
Sore harinya, Leon yang baru saja bangun dari tidur siangnya berjalan keluar kamar. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
"Aku tidak pernah tidur siang sepulas ini, rasanya benar-benar nikmat." Ucap Leon seraya merenggangkan tubuhnya di depan kulkas.
Leon membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral yang ada di dalam kulkas, lalu meminumnya. Setelah itu, dia membawa botol yang masih berisi air setengah ke ruang tv, dan meletakan botol itu di atas meja.
"Aakh! Ada berita apa hari ini?"
Leon mengambil remot tv lalu menekan remot itu. Dia lalu membaringkan tubuhnya dan menonton sebuah acara televisi yang membuatnya tertarik.
Ting tong~
Ting tong ~
Bell apartemen berbunyi, Leon berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia melihat pada layar kecil yang ada di samping pintu untuk melihat siapa yang datang.
Wajah bahagia dan senyum mengembang terlihat saat Leon tahu siapa orang yang ada luar pintu apartemennya.
ceklek
Leon membukakan pintu apartemen untuk Xixi, orang yang tadi menekan bell.
"Selamat datang sayang." Ucap Leon dengan penuh bahagia.
Xixi memutar bola matanya mendengar ucapan Leon.
"Ehem."
Leon menoleh, dan dia melihat Mimi yang juga ada di depan pintu apartemennya. Leon tersenyum kaku karena tadi dia mengatakan hal yang canggung di depan Mimi.
"Kak Mimi.... Kapan kak Mimi datang kesini?" Ucap Leon.
"Siang tadi, bukankah Xixi sudah mengatakannya padamu?"
"Ah iya.. hahaha."
Xixi menepuk keningnya "Astaga, dia benar-benar."
"Baiklah, aku akan langsung ke apartemen mu saja. Aku tidak mau melihat sepasang kekasih makan malam bersama." Ucap Mimi pada Xixi.
Leon hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, walaupun dia pernah bersikap blak-blakan, tapi dia tetap merasa tidak enak pada Mimi.
"Ini kartunya." Xixi memberikan kartu aparetemnya pada Mimi.
"Oke, makanlah yang kenyang."
Leon mengangguk, Mimi berbalik dan pergi ke apartemen Xixi yang ada di sebelah apartemen Leon.
"Ayo masuk." Ucap Leon pada Xixi setelah mereka melihat Mimi masuk ke dalam apartemen.
Xixi masuk ke dalam apartemen Leon dan melihat sekeliling.
"Apartemen disini memang mempunyai 4 desain ruang yang berbeda-beda, dan semua sangat bagus." Ucap Xixi.
"Kau benar, cukup sulit membuat desain sedetail ini untuk ruangan yang tidak begitu luas seperti apartemen disini."
"Tapi cukup membuat kita nyaman."
"Iya."
"Oh iya, aku bawakan makan malam untukmu." Xixi memberikan sebuah paperbag pada Leon.
"Waah, kau memang calon istri yang baik."
"Kau ini."
Leon hanya tersenyum lebar mendengar tanggapan Xixi, dia tahu Xixi belum siap untuk berkomitmen dengannya. Tapi dia akan selalu membuat Xixi yakin, jika dia benar-benar ingin menikahi Xixi.
"Ayo, temani aku makan."
Leon berjalan ke ruang makan sambil membawa paperbag dari Xixi. Begitu juga dengan Xixi yang ada di belakang Leon.
"Wah, pasti ini enak." Leon melihat makanan yang di bawakan oleh Xixi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu makanan yang kau suka, jadi aku membelikan itu saat makan dengan kak Mimi."
"Aku suka semua makanan yang kau bawa, apalagi jika itu adalah masakanmu sendiri."
"Bermimpilah jika begitu, aku sangat malas memasak."
"Kau pernah tinggal sendirian dulu, kau pasti pintar memasak."
"Ya.... hanya makanan yang biasa."
"Tidak masalah."
"Sudah makanlah, sebelum dingin."
Leon mengangguk, dia lalu mulai menikmati makanan itu.
"Oh iya, kemarin aku bertemu dengan nona Amie Albert." Ucap Xixi.
Leon menatap Xixi "Lalu, apa kau menamparnya?"
"Untuk apa aku menamparnya?"
"Karena dia ingin merebutku darimu."
"Hahhh, kau benar-benar sangat percaya diri. Jika kau mau, kau bisa bersama dengannya."
Leon menatap Xixi "Sungguh?"
"Leonardo Damian!"
Leon tertawa melihat reaksi kekasihnya yang selalu bersikap cuek, namun perhatian dan sangat sayang padanya itu.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak menggodamu lagi. Jadi apa yang kalian bicaran?"
Xixi menghela nafas "Dia tidak tahu bahwa aku adalah putri bungsu keluarga William, dan dia ingin bekerjasama dengan perusahaan yang aku pimpin."
"Kau menerimanya?"
"Benarkah?"
"Iya, dia tidak menyangka kalau aku akan membaca keseluruhan isi kontrak itu, dan menemukan point yang snagat merugikan perusahaanku yang mereka sembunyikan."
"Memang sangat mencurigakan, mereka adalah perusahaan yang belum lama berdiri. Namun berhasil mengakuisisi beberapa perusahaan dalam satu tahun."
"Ya, aku rasa dia juga melakukan transaksi lainnya. Sehingga para pemimpin perusahaan yang bekerjasama dengan mereka begitu mudah masuk ke dalam perangkap yang mereka buat itu."
"Hmmm.... Aku tidak tahu bagaimana Papa ku nanti."
"Kau tenang saja, paman Damian hanya akan mendapatkan sedikit peringatan dariku, sebelum tuan Albert menguasai perusahaan paman Damian."
