
Sore hari setelah semua orang pulang ke rumah mereka, dan perusahaan sepi. Xixi meminta sekertaris Ana untuk membawa orang-orang yang sekertaris Ana percayai untuk memasang beberapa cctv dan alat penyadap di perusahaan Xixi.
Selama menunggu mereka melakukan pekerjaannya, Xixi yang berada di ruang kerjanya menyusupkan beberapa virus pada komputer miliknya, dan juga pada komputer di ruang sistem keamanan, sehingga tidak akan ada yang bisa mengambil data penting dari perusahaan yang dia pimpin.
Cctv dan alat penyadap sudah terpasang di kantor meneger keuangan, kantor humas, kantor direktur pemasaran, ruang sistem keamanan, dan beberapa ruang lainnya yang Xixi pikir perlu di awasi.
"Nona direktur, semuanya sudah kami pasang dengan baik, dan tidak akan ada orang yang mengetahui dimana letak cctv dan alat penyadap itu kami letakan." Ucap salah seorang pekerja.
"Baik, terima kasih. Aku akan menghubungi kalian kembali saat membutuhkan bantuan kalian."
"Silahkan, kami akan sangat senang bisa membantu nona direktur."
Setelah mendapatkan bayaran yang cukup fantastis dari Xixi, 4 orang pekerja itu lalu keluar dari gedung perusahaan.
"Tindakan direktur kali ini benar-benar di luar dugaan saya." Ucap sekertaris Ana.
"Aku tidak mau apa yang pernah terjadi pada perusahaan ayah juga terjadi pada perusahaan ini."
"Saya mengerti, waktu sudah malam. Lebih baik sekarang kita kembali."
"Kau benar."
Xixi lalu masuk ke ruang kerjanya untuk mengambil tas dan kunci mobil. Setelah itu dia keluar lagi dan bersama dengan sekertaris Ana pergi meninggalkan perusahaan.
Di dalam mobil Xixi melihat beberapa penjual makanan di pinggir jalan.
"Aku sudah lama tidak makan itu, aku akan membelinya beberapa. Lia (nama pelayan Xixi) juga pasti belum makan karena menungguku."
Xixi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu turun dan berjalan menuju penjual makanan itu.
"Semuanya terlihat begitu enak." Gumam Xixi.
"Nona, kau ingin yang mana?" Tanya paman penjual.
"Berikan aku ini satu porsi, yang ini 5 ,dan yang itu jiga 5." Xixi menunjuk tiga makanan yang ingin dia beli.
"Baik, silahkan anda menunggu disana."
"Terima kasih."
Sambil menunggu pesanan dia siap, Xixi duduk di salah satu kursi yang ada di depan kedai kecil itu sambil menikmati udara malam yang begitu sejuk.
Jika saja saat ini Xixi menikmatinya dengan Leon, pasti akan lebih sempurna dan bahagia, seperti pasangan yang saat ini berada tidak jauh dari tempat Xixi duduk.
"Nona, ini semua pesanan anda." Ucap pemilik kedai makanan.
"Terima kasih, paman."
__ADS_1
Xixi lalu memberikan uang kepada paman penjual makanan itu.
"Sebaiknya aku cepat pulang, agar makanan ini masih hangat saat di makan." Ucap Xixi.
Xixi lalu berjalan ke arah mobilnya yang dia parkir tidak jauh dari kedai tadi.
Setelah masuk ke dalam mobil dan meletakan makanan di kursi samping, Xixi mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen.
Xixi sangat senang karena dia bisa menikmati makanan yang selalu dia makan di pinggir jalan saat dia menjadi wanita culun. Dia merasa seperti sedang bernostalgia dengan semua makanan-makanan itu.
15 menit kemudian Xixi sampai di apartemennya, di depan pintu apartemen Xixi menekan pin pintu.
ceklek
Xixi masuk ke dalam apartemen, dan melepaskan sepatu lalu menggantinya dengan sandal rumah.
"Nona sudah pulang, bagaimana hari pertama nona muda bekerja?" Sapa Lia, pelayan rumahnya.
"Cukup menyenangkan."
Lia membantu membawakan beberapa kantong plastik yang ada di tangan Xixi.
"Baguslah jika seperti itu. Apa nona muda sudah makan?"
"Belum, tapi aku membeli beberapa makanan di pinggir jalan sebelum pulang. Kau tolong pindahkan saja ke piring, aku akan memakannya." Ucap Xixi seraya naik ke atas untuk pergi ke kamarnya.
