
Video dan berbagai bukti kejahatan yang di lakukan oleh keluarga Gabriel telah menjadi trending topik yang sangat panas dan di cari oleh berbagai media di beberapa negara.
Orang-orang yang melihat video dan bukti kejahatan keluarga Gabriel mengecam keras keluarga itu, mereka sungguh tidak menyangka jika bukan hanya kedua orang tuanya saja yang melakukan kejahatan, tapi kedua anak mereka juga melakukan hal yang tak senonoh dan begitu memalukan.
Saat ini bukan hanya tuan Gabriel, istrinya, dan kedua anaknya. Keluarga besar Gabriel pun ikut merasakan akibat dari perbuatan mereka. Keluarga-kekuarga kaya dan berpengaruh tidak mau lagi menjalin hubungan dengan keluarga besar mereka setelah semua berita itu menyebar.
Akan sangat memalukan jika mereka masih menjalin hubungan dengan keluarga yang mempunyai masalah besar seperti itu.
Orang-orang yang melihat video Max dan Megan merasa jika keluarga besar Gabriel selama ini sudah menyembunyikan perbuatan mereka dengan sangat baik, sehingga hubungan terlarang kedua anak itu tidak pernah terkuak keluar.
"Heh, akhirnya mereka merasakan akibat dari perbuatan mereka sendiri." Ucap Xixi yang tengah melihat berita keluarga itu di televisi di rumahnya.
"Kau sudah turun tangan, jadi sudah di pastikan tidak akan ada yang bisa lepas dari genggaman tanganmu." Mimi yang baru saja datang dari ruang makan mengomentari ucapan Xixi.
"Sepertinya itu enak kak."
"Buatlah sendiri, aku tidak tahu seleramu."
"Hmm kakak ini."
"Tapi aku lega, karena akhirnya mereka tidak akan pernah lagi melakukan kejahatan dan juga melukaimu."
"Ya, benar. Setidaknya mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat, sesuai dengan apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Dan yang pasti, mereka akan di tinggalkan oleh kelurga besar Gabriel akibat perbuatan mereka itu."
"Ck ck ck, suruh siapa mereka berbuat banyak masalah dan kejahatan."
Xixi melihat berita itu dengan senyum puasnya, dia sudah melakukan banyak hal untuk membalas mereka. Dan akhirnya mendapatkan hasil yang dia inginkan.
"Setidaknya Gabriel dan istrinya akan mendapatkan hukuman seumur hidup karena pernah menganiaya beberapa hingga mati. Sedangkan kedua anak itu, mereka yang sudah tidak bisa lagi berdiri di depan publik karena malu, akan di hukum paling lama 20 tahun karena semua tindakan mereka yang terbukti mencoba membunuhku beberapa kali."
Xixi berdiri dan berjalan ke dapur, saat ini dia merasa lega. Setidaknya sekarang orang yang selama ini membuatnya kesulitan sudah tidak ada.
"Xixi, apa kau tahu?" Tanya Xixi sambil meletakan gelas kosong di tempat cuci piring.
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Rachel Scott."
"Lalu, apa yang kalian lakukan?"
"Aku dan kak Junnie pernah memasukan dia ke penjara dan membiarkan dia dan ibunya tinggal beberapa hari di dalam penjara, kau ingat kejadian di kafe satu bulan yang lalu bukan? Dan kemarin, saat aku bertemu dengan dia lagi, dia sama sekali tidak berubah. Sifat arogan dan sombongnya membuatku sangat geram."
"Dia itu hanya punya otak setengah kak, jadi untuk apa peduli dengan dia."
"Pantas saja Leon lebih memilihmu dari pada dia."
"Kak, apa hubungannya dengan itu?"
"Tentu saja, Leon sekarang sudah mulai mengelola salah satu perusahaan milik ayahnya, dan memerlukan istri pintar seperti mu. Jika di bandingkan dengan Rachel Scott itu, kau jauh lebih pintar dari segala bidang, di tambah tubuhnya juga tidak sebanding dengan tubuhmu, itu yang Leon butuhkan dari seorang calon istrinya."
