan keluarganya yang merupakan teman baik dari ibu Leon.


Keluarga Leon sengaja tidak memberitahu tentang kabar ini pada semua orang, karena setelah semuanya selesai dan ibu Leon resmi bercerai dengan tuan Damian, mereka akan mengadakan konfrensi pers.


Setelah perceraian itu terjadi, secara otomatis tuan Damian tidak akan memiliki apa-apa lagi, karena semua kekayaan yang tuan Damian miliki dari keluarga besar ibu Leon, dan tentu saja mereka akan mengambil kembali semuanya.


Setelah sampai di depan kantor pengacara, Leon dan ibunya turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam kantor pengacara itu.


"Selamat siang nyonya Rose dan tuan Leon." Ucap pengacara keluarga Leon yang bernama Josh.


"Selamat siang tuan Josh. " Ucap Ibu Leon


"Jadi apakah Nyonya sudah mendapatkan tanda tangan dari tuan Damian?"


"Benar, aku telah mendapatkan tanda tangan dan Stempel dari tuan Damian."


Ibu Leon lalu menyerahkan sebuah map pada pengacaranya itu.


Pengacara Josh membuka map itu dan melihat dua kertas yang ada di dalamnya dengan serius.


"Baik, kita sudah mendapatkan stempel dari tuan Damian , saya akan langsung mengurusnya agar semuanya cepat selesai."


"Berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses perceraian ini paman Josh? " Tanya Leon.


" Jika semua persyaratan telah terpenuhi, kemungkinan waktu tercepat adalah satu minggu."


Leon mengangguk "Aku berharap semuanya berjalan dengan lancar."


"Benar aku juga berharap hal seperti itu."


" Baik, semua berkas yang diperlukan sudah aku berikan, aku harus segera kembali ke rumah." ucap Ibu Leon


"Baiklah, kalau begitu kita akan bertemu besok lusa di pengadilan."

__ADS_1


"Aku mengerti."


Setelah semuanya selesai ayo dan ibunya keluar dari kantor pengacara itu mereka akan kembali ke rumah besar keluarga Leon.


__ADS_2