
Setelah pertemuannya dengan anak dari tuan Albert kemarin, Xixi belum menceritakan apa-apa pada Leon. Karena dia tidak mau konsentrasi Leon pada pembangunan vila miliknya menjadi terganggu.
Lagi pula di antara Leon dan Amie Albert tidak terjadi apa-apa, atau memiliki hubungan apapun. Dan semua hanya kesalahpahaman saja.
Saat ini, Xixi telah mendapatkan orang yang akan dia pekerjakan untuk membangun vila, karena Leon sudah mengatur lokasi yang tepat untuk vila yang telah dia desain.
"Semua orang-orang itu sangat handal dan profesional dalam pembuatan vila, hotel maupun resort. Jadi aku harap hasilnya akan memuaskan." Ucap Xixi saat melihat kembali beberapa tempat yang akan di bangun vila pada laptop miliknya.
"Iya, aku juga berharap begitu. Oh iya, aku merekomendasikan tempat untuk membeli bahan-bahan bangunan vila. Kepala proyek bangunan menerima saran itu, dan akan membeli bahan-bahan dari tempat yang aku rekomendasikan."
"Iya, kepala proyek sudah membicarakan itu denganku, dan aku juga sudah menyetujui itu."
"Vila mu akan menjadi vila yang bagus, dengan bahan-bahan berkualitas tinggi dan para pekerja yang professional."
"Bukankah ini semua juga berkat tuan muda Damian yang hebat ini?"
Leon tertawa mendengar pujian dari kekasihnya yang sangat jarang dia dapatkan itu.
"Baiklah, ayo kita keluar. Aku akan mentraktirmu makan." Ucap Xixi sambil menutup laptopnya.
"Wah, direktur Cicilia akan mentraktirku makan?"
"Kenapa, apa kau tidak mau?"
Cup
"Aku sudah mendapatkan traktirannya." Ucap Leon sambil mengedipkan salah satu matanya, setelah mengecup bibi Xixi dengan cepat.
"Leon!"
"Hahaha, maaf." Leon menarik tangan Xixi dan memeluknya dengan erat.
"Aku bahagia karena setiap hari bisa melihatmu lagi." Ucap Leon.
"Benarkah?"
Leon mengangguk "Iya sayang."
"Bagaimana kalau yang memeluk nona muda Albert itu?"
Leon melepaskan pelukannya dan menatap Xixi "Dia tidak akan pernah bisa memelukku, dan lagi pula aku hanya mau memeluk dan di peluk oleh kekasihku, Cicilia William."
"Hahaha, dasar kekanak-kanakan."
Xixi tertawa mendengar ucapan Leon yang sama sekali tidak dia duga.
"Oh iya, bagaimana perusahaan paman Damian?"
"Aku tidak tahu, sejauh ini Mama belum menghubungi ku. Jadi artinya tidak ada masalah disana."
Xixi mengangguk mengerti.
"Ayo kita pergi, aku akan membawamu makan hotpot." Leon menarik tangan Xixi pelan.
"Makan hotpot?"
"Iya, aku tahu rumah makan hotpot yang cukup banyak di minati di kota A ini."
Mereka berdua pun keluar dari apartemen dan pergi ke salah satu rumah makan hotpot yang tidak jauh dari apartemen itu.
"Oh iya, nona Ana bilang besok aku sudah bisa menempati aparetemen yang ada di samping apartemenmu." Ucap Leon sambil mengudikan mobilnya.
"Cepat sekali, sekertaris Ana memang hebat."
"Kau benar, dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik."
"Iya, karena itu aku sangat senang saat tahu dia yang menjadi sekertarisku di perusahaan."
"Paman William mempunyai mata yang tajam dalam memilih seseorang untuk bekerja di perusahaannya."
Xixi mengangguk menyetujui apa yang Leon katakan.
"Jadi, mulai kapan vilaku akan mulai di bangun?" Xixi mengalihkan pembicaraan mereka.
"Besok bahan-bahan bangunan baru akan datang, kemungkinan besok lusa kita baru akan mulai untuk membangunnya."
"Aku tidak sabar untuk melihat hasilnya."
__ADS_1
"Iya, semoga kau menyukainya.
"Ah benar, kau juga membangun vila baru bukan? Kita pernah melihatnya waktu musim dingin."
"Iya, hanya tinggal beberapa bagian lagi saja. Setelah itu memasukan semua barang-barang yang di perlukan ke dalam vila."
"Kau memang luar biasa."
