
Meskipun tuan Davidson datang ke perusahaan Xixi, tetapi Xixi tidak menghapus atau membiarkan mereka berhasil menghapus foto dan video tuan muda Davidson itu.
Karena bagi Xixi, itu adalah hukuman yang pantas bagi dua orang laki-laki dari keluarga Davidson itu. Sebab kemarin Xixi mendengar cerita dari ayahnya, ternyata selama ini tuan Davidson dan putranya selalu semena-mena terhadap nyonya Davidson.
Dan kabar ini baru saja terdengar, setelah nyonya Davidson secara sembunyi-sembunyi memerintahkan beberapa perusahaan di bawah namanya, untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan yang tuan Davidson pimpin.
Nyonya Davidson juga memohon kepada ayah Xixi untuk tidak membantu suaminya. Bagi nyonya Davidson, dia lebih rela melihat suami dan anaknya hancur, dari pada setiap bulan keluarganya harus menyuntikan dana pada perusahaan itu, untuk anak dan suaminya pakai bersenang-senang dengan sekertaris atau wanita lainnya dengan uang perusahaan.
"Tuan Davidson, kau adalah laki-laki yang tidak tahu berterima kasih. Kalian ayah dan anak memang pantas mendapatkan kehancuran itu, anggap saja aku sedang membantu nyonya Davidson membalas mereka berdua." Ucap Xixi yang sedang berdiri di depan jendela kaca besar yang ada di ruang kerjanya.
tok tok tok
"Iya." Ucap Xixi.
Sekertaris Ana masuk ke dalam ruang kerja Xixi, dan berjalan mendekati Xixi yang masih berdiri di depan kaca jendela.
"Direktur, semua file dan yang lainnya sudah selesai saya periksa, dan semuanya sesuai dengan yang kita harapkan." Ucap sekertaris Ana.
"Itu bagus, artinya perusahaan ini sebentar lagi akan mulai di kenal di beberapa negara lain."
"Iya direktur, ini semua berkat kerja keras anda yang lebih dari satu minggu terus bekerja lembur."
"Tidak, ini juga berkat kerja keras kalian yang bekerja dengan sangat rajin dan profesional di perusahaan ini."
Sekertaris Ana mengangguk. Dia tidak menyangka jika direkturnya akan berhasil melakukan semua ini hanya dalam hitungan bula saja.
"Jika begitu saya harus pergi direktur, karena perusahaan sudah membuat janji temu dengan salah satu klien di luar." Ucap sekertaris Ana.
"Iya, berhati-hatilah."
Sekertaris Ana kemudian keluar dari ruang kerja Xixi, untuk bersiap, karena dia akan menemui salah satu klien di luar perusahaan.
Saat ini perusahaan yang Xixi pimpin, telah berkembang dengan sangat baik. Bukan hanya di dalam negeri saja, bahkan luar di luar negeri juga.
Perusahaan yang Xixi pimpin sudah di lirik beberapa perusahaan dari luar negeri, dan tentu bukan perusahaan kecil yang memandang perusahaan yang Xixi pimpin sebagai perusahaan untuk batu loncatan mereka.
"Ini baru permulaan, saat mereka telah menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan ini, aku mungkin baru akan merasa sedikit senang." Ucap Xixi mengingat semua usaha yang telah dia lakukan.
Awalnya dia ingin terjun ke dunia bisnis setelah lulus kuliah, karena terjadi suatu hal, dia terpaksa terjun 2 tahun lebih awal, dan selama beberapa bulan memimpin perusahaan, dia berhasil mencapai apa yang dia inginkan.
"Sepertinya sudah saatnya aku memberikan jawaban atas apa yang Leon tanyakan." Ucap Xixi lagi.
Ya, Xixi sudah berjanji pada dirinya sendiri dan pada Leon, jika dia akan memberikan jawaban jika tujuan Xixi tercapai. Namun tentu saja, dia juga harus menunggu Leon menyelesaikan permasalahannya dengan tuan Damian di sana."
ddrrrrrrrrtttt dddrrrrrrrttt
Ponsel Xixi bergetar di atas meja kerjanya, Xixi melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Ayah, tumben sekali." Gumam Xixi.
__ADS_1
Xixi lalu menggeser icon berwarna hijau de atas.
Xixi : Halo ayah.
Tuan William : Halo putri ayah.
Xixi : Tumben sekali ayah telfon Xixi.
Tuan William : Kenapa, apakah ayah tidak boleh menghubungi putri ayah yang hebat ini?
Xixi : Bukan begitu ayah.
Tuan William : Baiklah, ayah ingin memberitahu mu untuk pulang ke rumah besok lusa.
Xixi : Mendadak sekali, ada apa ayah?
Tuan William : Pulang saja, apa kau tidak merindukan ayah dan ibumu?
Xixi : ........ Baiklah aku akan pulang besok lusa.
