
Sudah dua hari setelah Jery menemui dokter pribadinya, dia tidak datang ke perusahaan. Dan hanya asisten probadi Jery yamh datang untuk mewakilinya ke perusahaan.
Dan dua hari iru higa Jery mengabaikan Mimi, beberapa pesan Mimi tidak di balas dan saat Mimi menghubunginya, Jery juga tidak mengangkatnya.
Mimi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jery sehingga tidak ada kabar sama sekali selama dua hari dari dia.
"Jeru ini kenapa? Dia tidak membalas pesan dan tidak mau mengangkat telgon dariku." Gumam Mimi.
Mimi berkali-kali menatap layar ponselnya, untuk melihat apakah Jery membalas pesannya atai menghubunginya tidak.
"Aakh, terserahlah!" Mimi melempar ponselnya di atas ranjang dan pergi keluar kamar.
Di ruang makan Xixi melihat kakaknya keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tv dengan raut wajah yang tidak baik, gelas yang ada di tangan Xixi letakan di atas meja makan. Dia lalu memghampiri kakaknya di ruang tv.
"Kenapa kak? seperti lagi kesal." Ucap Xixi yang duduk di samping Mimi.
"Jery, sudah dua hari dia tidak menghubungiku. Pesanku juga tidak dia balas."
"Kakak sudah menghubunginya?"
"Sudah, tapi tidak di angkat."
"Kalian sedang bertengkar?"
"Mana mungkin. Aku saja tidak tahu alasan dia tidak ada kabar. Dia seperti ingin menghilang dariku."
Xixi diam, dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Jery bersikap seperti itu pada kakaknya, karena setahu dia juga kakaknya dan Jery tidak memiliki masalah apapun.
"Aku akan tanyakan hal ini sama Leon, barang kali saja dia tahu ada apa dengan kak Jery."
Mimi mengangguk "Iya."
Xixi menatap kakaknya yang terlihat sexikit murung, Jery merupakan pacar pertama Mimi. Jadi tentu saja Mimi akan terlihat seperti itu saat ini.
"Sepertinya kak Jery menyembunyikan sesuatu dari kak Mimi."
Sisi berdiri dan berjalan menuju kamarnya dia akan menghubungi Leon untuk menanyakan tentang Jerry yang selama dua hari ini tidak ada kabar sama sekali.
...----------------...
Sementara itu di dalam kamar apartemennya Jerry Tengah duduk sambil menatap sebuah foto seorang wanita yang diketahui bahwa wanita itu adalah Cinta Pertama Jery.
Jerry menatap foto itu dengan sendu dia masih sangat ingat bagaimana ketika wanita itu meninggal tepat di depan matanya dan yang paling membuat ceri tidak bisa melupakannya adalah dia tidak bisa berbuat apa-apa saat wanita yang pernah dia cintai meninggal.
tidak pernah merelakanku untuk bersama dengan wanita lain sehingga kau selalu saja hadir dalam mimpiku setiap aku dekat dengan sworw wanita." gumam Jery yang masih menatap foto wanita itu dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
tok tok tok
"Tuan muda, makan siang sudah siap. Anda belum makn sejak pagi, mohon keluar dan makanlah, tuan muda." Ucap asisten pribadinya dari luar kamar Jery.
Ya, sejak kembalinya Jery dari tempat dokter pribadinya, dia selalu berdiam diri di dalam kamar. Dia bahkan tidak mempunyai nafsu makan sama sekali.
Yang Jery lakukn hanya berbaring sambil terus menatap foto seorang wanita cantik mengenakan gaun berwarna biru muda kesukaannya.
__ADS_1
Flashback on
"Jery, apa kau tahu warna yang aku suka?" Tanya wanita itu pada Jery.
"Biru muda?"
"Wah, bagaimana kau bisa tahu itu?"
"Tentu saja aku tahu, aku bahkan tahu semua makanan, minuman, pakaian dan sepatu yang kau sukai, dan yang kau tidak suka."
"Kau seperti seorang peramal yang serba tahu."
"Hahaha, iya aku adalah seorang peramal. Dan aku meramalkan kau akan bersama dengan ku selamanya."
Jery dan wanita itu lalu tertawa bersama.
Flashback of
Pakaian yang di pakai oleh wanita yanv berada di dalam foto adalah gaun hadiah ulang tahun dari Jery, dan itu merupakan ulang tahun terakhir yang dia rasakan, sebelum sebuah tragedi terjadi di malam berikutnya.
"Kau seharusnya tidak mendengarkan apa yang mereka katakan." Gumam Jery.