"Tentu saja, itu karena aku memiliki kekasih yang luar biasa."
"Berhenti memujiku dengan rayuan itu."
"Hahaha, aku mengatakan yang sebenarnya."
"Iya, iya."
Tak lama mobil mereka sampai di depan rumah makan hotpot yang Leon katakan.
Mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam rumah makan itu.
Xixi melihat sekeliling rumah makan itu.
"Suasana di rumah makan ini sangat nyaman, dan tidak begitu banyak orang." Ucap Xixi saat mereka telah duduk di kursi yang mereka tempati.
"Jangan lupa dengan penataan ruangan disini yang sangat klasik dan unik. Sehingga kita merasa lebih hangat dan tenang saat menikmati makanan yang kita pesan."
"Iya, kau benar."
Tak lama pelayan datang, dan memberikan buku menu kepada Xixi dan Leon.
"Kami pesan satu set hotpot dengan dua rasa varian. Dan juga tambah satu porsi daging sapi, udang serta sayurannya." Ucap Xixi kepada pelayan itu.
"Baik, apakah ada yang lainnya?" Pelayan itu menatap Xixi dan Leon bergantian.
"Itu saja dulu, jika ada yang kami inginkan, kami akan memesannya lagi nanti."
"Baik, mohon untuk menunggu sebentar."
"Iya, terima kasih."
Pelayan itu lalu pergi untuk memberikan pesanan Leon dan Xixi ke bagian dapur.
Leon menggelengkan kepalanya "Tidak, ini kali pertama aku datang ke kesini."
"Lalu dari mana kau tahu rumah makan hotpot ini banyak di minati?"
"Aku tahu hal itu dari media sosial, aku lihat rumah makan ini sangat unik dan bagus, apalagi banyak orang yang merekomendasikan rumah makan ini di media sosial. Jadi aku yakin, kalau hotpot disini sangat enak."
"Kau masih saja mendengar apa yang orang rekomendasikan padamu."
"Hahaha, aku hanya ingin tahu apakah yang mereka katakan itu benar."
"Awas saja jika tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan."
Leon terkekeh mendengar komentar Xixi "Kau sangat senang sekali mengancam kekasihmu ini."
"Aku tidak mengancam mu, aku hanya tidak mau apa yang sudah kita makan tidak sesuai dengan apa yang orang-orang itu katakan."
"Iya, kalau kali ini tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan, aku akan mentraktirmu makanan yang lainnya."
"Tuan muda Damian, apa kau kira tubuhku ini hanya perlu asupan dari makanan yang berada di tempat seperti ini?"
"Tidak sayang, aku tahu dirimu. Lain kali aku akan membawamu makan di kedai yang kemarin aku datangi."
"Wah, wah. Ternyata seorang tuan muda Damian juga suka makan makanan yang di jual oleh kedai-kedai di pinggir jalan."
"Hahaha, aku juga tidak selalu suka makan makanan yang di siapkan di sebuah dapur besar, sayang."
Xixi hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan Leon itu.
***
Sraaaaaak!
"S*alan! Wanita itu tidak hanya tidak masuk ke dalam perangkapku, tapi dia juga berani menekan dan meneriakiku di tempat umum."
Amie Albert membuang semua dokumen yang ada di atas meja, dia masih merasa kesal dengan apa yang di lakukan oleh Xixi padanya kemarin.
__ADS_1
Wajah Xixi yang berbicara padanya dengan nada seperti seorang penguasa, membuat Amie Albert merasa ingin merobek-robek wajah itu hingga tak berbentuk lagi.
Selama ini tidak ada orang yang berani menekan bahkan meneriakinya, tapi Xixi yang baru pertama kali dia temui sangat berani menekannya hingga Amie tidak bisa berbuat apa-apa.
ceklek
"Apa yang kau lakukan Amie?"
Tuan Albert masuk ke dalam ruangan Amie dengan terkejut, karena melihat kantor Amie yang sangat berantakan dan semua dokumen berhamburan di atas lantai.
"Ini semua karena wanita s*alan bernama Cicilia itu!"
"Kenapa, apa kemarin kau tidak bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengan perusahaannya?"
"Bukan hanya itu Papa, dia.... dia bahkan berani membentakku di depan banyak orang dan juga menekanku dengan auranya hingga aku tidak bisa berkata apa-apa."
Amie benar-benar kesal jika mengingat hal itu.