Tuan William : Iya. Xixi, ayah mendengar jika beberapa perusahaan luar negeri sudah mulai melirik perusahaan yang kau pimpin disana.
Xixi : Benar ayah, ada dua perusahaan yang sudah menandatangani kontrak kerjasama, dan 4 lainnya sedang membicarakannya dengan sekertaris Ana dan menejer pemasaran.
Tuan William : Itu bagus, artinya keinginanmu akan segera tercapai.
Xixi : Iya ayah.
Xixi : Baik ayah, aku mengerti.
Xixi lalu meletakan kembali ponselnya setelah sambungan telefon terputus.
"Ada apa ayah memintaku pulang?" Ucap Xixi.
Xixi menatap ponsel yang tergeletak di atas meja.
...----------------...
Di rumah keluarga William, saat ini tengah duduk Leon dan ibunya di ruang tamu yang cukup besar. Di sofa yang lain juga duduk nyonya William menemani ibu dan anak itu.
Tuan William berjalan ke ruang tamu setelah menghubungi Xixi.
"Aku sudah meminta di untuk kembali besok lusa." Ucap tuan William.
"Terima kasih paman William." Ucap Leon.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin menikah dengan Xixi, asal kau bisa menjaga dia dengan baik, dan tidak melakukan apa yang ayahmu lakukan pada ibumu."
"Saya berjanji bahkan bersumpah, saya akan menjaga dan mencintai Xixi dengan nyawa saya sendiri, paman. Dan saya juga tidak akan lagi membuat Xixi kecewa atau terluka."
__ADS_1
Tuan William mengangguk "Aku hanya bisa membantumu membawa Xixi pulang ke rumah, selebihnya kau bisa melakukannya sendiri."
"Baik, terima kasih paman William. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Xixi."
"Itu bagus."
Ya, Leon dan ibunya datang ke rumah keluarga William untuk berbicara perihal keseriusan hubungannya dengan Xixi. Dan Leon juga berkata, jika dia jua berkara jika dia ingin menikahi Xixi pada tuan dan nyonya William.
Tuan William yang sudah tahu bagaimana sepak terjang Leon di dunia bisnis, dan juga tahu bagaimana kehidupannya, merasa jika Leon bisa menjadi suami Xixi yang bertanggung jawab , dan juga bisa melindungi Xixi dengan baik.
"Leon, sekarang kau harus segera menyiapkan semuanya. Kau berkata jika kau akan melakukannya di vila milik Xixi yang ada di kota A. Maka kau harus segera menghias vila itu untuk Xixi." Ucap nyonya William.
"Benar bibi, itu karena vila disana cukup bagus, di tambah lagi itu adalah vila yang di desain oleh saya dan Xixi."
"Itu sangat bagus, vila itu akan menjadi tempat yang penuh dengan kenangan kalian berdua."
"Bibi benar."
"Kau bisa membawa beberapa penjaga di rumah ini untuk membantu mu disana."
"Tidak perlu bibi, saya sudah meminta teman-teman saya untuk membantu saya. Terima kasih atas kebaikan bibi."
"Baiklah jika seperti itu."
Nyonya William senang melihat kesungguhan Leon yang datang ke rumahnya, untuk membicarakan rencananya yang akan melamar Xixi, pada mereka.
"William." Ucap nyonya Damian.
"Ada apa?"
"Aku ingin meminta maaf, atas apa yang sudah Damian lakukan pada kalian. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi pada Damian."
"Itu bukan kesalahanmu, biarkan dia yang meminta maaf sendiri atas kesalahan yang sudah dia lakukan."
Nyonya Damian mengangguk. Dia sudah tahu jika tuan William pasti akan berkata seperti itu, tetapi dia tetap saja meminta maaf atas naa Damian.
"Apa kau masih bertahan dengan laki-laki seperti itu?" Tanya nyonya William pada nyonya Damian dengan hati-hati.
Nyonya Damian menggelengkan kepalanya "Aku.... telah mengajukan surat perceraian kemarin, sudah cukup aku menahan semuanya."
Nyonya William mengangguk, dia sangat mengerti perasaan nyonya Damian yang sangat tertekan oleh suaminya yang sangat egois itu.
"Tidak apa-apa, jika itu memang yang terbaik untuk dirimu. Maka lakukanlah, lagi pula kau masih mempunyai Leon yanh akan selalu bersama dengan mu." Ucap nyonya William.
"Kau benar, seharusnya aku melakukannya sejak lama."
"Tidak apa-apa, semua sudah berlalu. Setelah kalian resmi bercerai, kau bisa memulai kehidupanmu yang baru, kau harus hidup dengan bahagia."
"Iya, terima kasih."
__ADS_1
Melihat ibunya dan nyonya William berbicara dan saling menguatkan, Leon merasa beruntung karena keluarga William masih mau menerima bahkan menguatkan ibunya, meskipun ayahnya sudah berbuat jahat kepada mereka.