
Braaak !
Joseph menggebrak meja kerjanya, saat melihat berita tentang kekasihnya yang diam-diam berkencan dengan artis laki-laki pendatang baru, yang sedang hangat di perbicangkan di media sosial saat ini.
"Dia benar-benar berani mengkhianatiku, aku begitu mencintainya. Bahkan aku mengabaikan wanita yang sudah memperlihatkan rasa sukanya padaku." Ucap Joseph dengan kesal.
Sraaak!
Joseph membuang semua kertas yang ada di atas meja kerjanya dengan kesal.
Dia begitu menyukai kekasihnya, bahkan dia membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan hati wanita itu. Tetapi belum sampai satu tahun hubungan mereka, wanita yang dia cintai malah mengkhianatinya.
"Artis laki-laki itu, aku akan mencari tahu siapa dia. Aku tidak akan memaafkan kedua pasangan murahan itu." Ucap Joseph lagi dengan geram.
Dengan marah Joseph keluar dari ruang kerjanya, dan meminta sekertarisnya untuk membereskan ruang kerjanya yang sudah sangat berantakan.
...----------------...
Di tempat lain, wanita yang begitu Joseph cintai tengah duduk di atas pangkuan Mike. Kedua tangannya melingkar sempurna pada leher laki-laki itu.
"Jangan menggodaku sayang." Ucap Mike sambil menatap kedua mata wanita itu dengan sayu.
"Aku sudah lama menyukai mu, tapi kau baru melihat ke arahku. Bukankah kau begitu menyebalka?" Ucap wanita itu dengan nada manja seraya memukul bahu Mike dengan pelan.
Mike itu menarik pingganga wanita yang ada di atas pangkuannya, agar semakin dekat dengan tubuhnya.
"Aku takut kau tidak menyukaiku, karena aku lihat kau sangat begitu mesra dengan tuan muda Smith ketika di pesta ulang tahun tuan muda Robert."
"Omong kosong, aku sama sekali tidak menyukainya."
"Benarkah?"
Wanita itu mengangguk "Iya, jika aku menyukainya, aku pasti tidak akan ada di pangkuanmu sekarang."
"Hahaha baiklah sayang, kau sudah menggodaku. Jadi jangan meminta aku berhenti siang ini."
Tanpa menunggu lagi Mike mendekatkan wajahnya lalu ******* bibir tipis wanita yang sejak tadi menggodanya itu. Lidah mereka saling m*embelit di dalam mulut, sampai terdengar suara yang begitu sulit di katakan.
Ciuman mereka semakin m*manas, kedua tangan Mike juga tidak tinggal diam. Dua bongk4han sintal yang ada di atas pangkuannya dia r*mas, hingga wanita itu m*ngerang tertahan.
Kedua orang yang sudah sangat b*rgair4h itu melepaskan ciuman mereka. Berpindah dari bibir, laki-laki itu m*nciumi leher dan memberikan gigitan serta h*sapan wanita itu.
"Aku akan membuatmu berteriak k*nikmat4n siang ini sayang." Ucap laki-laki itu.
"Lakukanlah semaumu." Wanita itu berkata dengan pasrah psda Mike, laki-laki yang telah lama dia sukai.
Mike lalu mengangkat dan menggendong si wanita, Mike membaringkan dia di atas ranjang. Setelah itu dia kembali m"nerjang bibir sexy yang ada di depannya.
Mereka berdua b*rgulat di atas sana dengan suara d*sahan dan er4ngan k*nikmat4n, memenuhi kamar apartemen milik mikew, artis pendatang baru itu.
(Maaf banyak bintang dan angkanya ðŸ¤)
...----------------...
Hari ini Mimi kembali ke kota A, setelah kemarin tuan William memberikan izin pada Mimi.
Meskipun hanya 2 minggu, tapi Mimi sangat senang karena akan kembali bekerja dengan tim pemotretannya disana. Sebab sudah hampir satu minggu dia menunda pemotretan itu, karena tangannya yang terluka.
ting tong
ting tong
Bell apartemen Xixi berbunyi, Lia yang ada di apartemen membukakan pintu.
"Nona, anda sudah kembali. Bagaimana keadaan anda?" Tanya Lia dengan antusias melihat Mimi kembali.
__ADS_1
"Aku baik, Lia. Terima kasih."
Lia mengangguk, dia lalu membantu Mimi membawakan koper kecil yang Mimi bawa.
"Apakah Xixi masih di perusahaan?" Tanya Mimi setelah mereka berdua masuk ke dalam apartemen.
"Iya nona, beberapa hari ini setelah nona muda berlibur, dia bekerja dengan sangat keras. Bahkan kadang nona muda juga pulang malam."
"Dia ini, kalau sudah berada di depan komputer pasti akan lupa dengan semuanya."
"Benar nona."
"Sudahlah biarkan saja, aku mau beristirahat dulu."
"Iya nona."
Mimi lalu membawa koper kecil miliknya, dan berjalan menuju kamar tamu di apartemen Xixi, yang dia tempati selama berada di kota A itu.
Setelah menutup pintu kamar, Mimi membaringkan tubuhnya. Dia cukup kelelahan setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh itu.
"Jika saja tidak ada lagi pemotretan, aku malas kesini." Ucap Mimi.
Mimi berdiri, dia berjalan ke arah balkon dan membuka tirai kamarnya.
Cahaya matahari menerangi sebagian kamar Mimi. Mimi membuka pintu balkon lalu berdiri di atas balkon itu, menikmati terpaan angin di luar kamarnya.
"Yaa... walaupun tempat ini cukup jauh dari kota besar, tapi aku menyukai udara di kota ini." Ucap Mimi.
