The Geeky Girl

The Geeky Girl
Part 72


__ADS_3

Beberapa hari setelah liburan di pulau pribadi keluarga Robert, semua model dan yang lainnya kembali melakukan rutinitas seperti biasanya, kecuali Mimi yang tangannya masih terluka.


Awalnya Mimi bisa menyembunyikan luka itu dari ayah dan ibunya ketika kembali ke rumah, namun saat ibunya tidak sengaja menyentuh tangan Mimi, Mimi mengaduh. Dan akhirnya mereka tahu luka yang ada di tangan Mimi itu.


Dan selama luka itu belum sembuh, Mimi di larang bekerja oleh tuan William. Dia mengancam akan membeli perusahaan dimana Mimi bekerja, jika Mimi memaksakan diri untuk tetap bekerja dengan tangan yang masih terluka itu.


"Kak Mimi belum boleh bekerja, di apartemen jadi sepi tidak ada dia. Ya... walaupun dia disini hanya satu bulan karena pekerjaannya." Ucap Xixi yang duduk santai di dalam kamarnya.


tok tok tok


Pintu kamar di ketuk, Xixi berjalan untuk membuka pintu.


"Ada apa Lia?" Tanya Xixi pada pelayannya.


"Nona muda, di bawah ada tuan Leon dan temannya." Ucap Lia.


"Oh, iya. Aku akan turun sebentar lagi."


"Baik nona."


Xixi lalu kembali menutup pintu kamarnya setelah Lia berbalik dan pergi.


"Mereka ini, apa tidak lelah datang kesini setiap hari?" Gumam Xixi.


Xixi berjalan ke lemari lalu berganti pakaian. Dengan pakaian santai Xixi turun ke ruang bawah.


Di ruang tv, Xixi melihat Leon dan Jery duduk di sebuah sofa. Xixi berjalan mendekati mereka berdua.


"Aku kira kau belum bangun, sayang." Ucap Leon yang melihat Xixi berjalan ke arah mereka.


"Aku tidak mungkin bangun siang, walaupun ini adalah hari libur, aku tetap bangun pagi."


Xixi duduk di sebelah sofa yang Leon dan Jery duduki.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" Tanya Jery.


"Eh, bukankah kalian sudah berpacaran? Kenapa kak Jery bertanya padaku, kalian bisa saling berkomunikasi secara langsung." Ucap Xixi.


Jery terkejut mendengar itu, karena dia maupun Mimi tidak pernah mengatakan perihal hubungan mereka pada siapapun, termasuk pada Xixi dan Leon.


"Tidak perlu terkejut seperti itu kak, tanpa kak Jery menceritakannya kepada kami, kami sudah tahu bagaimana hubungan kak Jery dan kak Mimi sekarang." Ucap Leon


Jerry hanya bisa mengangguk, dia tidak menyangka jika hubungannya dan Mimi akan begitu mudah ketahuan oleh Leon dan Xixi.


"Tentu saja kami akan tahu. Kalian yang tadinya memanggil dengan begitu formal, bersikap begitu cuek satu sama lain, tiba-tiba menjadi dekat. Bahkan kak Jerry memanggil kak Mimi dengan namanya langsung." Ucap Xixi.


"Kalian ini, aku tidak bisa menyembunyikannya dari kalian." Ucap Jery akhirnya mengakui hubungannya dengan Mimi pada Xixi dan Leon.


"Akhirnya kau mengakuinya juga, kak. Selamat, akhirnya kak Jery bisa meluluhkan hati kak Mimi."


"Ini juga karena mu yang telah membantuku meyakinkan Mimi untuk membuka hatinya."


Xixi mengangguk.


"Setelah aku mendapatkan hari libur panjangku, kalian harus mentraktir kami berdua." Ucap Xixi.


"Tentu saja. Kalian sudah banyak membantu ku dan juga Mimi."


Mereka bertiga tertawa bersama.

__ADS_1


"Jadi, ada apa kalian kemari?" Tanya Xixi mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya, aku ingin membawamu melihat salah satu vila mu yang sudah jadi." Ucap Leon.


"Apakah sudah jadi? Begitu cepat?" Tanya Xixi dengan tidak percaya.


"Iya, tapi baru satu yang sudah jadi."


"Itu tidak masalah, aku hanya terkejut jika vila itu akan jadi secepat ini."


"Itu karena para pekerjanya saat profesional dan ahli, jadi pembangunannya pun sangat cepat."


"Baiklah, ayo kita ke sana. Aku sudah tidak sabar ingin melihat vila baru ku."


Leon mengangguk, mereka bertiga lalu pergi ke villa Xixi yang baru saja jadi.


...----------------...


Di rumah keluarga William, Mimi sedang duduk di ruang tv. Seharian ini pekerjaannya hanya duduk, bermain ponsel dan makan.


