The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 104


__ADS_3

Di kota A, Leon dan beberapa temannya masih sibuk menghiasi vila milik Xixi. Selain menghias vila itu, Leon juga mengecat sebagian vila agar terlihat lebih cantik dan hidup


Leon menargetkan semuanya selesai besok lusa, karena dia khawatir tuan dan nyonya William tidak bisa menahan Xixi terlalu lama di kota. Sebab Xixi yang memimpin perusahaan disini, pasti tidak akan bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama.


Tit tit


Suara klakson mobil berbunyi, Leon yang mendengar itu segera berjalan ke depan vila.


"Kak Jery." Ucap Leon yang melihat mobil Jery berada di depan vila.


Jery turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Leon yang berdiri di depan pintu vila.


"Wah, sepertinya vila ini benar-benar akan menjadi saksi cinta kalian berdua." Ucap Jery.


"Iya kak, tapi... Aku masih sedikit takut."


"Kenapa, apa kau dan Xixi bertengkar?"


"Tidak, aku bahkan belum menghubunginya."


"Kenapa kau tidak menghubunginya? Kau ini."


"Itulah kak, aku takut akan membocorkan rencana ini padanya, jika aku menghubunginya dan tiba-tiba dia bertanya ini dan itu padaku. Kau tahu aku tidak bisa merahasiakan apa-apa lagi dari Xixi. Dia terlalu pintar untuk menebak apa yang aku pikirkan."


Jery tertawa mendengar ucapan Leon, saat ini dia benar-benar seperti sedang berdiri di depan seorang laki-laki yang sangat takut pada calon istrinya sendiri.


"Jangan menertawakannku, kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, kak."


Jery menepuk bahu Leon lalu membawanya masuk ke dalam vila.


"Aku tahu bagaimana perasaan mu, itu sama seperti saat aku akan mengatakan perasaanku pada Mimi."


"Aku takut Xixi tidak akan menyukainya, dan malah akan membenciku setelah aku melakukan ini semua."


"Itu tidak akan, percayalah padaku. Kalian berdua itu sudah sangat saling mencintai satu sama lain. Hanya saja kalian tidak tahu harus memperlihatkan rasa cinta kalian itu seperti apa."


Leon terdiam, dia lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu vila.


"Aku tahu dia sangat mencintaiku, tetapi...."


"Berhenti berfikir yang tidak-tidak. Aku kesini karena Mimi memintaku untuk membantumu dan menyemangatimu secara langsung. Mimi bilang, jika kemarin dia hampir saja mengatakan semuanya pada Xixi, karena Xixi terus bertanya padanya."


"Xixi memang wanita yang sensitif. Dia begitu jeli."


"Iya kau benar, jadi kau harus segera menyelesaikan semuanya disini. Aku juga akan ke perusahaan Xixi besok, untuk bertemu dengan sekertaris Xixi.


"Kau ingin bertemu dengan sekertaris Xixi?"


"Iya, kita membutuhkan bantuannya untuk mengosongkan semua jadwal Xixi di hari yang sudah kau tentukan. Dan kita juga memerlukan bantuannya untuk membawa Xixi segera kambali ke kota A ini, tanpa rasa curiga."


Leon mengangguk, dia melupakan hal itu. Karena dia terlalu fokus pada vila Xixi.


"Baiklah, sekarang aku akan membantumu disini lebih dulu." Ucap Jery seraya berdiri.


Jery dan Leon berjalan ke ruangan yang belum selesai di hias oleh Leon.


"Kau melakukan semuanya dengan bagus, dan begitu detail." Ucap Jery saat melihat hasil kerja Leon yang sudah 80% itu.


"Tentu saja, aku ingim memperlihatkan pada Xixi jika aku bersungguh-sungguh dengannya."


"Aku yakin Xixi pasti akan senang, karena kekasih yang dia cintai memperlakukannya denga sangat istimewa."


"Iya, aku juga berharap dia akan senang."


Jery mengangguk.


Mereka lalu mulai menghias lagi bagian vila yang belum selesai di hias itu.


...----------------...

__ADS_1


Di rumah keluarga William, Xixi tengah duduk bersama dengan Mimi dan kedua orang tuanya di ruang keluarga.


Hari ini tuan William memutuskan untuk tidak ke perusahaan, karena dia tidak ingin Xixi curiga dan kembali bertanya pada Mimi atau nyonya William, alasan kenapa dia meminta Xixi untuk pulang secara tiba-tiba.


