
Pagi ini Mimi bangun lebih awal dari biasanya, itu karena dia harus menghabiskan sedikit waktu lebih lama untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Luka di tangan Mimi belum boleh terkena air, agar bisa kering lebih cepat. Jadi Mimi agak kesulitan setiap kali dia mandi.
Selesai mandi, Mimi memilih memakai pakaian yang lengannya terbuka agar luka tidak tergesek pakaian yang dia kenakan nanti.
"Oke, aku pakai yang ini saja." Ucap Mimi yang mengambil pakaian di dalam lemari.
Sementara itu di kamar lain, Xixi masih berada di dalam selimut lembutnya. Karena semalam dia juga memeriksa beberapa file di laptopnya hingga larut malam.
tok tok tok
"Xixi, apa kau belum bangun?" Seru Mimi dari luar kamar.
Mimi yang tidak mendapat respon sudah tahu pasti adiknya belum bangun saat itu, jadi dia pun masuk ke dalam kamar Xixi yang tidak di kunci.
Mimi masuk ke dalam kamar, dan melihat Xixi masih berbaring di atas ranjangnya dengan memeluk guling.
"Xixi bangun, ini sudah siang." Ucap Mimi sambil menarik selimut Xixi.
"Aaaaa kakak, sebentar lagi. Aku masih ngantuk." Ucap Xixi dengan nada orang yang sedang mengigau.
"Ini sudah jam 6 lewat, kalau kau masih tidur juga kau bisa terlambat ke perusahaan."
Xixi yang tidak tahan mendengar ocehan kakaknya, menyibakan selimut yang dia pakai. Xixi lalu duduk dan menguap.
Dia mengusap kedua matanya dan membuka matanya itu dengan malas.
"Ini masih jam 6 kak, masih terlalu pagi untuk aku bangun." Gerutu Xixi yang belum sadar sepenuhnya setelah bangun tidur.
"Tidak, kau jangan tidur lagi. Kau harus membantu kakak mengoleskan obat dan menempelkan perban ini pada luka kakak."
"Bukankah ada Lia di bawah, kakak bisa meminta bantuannya."
"Lia sedang sibuk membuat sarapan untuk kita."
Xixi hanya mengangguk.
"Oh ayolah Cicilia, bangun!"
Xixi menghela nafas, beberapa hari kemarin dia memang merasa apartemennya sepi karena Mimi pulang ke rumah, tapi setelah dia kembali, Xixi merasa jika lebih baik Mimi tidak perlu kembali dan tetap berada disana saja.
Dengan malas akhirnya Xixi bangun, dia lalu membantu Mimi mengoleskan obat pada luka di tangannya dan menempelkan perban agar obat yang di oleskan tidak menempel kemana-mana.
"Sudah selesai, kakak bisa keluar sekarang." Ucap Xixi.
"Kau mau tidur lagi?" Mimi menatap Xixi dengan tidak percaya.
"Mana mungkin, kau sudah membuatku kedua mataku terbuka lebar seperti ini. Rasa ngantuk ku juga sudah di terpa dinginnya AC kamar."
"Baguslah kalau begitu, cepat mandi lalu kita makan pagi bersama di bawah."
"Iya, kau pergilah dulu."
Mimi mengambil obat oles yang ada di atas ranjang Xixi, lalu berjalan keluar dari kamar Xixi.
Setelah Mimi keluar, dengan malas Xixi turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...----------------...
Di dalam kamar yang cukup besar, Jery tengah merasa khawatir. Setelah baru saja dia melihat berita mengenai Mike yang tertangkap basah penggemarnya sedang berkencan dengan seorang wanita.
Jery yang tahu jika wanita yang di dalam berita itu adalah kekasih Joseph, Jery yakin hubungan Joseph dan kekasihnya pasti berakhir.
__ADS_1
Dan itu membuat Jery takut. Dia merasa khawatir kalau Mimi akan kembali mengejar Joseph, laki-laki yang pernah dia sukai.
"Bagaimana ini, aku takut Mimi akan kembali mendekati Joseph lagi." Gumam Jery dengan penuh khawatir.
Selama hampir 30 menit Jery terpaku pada berita itu, dan memikirkan Mimi yang dia kira masih ada di rumah keluarga William.
"Lebih baik aku menghubungi Mimi nanti. Aku akan menanyakan hal ini padanya. Tapi..... jika dia memilih untuk kembali mengejar Joseph?"
Jery larut dalam kekhawatirannya, dia sudah sangat menyukai bahkan sudah begitu mencintai Mimi. Dan dia tentu tidak mau kehilangan orang yang begitu berarti baginya.
Dengan cepat Jery turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Dia akan menghubungi Mimi setelah dia sampai di perusahaannya nanti.
30 menit kemudian, Jery sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia lalu keluar dari apartemennya.
Jam menunjukan pukul 08.00, yang artinya semua karyawan sudah bekerja 30 menit yang lalu. Jery yang tidak pernah terlambat datang ke perusahaan, membawa mobilnya dengan cepat.
Sampai di perusahaan, Jery turun dari mobil lalu masuk ke dalam gedung 25 lantai itu.
Jery masuk ke dalam salah satu ruangan, dimana biasa di jadikan untuk ruang pemotretan para model di perusahaannya, sebelum dia naik ke kantornya.
Setelah Jery membuka pintu ruangan itu, Jery melihat sesosok wanita yang begitu dia rindukan dan juga khawatirkan, sedang berdiri dan tertawa bersama sutradara dan model lainnya.
"Nona Michael." Ucap Jery.
Mimi yang mendengar namanya di panggil menoleh, dia melihat Jery yang berdiri tidak jauh darinya, sedang menatapnya dengan wajah terkejut.