Lia lalu membawa makanan yang Xixi beli dan meletakannya di meja makan. Dia juga menyiapkan menu makan malam yang sudah dia buat.
Setelah berganti pakaian, Xixi turun dan berjalan ke meja makan.
"Waaaahh, malam ini aku akan sangat kenyang dan tidur pulas." Ucap Xixi.
"Nona muda memang harus makan lebih banyak, agar lebih bertenaga saat bekerja." Ucap Lia.
"Kau duduklah, dan makan denganku. Ini terlalu banyak untuk aku makan sendiri."
"Tapi nona...."
"Tidak ada tapi, cepat ambil mangkuk dan nasimu. Kita makan bersama sebelum ini dingin."
Lia tersenyum melihat kebaikan nona mudanya "Baik kalau begitu."
Xixi mengambil salah satu makanan yang dia beli di kedai pinggir jalan tadi.
"Eummm... ini sangat enak, akhirnya aku bisa menikmati makanan ini lagi setelah beberapa bulan kembali tinggal di luar rumah."
Lia melihat Xixi yang begitu senang, dia tidak menyangka jika nona mudanya yang satu ini akan suka makan makanan yang di jual di pinggir jalan. Karena kebanyakan anak dari orang kaya, tidak akan mau makan makanan itu.
__ADS_1
"Nona terlihat sangat menyukai makanan ini." Ucap Lia.
"Benar, waktu aku tinggal di luar rumah aku sering membeli makanan ini. Dan ini adalah pertama kali aku memakannya lagi, karena saat kembali tinggal di rumah aku tidak bisa menikmatinya. Tentu aku sangat senang."
"Kalau begitu, nona bisa meniknatinya perlahan."
Xixi mengangguk, mereka berdua lalu menikmati makan malam mereka dengan begitu nikmat.
25 menit kemudian mereka selesai menikmati makan malam mereka bersama.
"Aaakh, rasanya aku tidak pernah merasa sekenyang ini." Ucap Xixi.
"Nona duduklah dulu sambil menonton televisi." Ucap Lia.
"Iya, terima kasih."
Lia mengangguk.
Sementara Lia membereskan meja makan dan mencuci piring, Xixi duduk dan menonton televisi. Dia melihat sebuah berita yang sedang menjadi trending topik saat ini di beberapa media.
"Hmm, lagi-lagi berita skandal bos perusahaan dengan beberapa artis." Ucap Xixi.
Xixi mematikan televisi lalu berjalan naik ke atas menuju kamarnya.
ceklek
Xixi masuk ke dalam kamarnya lalu berjalan ke arah balkon. Di atas balkon kamar Xixi melihat pemandangan kota A di malam hari yang begitu indah, seperti cahaya bintang yang bertaburan di bawah sana.
Xixi termenung disana sambil melihat cahaya lampu yang begitu banyak. Walaupun Xixi berkata jika dia tidak akan terpengaruh oleh hubungan Leon dan putri dari tuan Albert, tapi pada kenyataannya dia sangat takut jika pada akhirnya Leon yang tidak bisa mengambil keputusan, akan di pengaruhi oleh ayahnya dan menikah dengan Amie Albert itu.
"Huft, ternyata sangat sulit mempunyai perasaan terhadap seseorang itu. Terlebih jika keluarganya menggunakan alasan demi kebaikan keluarga, untuk menekan hubungan yang sudah terjalin."
Xixi duduk di atas kursi dan meluruskan kakinya ke depan, dia lalu memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan semua pikiran yang terus bergejolak.
****
Sementara itu, di dalam sebuah kamar. Leon juga tengah duduk di atas kursi yang ada di atas balkon kamarnya, menatap langit yang tak berbintang.
"Xixi, aku merindukanmu." Gumam Leon.
Perkataan Xixi masih terus terngiang saat Leon menghubunginya siang tadi. Dia tidak pernah mendengar Xixi berkata padanya dengan nada yang begitu dingin seperti itu.
Ada perasaan yang begitu sesak, ketika Leon mengingat saat Xixi berkata "Selesaikan urusanmu", itu membuat Leon merasa jika hubungan di antara mereka saat ini begitu jauh.
"Kenapa seperti ini? Aku harus mengatakan semuanya pada putri tuan Albert itu, dan aku juga akan pergi ke kota A untuk menemui Xixi. Aku harus menjelaskan semuanya, aku tidak mau hubungan ini terus memburuk." Ucap Leon.
__ADS_1
Leon berdiri dan masuk kedalam kamarnya. Dia memutup tirai kamar setelah menutup pintu balkon kamarnya.