"Ayah, ayah benar tidak ke perusahaan hari ini?" Tanya Xixi pada tuan William.


"Iya, hari ini ayah akan di rumah seharian untuk menemani kalian."


"Bukankah ayah berkata kalau ayah sedang menangani dua klien?"


"Hanya di tinggal ayah 1 hari, tidak akan terjadi apa-apa. Sekertaris ayah akan menangani semuanya."


"Xixi tahu kalau sekertaris ayah akan mengirimkan semua pekerjaan ayah ke email ayah, dan ayah akan mengerjakannya di rumah."


Tuan William tidak bisa berkata lagi, karena setelah Xixi memimpin salah satu cabang perusahaan di kota A, Xixi menjadi semaikin pintar dalam hal bisnis.


Bahkan saat pekerjaan tidak bisa di kerjakan di perusahaan, itu akan di kerjakan di rumah.


"Itu sudah menjadi tugas seorang direktur untuk melihat kinerja para karyawannya, dan juga hasil pekerjaan mereka di perusahaan. Jadi kalau tidak bisa di kerjakan di perusahaan, maka di kerjakan di rumah."


"Iya Xixi tahu itu dengan jelas, karena Xixi juga sering melakukan itu."


Tuan William mengangguk "Lalu bagaimana hasil kesepakatan antara perusahaan yang kamu pimpin dengan dua perusahaan dari luar negeri itu?"


"Sekertaris Ana belum memberitahu, kemarin dia hanya berkata jika mereka akan memberi jawabannya hari ini."


"Baiklah, kita tunggu saja kabar dari sekertaris Ana."


"Iya."


"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya, 3 bulan lagi kau akan kembali kuliah."


"Tentu saja melanjutkannya ayah, tetapi kali ini aku akan memakai nama perusahaan ayah untuk lebih meningkatkan sumber daya.


"Jadi apa setelah perusahaan itu kembali memakai nama perusahaan ayah, ayah hadus ke kota A untuk mengurus semuanya?"


Tuan William mengangguk, dia sangat mengerti apa yang di katakan oleh putri bungsunya itu.


"Baiklah kalau memang kau bisa melakukannya. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu beritahu ayah, dan jangan bertindak gegabah. Agar tidak melakukan hal yang ceroboh dan mengakibatkan saham perusahaan turun."


"Ayah tenang saja, Xixi sudah merencakan semuanya dengan sangat baik."


"Baguslah kalau begitu."


Mimi dan nyonya William yang tidak mengerti tentang bisnis hanya diam sambil memperhatikan Xixi dan tuan William berbicara.


****


Sore harinya Mimi datang ke kamar Xixi, karena Xixi berkata jika dia ingin berbicara sesuatu dengan kakaknya itu.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan pada kakak?" Tanya Mimi saat mereka duduk di atas ranjang Xixi.


"Waktu aku akan pulang ke rumah, aku bertemu kak Joseph dengan seorang wanita di salah satu kafe di kota A." Ucap Xixi.


"Lalu, apa dia masih mengenalimu?"


"Tentu saja dia masih mengenali ku, aku menyapa kak Joseph dan wanita itu. Tapi wanita itu terlihat tidak menyukai ku. Dia bahkan berkata jika saat aku bertemu lagi dengan kak Joseph, aku harus berpura-pura tidak mengenalnya, dia juga berkata kalau dia adalah calon istri kak Joseph."


"Benar-benar wanita yanh tidak sopan sekali."


"Kau benar kak."


"Setelah putus dengan kekasihnya yang pertama, dia selalu memilih wanita yang salah."


"Atau mungkin saja itu dia lakukan dengan sengaja?"


"Apa maksud mu dengan sengaja?"


"Dia sudah di kecewakan oleh kekasihnya dulu, jadi dia mencari beberapa wanita hanya untuk menghibur dirinya saja."

__ADS_1


"Tidak mungkin, dia adalah laki-laki yang pintar. Dia tidak mungkin melakukan itu hanya untuk menutupi rasa kecewa yang dia rasakan oleh kekasihnya dulu itu."


Xixi diam, ada benarnya apa yang di katakan oleh Mimi.