__ADS_1
"Haaahh, sepertinya kakak sudah tertular oleh Rachel." Keluh Xixi.
Xixi meninggalkan kakaknya di dapur sambil membawa kopi hangat di tangannya. Saat ini dia sedang menikmati kemenangannya dan tidak mau terganggu oleh apapun yang bersangkutan dengan Leon.
"Oh iya, minggu ini kakak akan ke sebuah acara. Kau mau ikut?" Ucap Mimi dengan suara agak keras.
Xixi hanya melambaikan tangannya menjawab Mimi, dia terus berjalan dan naik ke lantai dua. Xixi tentu tidak tertarik dengan acara yang kakaknya katakan itu. Walaupun dia sudah berjanji akan membantu kakaknya untuk lebih mengenal Joseph sebelumnya.
"Hmm dia ini." Gumam Mimi.
Di dalam kamar, Xixi meletakan cangkir berisi kopi di atas nakas. Dia sendiri naik ke atas ranjang lalu menelusupkan kakinya dalam selimut.
"Kenapa kakak harus membahas Leon di saat aku senang menikmati kemenangan besarku ini? Membuat mood ku berubah saja." Gerutu Xixi.
Xixi membaringkan tubuhnya, dia termenung dan secara tidak sadar dia mengingat apa yang sudah Leon lakukan padanya beberapa hari kemarin di ruang tamu rumahnya.
Bluuuush
Wajah Xixi merona dan tiba-tiba terasa panas, dia lalu menarik selimut hingga kepalanya tertutupi oleh selimut itu.
"Kenapa aku malah mengingat kejadian itu?"
Deg
Deg
Deg
"Apa ini? Bahkan detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak mungkin jika aku...."
Xixi tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, jadi dia tidak tahu apakah akan sangat menyenangkan atau tidak ketika dia mengalaminya. Tapi setiap kali dia melihat teman kuliahnya menangis karena putus dengan kekasihnya, Xixi selalu merasa jika jatuh cinta akan membuatnya terluka dan menangis juga.
"Aaaaaakh! Kenapa aku harus mengingat dia di saat seperti ini?" Ucap Xixi dengan kesal.
Xixi yang kesal pada dirinya sendiri mengacak-acak rambutnya dan menghempaskan tubuhnya kembali ke atas ranjang.
***
Sementara di sebuah kamar yang tidak jauh berbeda mewahnya dari kamar Xixi. Leon tengah berbaring di atas ranjangnya sambil membaca berita tentang kehacuran perusahaan dan keluarga Gabriel.
"Apa ini pembalasan yang Xixi lakukan pada mereka?" Gumam Leon.
Leon lalu mencari sumber utama saat berita itu pertama kali muncul di media sosial.
"Alamat anonim? Hmmm, sepertinya besok aku harus datang dan menanyakannya secara langsung pada Xixi."
Leon menatap foto Xixi yang dia ambil secara diam-diam saat pertama kali Xixi ke kampus dengan penampilan barunya.
"Wanita ini, sampai kapan kamu akan membuatku menunggu? Tidak bisakah kau melupakan apa yang pernah aku lakukan padamu dan melihat ketulusanku?" Gumam Leon sambil menyentuh layar ponselnya.
__ADS_1
Leon berdiri dan melihat keluar jendela kamarnya, salju putih telah menumpuk dan membuat sebagian taman rumahnya berwarna putih.
"Sepertinya besok akan semakin dingin, begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Dia pasti tidak mau aku ajak pergi ke acara itu."
Leon berbalik dan keluar dari kamarnya, tepat di depan kamar dia bertemu dengan pelayan rumahnya.
"Tuan muda, nona muda Scott ada di sini dan mencari anda." Ucap salah seorang pelayan rumahnya itu.
