
Di sebuah mall besar, Mimi dan menejer Junnie sedang mencari sepatu untuk acara yang akan Mimi datangi minggu depan.
Mimi duduk di kursi sebuah toko sepatu terkenal yang ada di dalam mall itu dengan menejer Junnie duduk di sebelahnya.
Saat sedang menunggu sepatu yang dia inginkan, Mimi tidak sengaja dia melihat Rachel yang ternyata juga berada di toko sepatu itu.
Mimi yang masih ingat dengan putri keluarga Scott, yang pernah dia masukan ke dalam penjara beberapa hari itu tersenyum sinis.
"Hanya perempuan yang mengandalkan kekayaan orang tuanya saja pun, berani mengusik adikku." Ucap Mimi.
"Siapa yang kau maksud, Mimi?" Tanya menejer Junnie.
"Lihatlah, disana ada putri dari keluarga Scott yang sombong dan arogan itu." Mimi menunjuk ke arah Rachel dengan tatapan matanya.
Menejer Junnie melihat ke arah yang Mimi tunjuk, dia melihat wanita yang pernah berurusan dengan modelnya dan juga Xixi beberapa minggu yang lalu.
"Dunia memang sempit." Ucap menejer Junnie.
"Iya, kak Junnie benar."
Seorang pelayan toko datang membawa beberapa sepatu yang akan di coba oleh Mimi.
"Silahkan nona." Ucap pelayan itu sambil meletakan beberapa sepatu yang dia bawa.
"Iya, terima kasih."
Braaaak!
Suara benda jatuh terdengar cukup keras, sampai Mimi yang belum sempat mencoba sepatu yang ada di depannya menoleh, dan melihat pelayan toko jatuh di depan Rachel.
"Dasar pelayan tidak tahu diri, kamu pikir aku pantas memakai sepatu yang kau ambilkan itu untuk ku!" Seru Rachel pada seorang pelayan yang ada di atas lantai, setelah di dorong oleh Rachel.
Mimi dan menejer Junnie yang melihat itu tidak percaya, jika Rachel masih saja bersikap arogan dan sombong setelah mendapatkan pelajaran dari Mimi.
"Tolong tunggu sebentar." Ucap Mimi pada pelayan toko.
Mimi berjalan ke arah Rachel yang sedang memarahi pelayan toko yang duduk di atas lantai.
"Aku pikir setelah keluar dari penjara beberapa hari yang lalu, nona muda Scott akan berubah. Tapi yang aku lihat malah bertindak lebih kasar seperti preman." Ucap Mimi.
Wajah Rachel berubah seketika melihat Mimi dan menejer Junnie berdiri di depannya, dia masih ingat yang sudah dia dan ibunya alami setelah berurusan dengan model bernama Michael itu dan menejernya.
"Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur." Ucap Rachel.
"Oh, benarkah?"
Orang-orang yang mendengar ucapan Mimi menatap Rachel sambil berbisik, mereka tentu menatapnya dengan tatapan mengejek, karena mereka tadi mendengar jika Rachel pernah di penjara.
Rachel yang mendengar bisikan orang-orang yang ada di belakangnya menjadi kesal karena malu.
"Nona Scott, jika anda melakukan hal yang tidak baik dan merugikan orang lain. Terlebih dengan keluarga yang berpengaruh, saya pastikan anda tidak akan keluar dari penjara secepat kemarin. Tentu anda tahu bagaimana rasanya tinggal di dalam ruangan yang sempit dan dingin itu." Ucap menejer Junnie sambil membantu membangunkan pelayan toko yang di dorong oleh Rachel.
Rachel mengepalkan tangannya "Kalian pikir, karena kalian orang-orang yang kaya, kalian bisa melakukan apapun!"
Mimi menatap Rachel dengan sinis dan tersenyum lebar.
"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan nona muda Scott? kau hanyalah semut kecil di depan orang-orang yang mempunyai kekuasaan, tapi kau bersikap jauh lebih sombong dan arogan dari mereka yang lebih kaya. Kamu bahkan berani menyentuh adikku."
__ADS_1
Rachel tahu apa yang Mimi katakan tentang ucapan Mimi yang menyentuh adiknya.
"Ah,aku ingat kalau aku belum membuat perhitungan padamu karena membuat adikku masuk rumah sakit."
Rachel mundur beberapa langkah.
"Jadi nona muda Scott yang terhormat, aku harap kau tidak lagi berani menyentuh Xixi. Jika tidak....kau pasti tahu apa yang sudah Xixi lakukan pada perusahaan keluarga mu,bukan?"
Rachel tertegun, dia gemetar mendengar apa yang Mimi katakan.
Dengan kesal Rachel yang tidak mau terus berurusan dengan Mimi, melanglah pergi dari toko sepatu itu.
Mimi tersenyum melihat Rachel yang pergi dengan kesal.
"Hanya mempunyai kualifikasi seperti itu, ingin menyombongkan diri disini." Ucap Mimi.