"Setahu Papa belum ada orang yang berani melakukan itu padamu, apa yang sudah kau lakukan sampai dia seperti itu?"
"Aku memberinya surat kontrak, tapi siapa yang menyangka jika dia akan membaca semua kontrak itu sampai halaman terakhir."
"Jadi dia meneriakimu karena dia tahu tentang point tersembunyi di halaman belakang kontrak itu?"
"Iya Papa, dan itu membuatku sangat kesal. Aaaaakh! Aku ingin sekali membuat perusahaan itu benar-benar hancur!"
"Tenangkan dirimu, itu hanyalah perusahaan yang baru-baru ini berkembang di kota A. Kita bisa menekannya tanpa harus banyak bertindak."
"Papa, wanita bernama Cicilia itu sangat pintar, dia tidak seperti direktur perusahaan pada umumnya yang mudah di hasut dan di tipu oleh kita."
"Dia hanyalah seorang wanita muda yang tidak mengerti bisnis, Amie. Kau jangan terlalu memikirkannya, Papa akan mengurus perusahaan itu."
Tuan Albert berjalan dan duduk dengan santai di salah satu sofa. Dia melihat putrinya yang masih memasang wajah kesal.
"Ayolah sayang, kau jangan kesal lagi. Oh iya, bagaimana hubungan mu dengan Leon?"
"Jangan tanyakan dia lagi Papa, dia juga sama saja! Dia adalah laki-laki pertama yang berani menolakku, demi wanita lain. Membuatku semakin kesal jika mengingatnya."
"Hahaha baiklah, Papa tidak akan menanyakan hal itu lagi padamu. Bagaimana kalau Papa kenalkan kamu dengan putra dari keluarga Davidson?"
"Keluarga Davidson?"
"Benar, keluarga itu cukup terkenal di negara X. Jika Papa tidak salah ingat, mereka mempunyai dua perusahaan yang berjalan di bidang entertainment dan dua lagi di bidang perhotelan."
"Apa dia tampan?"
"Tentu saja, tapi usianya cukup jauh di atasmu?"
"Papa akan mengenalkanku dengan seorang paman?"
"Tentu tidak, dia baru berusia 33 tahun. Sayang, jika kita bisa menjalin hubungan dengan keluarga itu, di tambah kerjasama kita dengan perusahaan keluarga Damian, kita pasti bisa menyingkirkan perusahaan keluarga William dan akan menjadi perusahaan nomor satu di negara K ini, serta di negara-negara lainnya."
"Tapi Papa, yang aku dengar putra tuan Davidson itu selalu berganti-ganti wanita, dan sangat m*sum."
"Amie sayang, seorang putra keluarga yang cukup terkenal dan kaya, tentu banyak wanita yang menyukainya dan mengaku-ngaku pernah menjalin hubungan dengan dia."
Amie Albert diam.
"Jika kita bisa menjalin hubungan dengan keluarga mereka, keluarga kita akan semakin terpandang, sayang. Kau tentu tidak akan lagi di remehkan oleh orang lain."
"..... Baiklah, aku akan mencoba mendekati tuan muda Davidson itu. Aku akan memperlihatkan pada Leon, jika aku bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih kaya dan tampan darinya."
Tuan Albert mengangguk "Itu baru putri Papa, kau adalah wanita yang cantik, akan banyak laki-laki yang menyukai mu, jadi jangan menyia-nyiakan kecantikanmu sayang."
"Iya Pa."
Bagaimana pun tuan Albert adalah seorang pengusaha yang menilai segala hal dari untung dan rugi, dia akan melakukan berbagai cara agar berada di posisi teratas di dunia bisnis seperti apa yang dia impikan, meskipun dia harus menggunakan putrinya sebagai alat untuk mendapatkan posisi itu.
Seperti apa yang dia lakukan saat ini, walaupun dia tahu jika putra dari keluarga Davidson adalah seorang playboy dan sering berganti-ganti pasangan setiap hari, dia juga akan tetap mendorong putrinya itu ke jurang kesengsaraan untuk memenuhi keinginannya yang haus akan kekayaan.
💞 Jangan lupa untuk membaca karya Xia Lin yang lainnya ya.
Ada cerita time travel yang di alami oleh artis cantik di era modern yang masuk ke dalam tubuh permaisuri negara Qin di zaman kerajaan dahulu.
Karya pertama time travel saya berjudul "King's Regrets" ini juga sangat seru lho untuk di baca 😉.
Terima kasih atas dukungannya 🙏😊.
__ADS_1