"Yang aku rindukan siapa, yang datang kesini tanpa rasa malu siapa?" Gumam Leon.
Dia lalu berjalan menuruni tangga, dia melihat Rachel tengah duduk bersama dengan ibunya.
"Kak Leon." Ucap Rachel dengan bahagia saat melihat Leon datang.
"Cuaca begitu dingin, ada keperluan apa kau kesini?" Ucap Leon dengan datar.
Leon benar-benar sedang tidak ingin berbicara dengan Rachel, dia sungguh merasa jijik melihat Rachel yang bermuka dua dan tidak tahu malu itu.
"Kak Leon, kenapa kakak bicara seperti itu?" Ucap Rachel dengan nada sedih.
"Rachel Scott, aku dan keluarga ku sudah tahu bagaimana dirimu. Jadi berhentilah berpura-pura polos, dan berpura-pura menyedihkan disini. Kau bahkan bisa membuat Xixi terbaring tak sadarkan diri." Leon bergumam pada kalimat terakhirnya.
"Itu.... Itu semua karena dia ingin merebut kak Leon dariku."
"Hah, memang kau itu siapa? Aku bahkan tidak pernah tahu jika kita punya hubungan yang begitu dekat, selain hanya teman kuliah. Jangan karena ibuku adalah teman baik ibumu, jadi kau berfikir kalau kelak aku akan menikahi mu."
"Kak Leon, bagaimana bisa kakak berkata...."
"Cukup! Kau tidak perlu lagi menampilkan wajah seperti itu di depanku. Aku sudah pernah melihat wajahmu yang sebenarnya. Berfikirlah nona muda Scott, apa kau kira setelah kau melukai orang lain dengan begitu kejam, aku dan keluargaku masih bersedia menerima mu?"
Rachel mengepalkan tangannya, dia benar-benar tidak percaya jika semua akting wanita polosnya tidak bisa membuat Leon tersentuh, terlebih nyonya Damian hanya diam melihat putranya memarahi dan menekan Rachel di depannya.
Leon yang merasa sudah tidak ada yang perlu dikatakan lagi pada Rachel berbalik.
"Ingat ini, aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menganggu Xixi. Jika kau masih melakukannya, keluarga mu juga akan mengalami apa yang sudah keluarga Gabriel alami saat ini." Ucap Leon sebelum melangkah pergi meninggalkan Rachel dan ibunya.
Tubuh Rachel gemetar mendengar ucapan Leon, dia tahu apa yang saat ini keluarga Gabriel alami. Dan tentu itu sangatlah mengerikan baginya, terlebih keluarganya hampir hancur saat Xixi membuat perusahaannya di ambang kebangkrutan, tapi dia juga tidak ingin Xixi mendapatkan laki-laki yang sejak lama dia inginkan.
"Rachel, lebih baik kau pulang. Dan jangan lagi melakukan hal yang bisa membuat keluargamu menjadi sorotan publik seperti sebelumnya. Akan sangat sulit jika orang-orang tidak lagi memandang keluarga kalian di negara ini."
"Bibi..."
"Maaf, bibi tidak bisa membantu mu. Ini sudah menjadi keputusan Leon. Pulanglah."
Rachel mengeratkan giginya, bahkan ibu Leon pun tidak mau lagi membantunya untuk membujuk Leon.
"Baiklah bibi, aku akan pulang sekarang."
Setelah itu Rachel berdiri dan pergi meninggalkan rumah keluarga Damian dengan kesal dan penuh dengan kemarahan.
__ADS_1
"Ini semua karena wanita j*lang itu! Karena dia, kak Leon jadi berubah denganku. Bibi juga tidak mau lagi membantu ku. Lihat saja kau wanita s*alan, aku akan membuatmu menderita dan menyesal!"
Rachel mencengkeram kemudi mobil dengan erat dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah keluarga Damian.