
Setelah membereskan semua pakaian dan beberapa barang yang akan mereka bawa ke vila, Xixi dan Mimi di bantu oleh kedua kekasihnya keluar dari apartemen.
"Sekarang kita ke pasar, sebelum orang-orang pulang kerja dan pasar menjadi sesak." Ucap Xixi.
"Benar, ayo." Ucap Mimi.
Mereka berempat pun keluar dari gedung apartemen menuju ke pasar, dengan dua mobil yang di kemudikan oleh Leon dan Jery.
"Sayang, aku tidak tahu kalau kau pernah pergi ke pasar yang ada di kota ini." Ucap Leon yang tengah mengemudikan mobil.
"Itu karena aku tidak pernah menceritakannya padamu."
"Lalu apakah yang kau beli di pasar tidak ada di supermarket?"
"Ada, hanya saja di pasar jauh lebih segar. dan kita juga bisa memilih sendiri sayuran mana yang kita inginkan. Karena jika di supermarket, biasanya sudah di bungkus dengan plastik dan sulit untuk memilihnya"
Leon mengangguk "Hmmm begitu."
"Iya, kau harus belajar tentang itu."
"Baik, jadi nanti jika kau sedang mengandung anak kita. Aku bisa berbelanja sendiri di pasar."
"Leon."
Leon tersenyum, dia lalu meraih tangan Xixi dan mengecupnya.
"Sayang, aku benar-benar ingin hidup denganmu. Bersama-sama melewati semuanya. Bukan hanya sebatas menjadi seorang kekasih, yang tidak tahu akan berakhir bagaimana." Ucap Leon dengan lembut.
Xixi diam, dia tahu jika Leon sangat mencintainya dan tidak main-main dengan apa yang telah dia katakan saat ini.
"Aku...."
"Aku tahu kau belum sepenuhnya yakin padaku, tapi aku akan menunggu sampai kau berlari memelukku, dan berkata jika kau mau menjadi istriku." Ucap Leon memotong perkataan Xixi.
Xixi mengangguk, wajahnya saat ini terasa panas. Ucapan Leon yang begitu masuk ke dalam hatinya membuat udara di dalam mobil yang berAC menjadi panas seketika.
10 menit kemudian, mereka sampai di tempat parkir yang berada di luar area pasar.
"Pasar di sini cukup besar." Ucap Jery.
"Tentu saja, karena ini adalah pasar terbesar di kota A." Ucap Xixi.
Xixi membawa mereka bertiga berjalan mengelilingi pasar besar yang ada di depan mereka.
Berbagai sayur, buah, ikan dan daging di jual di pasar yang cukup besar itu.
"Baiklah, kita beli sayur dan buah lebih dulu." Ucap Xixi.
Xixi dan Mimi masuk ke dalam sebuah kios kecil yang menjual berbagai sayur dan buah segar.
"Bibi, apa kau memiliki tomat berukuran kecil?" Tanya Mimi pada pemilik kios.
"Ada, semua tomat ada di bagian sana nona." Ucap pemilik kios seraya menunjukan tempat dimana tomat berada.
"Ah baik, terima kasih bibi."
Pemilik kios mengangguk.
Mimi lalu berjalan menuju tempat tomat itu, sementara di bagian lain, Xixi sedang memilih daun selada, dan jagung yang akan di jadikan bahan tambahan dalam barbeque mereka malam ini.
Setelah membeli semua sayur dan buah yang mereka inginkan, mereka berjalan ke pemilik kios untuk membayarnya.
"Apa kalian akan melakukan barbeque malam ini?" Tanya pemilik kios yang melihat bahan-bahan yang mereka beli.
"Benar bibi." Ucap Xixi.
"Jika begitu, kalian harus segera pergi ke tempat penjualan daging di sebelah sana. Aku melihat toko itu baru saja memasukan satu ekor sapi yang telah di kuliti dan siap di potong."
"Wah itu bagus, kita mendapatkan bahan-bahan yang sangat segar untuk barbeque malam ini." Ucap Mimi.
Setelah Leon memberikan uang pada pemilik kios untuk membayar semua sayur dan buah, mereka lalu pergi ke kios daging yang di tunjukan oleh pemilik kios sayur dan buah tadi.
"Benar yang di katakan bibi tadi, daging sapinya baru saja sampai." Ucap Mimi pada Xixi setengah berbisik.
"Apa kau ingin membeli daging sapi nona?" Ucap pemilik kios daging pada Xixi dan Mimi.
"Benar paman, tolong beri kami dua kotak daging. Kami akan melakukan barbeque malam ini."
"Baik, tunggi sebentar. Aku akan potongkan dagingnya untuk kalian."
"Terima kasih paman."
Pemilik kios daging itu lalu memotongkan bagian daging sapi yang paling bagus untuk barbeque, lalu meletakan daging-daging itu ke dalam kotak.
"Apa kau ingin yang lainnya nona?" Tanya pemilik kios daging seraya menyerahkan satu kantong berisi dua kotak daging sapi.