Kedua mata Mimi juga di manjakan oleh pemandangan lautan yang di menyilaukan namun indah, karena terkena sinar matahari.
Mimi menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya "Besok aku akan pergi ke perusahaan, rasanya aku sudah merindukan mereka semua."
***
Sore harinya, Xixi kembali dari perusahaannya. Dia terlihat begitu lelah setelah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini.
Mimi yang di lewati Xixi begitu saja hanya diam, dan menatap adik satu-satunya itu berjalan ke kamarnya yang ada di atas dengan bingung.
"Lia, itu tadi Xixi kan, bukan hantu?" Tanya Mimi pada Lia yang sedang menata piring di meja makan.
"Iya nona, memang ada apa?"
"Tidak, kenapa dia berjalan melewatiku begitu saja? Padahal aku sejak tadi berada disini menonton televisi."
Lia melihat pintu kamar Xixi yang tertutup, dia juga tidak tahu kenapa nona mudanya seperti itu.
"Mungkin nona muda kelelahan, jadi dia tidak melihat kalau nona duduk di sana."
Mimi menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang selalu membuatnya heran.
Sekitar 25 menit kemudian, Xixi keluar dari kamar dengan piyama pendeknya. Dia menuruni tangga dengan wajah dan tubuh yang lebih segar di bandingkan dengan saat dia baru pulang.
"Kakak? Kapan kakak sampai disini, kenapa kakak tidak menghubungi ku dulu?" Tanya Xixi dengan terkejut melihat Mimi duduk di ruang makan dengan Lia.
"Aku sudah sampai disini lebih dari 5 jam yang lalu." Ucap Mimi enteng.
"5 jam yang lalu? Lalu kenapa aku tidak melihat kakak? Kakak ada di kamar?"
"Haahh, anak ini. Apa kau benar-benar tidak melihatku duduk di sofa saat kau pulang tadi?"
Xixi mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak melihat kakak duduk disana."
"....... Sudahlah, akan lama berdebat denganmu di saat mode loading lama mu itu muncul. Lebih baik kita makan sekarang."
__ADS_1
Mimi kesal berbicara dengan Xixi, disaat Xixi yang kelelahan itu kadang menjadi lemot. Seolah semua kepintaran yang dia miliki itu sirna.
Xixi yang tidak mau ambil pusing omongan kakaknya, duduk. Mereka lalu menikmati makan malam bersama dengan hikmat.
Selesai makan malam, Xixi dan Mimi duduk di balkon apartemen. Menatap pemandangan malam yang begitu indah.
"Apa luka kakak sudah membaik, makanya ayah mengizikan kakak kembali kesini?" Tanya Xixi.
"Iya, hanya jika tersentuh atau tidak sengaja tersenggol saja akan terasa sedikit sakit. Lukanya juga sudah mulai mengering."
Xixi mengangguk "Kakak sudah menghubungi kak Jery, kalau kakak sudah kembali ke kota ini?"
"Belum, aku ingin memberikan kejutan padanya."
"Heh, kalian ini. Seperti dua remaja yang baru berpacaran saja."
"Bukankah kami memang baru saja berpacaran?"
"Ya, ya, ya. Kalian memang baru berpacaran. Jadi nikmatilah waktu bahagia kalian berdua, dan semoga tidak ada pihak ketiga."
Mimi mengangguk "Oh iya, kemarin aku bertemu dengan wanita yang sedang berpacaran dengan Joseph."
Xixi menoleh "Benarkah?"
Mimi mengangguk "Tapi dia saat itu dia sedang berkencan dengan laki-laki lain."
"Waah, kasihan sekali kak Joseph di selingkuhi."
"Tapi aku rasa itu tidak akan lama, bagi Joseph yang memiliki kekuatan di dunia bisnis pasti akan melakukan sesuatu pada dua orang itu."
Xixi mengangguk "Ya itu benar, tapi tetap saja itu pasti membuat kak Joseph sakit hati."
"Biarkan saja, dia sudah mengabaikan perasaanku padanya. Mungkin ini hukuman dari Tuhan." Ucap Mimi seraya menyenderkan tubuhnya ke belakang.
Xixi menatap kakaknya, dia senang akhirnya pikiran Mimi terbuka. Dia tidak lagi terpaku pada Joseph, laki-laki yang sempat Mimi sukai dan yang sudah membuat Mimi sakit hati karena di abaikan.
"Jadi besok kakak akan pergi ke perusahaan kak Jery?" Tanya Xixi mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya, besok aku akan kesana. Kau jangan memberitahu Jery atau Leon kalau aku sudah kesini lagi."
"Kenapa Leon juga?"
"Ck, dia adalah teman dekat Jery. Dia pasti akan memberitahu Jery tentang aku yang sudah disini."
"Benar juga, baiklah kalau begitu."
Xixi dan Mimi kembali menatap pemandangan di depan mereka, hingga akhirnya mereka merasa kedinginan dan memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen.
"Istirahatlah kak, kau pasti lelah setelah perjalanan siang tadi kesini." Ucap Xixi.
"Iya, aku juga harus bangun lebih pagi besok untuk mengoleskan obat sebelum aku berangkat."
"Iya."
"Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu."
"Iya, selamat malam kak."
"Selamat malam juga."
Mimi lalu masuk ke dalam kamarnya, sementara Xixi berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, yang akan dia bawa ke dalam kamarnya.
"Lia, kau beristirahatlah. Kau pasti lelah." Ucap Xixi pada pelayannya.
"Iya nona, saya akan meletakan ini dulu. Setelah itu beristirahat."
__ADS_1
"Iya."
Xixi berjalan ke kamarnya sambil membawa satu gelas air minum yang tadi dia ambil dari dapur.