"Direktur, selamat pagi." Ucap Mimi seraya berjalan mendekati Jery.
Mimi tersenyum dengan manis sambil menatap Jery.
"Direktur, apa anda baik-baik saja?" Tanya Mimi yang terheran melihat Jery diam saja.
"Ehem, nona Michael ikut ke ruangan saya sekarang." Ucap Jery pada Mimi dengan nada sedikit kaku.
"Baik tuan." Ucap Mimi.
Di mata teman-temannya, Mimi pasti akan di tegur karena dia sudah berangkat ke perusahaan, padahal dia mendapatkan cuti sakit selama 2 minggu. Tetapi sayangnya, semua itu berbeda dari apa yang mereka semua pikirkan.
Sampai di dalam ruang kerja, Jery menatap Mimi dengan lekat. Tatapan yang begitu dalam namun penuh dengan ketakutan.
Mimi tidak tahu harus berkata apa saat di tatap oleh Jery dengan tatapan seperti itu.
"Je... Jery, kau.... kenapa, apa ada yang ingin kau katakan?" Ucap Mimi dengan gugup.
Jery berjalan mendekati Mimi, dia lalu memeluk tubuh Mimi dengan erat namun lembut.
Mimi terkejut mendapat pelukan mendadak seperti itu dari Jery, namun setelah itu dia membalas pelukan Jery dan menepuk pelan punggung Jery beberapa kali.
"Ada apa, apa kau ada masalah?" Tanya Mimi yang kebingungan.
Jery mengangguk.
"Kalau begitu katakan padaku."
Jery melepaskan pelukannya, dia lalu menggenggam tangan Mimi.
"Mimi, kau.... kau tidak akan meninggalkanku bukan?" Ucap Jery.
Mimi mengerutkan keningnya, dia tidak tahu maksud dari ucapan Jery padanya itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Mimi.
"Pagi ini aku melihat berita tentang kekasih Joseph yang berkencan dengan laki-laki lain."
"Lalu?
__ADS_1
"Berita itu sudah menyebar, dan sudah di pastikan Joseph dan kekasihnya pasti akan berpisah. Aku.... aku takut kau...."
Mimi melepaskan genggaman tangan Jery padanya, dia lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Jery dengan tajam.
"Katakan padaku siapa yang berkata bahwa aku peduli tentang berita itu? Dan katakan padaku siapa yang peduli dengan apa yang terjadi pada kedua orang itu?" Tanya Mimi dengan cepat pada Jery.
(Mode cerewet mimi On ðŸ¤)
Jery menggelengkan kepalanya "Tidak ada yang mengatakannya, aku hanya... hanya takut kalau kau akan kembali mengejar Joseph, setelah tahu hubungan dia dan kekasihnya hancur."
Mimi menatap laki-laki yang ada di depannya, laki-laki yang begitu takut kehilangan dirinya.
"Dasar bodoh!" Celetuk Mimi.
"Hah?"
Mimi tersenyum, dia lalu memeluk Jery dengan erat. Jery sempat tersentak karena di peluk oleh Mimi. Dan itu adalah kali pertama Mimi memeluknya atas inisiatifnya sendiri.
"Aku tidak akan melakukan itu, aku bukanlah wanita bodoh yang akan kembali mengejar orang yang tidak pernah melihatku. Jadi kau tidak perlu khawatir atau takut. Karena itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Mimi.
Jery yang mendengar itu merasa lega, dia pun lalu membalas pelukan Mimi dan mengecup bahu Mimi dengan penuh perasaan.
"Terima kasih sayang, kau membuatku merasa lega." Ucap Jery.
Mimi mengangguk "Iya."
Mimi melepaskan pelukan mereka dan menatap Jery.
"Jadi lain kali kau tidak boleh mempunyai pikiran yang tidak-tidak seperti tadi." Ucap Mimi dengan tegas.
"Iya, aku mengerti."
"Kau sudah membuatku takut karena tatapan mu itu, aku mengira telah terjadi sesuatu."
"Maaf, itu karena aku sangat khawatir."
Mimi tersenyum, dia tahu jika kekasihnya sangat takut kehilangan dirinya. Dan Mimi merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Jery, yang begitu mencintainya.
"Baiklah, aku harus kembali. Mereka pasti mencemaskan ku karena kau tiba-tiba memintaku kesini." Ucap Mimi.
"Iya, kau bisa kembali."
Mimi mengangguk, dia lalu berbalik.
"Mimi."
Mimi menoleh "Iya Je..."
Ucapan Mimi terhenti, saat sebuah bibir hangat menempel pada bibirnya.
Ya, Jery mencium bibir Mimi secara tiba-tiba saat Mimi menoleh padanya.
Jery mencium dan memberikan sedikit lum4tan pada bibir Mimi, yang belum pernah di cium oleh siapapun itu.
Mimi hanya diam, karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa merasakan ciuman yang begitu hangat dari bibir Jery padanya.
Setelah beberapa saat, Jery melepaskan ciumannya dan menatap Mimi dengan lembut.
"Apakah ini adalah ciuman pertamamu?" Tanya Jery.
Mimi mengangguk dengan malu, dia menggigit bibir bawahnya.
Jery tersenyum dan memeluk tubuh Mimi, dia merasa bahagia karena dirinya adalah orang pertama yang telah mencium bibir Mimi.
"Aku sangat mencintaimu, Mimi." Jery mengusap lembut punggung Mimi.
__ADS_1
"Aku juga." Ucap Mimi.
Hari ini Jery merasa sangat bahagia, karena kekhawatirannya pagi ini telah berubah menjadi sebuah perasaan yang di penuhi oleh bunga yang bertebaran dimana-mana.