"Apa paman mempunyai (lamb) iga domba?" Tanya Xixi.
"Iya, kami juga menjualnya. Kau ingin berapa potong nona?"
__ADS_1
"Beri kami 6 potong saja paman."
"Baik, tunggu sebentar."
Pemilik kios daging kembali memotongkan pesanan Xixi, lalu memberikan satu kantong berisi iga domba pada Xixi.
Setelah Jery membayar daging-daging itu, mereka lalu pergi ke tempat penjual ikan. Karena mereka juga akan membeli beberapa cumi-cumi besar dan kerang.
20 menit kemudian, mereka telah membeli semua bahan-bahan untuk barbeque nanti malam.
"Kalian sangat bersemangat sekali berbelanja." Ucap Jery.
"Tentu saja kak, itu karena semua bahan yang kita butuhkan masih segar-segar, dan belum banyak orang yang memilih-milih." Ucap Xixi.
"Hmmm, sepertinya kau akan memiliki calon istri yang gemar berbelanja di pasar Leon."
"Hahaha benar kak, hanya saja aku belum tahu. Apakah calon nyonya muda Damian ini mau atau tidak hidup denganku." Leon menatap Xixi.
Mimi yang melihat adiknya diam, tersenyum dan segera menggandeng tangannya.
"Baiklah, semua bahan-bahan itu letakan pada mobil Jery saja. Kalian kembalilah ke vila lebih dulu, aku dan Xixi akan membeli beberapa minuman dan cemilan." Ucap Mimi, seraya mengedipkan salah satu matanya pada Jery.
"Ya baiklah, aku menuruti apa kata nyonya muda Robert saja." Ucap Jery yang membawa sebagian belanjaan mereka.
Mini terkekeh "Ayo kita ke supermarket terdekat, Xixi."
Xixi hanya mengangguk.
Mimi sangat mengerti jika saat ini Xixi belum berfikit untuk berkomitmen dengan orang lain. Karena keinginannya belum bisa dia dapatkan.
Jika saja dia mau berbagi cerita sedikit saja pada Leon tentang keinginan terbesarnya itu, Leon juga pasti akan mengerti. Tapi Xixi yang ingin impiannya tercapai dengan hasil usahanya sendiri, tidak mau Leon tahu, karena pasti diam-diam Leon akan membantunya.
Di tempat lain, Jery menepuk bahu Leon yang termangu menatap punggung kekasihnya itu.
"Sudah, ayo kita segera kembali ke vila. Dan mengurus semua ini." Ucap Jery pada Leon.
"Iya kak."
Jery dan Leon berjalan menuju mobil Jery yang ada di tempat parkir, tepat di samping area pasar itu.
"Kau harus lebih bersabar dan meyakinkan Xixi lagi." Ucap Jery saat mereka memasukan belanjaan ke dalam bagasi mobil.
"Iya kak, aku tahu. Hanya saja aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Xixi padaku."
"Semua orang memiliki rahasia mereka sendiri, kelak kau akan memgetahuinya saat Xixi sudah siap."
Kedua laki-laki itu lalu masuk ke dalam mobil, dan mereka pergi menuju vila milik Xixi.
Di dalam mobil, Leon menatap layar ponselnya. Entah kapan dia akan mengetahui rahasia yang Xixi sembunyikan darinya.
"Dia benar-benar sangat tertutup, bahkan aku tidak tahu apakah dia benar-benar membalas perasaan ku atau tidak." Ucap Leon.
"Hei, apa yang kau katakan? Jika Xixi tidak membalas perasaan mu, dia tidak mungkin akan membalikan perusaahaan milik keluarga Albert, dan membuat mereka hancur hanya karena putri mereka mencoba menggodamu, Leon." Ucap Jery.
"Aku tahu itu kak, hanya saja...."
"Sudahlah, buang pikiranmu itu. Dan yakinlah jika Xixi benar-benar mencintaimu. Hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda."
Leon mengangguk, dia masih menatap layar ponselnya dimana foto Xixi sebagai wallpapernya.
"Kau ini, bahkan seorang playboy dan CEO arogan yang terkenal dingin, bisa dengan mudah di kalahkan oleh Xixi." Ucap Jery mengejek Leon.
"Bukankah kau juga sama, kak. Kau bisa bangkit dari mimpi burukmu dulu karena kak Mimi, dan kau bahkan tidak ingin jauh darinya walau hanya 1 menit."
"Hahaha, sepertinya kita terjebak dalam cinta dua wanita kakak beradik ini."
"Ya kau benar."
Mobil terus melaju menyusuri jalanan, dan di samping jalan mereka melihat air laut yang berkilauan akibat pantulan matahari sore.
Sampai di vila, Leon dan Jery membawa semua belanjaan masuk, dan mereka juga membersihkan sayur, buah, cumi-cumi dan kerang.
Tak begitu lama, mereka mendengar deru mobil berhenti di depan vila.
"Sepertinya mereka sudah sampai." Ucap Jery pada Leon.
"Iya kak."
Leon segera berjalan ke depan vila dan membantu membukakan pintu untuk Xixi dan Mimi.