Air mata Jery menetes, mengingat semua kejadian yang telah berlalu beberapa tahun itu.
tok tok tok
"Tuan muda, tuan Leon datang. Dia berkata ingin bertemu dengan tuan muda."Ucap asisten pribadinya.
tok tok tok
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kak Jery? Beberapa hari yang lalu dia baik-baik saja." Ucap Leon pada asisten pribadi Jery.
"Saya kurang tahu, tetapi dua hari yang lalu saya melihat tuan muda keluar dengan terburu-buru, dan saat kembali dia seperti seseorang yang sangat tertekan."
Leon menatap pintu kamar Jery yang ada di lantai atas.
"Apakah dia bermimpi buruk?" Tanya Leon.
Asisten pribadi Jery menggelengkan kepalanya "Saya tidak tahu, karena sehari sebelum hari itu saya cuti, dan saat saya akan masuk ke apartemen untuk bekerja lagi, saya melihat tuan muda keluar dengan tergesa-gesa."
"Baik aku mengerti, aku akan ke kamarnya sekarang."
"Baik."
Leon berjalan dan menaiki tangga, dia berhenti melangkah tepat di depan pintu kamar Jery.
Tangan Leon terangkat, tapi dia tidak langsung mengetuk pintu kamar itu. Karena dari dalam kamar itu, Leon mendengar suara orang sedang menangis.
"Itu.... suara kak Jery. Kak Jery menangis?" Gumam Leon.
Selama ini Leon tidak pernah melihat Jery menangis oleh apapun, kecuali...
"Jangan bilang kalau kak Jery bermimpi buruk lagi tentang dia?" Ucap Leon.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Leon mengetuk pintu kamar Jery berkali-kali.
"Kak, ini aku. Buka pintunya kak. Kak Jery." Ucap Leon yang berada di luar kamar Jery.
Jery yang masih menatap foto yang ada di tangannya tidak peduli dengan ketukan pintu kamarnya dan teriakan Leon di luar kamar.
"Kenapa dia tidak membukakan pintunya juga?" Ucap Leon dengan khawatir.
Leon adalah salah satu teman dekat Jery, yang tahu sedikit banyak tentang masa lalu Jery beberapa tahun yang lalu. Jadi saat Jery seperti ini, Leon tentu merasa khawatir pada Jery.
"Apa aku harus menemui dokter Cleo, ya?"
ceklek
Saat Leon akan pergi, tiba-tiba pintu kamar Jery terbuka. Leon melihat Jery di balik pintu kamar dengan mata sembab dan wajah kusut.
"Kak Jery." Ucap Leon.
Jery berjalan masuk ke dalam kamar, membiarkan pintu itu terbuka agar Leon bisa ikut masuk ke dalam kamarnya.
Leon membuka lebar pintu itu dan masuk ke dalam kamar Jery.
Di atas tempat tidur jery, Leon melihat bingkai foto dengan seorang foto wanita di dalamnya. Dan Leon yakin itu adalah foto wanita cinta pertama Jery yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, tepat di depan kedua mata Jery.
"Kak, kau baik-baik saja?" Tanya Leon yang melihat Jery duduk di sofa dengan wajah menunduk.
Jery diam, dia tidak tahu harus bagaimana.
"Kak?"
"...... Dia... Dia datang lagi dalam mimpiku, Leon."
Leon diam, dia lalu duduk di samping Jery.
"Kak, aku sudah pernah mengatakan pada kak Jery, kalau kak Jery harus memberitahu tentang masa lalu kak Jery dengan dia (Cinta pertama Jery) pada kak Mimi."
"Tapi Leon, aku takut Mimi akan....."
"Tidak akan kak, kau belum mencobanya. Kau tidak memberitahu kak Mimi, sehingga dia muncul lagi dalam mimpimu. Dan setelah itu kau hilang tanpa kabar. Kak Jery, kak Mimi sangat mengkhawatirkan kakak."
Jery menatap Leon saat tahu jika Mimi khawatir padanya.
"Dia....."
"Benar kak, aku datang kesini juga karena kak Mimi. Dia tidak tahu harus bagaimana, karena kak Jery tidak membalas pesan kak Mimi, juga tidak mengangkat telfon darinya."
Jery diam, dia memang sengaja melakukan itu karena dia terlalu takut untuk mendengar suara Mimi.
Leon menepuk bahu Jery "Percayalah padaku, kak. Kak Mimi adalah wanita yang baik, dia akan mengerti dan menerima masa lalu kak Jery. Apalagi semua yang terjadi bukanlah salah kak Jery."
Jery diam, dan detik berikutnya dia mengangguk.
Leon yang melihat itu ikut mengangguk dan tersenyum. Dia sebagai teman dekat Jery, tentu tidak ingin melihat temannya itu terus terpuruk dalam bayangan masa lalu.
__ADS_1