The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 78


__ADS_3

Ceklek


Pintu apartemen terbuka Xixi melihat kakaknya masuk ke dalam apartemen, dan mengganti sepatu yang dipakainya dengan sandal rumah.


"kakak baru pulang?" Tanya Xixi pada Mimi


Mimi melihat Xixi tengah duduk di sofa ruang tv, dia lalu menghampiri adik perempuannya itu dan duduk di sampingnya.


"Tumben sekali kau sudah pulang jam segini? Apa pekerjaanmu sudah selesai semua di perusahaan?" Tanya Mimi.


"Mood ku sedang tidak baik karena ada dua karyawan di perusahaan yang melakukan hal menjijikan."


"Hal menjijikan, Apa itu?"


"Mereka melakukan hal tak senonoh di dalam ruang kerja, bahkan saat aku mengeluarkan mereka dengan tidak baik, mereka saling melemparkan kesalahan. Padahal itu mereka lakukan atas kemauan mereka berdua."


"Lalu, apa kau memberitahukan hal ini pada ayah?"


"Untuk apa? Aku sudah memberikan hukuman yang tidak akan pernah mereka lupakan. Beraninya mereka melakukan hal itu di perusahaan yang aku pimpin." Xixi berkata dengan nada yang sangat kesal.


Mimi menatap adiknya, dia melihat jika adiknya tidak berubah menghadapi orang yang sudah membuatnya marah.


"Siapa yang sudah mengusik adikku ini, pasti hanya akan bisa menerima nasib ketidak beruntungan mereka."


"Sudahlah, kamu sudah menghukum mereka. Jadi lebih baik lupakan itu. Aku akan ke kamar dulu." Ucap Mimi seraya berdiri.


"Iya."


Mimi lalu berjalan ke kamarnya, sementara Xixi melanjutkan menonton acara yang sejak tadi dia lihat.


"Ah benar, Leon bilang kalau dia akan membeli beberapa barang untuk di letakan di dalam vila." Ucap Xixi.


Xixi mengambil ponselnya, lalu menghubungi Leon.


tut tut.... tut tut....


Leon : Halo sayang


Xixi : Leon, kamu bilang akan membeli barang-barang untuk di dalam vila.


Leon : Iya, apa kau mau ikut?


Xixi : Iya.


Leon : Oke, kalau begitu aku akan menjemputmu di perusahaan.


Xixi : Jangan, aku sudah ada di apartemen.


Leon : Kau sudah pulang?


Xixi : Iya.


Leon : Kenapa, apa kau sakit sayang?


Xixi : Tidak aku tidak apa-apa, kau jemput aku di bawah apartemen saja.


Leon : Iya, sekitar 20 menit lagi aku akan sampai di sana.


Xixi : Iya, aku mengerti.


Xixi lalu memutuskan sambungan telefon mereka, dia berdiri dan berjalan ke kamarnya untuk bersiap, karena dia akan keluar dengan Leon.

__ADS_1


Di dalam kamar, Xixi mengambil pakaian yang terlihat lebih santai. Karena dia sedang malas memakai pakaian yang terlihat formal.


"Aku pakai ini saja." Ucap Xixi mengambil salah satu kaos berwana ungu dari dalam lemarinya.


Xixi mengganti pakaian lalu menyisir rambutnya. Hari ini cukup pnas, jadi Xixi mengikat rambutnya yang tidak terlalu panjang itu.


Setelah selesai Xixi menyambar tas berwarna putih miliknya, lalu keluar dari dalam kamar.


"Kau mau kemana, Xixi?" Tanya Mimi saat Xixi menuruni tangga.


"Aku akan keluar dengan Leon, dan sepertinya tidak makan malam di rumah."


"Oh, kalau begitu hati-hati."


"Oke kak."


Xixi mengambil sepatu warna putih miliknya dan memakai sepatu itu, sebelum dia keluar dari apartemennya.


Mimi yang melihat adiknya keluar dengan pakaian santai seperti itu, menggelengkan kepala.


"Dia itu, masih saja seperti anak remaja yang baru tumbuh dewasa." Gumam Mimi.


Di bawah gedung apartment, Xixi melihat mobil Leon sudah terparkir indah tidak jauh dari pintu keluar gedung apartemen.


Xixi berjalan menghampiri mobil Leon, dimana pemilik mobil berada di dalamnya.


"Sejak kapan kau sampai?" Tanya Xixi setelah masuk ke dalam mobil.


"Sekitar 5 menit yang lalu."


Xixi mengangguk, dia lalu memasang seatbelt sebelum Leon melajukan mobilnya menuju toko furniture.


"Kau sudah pulang dari perusahaan, kenapa?" Tanya Leon yang sedang menyetir.


"Katakan sayang."


Xixi menghela nafas, dia lalu menceritakan apa yang terjadi di perusahaannya hari ini, yang sudah membuat Xixi tidak lagi ingin bekerja hari itu.


"Baiklah, lupakan itu. Kau sudah memecat kedua orang itu dari perusahaan, jadi ke depannya kau tidak perlu lagi menghadapi mereka."


"Iya."


"Jadi, hukuman apa yang kau berikan untuk kedua karyawanmu itu?"


Xixi menoleh, dia sedikit heran pada Leon yang tahu jika dirinya memberi hukuman pada kedua orang itu.