"Aku saja yang bawa." Ucap Leon seraya mengambil satu kantong berukuran sedang dari tangan Xixi.
"Apa kalian sudah membersihkan semua bahan-bahannya?" Tanya Mimi yang berjalan ke samping vila.
"Iya sayang, kami sudah membersihkannya." Ucap Jery yang sedang meletakan buah yang telah dia cuci.
"Waaahh, kalian hebat sekali."
Mimi melihat semua bahan sudah siap di atas meja.
__ADS_1
"Aku akan mengambil pemanggangnya dulu." Ucap Xixi.
Mimi mengangguk "Iya."
"Aku akan membantu Xixi mengambilnya." Ucap Leon.
Mimi dan Jery mengangguk, mereka membiarkan Xixi dan Leon saling berbicara setelah suasana canggung di pasar tadi.
"Dimana kau meletakan alat pemanggangnya, sayang?" Tanya Leon pada Xixi.
"Itu, ada di atas." Xixi menunjuk sebuah kotak yang ada di atas rak yang cukup tinggi.
"Kau tunggu disini, aku akan mengambilnya."
"Itu ada kursi, kau bisa memakainya untuk mengambil pemanggangnya."
Leon mengangguk "Iya."
Leon lalu mengambil kursi itu dan menginjaknya agar dia bisa mengambil pemanggang yang ada di atas.
"Baiklah, ini dia." Ucap Leon setelah mengambil alat pemanggang itu.
Xixi tersenyum saat Leon berhasil mengambilnya dan turun dengan baik, tetapi senyuman Xixi berubah. Kedua matanya membulat saat sebuah kotak lain meluncur ke bawah dan akan mengenai Leon.
"Leon awas!" Teriak Xixi.
Braaak!
Suara benda jatuh yang cukup keras membuat Mimi dan Jery harus berlari ke tempat dimana Leon dan Xixi berada.
"Xixi!" Ucap Mimi saat melihat tangan Xixi terluka.
Ya, tepat sebelum benda dalam kotak jatuh, Xixi menarik tangan Leon dengan kuat, dan benda itu mengenai tangan Xixi yang mencoba menutupi kepalanya.
"Kak, tolong bawa itu. Aku akan menggendong Xixi keluar." Ucap Leon seraya menunjuk pemanggang yang ada di depannya.
Jery mengangguk, dia lalu mengambil pemangganga itu dan menarik pelan tangan Mimi untuk keluar dari ruang penyimpanan.
Leon mengangkat tubuh Xixi dengan hati-hati.
"Dasar bodoh, untuk apa kamu melakukan itu? Aku bisa menghindarinya, bahkan menahannya agar tidak mengenai dirimu. Tapi kenapa kau....."
Cup
Xixi tanpa sadar mengecup bibir Leon yang terus berbicara itu. Dan sedetik kemudian wajahnya merona, lalu menyembunyikannya pada bahu Leon yang sedang menggendongnya.
Leon tersenyum mendapatkan hal yang tak terduga dari kekasihnya itu.
Begitu juga dengan Mimi dan Jery yang melihat itu, mereka ikut tersenyum sebelum mereka pergi ke samping vila, membiarkan sepasang kekasih itu.
Leon mendudukan Xixi di atas sofa, dia akan membersihkan dan mengobati luka Xixi.
"Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil." Ucap Xixi.
"Kau diam saja, jika bergerak lagi aku akan melakukan apa yang kau lakukan padaku tadi."
Wajah Xixi kembali memerah.
"Lihatlah wajahmu memerah lagi. Kau sangat mencintaiku, tetapi tidak mau mengiyakan saat aku memintamu menikah denganku."
"Diamlah, kau ini be....."
cup
Kali ini Leon yang mengecup bibir Xixi, namun itu bukan kecupan singkat seperti yang Xixi lakukan, karena saat ini Leon mulai memberikan sedikit l*mat4n lembut pada bibir Xixi.
Setelah beberapa saat mereka melepaskan ciuman mereka, dan saling menatap.
"Ingat Cicilia William, kau hanyalah milik ku. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi milik ku. Hmm?" Ucap Leon.
Xixi mengangguk.
"Apa?"
"Iya."
"Kau mengatakan iya untuk apa sayang?" Leon mencoba menggoda Xixi.
"Iya, aku hanya milik Leonardo Damian. Kau sudah dengar itu, tuan muda Damian?"
Leon tertawa, dia lalu memeluk Xixi dengan erat. Leon sungguh sudah sangat mencintai Xixi dan akan melakukan apapun untuk bersama dengannya.
"Baiklah, kak Mimi dan Jery sudah menunggu. Kita lebih baik kesana sekarang." Ucap Xixi.
"Iya, ayo."
Leon dan Xixi berjalan ke samping vila, dan mereka melihat jika Jery dan Mimi sudah mulai memanggang beberapa daging dan sayur.
Barbeque kali ini di temani oleh semburat warna jingga yang begitu cantik menghiasa cakrawala di kota A.
__ADS_1