"Terima kasih atas bantuan nona." Ucap pelayan yang di tolong oleh Mimi dan menejer Junnie.
"Tidak masalah, lain kali lebih berhati-hati jika menghadapi pelanggan seperti dia."
"Baik nona."
Mimi berjalan kembali ke tempat dimana tadi dia duduk untuk mencoba sepatu yang sudah di ambilkan oleh pelayan toko yang lain.
"Kak Junnie, apakah acara kali ini akan ada tamu yang spesial?"
"Kalau tidak salah, penerus keluarga Smith akan datang ke acara itu."
"Hah, penerus keluarga Smith?"
"Hmm begitu."
"Mimi, aku dengar penerus keluarga Smith itu belum menikah." Ucap menejer Junnie menggoda Mimi.
"Kak Junnie, berhenti melakukan itu padaku."
"Hahaha, ya apa salahnya. Mungkin saja setelah kalian bertemu dan berkenalan, kalian akan dekat dan...."
"Kak Junnie."
"Oke, oke. Aku tidak lagi menggodamu. Ayo cepat pilih sepatunya."
Mimi mengangguk, dia lalu mencoba beberapa sepatu yang sudah di bawakan oleh pelayan toko.
"Sepertinya yang ini bagus dan cocok dengan gaun yang akan aku pakai." Mimi berdiri dengan memakai sepatu yang dia pilih.
"Baiklah, kalau begitu yang itu saja."
"Kak Junnie tidak sekalian beli juga?"
"Tidak usah, aku masih punya banyak sepatu yang belum aku pakai."
"Oh ayolah kak, pilih salah satu dari sepatu-sepatu itu. Aku yang akan membayarnya."
"Tidak usah, kau traktir aku makan saja setelah ini."
"Kak Junnie sungguh tidak mau?"
__ADS_1
"Tidak usah, lepas sepatunya dan berikan ke pelayan toko. Aku sudah mulai lapar."
"Hahaha baiklah kak."
Mimi lalu melepaskn sepatu yang dia pakai dan memberikannya kepada pelayan toko.
"Tolong bungkus sepatu yang itu, dan ini kartu kreditnya. Terima kasih." Ucap menejer Junnie sambil memberikan kartu kredit pada pelayan toko yang membawa sepatu itu.
"Baik, mohon tunggu sebentar."
Menejer Junnie mengangguk, dia lalu duduk di samping Mimi.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau keluarga Scott mempunyai putri dengan tempramen yang kasar seperti preman."
"Kak, aku sudah pernah menceritakan tentang Xixi yang di tindas sampai dia masuk rumah sakit beberapa minggu yang lalu bukan. Dan apa kau tahu siapa pelakunya?"
"Ma... Maksudmu, itu adalah perbuatan nona muda Scott?"
Mimi mengangguk "Iya, dia dan beberapa teman premannya di kampus memukuli Xixi di atap kampus. Itu juga aku tahu setelah bertanya pada teman dekat Xixi yang sama-sama ikut di pukul olehnya."
"Oh Tuhan, kasar dan kejam sekali wanita itu. Aku benar-benar tidak menyangka."
"Hah kak Junnie. Kau tahu, dia mengandalkan kekayaan orang tuanya untuk bebas dari hukuman yang di berikan oleh pihak kampus. Aku benar-benar ingin mengeluarkan orang-orang yang sudah membebaskan wanita jahat itu dari kampus."
"Sudahlah, mereka juga sudah mendapatkan hukuman mereka. Perusahaan keluarga itu hampir hancur dalam semalam."
"Ya, kak Junnie benar. Xixi memang ahli dalam hal itu."
"Iya, dia memang sangat pintar. Aku saja sangat iri padanya, dan aku ingin mempunyai setengah saja dari kepintaran yang dia miliki."
"Hahaha, bukankah kak Junnie juga sangat hebat? Aku menjadi seperti saat ini juga berkat kak Junnie."
"Jangan terlalu tinggi memujiku, itu semua juga karena kamu yang berbakat dan tidak sulit untuk di latih."
Mimi tertawa melihat menejernya yang tidak suka jika dirinya terlalu di puji.
Pelayan toko datang sambil membawa paperbag dan kartu kredit.
"Nona, silahkan. Ini adalah sepatu milik anda." Ucap pelayan itu.
"Ah iya." Mimi mengambil paperbag itu.
"Terima kasih atas kunjungan anda, mohon untuk datang kembali."
"Baiklah, terima kasih kembali."
Mimi dan menejer Junnie lalu keluar dari toko sepatu terkenal itu.
"Jadi kak Junnie, kita akan makan siang dimana?"
"Kita ke restoran barbeque, aku ingin makan daging bakar dan yang lainnya."
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita kesana."
Mimi menggandeng tangan menejer Junnie berjalan menuju tempat parkir, dimana mobil mereka berada.
Setelah membayar biaya parkir, kak Junnie melesatkan mobilnya menuju restoran barbeque yang tidak jauh dari mall itu.
__ADS_1