Bagi seseorang yang masih kuliah sepertinya, Joseph adalah laki-laki yang sangat pintar, karena dia bisa membuat perusahaan yang dia pimpin berkembang pesat dalam waktu yang cukup singkat.


"Sudahlah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Katakan pada kakak, apa Leon sudah menghubungi mu?" Tanya Mimi mengubah topik pembicaraan mereka.


"Sudah, dia hanya mengirimiku pesan dan itupun hanya beberapa saja."


"Hmm, mungkin dia sedang sibuk. Seperti dirimu kalau sedang sibuk pasti sangat sulit sekali di hubungi. Bahkan ibu sampai memintaku beberapa kali untuk menghubungi mu."


Xixi hanya tertawa mendengar rentetan keluhan kakaknya itu.


Terkadang orang akan melupakan hal-hal yang ada di sekitar kita, jika kita tengah fokus pada suatu hal yang sedang kita lakukan. Bahkan perut pun tidak akan terasa lapar.


"Xixi, besok antar kakak membeli pakaian pantai." Ucap Mimi.


"Bukankah kakak sudah punya?"


"Itu pakaian renang, yang kakak mau pakaian pantai."


"Apa bedanya? Kedua pakaian itu sama-sama terbuka, kak."


"Pakaian renang itu terlalu terbuka. Kalau pakaian pantai, ada beberapa yang lebih tertutup. Seperti celana pendek dan baju tanpa lengan."


"Untuk apa kakak membeli pakaian pantai itu?"


"Karena besok lusa kakak akan ada pemotretan di pantai, kakak bisa bersantai saat pemotretan selesai nanti."


Xixi memutar kedua bola matanya mendengar ucapan kakaknya.


"Kakak tinggal memakai celana pendek dan baju tanpa lengan yang kakak punya. Anggap saja kakak sedang menikmati cuaca di musim panas seperti di rumah."


"Tidak, aku tidak mau. Aku sudah sering memakainya di rumah, dan tidak mungkin aku pakai itu untuk bersantai di pantai dan di lihat oleh banyak orang disana."


"Itu sama saja kak, lagian mereka juga tidak tahu kalau kakak sering memakai pakaian itu di dalam rumah."


"Tidak, tidak. Pokoknya besok kamu harus menemani kakak membeli beberapa pakaian pantai."


Xixi hanya bisa menghela nafasnya, jika sudah melihat tingkah kakaknya tidak bisa lepas dari hobi berbelanjanya itu.


"Baiklah, besok bangun aku. Agar aku bangun lebih awal."


"Bukannya kau selalu bangun sangat pagi? Bahkan kau saja bangun lebih pagi dari kakak."


"Tidak untuk beberapa hari ini, selama aku di rumah aku ingin tidur dengan puas, menikmati siang hari ku tanpa berkas-berkas di depan mataku."


"Aku rasa itu tidak akan bisa. Kau sudah terbiasa bangun pagi-pagi, jadi hasilnya pasti gagal jika kau ingin bangun lebih siang dari ku."


"Ya terserah kakak saja, sudah lebih baik kakak keluar dari kamar ku. Aku masih harus memeriksa beberapa file yang sekertaris Ana kirimkan padaku."


"Ck, padahal kau sendiri yang meminta kakak ke kamarmu."


"Itu karena sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu, dan apa yang ingin aku katakan pada kakak sudah aku sampaikan, jadi sudah tidak ada lagi keperluan."


Mimi menatap Xixi dengan tidak percaya.


"Hahh, baiklah aku akan pergi dan akan membangunkanmu dengan satu ember air besok."


"Lakukan saja kalau kakak bisa."


Mimi kesal karena tidak pernah bisa menang saat berdebat dengan Xixi. Dia lalu melemparkan bantal pada Xixi sebelum dia keluar dari kamar Xixi karena kesal.


Xixi melihat kakaknya keluar dari kamarnya "Kapan dia akan berhenti dari hobi belanjanya itu." Gumam Xixi.


Setelah Mimi keluar, Xixi mengambil laptop miliknya dan menghidupkan laptop itu, karena Xixi harus memeriksa beberapa file yang sekertarisnya kirim ke emailnya.


Dengan serius Xixi memeriksa beberapa file itu, meskipun dia tidak berada di kota A dan mengurus secara langsung perusahaan di sana. Tapi Xixi tetap pada prinsipnya dalam mengelola perusahaan yang telah ayahnya percayakan kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2