Leon menoleh dan menatap Xixi sejenak, sebelum dia kembali menatap jalanan yang ada di depannya.


"Kenapa sayang, aku sangat mengerti bagaimana dirimu. Kau pasti tidak akan melepaskan mereka begitu saja, mereka sudah melakukan hal seperti itu di dalam perusahaanmu. Akan aneh jika kau tidak menghukum mereka." Ucap Leon.


Xixi mungkin belum bisa mengerti Leon, namun tidak bisa di pungkiri jika Leon yang terlihat cuek itu, ternyata begitu mengerti bagaimana dirinya.


"Aku memberikan video dari rekaman cctv, dan beberapa foto di dalam ruangan itu kepada istri kepala direksi, dan juga kepada keluarga karyawan itu. Aku juga menyebarkan 20 foto tak senonoh mereka ke publik, agar mereka tidak bisa bekerja di perusahaan manapun."


Leon diam, dia hanya mengangguk mendengar hukuman yang Xixi berikan pada dua karyawan di perusahaannya itu.


"Dia benar-benar tidak berubah, selalu membalas hingga ke akar."


Untuk beberapa saat mereka saling diam, hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah toko furniture terbesar di kota A.


"Ayo turun sayang, kau bisa memilih apa saja yang ingin kau letakan pada vila-vila mu nanti." Ucap Leon seraya mematikan mobilnya.

__ADS_1


"Iya."


Leon dan Xixi keluar dari mobil, dan bersama-sama masuk ke dalam toko furniture itu.


Di dalam toko mereka di sambut oleh salah satu pelayan toko itu, mereka juga di antar berkeliling toko itu untuk melihat beberapa model furniture yang Xixi inginkan.


"Kau mau yang mana sayang?" Tanya Leon dengan lembut.


"Sepertinya yang ini lebih cocok di tempatkan di samping vila. Di sisi yang lain kita letakan dua kursi, jadi nanti bisa menikmati suasana sore hari sambil menatap matahari tenggelam." Ucap Xixi.


Pelayan toko yang melihat kemesraan mereka, dia mengira jika kedua pembelinya itu adalah sepasang suami istri baru yang membuat vila di kota A ini.


"Pilihan istri anda sangat bagus tuan, ini terbuat dari bahan terbaik dan tidak akan mudah rusak meskipun di letakan di luar ruangan." Ucap pemilik toko.


Mendengar ucapan pelayan toko yang berkata, jika Xixi adalah istri Leon. Membuat Xixi salah tingkah.


"Itu... maaf kami bukan...."


"Istri saya memang orang yang pintar memilih sesuatu. Tolong catat yang itu dulu, kita akan mencari yang lainnya lagi." Ucap Leon memotong perkataan Xixi, yang Leon yakini jika Xixi ingin mengelak atas apa yang pelayan toko itu katakan.


Leon menggandeng tangan Xixi untuk pergi ke tempat lainnya.


"Leon, kenapa kau..."


"Sayang, kelak kita juga pasti akan menikah. Orang lain melihat kita seperti sepasang suami istri baru, dan aku rasa itu tidak masalah untukku." Ucap Leon yang masih menggenggam tangan Xixi.


Xixi hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Leon. Laki-laki di sampingnya berkata demikian, yang artinya dia tidak akan pernah melepaskan dan tidak akan menikah dengan wanita lain, selain dirinya.


Mereka berdua membeli beberapa furniture dengan perasaan bahagia, bahkan Xixi tidak mencoba mengelak lagi saat ada pelayan lain berkata, jika dia dan Leon adalah pasangan suami istri yang sangat serasi.


Setelah membeli semua furniture yang di butuhkan, dan meminta pihak toko mengantarnya ke salah satu vila milik Xixi, Leon dan Xixi keluar dari toko itu.


"Sudah sore, kau ingin makan apa?" Tanya Leon saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Emm..... kita makan di kedai yang pernah kita datangi saja. Suasana disana sangat nyaman. Kita bisa makan sambil melihat pemandangan sungai di kota pada malam hari."


"Oke, kita akan makan malam disana."


Leon lalu melajukan mobilnya ke arah kedai yang Xixi maksud itu. Mereka juga sudah lama tidak makan bersama di kedai itu lagi.


"Oh iya, kemarin aku melihat Joseph di kota ini." Ucap Leon.


"Kak Joseph?"


"Iya."


"Mungkin dia datang untuk bekerja disini."


Leon mengangguk "Mungkin saja, karena setelah aku tinggal disini, aku sudah sangat jarang berkomunikasi dengan dia."


"Aku juga sudah jarang menghubungi Lulu, dia pun juga sama."


"Mungkin Lulu merasa tidak enak padamu, karena kak Joseph sudah membuat kak Mimi kecewa dan terluka."


"Hmmm mungkin juga, aku tidak tahu."


Leon mengulurkan tangannya, lalu mengusap kepala Xixi dengan lembut.


"Tidak perlu di pikirkan, itu urusan mereka." Ucap Leon.


Xixi mengangguk "Iya, aku mengerti."

__ADS_1


Leon tersenyum, dia senang mempunyai kekasih yang tidak banyak ikut campur dalam permasalahan orang lain.


__ADS_2