"Biarkan saja, aku juga sudah lelah dengan sikap Papa."
Xixi menatap Leon, keluarga Damian bukanlah keluarga sembarangan. Keluarga itu termasuk dalam keluarga terkaya 5 besar di negara K. Dan banyak orang yang menghormati keluarga itu.
Tapi di dalam setiap keluarga kaya, memiliki permasalahan mereka sendiri. Begitu juga dengan keluarga Leon, dimana tuan Damian masih memiliki sedikit sifat serakah dan mudah di hasut oleh orang lain.
"Jangan seperti itu, bibi Damian pasti tidak ingin kalian mengalami hal itu."
"Tidak apa-apa, anggap saja itu hukuman buat Papa ku yang selalu tidak puas dengan apa yang dia miliki."
"Leon."
Leon menatap Xixi, selama ini dia merasa sudah lelah menghadapi sifat ayahnya yanh selalu menekan dirinya dan ibunya.
"Kau tahu, aku sangat ingin sekali membawa Mama ku pergi meninggalkan Papa. Setiap hari dia hanya bisa di rumah, tanpa di bolehkan keluar kecuali dengan Papa."
Xixi mengangguk, dia menggenggam tangan Leon yang mengepal.
"Sebelumnya aku berfikir ingin sekali membantu Papa agar membatalkan kerjasama itu dengan keluarga Albert, tapi saat dia mendorongku untuk bersama dengan Amie Albert, aku merasa jika aku akan di jadikan alat olehnya. Dan seketika aku ingin membiarkan perusahaan Papa hancur."
"Paman Damian mungkin masih memiliki sifat serakah, tapi dia pasti akan berubah."
"Xixi, dia tidak akan pernah berubah. Hanya jika untuk kepentingannya saja dia akan memberikan yang terbaik, itu demi sebuah keuntungan. Dia.... dia tidak seperti seorang ayah yang baik, seperti yang selama ini kalian lihat."
__ADS_1
Xixi menatap Leon dengan lekat, ini adalah kali pertama Leon menceritakan tentang kehidupannya pada Xixi.
"Baiklah aku mengerti, jika begitu kau harus bekerja lebih keras untuk membuat bibi Damian bahagia." Ucap Xixi.
"Tentu."
Xixi tersenyum tipis "Tak disangka, ternyata di balik sikapnya yang selalu tenang dan selalu terlihat tidak mempunyai masalah, dia memiliki beban yang sangat besar."
Leon yang telah selesai makan, memasukan semua bungkus makanan ke dalam paperbag dan membawanya ke dapur untuk dia buang.
"Besok aku akan keluar lebih pagi, karena aku harus melihat semua bahan-bahan untuk membuat vila." Ucap Leon sambil duduk di samping Xixi.
"Iya."
Leon mengusap pipi Xixi dan Menatapnya dengan lembut.
"Kau harus berhati-hati besok saat keluar."
"Aku tahu, Leon. Aku bukan...."
Greb
Leon memeluk tubuh Xixi dengan tiba-tiba "Aku selalu merasa khawatir jika kau pergi tanpa aku."
Xixi membalas pelukan Leon dan mengusap punggungnya beberapa kali.
"Aku akan berhati-hati, tidak akan ada orang yang bisa melukaiku."
Leon mengangguk, dia tahu Xixi sangat kuat dan tidak ada orang yang bisa menyentuhnya. Tetapi tetap saja, dia mempunyai kekhawatiran sendiri.
Xixi melepaskan pelukan mereka.
"Ini sudah larut, aku masih harus kembali sebelum kak Mimi berteriak-teriak padaku."
"Aku mengerti."
Leon menarik tangan Xixi dan mencium bibirnya dengan lembut, Xixi yang semula terkejut, merasakan ciuman Leon dan membalasnya.
Setelah sekian detik mereka berciuman, Leon mengecup bibir Xixi sebagai akhir pergulatan bibir mereka berdua.
Nafas memburu terdengar dari Xixi.
"Kau ini, ingin membunuhku?" Xixi memukul bahu Leon.
"Maaf, aku lupa jika kau belum begitu pintar berciuman."
"Leon!"
Leon tertawa, dia lalu memeluk Xixi dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Baiklah aku harus kembali sekarang." Ucap Xixi.
Leon mengangguk, dia lalu melepaskan pelukan mereka dan mengantar Xixi keluar dari apartemennya.
"Aku akan menghubungi mu nanti." Ucap Leon sebelum Xixi masuk ke dalam apartemen setelah Lia membukakan pintu untuknya.
"Iya, kau istirahatlah."
"Em."
Xixi masuk ke dalam apartemennya. Setelah Xixi masuk, Leon pun kembali ke apartemennya.
Leon duduk di ruang tv, dia termenung. Dia mengingat bagaimana dulu ayahnya yang dengan lantang membentak ibunya, hanya karena ibunya tidak mau ikut dengan ayahnya ke sebuah pesta yang di adakan di salah satu club malam.
Sejak saat itu, demi melindungi ibunya Leon pun setuju untuk mengurus salah satu cabang perusahaan milik ayahnya, dengan syarat tuan Damian tidak boleh lagi memaksa ibunya untuk ikut ke pesta, kecuali dia juga ikut.
"Awalnya berharap Xixi tidak membuat perusahaan Papa hancur, tapi melihat keluara Albert yang tidak jauh berbeda dengan Papa, lebih baik mereka semua di hancurkan bersama." Ucap Leon.
Leon memejamkan matanya, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa terhadap ayahnya itu.
"Jika saja aku tidak terlahir di keluarga ini..."
Leon berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Dia merasa tidak akan ada hentinya jika terus memikirkan semua yang telah di lakukan oleh ayahnya.
__ADS_1