"Ah ini sangat menjenuhkan, sampai kapan aku harus seperti ini? Ayah benar-benar keterlaluan tidak membolehkan ku keluar." Keluh Mimi.


Mimi berbaring di atas sofa, dia Menatap layar ponselnya.


"Sudah jam 3 sore, dan ini adalah hari kedua aku berdiam di rumah. Seperti orang yang sedang diasingkan saja aku ini."


"Ada apa, kenapa Ibu dengar anak ibu yang cantik ini terus mengeluh?" Ucap nyonya William yang berjalan menghampiri Mimi.


"Tidak ada apa-apa Bu, aku hanya merasa bosan karena sejak kemarin aku di dalam rumah terus."


"Tanganmu kan masih terluka, sayang."


Nyonya William mengusap kepala Mimi, dia tersenyum melihat putri sulunnya cemberut.


Dia sangat mengerti bagaimana Mimi. Seorang wanita karir seperti Mimi pasti tidak akan betah di dalam rumah tanpa melakukan sesuatu.


"Besok ibu akan pergi ke mall, apa kau mau ikut dengan ibu?" Tanya nyonya William.


"Sungguh Bu? Tentu saja aku mau." Ucap Mimi dengan senang.


"Iya, besok setelah mall itu sudah buka, kita akan langsung kesana."


"Iya Bu."


Mimi memeluk ibunya dengam bahagia.


tap tap tap tap


Mimi dan nyonya William mendengar suara langkah kaki mendekati mereka.


"Ayah sudah pulang." Ucap Mimi.


"Ayah mendengar kalian dari depan, apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya tuan William seraya duduk di sofa yang ada di samping mereka.


"Ibu mengajakku pergi ke mall besok, boleh kan ayah?"


Tuan William menatap istrinya.


"Iya, tapi kau harus hati-hati. Jangan sampai luka di tanganmu terbuka." Ucap tuan William.

__ADS_1


"Iya, terima kasih ayah."


Tuan William mengangguk, Mimi sangat bahagia karena akhirnya dia keluar dari rumah, meskipun dia keluar dengan ibunya.


"Ibu akan menyiapkan air hangat dulu untuk ayahmu mandi." Ucap nyonya William.


"Iya Bu." Ucap Mimi.


Mimi menyalakan televisi, dan melihat acara yang dia pilih.


"Mimi." Ucap tuan William.


Mimi menoleh "Iya ayah?"


"Waktu itu kau di antar pulang oleh Xixi, Leon dan seorang laki-laki. Siapa dia?"


Mimi terdiam, dia mengira ayahnya akan lupa siapa yang telah mengantarnya selian Xixi dan Leon waktu itu.


"Emm.. dia...."


"Apa dia pacarmu?"


Mimi diam, dia menggigit bibir bawahnya. Dia takut ayahnya akan marah jika tahu hubungannya dengan Jery.


"Mimi, kalau dia memang pacarmu tidak apa-apa, ayah hanya ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati. Ayah tidak mau kamu maupun Xixi di sakiti."


"Aku mengerti Ayah. Mimi berjanji akan berhati-hati."


Tuan William mengangguk "Ayah lihat dia laki-laki yang baik, siapa namanya?"


"Dia Jery Robert, dia senior Xixi di kampusnya. Dan... dia laki-laki yang baik, beberapa kali dia membantuku di tempat kerja."


"Jery Robert, Robert..... Pemilik perusahaan entertainment yang besar dan cukup terkenal itu?"


Mimi mengangguk "Benar ayah."


"Sepertinya kemarin ayah baru saja bertemu dengan ayahnya."


"Dengan tuan Robert maksud ayah?"


"Iya dengan dia. Dia seorang ayah yang bertanggung jawab, dan seorang pengusaha yang jujur juga kompeten."


"Sepertinya ayah sangat tahu tentang tuan Robert."


"Yaa.... itu karena kami sudah menjalin kerjasama selama lebih dari 3 tahun."


"Ayah menjali kerjasama dengan tuan Robert? Bukankah perusahaan ayah tidak bergerak di bidang entertainment?"


"Perusahaan ayah memang tidak bergerak pada bidang itu, tapi salah satu perusahaan milik dia bergerak di bidang yang sama seperti perusahaan ayah, dan lagi pula tidak ada salahnya kita bekerja sama, meskipun perusahaan kami tidak bergerak di bidang yang sama."


Mimi hanya mengangguk, karena dia sama sekali tidak mengerti tentang bisnis.


"Sayang, airnya sudah siap. Kau mandilah dulu." Ucap nyonya William pada suaminya.


"Iya, kalau begitu ayah ke kamar dulu."


"Iya ayah." Ucap Mimi.


Tuan William lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Mimi melanjutkan menonton acara yang sedang berlangsung di televisi.

__ADS_1


__ADS_2